Dalam kesehariannya aktivitas di bulan¬†Ramadhan tidak jauh berbeda dengan aktivitas sehari-hari yang dilakukan. Berhubung saya banyak melakukan aktivitas di kampus, tidak serta merta menjadikan Ramadhan menjadi tidak produktif. Kebanyakan orang Jepang masih belum mengenal istilah Ramadhan atau berpuasa bagi setiap muslim yang menjadi kewajibannya. Terkadang, kita harus memberikan pengertian dan apa sebenarnya puasa dalam Islam itu sendiri. FYI, berilah penjelasan yang singkat dan mudah mereka pahami mengenai kewajiban berpuasa ini agar kemudian mereka bisa mengerti, namun jangan berharap kemudian akan ada libur satu atau dua minggu karena berpuasa. Ada hal menarik ketika pertama kali datang melaksanakan kegiatan kampus di awal perkuliahan. Saya akan sedikit berbagi pengalaman tentang ini…

  • Berpuasa di tengah aktivitas laboratorium

Saya adalah mahasiswa asing dan muslim pertama yang diterima oleh Prof. Hiroyasu Onaka untuk menempuh sekolah lanjut di laboratorium beliau (ini pun saya baru tahu selepas farewell seminar dengan seluruh anggota laboratorium). Saya tiba di Tokyo pada 17 April 2016 melalui Bandara International Narita. Kebetulan ketika bulan ini, Tokyo sedang mengalami musim semi (namun sayang di awal pertama kali datang, Bunga Sakura telah berguguran, dan saya hanya mendapatkan sisa-sisanya). Awal pertama kali datang, umumnya professor akan menyiapkan seorang mentor untuk membantu keperluan selama beradaptasi di awal kedatangan, dan tentu saja ini menjadi peluang untuk bertanya mengenai kehidupan di Jepang, dan utamanya kultur atau budaya kerja di laboratorium yang kita akan belajar di sana sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Alhasil, saya ingat bahwa pada Bulan Juni, saya akan melaksanakan puasa pertama di negeri rantau, Jepang. Lalu saya sampaikanlah mengenai kewajiban ini kepada mentor saya waktu itu, Morito Shimomura. Mengapa ini perlu dilakukan? Sebagai sedikit informasi, salah satu kultur yang sering dilakukan di laboratorium saya adalah makan siang bersama bagi dengan seluruh anggota laboratorium dan berhubungan professor saya menyenangi party, sering kali ketika mendekati weekend, pada hari Jum’at, laboratorium saya melaksanakan party. Hal ini penting disampaikan agar mereka sudah paham ketika misal kita sedang berpuasa di saat Ramadhan. Pun jika memiliki kebiasaan untuk berpuasa sunnah, juga ada baiknya disampaikan. Meski terkadang ada sedikit effort¬†untuk menjelaskan mengapa kita sebagai ummat Islam melaksanakan kegiatan tersebut.

Suatu hari pernah ketika itu saya melaksanakan puasa sunnah, sekaligus untuk mempersiapkan fisik dengan kondisi negara baru. Hal terduga kadang pun akan muncul dari professor atau assistant professor ketika melaksanakan aktivitas di laboratorium. Kala itu saya ditelpon dari office untuk mengikuti makan siang, namun kemudian saya menyampaikan kepada mentor saya bahwa hari itu sedang berpuasa (di sini menjadi kata kunci, yakni komunikasi sangat penting agar saling memahami). Mentor saya ternyata kemudian menjelaskan kondisi ini kepada rekan-rekan lab yang kala itu makan siang. Dan ternyata sedikit mengejutkan respon mereka ketika saya kembali ke office kala itu. Ada yang bertanya apakah saya baik-baik saja dengan tidak makan dan minum dari Shubuh (fajar menyingsing) hingga Maghrib (tenggelamnya matahari), dan eksperi yang unik bahkan datang dari professor saya yang khawatir saya mati dengan tidak makan dan minum. Tetapi semua itu bernilai syi’ar dan dakwah kepada mereka. Karena pada akhirnya, dalam sebuah pesta akhir tahun (bonenkai) mereka kemudian bertanya apa pentingnya puasa bagi ummat Islam dan mengapa itu menjadi kewajiban. Bagi mereka ternyata Islam begitu menarik dengan segala kewajibannya. Bahkan sebuah jalan syi’ar adalah ketika mereka menanyakan bagaimana kami beribadah (shalat), serta di mana lokasi kami shalat mengingat tidak ada tempat khusus, semacam mushalla atau masjid, yang disediakan bagi kami, yang beragama Islam, untuk melaksanakan shalat.

Salah satu kisah unik ketika Ramadhan adalah party yang mereka hadirkan hingga menunggu waktu adzan bagi saya kala itu untuk bersantap makanan. Ceritanya kala itu, hari Jum’at dan tepat di Bulan Ramadhan pertama di sana. Ketika itu, saya sudah menyampaikan bahwa saya akan berpuasa selama satu bulan penuh (ekspresi mereka kala itu adalah sedikit kekhawatiran, namun jangan berharap dapat libur ya… hehehe) dan mereka pun menanyakan tanggal saya akan memulai dan mengakhirinya. Kebetulan di minggu kedua Ramadhan, lab akan mengadakan party, karena akan ada anggota universitas kenalan sensei besar yang akan berpindah tugas ke Amerika. Jadilah waktu itu saya pun diminta untuk memasak masakan Indonesia, yakni opor ayam. Di tengah puasa yang masuk pada musim panas kala itu, jadilah saya berpuasa 16 jam, yang berakhir pada waktu berbuka sekitar kurang lebih pukul 18.45. Uniknya sensei kemudian meminta menghidangkan makanan pada pukul 18.30, karena biasanya party lab dimulai pukul 18.00. Lalu beliau menyampaikan kepada koleganya bahwa saya sedang berpuasa, sehingga dia memulai pukul 18.30, meskipun tetap sensei menyampaikan bahwa akan memulai party 15 menit lebih awal dari jadwal berbuka saya. Namun bagi saya pribadi kala itu, ini adalah salah satu bentuk toleransi yang diberikan. Sejatinya, intinya adalah komunikasi yang baik antara student dan professor sehingga bisa didapat rasa saling respect dengan satu yang lain.

…bersambung…

InshaAllah serba-serbi kegiatan di Tokyo lainnya akan terus saya tulis, semoga bermanfaat…

 

Advertisements

Cerita Jepang #1

Posted: May 22, 2018 in Perjalanan
Tags: , , ,

Hello, sahabat semua, semoga Ramadhan kali ini akan memberikan kita ketenangan serta benar-benar menjadikan kita mendapatkan derajat taqwa, sebagaimana Allah firmankan dalam Al-Baqarah: 183. Rasanya setiap dari kita pasti sudah hafal dengan surat ini. Ya, surat yang memerintahkan setiap mukmin dan mukminah untuk kemudian berpuasa.

Namun, sebelumnya, ijinkan saya menyapa dengan salam, Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh. Sebuah salam terbaik yang baginda Rasulullah ajarkan untuk mendoakan keselamatan setiap orang yang berjumpa diri kita, termasuk para pembaca tulisan ini, semoga keselamatan, dari-Nya, yang akan selalu menjadikan diri ini penuh keberkahan dalam setiap aktivitasnya. Di tulisan kali ini, mohon maaf jika tulisan yang dibuat tidak begitu formal, bahkan cenderung merupakan format tulisan bebas.

Ya, memang kali ini saya akan berbagi sedikit pengalaman selama 2 tahun, ketika menjalani Ramadhan di Negeri Sakura. Jepang yang terletak di sebelah timur laut Indonesia memang begitu menakjubkan. Bagi kebanyakan orang, termasuk saya, bisa jadi Jepang adalah Eropa atau Amerika rasa Asia. Hehe. Mengapa? Kalau saya sebut Amerika punya patung Liberty yang menjadi landmark negara ini, maka jangan salah, Jepang pun punya patung ini, namun lebih kecil dan terletak di Odaiba (teman-teman yang pernah ke Jepang, pasti tahulah tempat ini, tempat romantis, dan cakep untuk membuat foto kenangan di negeri Sakura).

Kenapa Eropa juga? Kalau teman-teman pernah dengar nama Tsuchiura, di daerah ini ada sebuah tempat yang menyajikan hamparan tanaman tulip lengkap dengan bangunan kincir anginnya, sehingga tampaklah bagaikan berada di Negeri Van Oranje, Belanda. FYI, kalau mau ke sini pas musim natsu (musim panas), biasanya bunga-bunga sudah bermekaran dan siap memanjakan mata kita dengan keindahan, dan tentu saja siapkan kamera dan jangan lupa abadikan momen terbaik anda bersama keluarga, teman, dan partner anda (ssstt… jangan lupa ya, partner yang Halal, karena pacaran setelah menikah itu asyik, he, ini judul salah satu buku Ustadz Salim A. Fillah). 8Sejujurnya penulis belum pernah ke sana, karena harap maklum, kegiatan jikken (eksperimen)¬†di laboratorium¬†lebih diutamakan. Lalu dari mana dapat kabar dan informasinya? Biasanya penulis lihat di IG Story kawan yang, alhamdulillah ‘ala kulli lah, Allah beri waktu dan kesempatan ke sana, dan penulis mencuri lihat keindahannya dari IG Story yang diberikan. Sebagai alasan, haha, karena dengan inilah sebagai salah satu hiburan ketika muncul penat dengan kegiatan di laboratorium. Jadi, sesama perantau di negeri orang, kami ingin selalu berbagi dengan teman-teman Indonesia kami, karena kami yakin bahwa dengan ini rasa cinta dan rindu akan tanah air bisa terobati, dan semangat menyelesaikan hal yang sudah dimulai bisa bangkit kembali.
(hahaha… maapkeun penulis yang teramat berlebihan nampaknya di sini… but, it is ok)

Hari ini saya akan membagi beberapa hal yang berkaitan dengan serba-serbi dari Tokyo atau Jepang di kala Ramadhan khususnya, dan ketika aktivitas sehari-hari. Yuk, tengok beberapa kegiatan yang biasanya penulis lakukan di kegiatan Ramadhan, atau aktivitas sehari-sehari…

  • KMII dengan kegiatan Tabligh Akbar dan WS di Ramadhan

Pertama kali datang ke Tokyo, hal yang pertama saya cari waktu itu adalah kegiatan keIslaman yang banyak dilakukan di Tokyo. Pertama kali saya mendapat informasi mengenai Kajian Islam KIMOCHI di Masjid Assalam, Okachimach. Kala itu pertama kali masih jauh jarak yang ditempuh untuk menuju Masjid (dulu berpikir ada kereta akan tidak lelah meskipun perjalanan jauh, tapi kenyataannya sama saja tetap lelah, harap maklum anak kampung di kota yang modern). FYI, di Tokyo, saya hampir 3 kali berganti tempat tinggal, dan pengurusan ke Kuyakusho (semacam kecamatan begitu sangat mudah, yang sulit adalah ketika harus berbicara nihonggo, padahal pertama kali datang, nihonggo saya adalah 0, istilah para senpai (senior), nihonggo tabemasen. Tapi, kali ini kemudahan banyak datang, pertama pindah dibantu oleh rekan satu laboratorium, pindahan kedua memberanikan diri dengan hanya menyampaikan haik ketika dijelaskan, hingga akhirnya pindahan ketiga mendapatkan kemudahan karena ada petugas yang mampu berbahasa Inggris, meskipun terkadang harus menggunakan google translate ketika petugas tidak memahami kata-kata yang disampaikan. Then, balik ke kegiatan keIslaman di sana, akhirnya saya pun diajak bergabung kala itu dengan kegiatan Shubuh Berjamaah di Musholla SRIT (kala itu MIT (Masjid Indonesia Tokyo) sedang dalam masa peletakan batu pertama, penandatanganan kontrak, dan penyiapan pembangunan, cerita tentang MIT mungkin bisa dilihat di web Masjid Indonesia Tokyo). Kegiatan Shubuh Berjamaah ini rutin dilakukan oleh para jamaah yang berdekatan di daerah Meguro. Lalu saya kapan ke sana? Kesempatan ini hadir ketika weekend sudah masuk, yakni pada hari Sabtu. Karena di sinilah saya bisa mengambil waktu untuk menginap (mabit) lalu dilanjutkan dengan Shubuh Berjamaah dan tentu saja, ini semacam tradisi, kami para jamaah (alhamdulillah, jamaah selalu ramai dan banyak hadir dari wilayah Kanto) dilanjutkan dengan tausiyah di Shubuh hingga menjelang waktu Syuruq, lalu dilanjutkan bersantap pagi. Nah, kapan mengenal KMII? Hehe, di sinilah saya kemudian tahu bahwa ada organisasi Keluarga Masyarakat Islam Indonesia, yang kemudian banyak mengadakan kegiatan terkait Ramadhan, Iedul Fitri, Iedul Adha, Muharram, Kajian Islam (Islam Gakkou) untuk nihonjin (orang Jepang), yang bekerja sama juga dengan organisasi Islam lainnya di Tokyo khususnya. Mengapa tertarik? Karena dasarnya saya orang yang senang untuk bergaul, maka di sana saya benar-benar mendapat keluarga baru, bertemu dengan para anak-anak bangsa yang semenjak S1 sudah mengenyam pendidikan di Negeri Sakura, bertemu dengan para trainee (yang luar biasa bersemangat mendapatkan ilmu dan Islam di sini), bertemu para perawat Indonesia yang bekerja di Jepang, dan tentu saja bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Jepang. Di sini saya mendapat rumah kedua, bertemu dengan orang-orang yang mencintai agamanya, Islam, dan mencintai tanah airnya Indonesia.

Di sini kami menjadi keluarga untuk memberikan kegiatan Islami terbaik dan menjadi panitia dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh KMII tersebut. Gitu aja mas, apa yang dirindukan pas Ramadhan? Santai mas/mbk, di sinilah nikmatnya ukhuwah. Ketika Ramadhan hadir, kegiatan Tabligh Akbar dan Workshop hadir di setiap akhir pekan Ramadhan. Ustadz dari Indonesia hadir untuk menyirami hati-hati yang kering karena lamanya tidak tersentuh oleh air sejuk dan menyejukkan, langsung dari para Ustadz (sedikit bolehlah ya puitis, hehe). Di sinilah kami diuji keihlasannya, ketika setiap pekan yang sudah terbagi dalam kepanitiaan kecil, kemudian, tetap ada rasa saling membantu untuk saling menyukseskan setiap kegiatan Ramadhan yang sudah dicanangkan meski terkadang hasil koordinasi di awal oke, namun ternyata di lapangan belum maksimal. Di momen-momen seperti ini terasa bahwa ta’aruf (rasa kenal) teruji antara satu yang lain dalam hal berkoordinasi, berkomunikasi, bahkan sampai pada sikap saling untuk memaklumi.

Selain itu, hal yang tentu saja paling dirindukan dari kegiatan di sini adalah makan besar (kalau ini macam-macam, kadang bakso, atau apalah yang diberikan oleh ibu-ibu penjual bazar) rame-rame selepas kegiatan TA selesai bareng panitia lainnya. Meskipun esok adalah hari Senin, namun di sini kita saling memahami bahwa setiap orang yang di sana pastilah sibuk dan memiliki kerja masing-masing (bahkan penulis sendiri jujur beberapa kali kegiatan Tabligh Akbar selesai, harus pulang lebih awal mengingat terkejar oleh deadline tugas, namun di sinilah terasa manisnya iman dan Islam dari setiap saudara/saudari yang beraktivitas bersama untuk kegiatan yang juga berbuah kebaikan untuk kemaslahatan orang lain).

…bersambung…

Beberapa hari ini terpikir mengenai konsep pemilahan sampah yang saya lakukan selama dua tahun berada di Negeri Sakura. Sebenarnya konsep pemilahan ini sudah sering kali didengungkan di negeri ini, namun sepertinya tidak ada dampak yang langsung terasa meskipun sudah sering kali diberikan banyak konsep pemilahan sampah yang ada. Namun bisa jadi, pernyataan ini dikarenakan saya masih kurang memiliki data valid atau informasi yang memadai mengenai hal tersebut. Hanya saja kali ini, saya hanya ingin berbagi mengenai bagaimana prosedur pemilahan sampah dan pengumpulan sampah dilakukan di tempat saya tinggal, yakni Bunkyo-ku.

Di Negeri Sakura, Jepang, setiap tempat tinggal atau kecamatan, memiliki cara tersendiri dalam hal pemilahan dan pengumpulan sampahnya. Namun, kali ini saya hanya akan menceritakan proses yang saya alami ketika berada di lingkungan Bunkyo-ku. Pertama kali mendaftar atau melaporkan diri ke kecamatan setempat, maka di sana juga kami mendapatkan satu lembar kertas yang berisi informasi mengenai cara pemilahan sampah, serta waktu pengumpulan sampah. Tidak semua sampah akan diangkut pada hari yang sama, akan tetapi, kecamatan mengatur hari pengambilan sampah di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya. Semisal, pada hari Senin, petugas akan mengumpulan sampah burnable, lalu pada hari Selasa, akan dikumpulkan sampah unburnable, dan seterusnya.

Menurut pribadi saya yang masih harus banyak belajar ini, metode ini tentu saja akan sangat berguna dan sangat baik untuk diterapkan di Indonesia, lalu kemudian akan memberikan dampak yang sangat baik terhadap lingkungan di Indonesia. Acap kali, pribadi ini menginginkan perubahan, namun sayangnya perubahan tidak dilakukan dengan tindakan yang sangat tepat dan bersifat menyeluruh. Pun acap kali pribadi ini menginginkan sungai-sungai bersih yang mengalir tanpa adanya sampah, namun sayang jika kemudian perilaku membuang sampah ke sungai, dan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir sampah masih saja dilakukan, yang pada akhirnya berdampak pada banjir.

Pengelolaan sampah yang baik dan benar, pada akhirnya bisa membantu untuk menjadikan kondisi alam, terutamanya lingkungan menjadi semakin baik. Sampah-sampah organik bisa digunakan untuk dijadikan pupuk, yang pada akhirnya bisa digunakan oleh para petani lokal ataupun jika bisa dikelola secara nasional dapat menjadi alternatif untuk menanggulangi kelangkaan pupuk yang terkadang terjadi bagi para petani. Sekali lagi hal ini akan membantu mengurangi kesulitan para petani dalam mengatasi hal kelangkaan pupuk. Sampah-sampah yang bersifat anorganik dapat digolongkan dalam burnable garbage, yang tentu saja, perlu sentuhan yang tepat dalam pengelolaannya. Sampah-sampah yang bersifat unburnable kemudian pada akhirnya bisa digolongkan untuk barang-barang yang masih digunakan kembali atau tidak. Tentu saja, kehadiran dan perkembangan science dan technology yang saat ini telah berkembang pesat, dan mulai diterapkan di beberapa negara maju, bisa membantu untuk kemudian meningkatkan nilai guna sampah.

Satu hal yang kemudian menjadi penting adalah sikap untuk taat dan patuh pada aturan yang berlaku, dan sebuah sikap malu ketika membuang sampah di sembarang tempat.

Sekali lagi, ini adalah sebuah opini pribadi penulis, yang tentu saja masih jauh dari kesempurnaan. Namun, sekali lagi jika sebuah pekerjaan dapat memberikan sebuah nilai baik, barang tentu hal ini perlu dicontoh. Apalagi bagi saya seorang muslim, di mana dalam Al-Qur’an telah dijelaskan 1400 tahun lalu, bahwa kerusakaan di muka bumi terjadi karena ada sifat tamak dan rakus manusia, serta kurangnya rasa peduli untuk kemudian mengelola apa yang ada di muka bumi dengan baik dan benar, begitu juga dengan sampah.

 

Malang, 29 April 2018
Selamat menikmati akhir pekan di Indonesia, dan selamat menikmati pekan Golden Week di Tokyo.

Bekerja Cepat…

Posted: January 3, 2018 in Perjalanan

Umumnya master degree di Jepang harus ditempuh dalam waktu 2 tahun, dan tentu saja waktu ini akan sangat terasa begitu cepat.

He, sudah lama sekali rasanya tidak menulis dalam blog ini. Kini saya akan berbagi sedikit mengenai kehidupan master student di negeri sakura ini. Saya rasa sepertinya sudah banyak yang menceritakan mengenai kehidupan master student di negeri sakura, tapi tidak ada salahnya jika kemudian saya menceritakan pengalaman pribadi, yang pada akhirnya, saya pun bergumam, akhirnya merasakan juga kehidupan master student di sini.

Kehidupan master student di sini memang amat terasa cepat, karena waktu dua tahun benar-benar tidak tersia-siakan, dan dipenuhi dengan masa-masa eksperimen, terutama bagi mereka yang mengambil bidang natural science. Kebetulan bidang yang saya tekuni saat ini lebih pada chemistry biology, atau istilahnya dalam panjangnya adalah bagaimana reaksi kimia mempengaruhi proses biologi yang terjadi pada suatu organisme. Lalu apakah sama dengan biochemistry? Pada hakikatnya, kedua mempelajari hubungan chemistry dan biology, namun, pada biochemistry umumnya mencakup pada supramolekul, seperti carbohydrate, lipid, protein, nucleic acid, dst. Pada chemistry biology, di sinilah menariknya, reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada setiap proton dipelajari, sehingga akan mempengaruhi struktur makromolekulnya, seperti case salah satunya adalah mengenai bidang yang saya coba pahami saat ini adalah natural product. Setiap secondary metabolite yang dihasilkan oleh setiap organisme akan memiliki pathway spesifik sehingga menghasilkan senyawa tersebut. Chemistry Biology mempelajari  bagaimana reaksi tersebut berlangsung, lalu kemudian bagaimana setiap modul protein yang berperan dalam menghasilkan senyawa tersebut saling bertautan, dan bekerja untuk menghasilkan senyawa tersebut. Modul? Yap, bagi dikalangan yang menggeluti secondary metabolite, maka akan sering kali mendengar istilah PKSs, NRPSs, dan RiPPs. Ketiganya adalah macam dari jalur pembentukan senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh organisme. Namun, terlepas dari istilah ini, menjadi master student di negeri sakura, maka satu hal yang harus dimiliki, memiliki tingkat struggle yang tinggi dalam menjelang masa-masa kelulusan.

Dalam hal eksperimen, maka bisa jadi kegagalan akan sering kali dihadapi. Tak pelak, maka ada dua pilihan stop dari eksperimen tersebut, atau melanjutkan dengan mengubah metode yang dilakukan. Menjadi master student di sini, tidak sama halnya dengan kemudian selepas hasil diperoleh, ataupun gagal, maka kemudian berhenti dari eksperimen. Namun, ketika gagal setidaknya ada prove yang bisa membuktikan bahwa ia gagal ketika dibandingkan dengan kontrol positif.

Sembari melakukan thesis, maka di saat itu pun eksperimen masih berjalan, untuk mendukung data thesis lainnya. Itu artinya, ada sebuah tuntutan besar untuk bekerja cepat dan bekerja keras. Berpacu dengan waktu akan membangkitkan adrenalin yang pada akhirnya akan membuka semua cakrawala di tengah-tengah deadline yang semakin menanti ke depan (#eh). Tapi sejujurnya ini sangat tidak baik, karena saya pernah mendapat teguran dari supervisor saya, bahwa pada umumnya 4 bulan, international student harus menyiapkan draft thesisnya (-_-“).

Namun pada akhirnya, banyak yang saya ambil selama mengejar deadline thesis, yaitu bekerja cepat, namun tetap dengan targetan yang ada sembari menulis thesis. Satu hal yang saya dapat dari supervisor saya adalah “apapun yang kamu tulis hari ini, maka setorkan kepada saya”.

 

Tokyo, 3 January 2018

Membayar Janji

Posted: September 9, 2017 in Perjalanan
Tags: , ,

Menjadi satu kapal dalam sebuah pinisi PPI Jepang 2016-2017, adalah sebuah pengalaman terbaik sendiri bagi saya. Meskipun tidak sepenuhnya mampu untuk mendayung ataupun menjalankan pinisi ini dengan baik, namun terkadang, awak dalam kapal lain yah yang memiliki peranan kuat, agar pinisi ini berlabuh di pelabuhan yang tepat. Peran seorang kapten dalam mengarahkan perjalanan kapal ini pun begitu berpengaruh, apakah akan melewati badai, ataun akan menghindari badai, ataupun memilih untuk masuk dalam putaran badai yang sedang terjadi dihadapannya.

Menjadi seorang pelajar di negeri orang, tidak serta merta kemudian menjadikan kita untuk putus dari kehidupan perkumpulan pelajar, bahkan sepertinya ikut serta menjadi bagian dalam perjalanan perkumpulan pelajar ini akan sangat baik bagi perjalanan ke depannya. Mengapa? Tentu saja, saya tidak ingin mengatakan bahwa akan banyak jabatan-jabatan strategis yang diperoleh, bukan. Ataupun mengenai pengenalan hal layak bahwa kita berada dalam sebuah organisasi besar, yang bernama PPI Jepang, namun lantas kita tidak memiliki apapun ataupun berperan kecil di sana, tentu ini bukanlah juga sebuah keinginan yang diharapkan. Pamor ataupun ketenaran, bisa jadi hanyalah sebuah silaunya cahaya yang dapat mengantar sang pembawa, pada jalan lurus yang memang penuh kebaikan, atau bahkan ia menjadi penutup mata karena kesilauannya, hingga ia terbawa pada jalan yang membawa pada lubang besar yaitu kehancuran, jika tidak disikapi secara arif dan bijaksana.

Menjadi bagian dari sebuah pinisi besar bernama PPI Jepang, saya berada dalam sebuah dek kecil yang bernama Dek Pengembangan Akademik. Di sinilah, saya belajar bersama beberapa orang, Mas Sanji, Mas Rian, dan Mbk Rioz, yang ketiganya juga merupakan mahasiswa-mahasiswa terbaik di bidangnya. Apa yang kami sepakati kala itu, adalah membuat buku panduan mengenai pendidikan di Jepang. Ya, sebuah niatan, yang mungkin sebenarnya sudah dilakukan oleh para pendahulu senpai-senpai kami, yang sudah terlebih dahulu memberikan pengetahuan bahkan persiapan ketika adik-adik kelas mereka akan melanjutkan studi di Jepang. Bahkan, saya kira kisah inspiratif bahkan kisah-kisah yang penuh motivasi sudah sering kali dituliskan oleh para senpaisenpai kami di sini untuk dibagikan kepada adik-adik kami, yang memiliki semangat untuk belajar di negeri yang terkenal akan kedisiplinan, bahkan totalitas dalam mengembangkan science dan technology hingga mereka dapat menemukan akar-akar dari batang yang sudah tegak dari pemahaman akan science dan technology. Ide kami hanyalah untuk memadupadankan antara kisah-kisah inspiratif hingga pada proses yang haru disiapkan untuk menuju negeri Sakura ini. Kami pun tidak memungkiri bahwa sudah banyak sekali, mungkin, para alumni yang memiliki blog-blog tersendiri yang menuliskan kisah inspiratif perjalanannya hingga menjemput mimpi dan menjadi mahasiswa terbaik di bidangnya ketika menempuh studi di sini. Namun, kami yakin, bahwa setiap anak adam, akan memiliki cerita sendiri dalam perjuangannya, meskipun ada kemiripan dalam menyelesaikannya, namun pasti ada sisi unik setiap orang yang bisa dibagi kepada anak cucu adam lainnya, hingga ia mampu untuk mengolah dan menjadi diri terbaik untuk menjemput impiannya ke negeri Sakura ini.

Hanya beranggotakan empat orang, kami mencoba menggarap sedari awal, dimulai dengan tema, membagi PIC dalam setiap tema, dan mencari para penulis untuk setiap tema yang kami siapkan. Tidak mudah rasanya dalam perjalanannya hingga akhirnya, kami berhasil menyusun buku tersebut, meski masih berupa dummy, karena kami yakin masih dari jauh kesempurnaan buku tersebut untuk sudah dibaca oleh khalayak umum. Namun, satu hal yang ingin kami ucapkan, adalah rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada para penulis, yang meluangkan waktu untuk menulis ceritanya, membagi sebagian cerita kehidupan yang dialaminya, dan meluangkan waktu memberikan kisah inspirasi dalam setiap tulisan yang dituangkan dan dicurahkan.

Selain itu, kami juga mengucapkan terima kasih kepada nahkoda kami, Mas Pandu, yang setiap waktu menanyakan keberlanjutkan dari janji yang sudah kami sampaikan di awal kepengerusan. Pun dengan Mas Sanji, sebagai Kepala Dek yang senantiasa untuk menyisihkan waktu di sela-sela baito, kuliah, dan mengurus keluarga, serta di tengah masa prajabnya untuk menyempatkan mengedit, menambahkan, mengoreksi dan memadupadankan bahasa dalam setiap tulisan. Mas Rian, selaku rekan yang banyak memberikan masukan, terima kasih, kami ucapkan. Terakhir, kepada Mbk Rioz, the strongest woman between us, yang berani banyak mengambil posisi editor setelah tulisan masuk, banyak memberikan masukan dalam setiap tulisan-tulisan penulis, bahkan kemudian mau untuk sekadar mengubah bahasa yang belum tersesuaikan dengan keinginan tim, untuk kemudian menjadi bahasa yang lebih nyaman dan sepadan dengan tulisan lainnya. Saya merasa berada dalam tim hebat, yang tidak sekadar hanya ingin berjanji, namun berusaha menepati janji, meski ada kurang, agar tidak ada celah besar dalam cerita-cerita selanjutnya. Kepada para penulis, yang kami gabung dalam Sakura Warrior, terima kasih sebanyak-banyaknya terhadap waktu dan buah pikiran yang telah kalian tuliskan dan kami gabungkan dalam kumpulan buku tersebut.

Belajar bergerak bersama, ya, saya pun banyak belajar dari rekan-rekan semua, dalam tim pengembangan akademik, untuk kemudian bergerak bersama menunaikan janji yang pernah terucap dan pernah tersiratkan dalam kepengurusan PPI Jepang 2016-2017. Kini pinisi pun telah berlabuh di ujungnya, jangkar pun telah dilemparkan, menambatkan pinisi untuk dinahkodai oleh kepengurusan selanjutnya. Namun, Dek Pengembangan Akademik 2016, masih menyisakan sedikit hutang untuk menyempurnakan buku yang sudah diselesaikan.

Mas Sanjiwana, Mas Rian, dan Mbk Rioz, selamat bertebaran setelah pinisi mengembangkan layar, dan jangkar pun telah dinaikkan, oleh awak kapal dengan kapten selanjutnya. Semoga masih terus berada untuk mengingatkan dan saling menyemangati. Kepada Kapten kami, Mas Pandu, selamat atas amanah barunya, jika dulu harus membawa pinisi, kini bukan hanya pinisi yang kau bawa, namun sebuah pesawat yang harus diterbangkan, dan membawa peran perubahan terutama ketika harus mendarat di negeri tercinta. Semoga Allah memberikan rahmat dan kebaikan dalam setiap tanggung jawab amanah yang diemban.

Tokyo, 9-9-2017
Dari seorang yang selalu merasa bodoh dan merasa kurang akan ilmu dan berbuat baik.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, masa ujian midterm semester sudah terselesaikan, meski masih banyak pertanyaan yang masih tersisa dengan riset penelitian yang sedang dilakukan. Begitu pun, malam ini dapat kesempatan untuk menulis kembali di blog yang terkadang tidak terupdate dengan baik, :).

Kali ini akan saya bercerita mengenai menjadi bagaimana begitu rapinya kami ketika berada di kantin kampus. Jika sering kali melihat anime-anime Jepang atau film-film yang bercerita mengenai kehidupan di Jepang, benarlah adanya jika kegiatan makan di kantin kampus seperti apa yang terlihat di film atau anime tersebut. Setiap orang akan berjajar, sembari memilih makanan yang sudah disediakan oleh pihak kantin kampus. Di sini, setiap makanan akan memiliki catatan atau tertera berapa kalori yang diperoleh, lalu selain itu, akan ada cap makanan tersebut, apakah mengandung daging sapi, daging ayam, daging babi, ikan, ataupun hanya sayuran, yang tidak kalah penting adalah harga makanan pun sudah tertera di bawahnya, sehingga bagi kita yang hanya ingin makan sesuai dengan kebutuhan energi atau menyesuaikan dengan pantangan-pantangan makanan yang tidak bisa dimakan bisa memilih menu sesuai dengan yang diinginkan.

Ada sebuah cerita menarik, dari seorang teman yang pernah menyantap makan malam di salah satu kantin kampus. Suatu saat di membeli sebuah menu, yang pada awalnya dia tidak tahu apa yang terdapat di dalam menu tersebut. FYI, bagi rekan-rekan yang akan membeli makanan di sini, you are be pleasured bertanya mengenai bahan-bahan apa saja yang terdapat di dalamnya, semisal apakah mengandung alkohol atau tidak, karena petugas kantin akan memberi tahu secara jujur apa yang terdapat dalam menu makanan tersebut, selain itu, hal yang unik di sini adalah petugas akan paham dari mana makanan tersebut berasal, semisal apakah makanan di kantin A sama dengan kantin B. Baik kembali ke cerita kawan saya tadi, akhirnya dia pun membayarkan makanan yang sudah dibeli tersebut, namun ketika hendak membayar di kasir, dia pun menanyakan apakah terdapat kandungan buta¬†dalam makanan tersebut. Beberapa menit kemudian, pihak kasir pun menanyakan pada bagian petugas kantin, dan dijawablah bahwa minyak yang dipakai berasal dari minyak buta. Karena sudah dibeli, akhirnya dia pun membayar dan membawa kemeja kantin, namun karena syari’at yang melaranga, akhirnya dia pun segera bergegas dan meletakkan makanan yang belum disentuh tersebut ke bagian tray sehingga petugas akan membersihkan sisa makanan tersebut. Pergilah ia akhirnya meninggalkan kantin, namun tidak lama petugas kantin pun memanggilnya dan mengembalikan uang yang tadinya ia gunakan untuk membayar makanan tersebut, sembari meminta maaf.

Nah, dari cerita teman tersebut, saya melihat bagaimana begitu menghargainya orang-orang di sini terhadap hal-hal yang menjadi pantangan bagi seseorang. Selain itu, di sana terdapat nilai bagaimana mereka kemudian mengembalikan uang yang dibayar dikarenakan teman saya tidak menyentuh sama sekali makanan tersebut. Teman saya pun menduga kemungkinan ketika makanan tersebut masuk melewati tray menuju dapur untuk dibersihkan, pihak kantin melihat makanan tersebut masih utuh, sehingga mereka kemudian pun mengembalikan uang tersebut.

Tidak hanya sampai di sini ya, hidup di sini memang semuanya sudah teratur. Bukan hanya dari urusan kantin, namun juga bagaimana aturan membuang sampah. Di setiap kota di Jepang, akan memiliki aturan sendiri dalam memisah dan memilah sampah, bahkan sampai pada waktu kapan sampah tersebut akan diangkut oleh petugas kebersihan. Mungkin bagi kita, ah sudah biasa mah milah sampah, organik, non organik, combustible, uncombustible, dan lainnya. Mungkin bagi sebagian orang, udah basi lah ya mengenai hal tersebut. Well, bagi saya ini adalah sebuah pelajaran yang luar biasa, karena pada kenyataannya di negeri sendiri masih susah untuk melakukannya, namun di sini, you must do it. Kita dilatih membiasakan diri untuk kemudian melakukan hal tersebut, semenjak pertama kali sampai di negeri ini. Jangan bayangkan, tong sampah akan berada di kanan-kiri jalan, ataupun setiap toko-toko kecil di kanan-kiri jalan akan menyediakan sampah, yang jelas NO. Jika ada sampah, dan tidak menemukan tempat sampah, maka bawalah sampah tersebut sampai ke rumah, dan buanglah sesuai dengan bagian mana sampah tersebut harus dipilah.

Bagaimana dengan sampah laboratorium di sini? Semuanya diatur dengan baik. Setiap sepekan sekali, saya bersama rekan-rekan satu laboratorium akan membersihkan laboratorium. Sampah laboratorium di sini, juga harus dipisah sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan oleh pihak kampus. Sampah plastik laboratorium tidak boleh digabung dengan sampah plastik umum, begitu pun, dengan peralatan habis pakai yang mengandung medium juga tidak bisa digabung dengan satu yang lainnya. Semuanya harus dipisah satu dengan yang lain sesuai dengan ketentuannya. Aturan seperti ini sebenarnya sangat baik dilakukan, karena pada dasarnya sampah laboratorium memang harus dikelola sendiri mengingat tidak ada yang bisa menyadari bahaya dari sampah-sampah ini.

Baiklah sekian dulu dari cerita hari ini, dan harapannya, tulisan ini kelak akan menjadi pengingat bagi saya pribadi untuk terus belajar dari apa yang sudah dapat ketika belajar dan juga menerapkan hal-hal baik yang sudah dijaga agar nantinya virus-virus kebaikan itu pun bisa menular bagi lingkungan sekitar.

 

Tokyo, 28 Juli 2017

Malam Minggu

Posted: July 8, 2017 in Perjalanan

Selamat datang malam minggu,
Malam yang selalu identik dengan hang out, ataupun sekedar duduk mengopi bersama, atau bahkan bagi rekan-rekan lainnya malam yang dinanti untuk duduk mengaji dan mengkaji (halaqah) bersama rekan-rekan lainnya. Every body, I think, they will have their own way to spend this night.

Malam minggu ini, saya berada di laboratorium untuk menyelasaikan pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga di hari Senin saya bisa tenang, karena tugas yang sudah terselesaikan “(harap tidak digeneralisir untuk semua orang di sini ya)“, dan waktu yang tidak terbuang di malam ini akhirnya bisa dimanfaatkan untuk keesokan harinya.

Baiklah, malam ini sebenarnya saya tidak ingin membahas pekerjaan di malam minggu, yang sejujurnya, I even do not know, kenapa saya merindukan masa-masa akan berada di laboratorium seharian penuh dengan banyaknya kegiatan eksperimen yang harus dilaksanakan, terutama ketika menghitung satu minggu sebelum progress report schedule.

Hal yang saya kerjakan saat ini di laboratorium adalah mengenai combined-culture of microbia, serta interaksi keduanya untuk menghasilkan specialized-metabolites yang memiliki peran sebagai antibiotik. Selama lebih dari satu tahun, saya dan supervisor mengerjakan mengenai analisis senyawa yang dihasilkan serta mengisolasi senyawa tersebut guna mendapatkan struktur kimia, serta dapat melakukan uji aktivitas terhadap senyawa tersebut. Pada beberapa penelitian sebelumnya, penggunaan combined-culture berhasil mendapatkan senyawa baru dengan struktur yang unik dan memiliki beberapa aktivitas baik sebagai antibiotik ataupun senyawa kanker.

Berbicara mengenai antibiotik, maka tidak terlepas terkait isu resistensi antibiotik yang saat ini mulai terjadi baik terhadap antibiotik lama yang telah ditemukan atau terhadap semi-synthetic antibiotic yang mulai banyak diproduksi saat ini. Beberapa jurnal yang membahas mengenai hal ini menjelaskan bahwa resistensi terhadap antibiotik yang dikembangkan oleh bakteri terkait mengenai gen yang bisa saling bertransfer dari satu bakteri ke bakteri lain, baik yang berada dalam satu genus ataupun berbeda genus. Kemampuan inilah yang menyebabkan tingginya akan resistensi terhadap antibiotik.

Salah satu penelitian yang dilakukan di McMaster University, pernah melakukan isolasi bakteri dari tanah yang kemudian dilakukan pengujian terhadap berbagai antibiotik yang sudah berada komersil digunakan. Hal yang kemudian sangat mengejutkan adalah beberapa isolat bakteri ditemukan sudah mengembangkan kemampuan untuk resisten terhadap berbagai macam antibiotik yang sudah mulai komersil. Dalam satu sisi, ini artinya proses penggunaan antibiotik yang baru ditemukan juga harus mengantisipasi munculnya resistensi terhadap antibiotik tersebut. Namun di sisi lain, hal ini haruslah mendorong untuk dilakukan proses eksplorasi lebih lanjut baik mengenai pencarian senyawa baru antibiotik ataupun penelitian bagaimana resistance-gene yang terdapat pada bakteri, kemudian bisa bertransfer dari satu bakteri ke bakteri lain, baik dalam satu genus ataupun berbeda genus.

Kembali pada penelitian yang dilakukan di salah satu group laboratorium di McMaster University, ketika dilakukan pengkajian terhadap salah satu isolat yang resisten terhadap salah satu semi-synthetic antibiotic, mereka menemukan bahwa isolat tersebut memiliki kemampuan untuk memodifikasi antibiotik tersebut menjadi tidak aktif dengan menambahkan gugus gula pada salah satu moiety struktur antibiotik tersebut. Hal ini mereka temukan dengan melihat adanya perubahan m/z setelah dilakukan proses ekstraksi terhadap medium yang telah ditambahkan senyawa antibiotik tersebut, dan ditumbuhkan isolat bakteri tersebut.

Menarik? Tentu saja, karena resistensi terhadap antibiotik oleh bakteri sangatlah menjadi topik yang saat ini menjadi hangat di kalangan para pakar mikrobiologi, ditambah mengenai kajian peran specialized-metabolite yang mereka produksi, berkaitan dengan peran ekologi, dan fungsinya terhadap mikrobia lainnya.

Selain itu, chance bagi para peneliti di Indonesia, adalah kesempatan menemukan senyawa-senyawa baru dari alam Indonesia, yang melimpah ruah terhampat dari Sabang hingga Merauke dengan keunikan setiap ekosistemnya. Selama ini, penelitian mengenai isolat baru dari tanah Indonesia sudah begitu pesat, namun tidak memungkinkan untuk meningkatkan pada penelitian mengenai aktivitas secondary metabolite yang dihasilkan oleh isolat tersebut.

 

Laboratorium No. 34, Tokyo Daigaku (10:38 (JLT))

Bekerja Paralel

Posted: July 7, 2017 in Perjalanan

Pekerjaan di laboratorium kini semakin terasa menyenangkan, betapa tidak, 5 bulan menjadi batas akhir penyelesaian program kuliah yang sedang ditempuh saat ini, dalam artian Thesis Submission deadline will face on me.

Beberapa hari terakhir, bekerja paralel rasanya benar-benar terasa sedang saya lakukan, padahal awalnya, dulu saya pikir bekerja paralel ini akan sangat memberatkan dan melelahkan. Namun, pada kenyataannya ini yang sedang terjadi pada saya. Tenggat waktu pendidikan master di sini adalah 2 tahun, karena basic yang kami ambil adalah research based. Sehingga, 2 tahun yang didalami adalah riset dan riset. Jangan dibayangkan seperti halnya ketika masih di sarjana, yakni satu hari bisa tidak ada pekerjaan sama sekali, atau bahkan mungkin bisa jadi satu atau dua hari lepas dari riset yang dilakukan. Saya pribadi merasakan, satu hari atau dua hari mendapatkan sakit, akan berdampak pada eksperimen yang sedang dikerjakan, kebetulan, karena bidang saya berkaitan dengan mikrobiologi, maka tentu saja, waktu kultivasi menjadi sangat penting, bahkan waktu untuk memanen hasi kultivasi menjadi sangat penting. Satu hari terlambat, maka riset yang dilakukan bisa jadi tidak akan menjadi valid.

Pada awal masuk di laboratorium, supervisor saya pernah menyampaikan, bahwa bekerja secara paralel akan sangat dibutuhkan. Di awal penelitian, memang saya agak tergopoh mengejar ritme kerja yang dilakukan. Dalam satu hari, 2 sampai 3 eksperimen bersama bisa dilakukan oleh rekan-rekan satu laboratorium. Alhasil, jadilah saya sedikit ragu, can I do this experiment as they do?

Kenyataannya, beberapa minggu ini mulailah terasa bekerja paralel yang pernah dimaksudkan supervisor saya. Semisal, ketika sedang melakukan ekstraksi dari sampel bervolume 2 liter, maka ketika ada waktu luang di tengah menunggu proses ekstraksi, maka eksperimen lainnya bisa dikerjakan (eksperimen di sini, bermaksud persiapan yang diperlukan untuk menyiapkan sampel pada eksperimen lainnya), semisal inokulasi mikrobia pada medium cair, ataupun menyiapkan sampel untuk proses uji aktivitas, ataupun menyiapkan medium. Planning riset di sini memang sepertinya nampak begitu banyak, namun entah akhir-akhir ini merasakan adanya sistem kerja paralel menyebabkan mudahnya untuk menentukan setiap data sampel yang diperlukan. Ditambah lagi, supervisor sering kali memberikan clue terhadap hasil yang diperoleh.

Kenyataanya, semakin hari semakin dijalani, ada beberapa nilai positif yang bisa diambil dari sistem bekerja ini. Tidak perlu menunggu hasil riset yang sebelumnya (dalam artian meninggalkan sama sekali), namun melihat adanya kemungkinan peluang dari riset lainnya (masih dalam satu rumpun), sehingga ketika ada data yang kurang baik, masih ada progress dari data lainnya, dan tentunya masih bisa melakukan diskusi lebih lanjut dengan supervisor.

Pramana (Hongo, 8/7/2017)
“Pribadi yang masih bodoh, dan masih terus akan belajar”

Sudah lama rasanya, jemari ini tidak lagi mengetik di antara untaian alfabet keyboard ini, kecuali ketika harus membuat progress report, ataupun report jurnal yang harus dikumpulkan sebagai persyaratan untuk melengkapi kehadiran selama perkuliahan pada periode Spring ini. Lama tidak bersua, dan ternyata sudah hampir 1.5 tahun proses studi dilakukan di sini. Terbayang? Heum, rasanya terkadang terasa singkat bahkan terkadang terasa lama, karena semua bergantung pada perspektif yang dialami setiap insan yang sedang menempuh studi di sini.

Hidup di perantauan terkadang begitu menantang, bahkan hampir terasa ini adalah sebuah hal yang harus dilewatkan untuk merasakan tantangan-tantangan yang akan dihadapi, dimulai dari mengurus perekonomian sendiri, mengatur jadwal makan sendiri, bahkan urusan dapur, dan urusan kamar mandi semuanya harus dijalankan sendiri, karena tentunya ini adalah resiko yang harus diambil, bagi mereka yang terutama untuk memilih berada jauh dari kampung halaman. Pertama kali datang ke negeri ini, adalah ketika mendekati Ramadhan 1437 H. Awal-awal mendengar cerita bahwa berpuasanya akan sangat berbeda, karena tentu saja, tidak akan sama rasanya seperti ketika berada di Yogyakarta, saat menempuh S1. Keluar rumah, burjo di depan, jalan ke depan jalan raya sedikit, nasi goreng, belok kanan sedikit, ada alfamart atau indomaret yang semua makanannya sudah bertuliskan HALAL. Namun, bagi saya yang saat ini berada di negeri minoritas ini, ada kebanggaan sendiri, yakni sebuah usaha untuk mendapatkan makanan yang HALAL, bahkan terkadang, memasak menjadi opsi untuk menjamin setiap kebaikan yang semoga senantiasa menjadi bekal bagi tubuh untuk melaksanakan setiap ibadah yang dilakukan.

2 tahun menjalani ibadah puasa di negeri ini, ya, memang terkadang ada rasa kurang, sedikit berbeda seperti ibadah Ramadhan yang pernah dialami ketika di tanah air, namun tetap saja makna Ramadhan di sini terasa begitu bermakna. Hal ini tentunya terasa, ketika ada teman yang bertanya mengapa harus berpuasa, atau bahkan ketika supervisormu menanyakan bagaimana kamu bisa bertahan selama sebulan tidak makan sejak pagi hingga malam, bahkan ketika datang masa-masa eksperimen yang harus dikerjakan hingga malam tiba. Inilah uniknya ketika harus menjelaskan secara detil, bahkan terkadang memberikan analogi mengapa Allah memberikan perintah kepada ummat-Nya untuk melakukan ibadah puasa. Tentunya, penjelasan yang akan diberikan tidak serta merta langsung membawakan ayat ataupun hadist, melainkan sederhananya dibuat sebisa mungkin untuk dipahami oleh mereka, yang mungkin ini baru kali pertama melihat siswa muslim berpuasa, namun Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar, meskipun terkadang ada kebingungan mengapa jatuhnya Ramadhan pada tahun ini berbeda dengan bulan saat jatuhnya Ramadhan tahun lalu.

Apapun yang berlalu, maka selalu teringat bahwa tujuan ke sini, adalah untuk belajar dan melatih diri menjadi insan yang bertanggung jawab akan setiap keputusan yang diambil. 1.5 tahun perjalanan di negeri ini memanglah waktu yang sangat cepat. Namun, banyak hal yang bisa diperoleh dari setiap perjalanan yang ada. Dulu, saya mengira perjalanan riset akan berlangsung dengan mulus, mengingat ketersediaan semua bahan bahkan alat yang mungkin bisa dikatakan lengkap, akan memberikan jalan yang mulus terhadap angan-angan hasil riset yang diidamkan. But wait, ini adalah jalan pikiran saya pribadi, dengan segala kelemahan yang saya miliki. Terkadang, ada yang dilupakan yakni bagaimana sang Pencipta mencoba untuk mengajarkan banyak setiap hikmah dalam perjalanan yang sedang saya tempuh. Gagal? Pernah, bahkan kehilangan senyawa yang harusnya bisa saya isolasi. Lelah? Sebagai manusia yang normal, wajarlah jika perasaan ini selalu ada, bahkan terkadang bisa mengalahkan 100% semangat yang pernah dibawa ketika dulu menginjakkan kaki di sini. Namun pada akhirnya, banyak perjalanan yang mengajarkan saya untuk memilih berdamai dengan keadaan. Belajar untuk ikhlas dan menguatkan ikhtiar kembali, mengumpulkan serpihan-serpihan yang terkadang menjadi debu karena lelah yang timbul karena tidak ada alasan yang tepat.

Beberapa bulan yang telah berlalu, seperti itulah keadaan yang sedang dialami. Merasa lelah, namun tidak ada yang menjadikan alasan kuat mengapa lelah ini ada? Persatu saya mencoba menguliti apa yang sebenarnya salah ataupun dosa yang mungkin menjadikan lelah ini ada. Hingga pada akhirnya, saya sadar bahwa saya terkadang melupakan untuk menghadirkan Dia yang Maha akan segalanya dalam perjalanan ini. Layaknya charger, ketika battery sudah kosong karena aktivitas yang dilakukan, maka ia perlu diisi. Seperti itulah yang saya rasakan, bagaikan battery yang kosong, namun saya lupa untuk me-recharge kepada Dia yang Maha Memiliki. Selain itu, ada satu sisi terkadang saya tidak bisa berdamai dengan keadaan, yang artinya saya mencoba mencari jalan pembenaran dari lainnya, atau bahkan saya tidak melihat jalan saya sendiri dan melihat jalan orang lain. Hal inilah yang saya sendiri sadari pada akhirnya hanya akan membuahkan kelelahan yang tak beralasan dan berujung pada rasa kurang bersyukur pada keadaan yang ada.

Happy Ramadhan, Ramadhan Kareem
Tokyo, 15 June 2016/20 Ramadhan 1438 H

Korea, untuk pertama kali

Posted: May 23, 2017 in Perjalanan

Akhirnya mengunjungi juga negeri yang laku sekali dengan film-film yang dibintangi artis cantik dan tampah. Bahkan jangan salah, demam K-Pop yang melanda di tanah air juga datang dari negeri ini, bahkan demam K-Pop terasa juga d Jepang, negara tempat saya menempuh studi saat ini.

A3 Foresight Symposium adalah agenda yang telah saya ikuti. A3 Foresight sendiri merupakan kerja sama antara 3 negara di asia, yakni Jepang, Korea, dan China, yang sedang gencarnya membangun hubungan terutama di tengah perkembangan sains yang saat ini sangat luas. Program ini tidak hanya memberikan dana untuk penelitian, namun berusaha membangun kolaborasi bersama anta ketiga negara dengan tujuan menjadikan ketiganya sebagai leading country dalam perkembangan science and technology terutama di kawasan Asia.

Program ini sendiri dikhususkan untuk tahun ini mengenai chemical and synthetic biology on natural products. Hal yang menarik, bahwa perkembangan natural product saat ini memang sudah luar biasa, bidang dalam aplikasi ataupun basic science benar-benar terlihat sepadu seragam dalam perkembangannya. Jika Jepang, selama ini dikenal sebagai negara dengan penelitian yang kuat dalam hal basic research, tidak terkecuali China dan Korea, yang pun menguatkan basic science pula dengan applied science. Hal yang menarik yang saya ikuti dalam kegiatan ini adalah bagaimana sharing ide bahkan konsep riset yang dilakukan, saling dibagi, bahkan tidak menutup kemungkinan akan semakin kolaborasi yang bisa dijalin antara ketiga negara.Bahkan saya sampai lupa, kegiatan ini merupakan kerja sama antara The University of Tokyo, Inha University, dan Shanghai Jiao Tong University.

Mengunjungi Korea saat ini hanya d 2 hari saja, namun semoga ada kesempatan untuk kembali dan mengunjungi negeri ini. Kebetulan, saat ini diadakan di Jeju Island, pulau di selatan pulau utama Korea Selatan, yang mirip sekali dengan Bali.

Tidak banyak hal yang bisa diceritakan di sini, tapi yang jelas, bagi mereka para penyuka serial drama, memang seperti itulah keadaan di sini, bersih, iya, rapi iya, dan yang jelas, uniknya bahasa mereka.

Semoga dilain kesempatan saya bisa memberikan gambar-gambar menarik dari perjalanan ke Korea.