Sudah lama rasanya, jemari ini tidak lagi mengetik di antara untaian alfabet keyboard ini, kecuali ketika harus membuat progress report, ataupun report jurnal yang harus dikumpulkan sebagai persyaratan untuk melengkapi kehadiran selama perkuliahan pada periode Spring ini. Lama tidak bersua, dan ternyata sudah hampir 1.5 tahun proses studi dilakukan di sini. Terbayang? Heum, rasanya terkadang terasa singkat bahkan terkadang terasa lama, karena semua bergantung pada perspektif yang dialami setiap insan yang sedang menempuh studi di sini.

Hidup di perantauan terkadang begitu menantang, bahkan hampir terasa ini adalah sebuah hal yang harus dilewatkan untuk merasakan tantangan-tantangan yang akan dihadapi, dimulai dari mengurus perekonomian sendiri, mengatur jadwal makan sendiri, bahkan urusan dapur, dan urusan kamar mandi semuanya harus dijalankan sendiri, karena tentunya ini adalah resiko yang harus diambil, bagi mereka yang terutama untuk memilih berada jauh dari kampung halaman. Pertama kali datang ke negeri ini, adalah ketika mendekati Ramadhan 1437 H. Awal-awal mendengar cerita bahwa berpuasanya akan sangat berbeda, karena tentu saja, tidak akan sama rasanya seperti ketika berada di Yogyakarta, saat menempuh S1. Keluar rumah, burjo di depan, jalan ke depan jalan raya sedikit, nasi goreng, belok kanan sedikit, ada alfamart atau indomaret yang semua makanannya sudah bertuliskan HALAL. Namun, bagi saya yang saat ini berada di negeri minoritas ini, ada kebanggaan sendiri, yakni sebuah usaha untuk mendapatkan makanan yang HALAL, bahkan terkadang, memasak menjadi opsi untuk menjamin setiap kebaikan yang semoga senantiasa menjadi bekal bagi tubuh untuk melaksanakan setiap ibadah yang dilakukan.

2 tahun menjalani ibadah puasa di negeri ini, ya, memang terkadang ada rasa kurang, sedikit berbeda seperti ibadah Ramadhan yang pernah dialami ketika di tanah air, namun tetap saja makna Ramadhan di sini terasa begitu bermakna. Hal ini tentunya terasa, ketika ada teman yang bertanya mengapa harus berpuasa, atau bahkan ketika supervisormu menanyakan bagaimana kamu bisa bertahan selama sebulan tidak makan sejak pagi hingga malam, bahkan ketika datang masa-masa eksperimen yang harus dikerjakan hingga malam tiba. Inilah uniknya ketika harus menjelaskan secara detil, bahkan terkadang memberikan analogi mengapa Allah memberikan perintah kepada ummat-Nya untuk melakukan ibadah puasa. Tentunya, penjelasan yang akan diberikan tidak serta merta langsung membawakan ayat ataupun hadist, melainkan sederhananya dibuat sebisa mungkin untuk dipahami oleh mereka, yang mungkin ini baru kali pertama melihat siswa muslim berpuasa, namun Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar, meskipun terkadang ada kebingungan mengapa jatuhnya Ramadhan pada tahun ini berbeda dengan bulan saat jatuhnya Ramadhan tahun lalu.

Apapun yang berlalu, maka selalu teringat bahwa tujuan ke sini, adalah untuk belajar dan melatih diri menjadi insan yang bertanggung jawab akan setiap keputusan yang diambil. 1.5 tahun perjalanan di negeri ini memanglah waktu yang sangat cepat. Namun, banyak hal yang bisa diperoleh dari setiap perjalanan yang ada. Dulu, saya mengira perjalanan riset akan berlangsung dengan mulus, mengingat ketersediaan semua bahan bahkan alat yang mungkin bisa dikatakan lengkap, akan memberikan jalan yang mulus terhadap angan-angan hasil riset yang diidamkan. But wait, ini adalah jalan pikiran saya pribadi, dengan segala kelemahan yang saya miliki. Terkadang, ada yang dilupakan yakni bagaimana sang Pencipta mencoba untuk mengajarkan banyak setiap hikmah dalam perjalanan yang sedang saya tempuh. Gagal? Pernah, bahkan kehilangan senyawa yang harusnya bisa saya isolasi. Lelah? Sebagai manusia yang normal, wajarlah jika perasaan ini selalu ada, bahkan terkadang bisa mengalahkan 100% semangat yang pernah dibawa ketika dulu menginjakkan kaki di sini. Namun pada akhirnya, banyak perjalanan yang mengajarkan saya untuk memilih berdamai dengan keadaan. Belajar untuk ikhlas dan menguatkan ikhtiar kembali, mengumpulkan serpihan-serpihan yang terkadang menjadi debu karena lelah yang timbul karena tidak ada alasan yang tepat.

Beberapa bulan yang telah berlalu, seperti itulah keadaan yang sedang dialami. Merasa lelah, namun tidak ada yang menjadikan alasan kuat mengapa lelah ini ada? Persatu saya mencoba menguliti apa yang sebenarnya salah ataupun dosa yang mungkin menjadikan lelah ini ada. Hingga pada akhirnya, saya sadar bahwa saya terkadang melupakan untuk menghadirkan Dia yang Maha akan segalanya dalam perjalanan ini. Layaknya charger, ketika battery sudah kosong karena aktivitas yang dilakukan, maka ia perlu diisi. Seperti itulah yang saya rasakan, bagaikan battery yang kosong, namun saya lupa untuk me-recharge kepada Dia yang Maha Memiliki. Selain itu, ada satu sisi terkadang saya tidak bisa berdamai dengan keadaan, yang artinya saya mencoba mencari jalan pembenaran dari lainnya, atau bahkan saya tidak melihat jalan saya sendiri dan melihat jalan orang lain. Hal inilah yang saya sendiri sadari pada akhirnya hanya akan membuahkan kelelahan yang tak beralasan dan berujung pada rasa kurang bersyukur pada keadaan yang ada.

Happy Ramadhan, Ramadhan Kareem
Tokyo, 15 June 2016/20 Ramadhan 1438 H

Korea, untuk pertama kali

Posted: May 23, 2017 in Perjalanan

Akhirnya mengunjungi juga negeri yang laku sekali dengan film-film yang dibintangi artis cantik dan tampah. Bahkan jangan salah, demam K-Pop yang melanda di tanah air juga datang dari negeri ini, bahkan demam K-Pop terasa juga d Jepang, negara tempat saya menempuh studi saat ini.

A3 Foresight Symposium adalah agenda yang telah saya ikuti. A3 Foresight sendiri merupakan kerja sama antara 3 negara di asia, yakni Jepang, Korea, dan China, yang sedang gencarnya membangun hubungan terutama di tengah perkembangan sains yang saat ini sangat luas. Program ini tidak hanya memberikan dana untuk penelitian, namun berusaha membangun kolaborasi bersama anta ketiga negara dengan tujuan menjadikan ketiganya sebagai leading country dalam perkembangan science and technology terutama di kawasan Asia.

Program ini sendiri dikhususkan untuk tahun ini mengenai chemical and synthetic biology on natural products. Hal yang menarik, bahwa perkembangan natural product saat ini memang sudah luar biasa, bidang dalam aplikasi ataupun basic science benar-benar terlihat sepadu seragam dalam perkembangannya. Jika Jepang, selama ini dikenal sebagai negara dengan penelitian yang kuat dalam hal basic research, tidak terkecuali China dan Korea, yang pun menguatkan basic science pula dengan applied science. Hal yang menarik yang saya ikuti dalam kegiatan ini adalah bagaimana sharing ide bahkan konsep riset yang dilakukan, saling dibagi, bahkan tidak menutup kemungkinan akan semakin kolaborasi yang bisa dijalin antara ketiga negara.Bahkan saya sampai lupa, kegiatan ini merupakan kerja sama antara The University of Tokyo, Inha University, dan Shanghai Jiao Tong University.

Mengunjungi Korea saat ini hanya d 2 hari saja, namun semoga ada kesempatan untuk kembali dan mengunjungi negeri ini. Kebetulan, saat ini diadakan di Jeju Island, pulau di selatan pulau utama Korea Selatan, yang mirip sekali dengan Bali.

Tidak banyak hal yang bisa diceritakan di sini, tapi yang jelas, bagi mereka para penyuka serial drama, memang seperti itulah keadaan di sini, bersih, iya, rapi iya, dan yang jelas, uniknya bahasa mereka.

Semoga dilain kesempatan saya bisa memberikan gambar-gambar menarik dari perjalanan ke Korea.

Hampir separuh perjalanan saya sudah hampir selesaikan selama menempuh studi di negeri yang penuh keteraturan, dan tentu saja, bagi teman-teman, mengunjungi negara Jepang, menjadi kesenangan sendiri karena bisa menjelajah satu-persatu setiap negara di belahan bumi manapun. Hampir dulu, setiap saya mendengar orang akan belajar ke luar negeri, satu hal yang ketika itu saya bayangkan, berlibur, sembari belajar dan bahkan hidup dengan nyaman di negeri orang. Heum, itu dulu, ketika saya masih menjadi pelajar di negeri gemah ripah loh jinawi, yang dalam sebuah nyanyian dikatakan, tongkat kayu jadi pohon. Ya, siapa yang tidak akan senang, ketika tahu akan tinggal dan belajar di negeri Sakura, ataupun di negeri-negeri lainnya. Bukan kepayang, akan kehidupan, bahkan lingkungan baru yang akan dihadapi, penuh ketenangan, tidak ada hiruk pikuk politik sana dan sini, adanya saling menghargai, dan tentu saja bagi saya, adalah menemukan nuansa Islam yang baru dan bertemu dengan keluarga-keluarga. Di sini, adalah tempat menempa diri untuk mengasah kepedulian, kepekaan, bahkan mengasah rasa saling membutuhkan satu yang lain, tidak terlepas juga, bagi saya seorang muslim, adalah menumbuhkan rasa saling menyayangi dan menghormati antar saudara-saudara muslim lainnya, yang mungkin mereka berbeda secara latar belakang keluarga, serta berbeda dalam pandangan mazhabnya.

Indah sekali memang, semua serasa berada dalam impian yang kemudian menjadi nyata. Heum, tapi hidup di luar negeri, sembari belajar dan menekuni bidang yang ingin didalami, ternyata akan membawa dampak yang jauh lebih besar terhadap pribadi kehidupan yang bisa dibawa pulang dan diterapkan ketika pulang ke negeri Indonesia. Hari ini memang terasa sangat istimewa bagi saya pribadi.

Ya, kehidupan setelah menjadi anak kos di tempat kuliah semasa S1, di UGM, memang pada akhirnya terbawa ketika sudah berada jauh dari kenyamanan saat dulu semasa berada di Yogyakarta. Mari bayangkan, kehidupan nyaman di Yogyakarta, dimulai dari makanan yang serba bisa kita makan, terutama untuk muslim, tidak begitu menyulitkan untuk dicari. Berangkat 500 m di depan kosan, pastilah ada warung, yang biasa dikenal burjo, yang menjajakan makanan serba murah. Lapar di tengah malam, dan ingin makanan serba lain, maka tinggal menunggu gerobak dorong, yang akan menjajakan makanan berupa nasi goreng, mie goreng, ataupun terkadang penjual batagor ataupun siomay, yang bisa saja kita beli kapan pun sedang dibutuhkan untuk mengganjal perut di kala keroncongan perut sedang berbunyi. Nyaman? Tentu saja. Namun ketika sudah tinggal di luar negeri, bagi saya seorang muslim, bersikap berhati-hati akan sangat diperlukan. Memperhatikan setiap komposisi makanan, tentu saja, bahkan terkadang menanyakan kepada mereka yang paham akan komposisi makanan tersebut. Selain itu, berharap ada warung di depan apartemen yang kita tinggali, oh tentu saja tidak ada. Maka, jalan satu-satunya adalah memasak di apartemen sendiri, ataupun berkunjung ke rumah sesama orang Indonesia, berbincang, dan alhasil maka kita pun bisa bersantap makanan rumaha, yang akan mengingatkan kita pada Indonesia, dan inshaAllah, halal tentunya. Masalah makanan, memang pada dasarnya bergantung pada pribadi masing-masing yang akan memakannya, namun bagi beberapa orang, bersikap berhati-hati benar-benar mereka terapkan, dan semoga saya pun termasuk pada bagian orang-orang tersebut.

 

s__15990932

Terima kasih, Mbk Ela dan Mas Septian, yang setiap harinya mau direpotin, bahkan datang tanpa undangan

 

Well, itu baru makanan. Ada cerita lain hari ini, yakni mengurus rumah. Mungkin ketika dulu di kosan, kita terbiasa tinggal di asrama, ataupun kontrak bersama rekan-rekan teman sejawat lainnya, yang setidaknya, ada orang lain yang tinggal bersama kita. Ada masalah dengan rumah, ataupun terutama masalah kebersihan kamar mandi, tentu saja orang yang paling routine menjaga kebersihan, pasti akan menjadi orang yang istilahnya “pengontrol” dengan kondisi kebersihan di tempat kita tinggal bersama. Apalagi mungkin ketika kita tinggal bersama kedua orang tua, heum, jangan tanya maka semua akan tinggal tersediakan di depan mata. Baju tersetrika, tercuci setiap waktu, lemari yang rapi, bahkan kamar tempat tinggal, heum, jangan ditanya pastilah orang tua akan selalu menjaga kerapiannya. Menarik dari cerita malam ini, adalah kamar mandi yang mampet. Hidup di luar negeri, jangan tanyalah harga tempat potongan rambut yang biasanya kita lakukan, mungkin sebulan sekali ketika berada di Indonesia. Ya, karena kebetulan harganya pun terjangkau. Apakah di Tokyo tidak terjangkau? Oh tentu tidak, ada pula harga potongan rambut yang seharga ¥ 1000, namun bagi para mahasiswa, tentu saja harga ini bisa dikompromikan, dengan memotong rambut tidak sebulan sekali, bahkan biasanya baru setelah 6 bulan atau 3 bulan, atau jika ada cara lain, adalah membeli alat potong rambut sendiri, dan memotong sendiri. Kebetulan saya pribadi belum berani untuk memotong rambut sendiri, jadi alhasil sudah hampir 6 bulan lebih saya belum memotong rambut, dan masalah hari ini adalah kamar mandi yang mampet, alias aliran air yang tidak berjalan lancar. Saat dulu saya berada di kosan, bersama dengan teman-teman saja, masalah kamar mandi mampet jarang sekali dihadapi, karena kebetulan, kami memiliki Mas Arif, yang amat sangat bersih sekali, dan setiap kali pastilah kamar mandi selalu bersih dan terkuras dengan baik. Namun, ketika sudah berada di luar negeri, tinggal sendiri, maka harus menjadi orang yang bertanggung jawab dengan setiap keperluan diri sendiri. Kamar mandi mampet, karena masalah rambut yang menyangkut di saluran kamar mandi, maka tinggalkan pergi ke toko peralatan kamar mandi, dan mencari alat untuk menghentikan penyumbatan karena rambut. Bagi saya, hal ini menjadikan setiap pribadi yang pernah belajar di luar ataupun di dalam yang terjauh dari keluarga, memiliki nilai positif tersendiri, yaitu menjadi diri untuk mandiri. Masalah kelengkapan alat di sini, janganlah ditanya, mulai dari alat untuk aksesoris kamar mandi, hingga alat-alat untuk menyelesaikan permasalahan umum yang biasa dihadapi, semuanya ada, dan secara sendiri setiap orang bisa menyelesaikan dengan mandiri. Apakah tidak ada penyedia jasa? Penyedia jasa tentunya ada, namun penyedia jasa akan dipakai jika memang masalah yang dihadapi tidak bisa diselesaikan secara mandiri, selain itu menggunakan penyedia jasa, jangan tanya bagaimana mereka menghargai mereka, karena menggunakan jasa, maka bersiap juga untuk merogoh kocek yang cukup dalam, dan tentu saja, bagi seorang mahasiswa yang hanya mendapat beasiswa yang cukup, berprinsip menyelesaikan secara mandiri akan jauh lebih diutamakan sebelum menggunakan jasa, atau terlebih dahulu bertanya pada rekan lainnya, yang mungkin saja pernah mengalami hal yang sama.

Hidup di luar negeri, memang akan sangat menyenangkan, membayangkan bisa berjalan dan menginjakkan kaki di negeri, yang mungkin hanya bisa kita lihat di internet ataupun gambar-gambar kalender yang sering kita beli, adalah setiap impian orang. Apalagi hidup sembari belajar di luar negeri memang sangat menyenangkan. Namun, tetaplah harus kita selalu bawa dalam diri, bahwa kita harus bersiap untuk menjadi orang yang struggle, dan percaya akan mampu melewatinya dengan baik. Dan, selain itu, hidup di luar negeri, maka haruslah banyak belajar akan budaya baik yang bisa diambil, secara tetap memelihara hubungan baik dengan saudara-saudara di Indonesia yang juga sedang menjadi perantau dan pembelajar di negeri tersebut.

Tokyo, 26 Februari 2017
Ketika fajar sedang menunggu waktunya untuk terbit, dan kala angin musim semi mulai menyapa di bumi Sakura. Saat sakura-sakura sedang bersiap merekahkan keindahannya.

Kembali kepada Niat

Posted: January 30, 2017 in Hikmah
Tags:

“Segala sesuatunya bergantung pada niat”
Inilah penggalan dalam satu hadist pertama dalam Hadist Arba’in

Semuanya memang kembali pada niat orang tersebut. Aktivitas mahasiswa memang masih dienyam sampai saat ini. Jikalau dulu sebagai mahasiswa S1, kini Allah berikan kenikmatan untuk mengenyam pendidikan S2 bahkan di negeri Sakura, Jepang. Negeri yang terkenal akan adab ketimuran yang masih terjaga, dengan setiap nilai kejujuran, nilai keteraturan yang dimiliki di dalamnya. Aktivitas menjadi mahasiswa, tidak lantas kemudian menutup dan menghentikan aktivitas untuk mengaji, karena di sinilah bekal rohani dipersiapkan, selain karena memang mengaji adalah kebutuhan. Ya, mengaji baik dalam hal Al-Qur’anul karim, maupun mengkaji setiap panutan kehidupan yang berada dalam Al-Qur’an dan telah dicontohkan oleh sebaik-baiknya panutan yakni Rasulullah SAW, dalam setiap perkataan, perbuatan, dan bahkan diamnya beliau.

Suatu hari, dalam halaqah yang masih Allah berikan kenikmatan untuk menjalankannya, ada seseorang yang pernah mengingatkan mengenai, bagaimana bermujahadah di negeri ini. Dalam perbincangan kala itu, diri yang masih dhoif ini, sempat terlontar mengenai kebiasaan menuju rumah Allah yang begitu, menurut pribadi ini, sulit dilakukan, terutama ketika mengenai Shubuh berjamaah. Lalu seketika, saudara kami berkata,”bukankah malah jauh lebih banyak pahala yang akan diberikan, ketika kamu menjadikan mujahadah menuju rumah Allah di negeri ini dilakukan, tanpa berkeluh kesah, dan ihlas mengikatkan diri pada setiap kebaikan, bahkan mengikat diri pada kehidupan masjid di dalamnya?”, tukasnya. Seketika, kami hanya menanggapi dengan sedikit senyum, yang sebenarnya, pribadi ini menjadi malu. Ia, malu terhadap setiap nikmat yang Allah berikan.

Saya masih teringat, ketika masih berada di negeri tercinta, dengan mudahnya menuju rumah Allah, yang paling hanya berjarak 500 meter dari tempat tinggal. Kebetulan masjid di rumah sangat dekat, hanya selang satu gang dari gang rumah. Suara adzan yang begitu mudah terdengar ketika setiap waktu shalat datang, mudah menjadikan kami mengingat, ia mengingat karena waktu shalat yang datang. Dan ketika di sini, maka sayalah sendiri yang harus mengatur waktu, menjadikan setiap sela-sela eksperimen yang dilakukan sebagai waktu menunggu datangnya Shalat, hingga selalu memperhatikan setiap waktu ia datang. Zaman canggih, bisa sahaja menggunakan waktu pengingat? ia benar sekali, namun kembali, mujahadah pribadi yang harus menguatkan diri untuk pergi menghadap-Nya, bermunajat, dan mencintakan waktu bertemu dengan-Nya. Allah memiliki kehendak yang sangat luar biasa, di mana Allah berikan pembimbing yang begitu mau memahami mengenai waktu shalat, dan bersedia memahami akan kebutuhan yang harus dilakukan saya. Inilah yang membuat saya terkadang malu, karena ini adalah bagian nikmat Allah yang begitu besar, namun terkadang saya terlupa. Allahummaghfirly, Ya Allah. Bahkan, nikmat Allah yang begitu besar lainnya adalah ruang shalat berjamaah kami, yang terletak di gedung saya, dan cukup untuk menunaikan setiap shalat secara berjamaah. Allahummaghfirly…

Bagaimana dengan aktivitas halaqah? Semoga Allah selalu memberikan taufik, hidayah, dan ampunan kepada saya, penulis. Saya hanya ingin membagi perasaan yang tadinya secara sepintas tetiba terbesit. Demi waktu yang Allah sumpahkan dalam Surat Al-‘Asr. Halaqah-halaqah di negeri ini, tidak ada bedanya dengan ketika saya masih berada di negeri tercinta. Ia adalah ladang bagi para perindu ukhuwah yang diikat dengan tali keimanan dan kecintaan kepada-Nya. Mengapa saya mengatakan sepintas terbesit? Ya, ketika mengingat tentang kajian, saya teringat ketika dulu berada di Yogyakarta. Kota yang setiap kanan dan kiri, depan dan belakangnya, dipenuhi dengan beragam informasi mengenai kajian di masjid ini, masjid itu, dan sebagainya. Lalu di sana saya teringat, ketika banyak informasi kajian, terkadang rasa malas pun datang, dengan alasan macet, jauh, harus keluar uang bensin, malas karena harus menjemput teman, hujan, dan sebagainya. Saya teringat semua alasan-alasan yang bisa jadi bermunculan dengan tujuan pada akhirnya menjadi kalimat ampuh agar pada akhirnya tidak datang dalam pada kajian. Allahummaghfirly, ya Allah…

Hal yang terbesit adalah bagaimana ketika saat ini, kajian hanya ada dalam setiap pekan sekali, di mana hanya bisa hadir ketika Sabtu dan Minggu? Dalam hati, saya seperti melihat Allah sedang menguji nafas keimanan. Ketika tidak ingin datang, pastilah begitu banyak alasan yang bisa diberikan, apalagi kini Allah sedang memberikan kedudukan untuk menempuh ilmu dari sebelumnya. Ketika akan datang, berniat datang, yang padanya sudah ada catatan kebaikan yang ditulis oleh malaikat, maka sedikit godaan akhirnya pun datang, dengan perlahan ia menggerogoti keinginan untuk datang. Ketika menulis ini, saya hanya merenung…

Ya Allah, ketika dulu masih harus berkendara, malas pun masih melanda…
Namun, kini, ketika hanya harus berjalan, dan duduk manis dalam perjalanan kereta,
Malas pun masih melanda…
Ya Allah, ketika dulu, masih meminta teman menjemput, malas pun masih melanda,
Namun, ketika kini, hanya tinggal duduk manis dalam bus, yang senantiasa datang dengan jadwalnya,
Hamba pun masih memiliki malas…
Ya Allah,
Hamba sering berkata, hamba menginginkan Syurga Firdausmu…
Namun, ketika kesempatan bermujahadah begitu besar,
Masih saja ada malas dan lengah yang hamba sendiri perbuat…

Sedikit renungan ini, bagaikan menampar pribadi sendiri, karena terkadang pribadi tidak pernah bersyukur dalam memaknai setiap kenikmatan yang Allah berikan.
Lalu amatlah benar, ketika pribadi ini, tertegur dengan kalimat yang Allah berulang katakan dalam Surat Ar-Rahman…
“Fabiayyi Ala Irabbikuma Tukadzdziban”, ‘maka nikmat Tuhanmu manakah yang akan engkau dustakan?’

Saya pun sadar, kini hanyalah niat yang akan menjadikan ketulusan dan keihlasan terpancar…

Tokyo, 30 Januari 2017
Seorang yang masih ingin terus belajar dan memaknai setiap proses kehidupan yang dipilih dan dilekatkan pada takdir Rabbnya

Allah dalam Al-Qur’an mengibaratkan bahwa ibarat seorang mukmin yang bermanfaat adalah bagaikan sebuah pohon, yang akarnya menghujam ke tanah, batangnya kokoh berdiri tegak, cabangnya banyak, dan buahnya terasa setiap musim.

Hari ini, di Meguro, KMII menyelenggarakan acara Muslim Millioner, Kembali Ke Titik Nol, yang menghadirkan Ustadz Saptuari dan Bang Teuku Wisnu. Dialah, Allah, yang telah mengatur setiap peristiwa yang tiada sesuatu terjadi jika bukan karena kehendak-Nya. Acara ini sejatinya dimulai sejak ba’da shubuh yang diisi oleh Bang Teuku Wisnu. Dalam sesi ini, beliau bercerita bagaimana tantangan pemuda saat ini, serta sedikit bercerita mengenai proses hijrah dalam dirinya. Hal yang paling saya ingat, dan ini pun sempat diingatkan oleh Ustadz Saptuari, adalah proses mencari kebahagiaan dunia dan akhirat bukanlah mengenai masalah harta, jabatan, kedudukan, melainkan bagaimana sejatinya pribadi yang Allah berikan pinjaman selama di kehidupan di dunia ini, mampu mengikuti segala aturan yang Allah telah jelaskan melalui Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Allah, Allah, Allah, rasanya tertegur hati ini yang telah lama kering, hati yang telah terlupa akan tujuan hidup sebenarnya di dunia ini, jika tidak untuk beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintah dan larangan-Nya. Allah, diri ini bagaikan tersindir, terasa dalam diri berkata,”Hai anak Adam, yang kedua orang tuamu memberimu nama, Abror, yang bermakna orang baik, bagaimana nikmatmu yang telah Allah pinjamkan, kesehatan yang telah dianugerahkan, kesempatan yang Dia hadirkan hingga mengenyam pendidikan jauh di negeri yang terpisah oleh Samudera Pasifik?”. Saya pun hanya tertunduk pada malu, karena begitu sayangnya kedua orang tua saya memberi nama Abror, namun saya belum menjadi seperti orang yang memiliki arti dengan nama tersebut, orang baik. Allah, rasanya sekali lagi tertampar diri ini, apakah prasangka orang saat ini, benarkan itu dalam dirimu? atau sejatinya kemunafikan yang sedang kau lakoni? Sekali lagi, hanya sebuah doa yang saya sematkan dalam hati, “Ya Rabbannas, Rabbussama wa tiwal ardhi, jadikanlah prasangka mereka adalah do’a yang menjadikan hamba menjadi lebih baik dari prasangka mereka. Jauhkanlah kemunafikan dalam diri ini, dan syukur pada-Mu yang telah menutup aib, hamba-Mu ini”.

Kembali kepada titik nol, berhijrah, adalah proses yang tidak mudah, ia sulit, namun Allah selalu membuka pintu-pintu bagi mereka yang ingin menempuh jalan ini. Allah limpahkan keberkahan, rahmat, dan rahim-Nya bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam proses ini. Ini adalah jalan para pecinta taubat, jalan para pendamba Syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, dan ini adalah jalan cinta yang dengannya, Rasulullah dikuatkan oleh Allah SWT, ketika Islam telah hadir di negeri Madinah, setelah berhijrah dari Mekkah.

Kembali ke titik nol, berhijrah, saya pun terus merenungkan makna ini. Sembari melewati jalan pulang menuju apartemen, saya melihat deretan pohon Ginko biloba, yang telah gugur daunnya dalam menghadapi musim dingin. Dalam hati, saya berkata, dia adalah makhluk yang amat patuh terhadap ketetapan Rabbnya. Gugur ketika dingin datang, agar kemudian bersemi dengan daun-daunnya yang hijau, dan menghasilkan buah. Di situlah saya melihat, hijrah, bukanlah kemudian mati, tiada terlihat apapun, namun dia menyiapkan diri untuk menyemai kehidupan baru, mengikuti perintah Rabb, yang dalam setiap do’a shalat, selalu diucapkan,”iyya kana’ budu waiyyaka kanasta’in”.

Ya, hari ini, saya memahami, hijrah ibarat dia memupuk kembali pohon keimanan yang telah gugur dan hampir mati karena banyaknya dosa-dosa yang dibuat, kemudian dia disiram dengan siraman air mata pada kecintaan kepada Rabb dan sunnah Rasul-Nya. Ia, hijrah bagaikan menghidupkan kembali pohon keimanan yang telah Allah berikan semenjak manusia berada dalam kandungan ibunya, ketika dia ditanya, siapa tuhannya, maka ia menjawab Allahu Ahadun. Ia, hijrah bermakna kembali menakar permasalahan dunia dan akhirat dalam keseimbangan yang telah Rasulullah ajarkan, tidak kurang dan tidak lebih, namun pas sesuai dengan yang menjadi porsinya. Dan benar, hijrah bagaikan kembali mengokohkan dan menegakkan batang yang hampir saja tumbang, dan kembali memanjatkan do’a dan usaha terbaik, agar kemudian Allah membuka pintu langitnya, dan mengijabah setiap do’a yang terpanjat, lalu menjadikan hasilnya sebagai buah-buahan terbaik yang manis, harum lagi baunya.

“Ya Rabbannas, jadikanlah diri ini selaku pribadi yang baik. Jauhkanlah rasa sombong, hasad, iri, dengki, dan congkak dalam diri ini. Kuatkanlah iman dan islam yang menjadi nikmat terbesar yang Kau berikan saat ini, hingga malaikat mautmu, Izrail, mencabut nyawa ini. Ya Rabbi, jadikanlah diri ini menjadi orang yang selalu bertzakiyah dalam setiap aktivitas kehidupan di dunia ini, dan ijinkanlah diri ini mencium bau Syurga-Mu”

Tokyo, 15 Januari 2017
Abror,
‘Hamba Allah yang masih ingin terus belajar, fakir dari kesempurnaan, dan masih penuh dengan kebodohan’

Dawai

Posted: January 12, 2017 in Perjalanan

Seutas dawai,

yang dipetik sang pujangga

ia adalah lakon dalam syair

yang bercerita akan senang, sendu, sedih, dan gembira

Seutas dawai,

yang dipetik sang pujangga

memainkan drama dalam alunan nada

mengisahkan setiap alur kehidupan yang dilewati,

ia adalah tangga nada

yang dilukis dengan kesyahduan.

 

Tokyo, 13 Januari 2017

Baru saja berselang satu hari di negeri Jepang, tentang Semangat Pemuda-Pemudi Indonesia, di tahun 1928 yang pada akhirnya menjadikan 28 Oktober sebagai hari, di mana hati, tekad, dan cita-cita kuat tergabung, menjadi sebuah asa yang digelorakan dengan Sumpah Pemuda. Semangat yang menjadikan bangsa, tanah air, dan bahasa yang satu, yaitu Indonesia.

Tetapi hari ini, seperti biasa, rasa-rasanya kebiasaan untuk tidur setelah pukul 00.00 menjadi sebuah kebiasaan, dan seperti biasanya pula, pagi ini belum bisa untuk memejamkan mata, sekedar bermimpi atau sekedar untuk berdoa untuk melihat esok yang akan terus cerah, dengan semangat-semangat yang selalu menjadi pagi.

Malam yang lalu, di tengah-tengah percakapan grup KKN-Misool 2014 (ex-PPB-01), seperti biasanya titik-titik rindu kembali dijalin dengan cerita-cerita yang masih saja kami ingat, ketika kami melakukan sedikit kerja sosial kami, yang kami sendiri sebut diri kami kala itu sebagai Sahabat Misool 2014 (karena kebetulan kami adalah kelompok KKN pertama yang berhasil untuk mengajukan Misool Selatan, terutamanya Kampung Fafanlap untuk dijadikan tempat KKN kami). Singkat cerita, kami pun sedikit mengingat kembali masa-masa ketika harus berjuang, mencari dana, menelpon kerabat, teman, ataupun orang yang kami anggap untuk bisa membantu mendanai KKN kami di Misool Selatan, hingga kami pun melakukan crowd funding melalui kitabisa.com, hingga singkat ceritanya, kami pun bisa berangkat menuju Kampung Fafanlap, Misool Selatan, Raja Ampat.

Malam ini, ditengah dinginnya Tokyo, ditemani lagu Tatinggal di Papua, yang dipopulerkan oleh Pacenogei, serasanya kembali, saya pribadi, mengingat kisah-kisah, dan begitu beraneka ragamnya kehidupan masyarakat di sana, begitu menakjubkan keindahan alamnya, serta melimpahnya sumber daya alam yang dimilikinya. Mungkin tidak salah, jika dalam liriknya, Pacenogei menyiratkan sebuah kerinduan pada Papua, kerinduan akan alamnya, kerinduan akan kehidupannya, hingga hati pun memang benar adanya, hati yang tertinggal di Papua, dan bagi kami pun sama, begitu pula mungkin bagi rekan-rekan yang pernah mengunjungi Papua, maka hati pun akan tetap tertinggal, dan ingin rasanya terus berkisah bahwa Papua memang begitu cantik dan indah, serta dilingkupi kehidupan masyarakat yang begitu harmonis.

Ini saat kami bermain di “Gag”, istilah danau air payau di sana, yap, Ikan Bandeng dan Gabus dengan mudah kami tanggap hanya dengan jaring

Sebenarnya, tidak cukup sampai di sini, perjalanan saya berujung. Lepas selesai KKN di Raja Ampat, Papua Barat, saya melanjutkan perjalanan, ketika itu saya membuat sebuah ungkapan, “merajut ukhuwah, mencintai negeri, mengikat rajutan Indonesia”. Kali ini, ujung Barat, Aceh pun menjadi tempat hari berlabuh. Indonesia, sebenarnya bukanlah hanya Aceh dan Papua, namun ia adalah bentangan zamrud di khatulistiwa, yang setia disinari oleh sang surya, yang setia menjadi zona lalu linta perairan internasional, karena letaknya yang berada di antara dua samudera, yakni Pasifik dan Hindia. Indonesia adalah rumah dari beragam sumber daya alam, dan ia adalah rumah bagi lebih dari 200 suku yang tinggal dengan beragam bahasa daerah yang dimilikinya.

Aceh kala itu menjadi langkah kaki selanjutnya, mulai mengenal Indonesia perlahan, mulai untuk merajut bingkai rindu di setiap tempat yang didatangi. Di Aceh, Pantai Iboeh yang terletak di Pulau Weh, menjadi tujuan kala itu. Di sini, tidak kalah indahnya dengan Raja Ampat, pantai, laut, desiran angin, semburatan cahaya sore kala matahari hendak tenggelam menjadi rasa tersendiri yang tetap saja teringat meski sudah hampir 2 tahun, belum lagi menginjakkan kaki di sana. Dari Raja Ampat dan Aceh, kami belajar, mengenai makna sebuah kesederhaan yang ada dalam masyarakat, kesederhanaan, namun memiliki kebaikan dan rasa berbagi yang sama.

Masjid Baiturrahman Aceh, landmark kota dengan sebutan Serambi Mekkah

 

2 tahun perjalanan sudah dari kedua foto ini, namun ingatan akan keduanya akan terus mengisi cerita perjalanan selanjutnya. Rajutan Indonesia akan terus terajut hingga ia menjadi bingkai Indonesia seutuhnya, menjadi bingkai yang mengikat penuh rasa rindunya.

Selamat melanjutkan mimpi-mimpi selanjutnya Sahabat Misool dan selamat berkarya di manapun kaki ini berpijak, dan kita masih memiliki janji untuk Sahabat Misool…

Suasana lebaran di Kampung Fafanlap

Tokyo, Kita-Ayase
29 Oktober 2016, 01:47

Beberapa pekan lalu, sepintas dalam beberapa timeline teman-teman yang menempuh studi di Belanda, sebuah selebaran bertuliskan MataNajwa: Goes to Netherland. Bukan hal baru memang, MataNajwa, menjadi tontonan tersendiri, yang unik, menguak hal-hal baru, mengupas berbagai macam sisi mulai dari sosial, budaya, bahkan hal yang paling kontroversial, dengan para narasumbernya. Bagi saya pribadi, melihat acara MataNajwa memberikan inspirasi tersendiri, bahkan saat Najwa Shihab membacakan puisi-puisi di akhir acara tersebut, ada nilai, makna, ungkapan, yang menjadikan setiap pendengarnya, berpikir dan melihat kenyataan dan realita yang ada.

Walau hanya sebatas membaca status teman, tapi bagi saya, bertanya ataupun sekedar meminta cerita pada teman yang berada di sana, adalah cukup untuk bisa berbagi pesan dengan apa yang sudah mereka dapatkan dalam acara itu. Ini adalah pesan yang Najwa Shihab berikan ketika menutup acara MataNajwa: Goes to Netherland.

Saat rantau menawarkan beribu goda dan harapan
Kampung halaman terasa sungguh meragukan
Di bawah naungan bujuk rayu materi
Tanah air terasa hanya sekedar melankoli
Wajar jika keraguan merajalela
Indonesia tampak belum menjanjikan apa-apa
Tapi Ibu Pertiwi tak pernah bosan memanggil
Perantau kuyuh oleh perasaan sentimentil
Dipanting oleh ingatan dan kenangan
Rindu tanah kelahiran pasti tak tertahankan
Namun kepulangan jangan semata memuaskan kerinduan
Indonesia butuh sumbangsih kalian yang berpengetahuan
Begitu banyak agenda bersama yang harus direalisasikan
Mimpi dan harapan yang harus jadi kenyataan
Kami amat risau menunggu kepulangan kalian yang sedang berguru
Pulanglah kapanpun kalian mau
Saudara-saudara mu juga sangat ingin maju
Rawe rawe rantas malang malang putung
Kita bikin Indonesia jadi bangsa yang agung
@matanajwa

Inilah kutipan puisi yang saya beroleh ijin untuk membagikannya, dari akun instagram teman saya, @sitimariyam1.

27-28 Oktober 1928, adalah momentum sumpah pemuda, yang menjadikan ikatan para pemuda-pemudi Indonesia menjadi satu padu, menghilangkan rasa kedaerahan, menghilangkan jarak kesukuan, dan meleburkan mereka pada rasa cinta akan tanah airnya. Di tengah momentum akan Sumpah Pemuda pada tahun ini, menjadi momentum kembali untuk para pemuda di seluruh penjuru negeri, dan di seluruh dunia, untuk kembali memadukan  rasa persaudaraan dan membangun cintanya untuk membangun negeri, di tengah kerinduan Ibu Pertiwi kepada anak-anak bangsanya.

Bagi saya pribadi, yang saat ini sedang menempuh studi di negeri Sakura, memang tidak dipungkiri, di sini, kehidupan jauh lebih baik, tidak ada hingar bingar kegaduhan politik, keteraturan dalam segala hal, transportasi, kepatuhan pada hukum yang berlaku, dan norma yang ada. Namun, tetaplah, rindu akan tanah air, pada nyatanya tetap tidak terbendung.

Memang benar apa yang disampaikan dalam puisi MataNajwa, ingatan dan kenangan selama perjalanan hidup di bumi pertiwi lah, yang terus menjadikan hati kecil, selalu berbicara,”Suatu saat aku akan pulang, tidak dengan tangan kosong, namun dengan hal kecil yang akan membawa sedikit senyum dan perubahan untuk tanah air”. Namun, sekali lagi ini tidak bisa dilakukan sendiri, namun harus dilakukan dengan kerja-kerja kolektif, kerja-kerja pemuda-pemudi yang saling bantu membantu, saling membahu, dan saling memberikan masukan demi cita-cita yang disampaikan dalam puisi tersebut, yakni “menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang agung”.

Generasi pembelajar, meminjam istilah yang disampaikan oleh Najwa Shihab, adalah generasi terdidik, yang mengabdikan dirinya untuk berguru, membuka cakrawala pemikiran, menjadikan diri untuk terus belajar, rendah hati, selalu bersikap objektif dalam menilai hal-hal yang sedang terjadi, dan bersikap terbuka dengan siapapun. Jika Generasi Pembelajar, pada tahun 1928, dipersatukan karena adanya persamaan untuk menghimpun para pemuda-pemudinya, melawan penjajahan, maka sejatinya, Generasi Pembelajar saat ini pun, sedang diminta oleh Ibu Pertiwi, untuk menjadi mata air, yang membawa kebermanfaatan untuk rakyat Indonesia.

Tokyo, Kita-Ayase, 25 Oktober 2016
Di tengah dinginnya malam langit Tokyo, menilik kembali diri ini, meluruskan niat, dan membaca kembali jalan yang sudah dilaluinya.

 

Welcome Autumn-Winter

Posted: September 28, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

img_1434

Gugur pertama di Negeri Sakura…

Ibarat sebuah pertanda musim yang akan berganti, langit bagaikan mencurahkan seluruh anugerah berupa hujan pada seluruh tanaman dan makhluk hidup di bawahnya. Beberapa hari ini tampak langit Tokyo yang terkadang cerah, kemudian berganti dengan gelayut mendung. Ibarat sebuah pertanda, Tuhan sedan memberikan kesempatan bagi makhluknya untuk menyiapkan datangnya musim gugur yang sekiranya akan berlanjut pada music dingin hingga akhir Maret tahun depan.

Ini adalah pohon Ginko yang berada tepat di tengah Kampus Yayoi, UTokyo. Setiap hari yang terlewati nampaklah, daun-daun yang berguguran, dan daun-daun yang terus menguning menandakan mular masuknya musim gugur yang akan berlanjut pada musim dingin.

Musim yang akan dilewati dengan dinginnya cuaca, dan hangatnya semangat penuh mengejar apa yang sudah pernah menjadi mimpi dan tujuan perjalanan ke negeri ini. Daun yang gugur bagaikan memasrahkan segala urusannya pada Dia yang Maha Memiliki dan Menggenggam semuanya. Begitu juga diri ini, seharusnya terus berpasrah, setelah ikhtiar yang dilakukan.

 

Welcome Autumn-Winter 2016
Sudah 7 bulan saja, saya menginjakkan kaki di negeri ini. Semoga langkah ini menjadi langkah untuk selalu berbuah keberkahan dan kebaikan.

Kita-ayase, 28 September 2016

Bersabar…

Posted: September 13, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

Kata “Sabar”, yang selalu ibu saya ingatkan. Memulai perjalanan seorang diri, di negeri orang, tanpa sanak keluarga, mungkin memang berat pada awalnya. Namun, bagi seorang ibu, ia paham bahwa inilah yang harus dilakukan sang anak, agar ia paham, bahwa nantinya perjalanan kehidupannya, akan ditempuh dengan tanggung jawab pribadi, dan memiliki hak penuh untuk memutuskannya sendiri. Bagi saya, ibu dan bapak, adalah sosok yang begitu sabar.

Sejak menginjakkan kaki di bangku SMA hingga bangku kuliah, saya telah berpisah dan tinggal sendiri, karena pekerjaan bapak, yang harus membawanya terbang dari daerah kami berasal, Madura. Namun, perhatian dan kehadiran mereka, masih nampak bahkan hingga saya saat ini melanjutkan kuliah di sini, Jepang. Telepon setiap pagi, membangunkan saya untuk pergi kuliah, setiap hari saya dengar dari Indonesia, ditambah sedikit percakapan agar saya tetap terbangun. Ya, bersabar untuk menempa diri, jauh dari sanak keluarga, teman yang pernah dikenal, serta sahabat, adalah pilihan jalan yang dipilih agar kita terus membuka diri, membelah cakrawala keterbatasan yang menutup diri, dan membuka pintu-pintu kebaikan di setiap jalan yang dilewati di tengah kehidupan di negeri orang.

Jalan cinta bukanlah jalan yang selalu berisi manis atau senangnya kehidupan, namun jalan cinta adalah jalan yang diajarkan dengan melewati manisnya kurva sinus, yang harus naik dan turun. Ketika naik, maka menundukkan hati untuk bersyukur dan bersujud, dan ketika turun, maka menengadahkan tangan dan merendahkan hati, untuk meminta, dan memohon kepada sang pemilik alam semesta, Rabbul Alamin.