Membayar Janji

Posted: September 9, 2017 in Perjalanan
Tags: , ,

Menjadi satu kapal dalam sebuah pinisi PPI Jepang 2016-2017, adalah sebuah pengalaman terbaik sendiri bagi saya. Meskipun tidak sepenuhnya mampu untuk mendayung ataupun menjalankan pinisi ini dengan baik, namun terkadang, awak dalam kapal lain yah yang memiliki peranan kuat, agar pinisi ini berlabuh di pelabuhan yang tepat. Peran seorang kapten dalam mengarahkan perjalanan kapal ini pun begitu berpengaruh, apakah akan melewati badai, ataun akan menghindari badai, ataupun memilih untuk masuk dalam putaran badai yang sedang terjadi dihadapannya.

Menjadi seorang pelajar di negeri orang, tidak serta merta kemudian menjadikan kita untuk putus dari kehidupan perkumpulan pelajar, bahkan sepertinya ikut serta menjadi bagian dalam perjalanan perkumpulan pelajar ini akan sangat baik bagi perjalanan ke depannya. Mengapa? Tentu saja, saya tidak ingin mengatakan bahwa akan banyak jabatan-jabatan strategis yang diperoleh, bukan. Ataupun mengenai pengenalan hal layak bahwa kita berada dalam sebuah organisasi besar, yang bernama PPI Jepang, namun lantas kita tidak memiliki apapun ataupun berperan kecil di sana, tentu ini bukanlah juga sebuah keinginan yang diharapkan. Pamor ataupun ketenaran, bisa jadi hanyalah sebuah silaunya cahaya yang dapat mengantar sang pembawa, pada jalan lurus yang memang penuh kebaikan, atau bahkan ia menjadi penutup mata karena kesilauannya, hingga ia terbawa pada jalan yang membawa pada lubang besar yaitu kehancuran, jika tidak disikapi secara arif dan bijaksana.

Menjadi bagian dari sebuah pinisi besar bernama PPI Jepang, saya berada dalam sebuah dek kecil yang bernama Dek Pengembangan Akademik. Di sinilah, saya belajar bersama beberapa orang, Mas Sanji, Mas Rian, dan Mbk Rioz, yang ketiganya juga merupakan mahasiswa-mahasiswa terbaik di bidangnya. Apa yang kami sepakati kala itu, adalah membuat buku panduan mengenai pendidikan di Jepang. Ya, sebuah niatan, yang mungkin sebenarnya sudah dilakukan oleh para pendahulu senpai-senpai kami, yang sudah terlebih dahulu memberikan pengetahuan bahkan persiapan ketika adik-adik kelas mereka akan melanjutkan studi di Jepang. Bahkan, saya kira kisah inspiratif bahkan kisah-kisah yang penuh motivasi sudah sering kali dituliskan oleh para senpaisenpai kami di sini untuk dibagikan kepada adik-adik kami, yang memiliki semangat untuk belajar di negeri yang terkenal akan kedisiplinan, bahkan totalitas dalam mengembangkan science dan technology hingga mereka dapat menemukan akar-akar dari batang yang sudah tegak dari pemahaman akan science dan technology. Ide kami hanyalah untuk memadupadankan antara kisah-kisah inspiratif hingga pada proses yang haru disiapkan untuk menuju negeri Sakura ini. Kami pun tidak memungkiri bahwa sudah banyak sekali, mungkin, para alumni yang memiliki blog-blog tersendiri yang menuliskan kisah inspiratif perjalanannya hingga menjemput mimpi dan menjadi mahasiswa terbaik di bidangnya ketika menempuh studi di sini. Namun, kami yakin, bahwa setiap anak adam, akan memiliki cerita sendiri dalam perjuangannya, meskipun ada kemiripan dalam menyelesaikannya, namun pasti ada sisi unik setiap orang yang bisa dibagi kepada anak cucu adam lainnya, hingga ia mampu untuk mengolah dan menjadi diri terbaik untuk menjemput impiannya ke negeri Sakura ini.

Hanya beranggotakan empat orang, kami mencoba menggarap sedari awal, dimulai dengan tema, membagi PIC dalam setiap tema, dan mencari para penulis untuk setiap tema yang kami siapkan. Tidak mudah rasanya dalam perjalanannya hingga akhirnya, kami berhasil menyusun buku tersebut, meski masih berupa dummy, karena kami yakin masih dari jauh kesempurnaan buku tersebut untuk sudah dibaca oleh khalayak umum. Namun, satu hal yang ingin kami ucapkan, adalah rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada para penulis, yang meluangkan waktu untuk menulis ceritanya, membagi sebagian cerita kehidupan yang dialaminya, dan meluangkan waktu memberikan kisah inspirasi dalam setiap tulisan yang dituangkan dan dicurahkan.

Selain itu, kami juga mengucapkan terima kasih kepada nahkoda kami, Mas Pandu, yang setiap waktu menanyakan keberlanjutkan dari janji yang sudah kami sampaikan di awal kepengerusan. Pun dengan Mas Sanji, sebagai Kepala Dek yang senantiasa untuk menyisihkan waktu di sela-sela baito, kuliah, dan mengurus keluarga, serta di tengah masa prajabnya untuk menyempatkan mengedit, menambahkan, mengoreksi dan memadupadankan bahasa dalam setiap tulisan. Mas Rian, selaku rekan yang banyak memberikan masukan, terima kasih, kami ucapkan. Terakhir, kepada Mbk Rioz, the strongest woman between us, yang berani banyak mengambil posisi editor setelah tulisan masuk, banyak memberikan masukan dalam setiap tulisan-tulisan penulis, bahkan kemudian mau untuk sekadar mengubah bahasa yang belum tersesuaikan dengan keinginan tim, untuk kemudian menjadi bahasa yang lebih nyaman dan sepadan dengan tulisan lainnya. Saya merasa berada dalam tim hebat, yang tidak sekadar hanya ingin berjanji, namun berusaha menepati janji, meski ada kurang, agar tidak ada celah besar dalam cerita-cerita selanjutnya. Kepada para penulis, yang kami gabung dalam Sakura Warrior, terima kasih sebanyak-banyaknya terhadap waktu dan buah pikiran yang telah kalian tuliskan dan kami gabungkan dalam kumpulan buku tersebut.

Belajar bergerak bersama, ya, saya pun banyak belajar dari rekan-rekan semua, dalam tim pengembangan akademik, untuk kemudian bergerak bersama menunaikan janji yang pernah terucap dan pernah tersiratkan dalam kepengurusan PPI Jepang 2016-2017. Kini pinisi pun telah berlabuh di ujungnya, jangkar pun telah dilemparkan, menambatkan pinisi untuk dinahkodai oleh kepengurusan selanjutnya. Namun, Dek Pengembangan Akademik 2016, masih menyisakan sedikit hutang untuk menyempurnakan buku yang sudah diselesaikan.

Mas Sanjiwana, Mas Rian, dan Mbk Rioz, selamat bertebaran setelah pinisi mengembangkan layar, dan jangkar pun telah dinaikkan, oleh awak kapal dengan kapten selanjutnya. Semoga masih terus berada untuk mengingatkan dan saling menyemangati. Kepada Kapten kami, Mas Pandu, selamat atas amanah barunya, jika dulu harus membawa pinisi, kini bukan hanya pinisi yang kau bawa, namun sebuah pesawat yang harus diterbangkan, dan membawa peran perubahan terutama ketika harus mendarat di negeri tercinta. Semoga Allah memberikan rahmat dan kebaikan dalam setiap tanggung jawab amanah yang diemban.

Tokyo, 9-9-2017
Dari seorang yang selalu merasa bodoh dan merasa kurang akan ilmu dan berbuat baik.

Advertisements

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, masa ujian midterm semester sudah terselesaikan, meski masih banyak pertanyaan yang masih tersisa dengan riset penelitian yang sedang dilakukan. Begitu pun, malam ini dapat kesempatan untuk menulis kembali di blog yang terkadang tidak terupdate dengan baik, :).

Kali ini akan saya bercerita mengenai menjadi bagaimana begitu rapinya kami ketika berada di kantin kampus. Jika sering kali melihat anime-anime Jepang atau film-film yang bercerita mengenai kehidupan di Jepang, benarlah adanya jika kegiatan makan di kantin kampus seperti apa yang terlihat di film atau anime tersebut. Setiap orang akan berjajar, sembari memilih makanan yang sudah disediakan oleh pihak kantin kampus. Di sini, setiap makanan akan memiliki catatan atau tertera berapa kalori yang diperoleh, lalu selain itu, akan ada cap makanan tersebut, apakah mengandung daging sapi, daging ayam, daging babi, ikan, ataupun hanya sayuran, yang tidak kalah penting adalah harga makanan pun sudah tertera di bawahnya, sehingga bagi kita yang hanya ingin makan sesuai dengan kebutuhan energi atau menyesuaikan dengan pantangan-pantangan makanan yang tidak bisa dimakan bisa memilih menu sesuai dengan yang diinginkan.

Ada sebuah cerita menarik, dari seorang teman yang pernah menyantap makan malam di salah satu kantin kampus. Suatu saat di membeli sebuah menu, yang pada awalnya dia tidak tahu apa yang terdapat di dalam menu tersebut. FYI, bagi rekan-rekan yang akan membeli makanan di sini, you are be pleasured bertanya mengenai bahan-bahan apa saja yang terdapat di dalamnya, semisal apakah mengandung alkohol atau tidak, karena petugas kantin akan memberi tahu secara jujur apa yang terdapat dalam menu makanan tersebut, selain itu, hal yang unik di sini adalah petugas akan paham dari mana makanan tersebut berasal, semisal apakah makanan di kantin A sama dengan kantin B. Baik kembali ke cerita kawan saya tadi, akhirnya dia pun membayarkan makanan yang sudah dibeli tersebut, namun ketika hendak membayar di kasir, dia pun menanyakan apakah terdapat kandungan buta dalam makanan tersebut. Beberapa menit kemudian, pihak kasir pun menanyakan pada bagian petugas kantin, dan dijawablah bahwa minyak yang dipakai berasal dari minyak buta. Karena sudah dibeli, akhirnya dia pun membayar dan membawa kemeja kantin, namun karena syari’at yang melaranga, akhirnya dia pun segera bergegas dan meletakkan makanan yang belum disentuh tersebut ke bagian tray sehingga petugas akan membersihkan sisa makanan tersebut. Pergilah ia akhirnya meninggalkan kantin, namun tidak lama petugas kantin pun memanggilnya dan mengembalikan uang yang tadinya ia gunakan untuk membayar makanan tersebut, sembari meminta maaf.

Nah, dari cerita teman tersebut, saya melihat bagaimana begitu menghargainya orang-orang di sini terhadap hal-hal yang menjadi pantangan bagi seseorang. Selain itu, di sana terdapat nilai bagaimana mereka kemudian mengembalikan uang yang dibayar dikarenakan teman saya tidak menyentuh sama sekali makanan tersebut. Teman saya pun menduga kemungkinan ketika makanan tersebut masuk melewati tray menuju dapur untuk dibersihkan, pihak kantin melihat makanan tersebut masih utuh, sehingga mereka kemudian pun mengembalikan uang tersebut.

Tidak hanya sampai di sini ya, hidup di sini memang semuanya sudah teratur. Bukan hanya dari urusan kantin, namun juga bagaimana aturan membuang sampah. Di setiap kota di Jepang, akan memiliki aturan sendiri dalam memisah dan memilah sampah, bahkan sampai pada waktu kapan sampah tersebut akan diangkut oleh petugas kebersihan. Mungkin bagi kita, ah sudah biasa mah milah sampah, organik, non organik, combustible, uncombustible, dan lainnya. Mungkin bagi sebagian orang, udah basi lah ya mengenai hal tersebut. Well, bagi saya ini adalah sebuah pelajaran yang luar biasa, karena pada kenyataannya di negeri sendiri masih susah untuk melakukannya, namun di sini, you must do it. Kita dilatih membiasakan diri untuk kemudian melakukan hal tersebut, semenjak pertama kali sampai di negeri ini. Jangan bayangkan, tong sampah akan berada di kanan-kiri jalan, ataupun setiap toko-toko kecil di kanan-kiri jalan akan menyediakan sampah, yang jelas NO. Jika ada sampah, dan tidak menemukan tempat sampah, maka bawalah sampah tersebut sampai ke rumah, dan buanglah sesuai dengan bagian mana sampah tersebut harus dipilah.

Bagaimana dengan sampah laboratorium di sini? Semuanya diatur dengan baik. Setiap sepekan sekali, saya bersama rekan-rekan satu laboratorium akan membersihkan laboratorium. Sampah laboratorium di sini, juga harus dipisah sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan oleh pihak kampus. Sampah plastik laboratorium tidak boleh digabung dengan sampah plastik umum, begitu pun, dengan peralatan habis pakai yang mengandung medium juga tidak bisa digabung dengan satu yang lainnya. Semuanya harus dipisah satu dengan yang lain sesuai dengan ketentuannya. Aturan seperti ini sebenarnya sangat baik dilakukan, karena pada dasarnya sampah laboratorium memang harus dikelola sendiri mengingat tidak ada yang bisa menyadari bahaya dari sampah-sampah ini.

Baiklah sekian dulu dari cerita hari ini, dan harapannya, tulisan ini kelak akan menjadi pengingat bagi saya pribadi untuk terus belajar dari apa yang sudah dapat ketika belajar dan juga menerapkan hal-hal baik yang sudah dijaga agar nantinya virus-virus kebaikan itu pun bisa menular bagi lingkungan sekitar.

 

Tokyo, 28 Juli 2017

Malam Minggu

Posted: July 8, 2017 in Perjalanan

Selamat datang malam minggu,
Malam yang selalu identik dengan hang out, ataupun sekedar duduk mengopi bersama, atau bahkan bagi rekan-rekan lainnya malam yang dinanti untuk duduk mengaji dan mengkaji (halaqah) bersama rekan-rekan lainnya. Every body, I think, they will have their own way to spend this night.

Malam minggu ini, saya berada di laboratorium untuk menyelasaikan pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga di hari Senin saya bisa tenang, karena tugas yang sudah terselesaikan “(harap tidak digeneralisir untuk semua orang di sini ya)“, dan waktu yang tidak terbuang di malam ini akhirnya bisa dimanfaatkan untuk keesokan harinya.

Baiklah, malam ini sebenarnya saya tidak ingin membahas pekerjaan di malam minggu, yang sejujurnya, I even do not know, kenapa saya merindukan masa-masa akan berada di laboratorium seharian penuh dengan banyaknya kegiatan eksperimen yang harus dilaksanakan, terutama ketika menghitung satu minggu sebelum progress report schedule.

Hal yang saya kerjakan saat ini di laboratorium adalah mengenai combined-culture of microbia, serta interaksi keduanya untuk menghasilkan specialized-metabolites yang memiliki peran sebagai antibiotik. Selama lebih dari satu tahun, saya dan supervisor mengerjakan mengenai analisis senyawa yang dihasilkan serta mengisolasi senyawa tersebut guna mendapatkan struktur kimia, serta dapat melakukan uji aktivitas terhadap senyawa tersebut. Pada beberapa penelitian sebelumnya, penggunaan combined-culture berhasil mendapatkan senyawa baru dengan struktur yang unik dan memiliki beberapa aktivitas baik sebagai antibiotik ataupun senyawa kanker.

Berbicara mengenai antibiotik, maka tidak terlepas terkait isu resistensi antibiotik yang saat ini mulai terjadi baik terhadap antibiotik lama yang telah ditemukan atau terhadap semi-synthetic antibiotic yang mulai banyak diproduksi saat ini. Beberapa jurnal yang membahas mengenai hal ini menjelaskan bahwa resistensi terhadap antibiotik yang dikembangkan oleh bakteri terkait mengenai gen yang bisa saling bertransfer dari satu bakteri ke bakteri lain, baik yang berada dalam satu genus ataupun berbeda genus. Kemampuan inilah yang menyebabkan tingginya akan resistensi terhadap antibiotik.

Salah satu penelitian yang dilakukan di McMaster University, pernah melakukan isolasi bakteri dari tanah yang kemudian dilakukan pengujian terhadap berbagai antibiotik yang sudah berada komersil digunakan. Hal yang kemudian sangat mengejutkan adalah beberapa isolat bakteri ditemukan sudah mengembangkan kemampuan untuk resisten terhadap berbagai macam antibiotik yang sudah mulai komersil. Dalam satu sisi, ini artinya proses penggunaan antibiotik yang baru ditemukan juga harus mengantisipasi munculnya resistensi terhadap antibiotik tersebut. Namun di sisi lain, hal ini haruslah mendorong untuk dilakukan proses eksplorasi lebih lanjut baik mengenai pencarian senyawa baru antibiotik ataupun penelitian bagaimana resistance-gene yang terdapat pada bakteri, kemudian bisa bertransfer dari satu bakteri ke bakteri lain, baik dalam satu genus ataupun berbeda genus.

Kembali pada penelitian yang dilakukan di salah satu group laboratorium di McMaster University, ketika dilakukan pengkajian terhadap salah satu isolat yang resisten terhadap salah satu semi-synthetic antibiotic, mereka menemukan bahwa isolat tersebut memiliki kemampuan untuk memodifikasi antibiotik tersebut menjadi tidak aktif dengan menambahkan gugus gula pada salah satu moiety struktur antibiotik tersebut. Hal ini mereka temukan dengan melihat adanya perubahan m/z setelah dilakukan proses ekstraksi terhadap medium yang telah ditambahkan senyawa antibiotik tersebut, dan ditumbuhkan isolat bakteri tersebut.

Menarik? Tentu saja, karena resistensi terhadap antibiotik oleh bakteri sangatlah menjadi topik yang saat ini menjadi hangat di kalangan para pakar mikrobiologi, ditambah mengenai kajian peran specialized-metabolite yang mereka produksi, berkaitan dengan peran ekologi, dan fungsinya terhadap mikrobia lainnya.

Selain itu, chance bagi para peneliti di Indonesia, adalah kesempatan menemukan senyawa-senyawa baru dari alam Indonesia, yang melimpah ruah terhampat dari Sabang hingga Merauke dengan keunikan setiap ekosistemnya. Selama ini, penelitian mengenai isolat baru dari tanah Indonesia sudah begitu pesat, namun tidak memungkinkan untuk meningkatkan pada penelitian mengenai aktivitas secondary metabolite yang dihasilkan oleh isolat tersebut.

 

Laboratorium No. 34, Tokyo Daigaku (10:38 (JLT))

Bekerja Paralel

Posted: July 7, 2017 in Perjalanan

Pekerjaan di laboratorium kini semakin terasa menyenangkan, betapa tidak, 5 bulan menjadi batas akhir penyelesaian program kuliah yang sedang ditempuh saat ini, dalam artian Thesis Submission deadline will face on me.

Beberapa hari terakhir, bekerja paralel rasanya benar-benar terasa sedang saya lakukan, padahal awalnya, dulu saya pikir bekerja paralel ini akan sangat memberatkan dan melelahkan. Namun, pada kenyataannya ini yang sedang terjadi pada saya. Tenggat waktu pendidikan master di sini adalah 2 tahun, karena basic yang kami ambil adalah research based. Sehingga, 2 tahun yang didalami adalah riset dan riset. Jangan dibayangkan seperti halnya ketika masih di sarjana, yakni satu hari bisa tidak ada pekerjaan sama sekali, atau bahkan mungkin bisa jadi satu atau dua hari lepas dari riset yang dilakukan. Saya pribadi merasakan, satu hari atau dua hari mendapatkan sakit, akan berdampak pada eksperimen yang sedang dikerjakan, kebetulan, karena bidang saya berkaitan dengan mikrobiologi, maka tentu saja, waktu kultivasi menjadi sangat penting, bahkan waktu untuk memanen hasi kultivasi menjadi sangat penting. Satu hari terlambat, maka riset yang dilakukan bisa jadi tidak akan menjadi valid.

Pada awal masuk di laboratorium, supervisor saya pernah menyampaikan, bahwa bekerja secara paralel akan sangat dibutuhkan. Di awal penelitian, memang saya agak tergopoh mengejar ritme kerja yang dilakukan. Dalam satu hari, 2 sampai 3 eksperimen bersama bisa dilakukan oleh rekan-rekan satu laboratorium. Alhasil, jadilah saya sedikit ragu, can I do this experiment as they do?

Kenyataannya, beberapa minggu ini mulailah terasa bekerja paralel yang pernah dimaksudkan supervisor saya. Semisal, ketika sedang melakukan ekstraksi dari sampel bervolume 2 liter, maka ketika ada waktu luang di tengah menunggu proses ekstraksi, maka eksperimen lainnya bisa dikerjakan (eksperimen di sini, bermaksud persiapan yang diperlukan untuk menyiapkan sampel pada eksperimen lainnya), semisal inokulasi mikrobia pada medium cair, ataupun menyiapkan sampel untuk proses uji aktivitas, ataupun menyiapkan medium. Planning riset di sini memang sepertinya nampak begitu banyak, namun entah akhir-akhir ini merasakan adanya sistem kerja paralel menyebabkan mudahnya untuk menentukan setiap data sampel yang diperlukan. Ditambah lagi, supervisor sering kali memberikan clue terhadap hasil yang diperoleh.

Kenyataanya, semakin hari semakin dijalani, ada beberapa nilai positif yang bisa diambil dari sistem bekerja ini. Tidak perlu menunggu hasil riset yang sebelumnya (dalam artian meninggalkan sama sekali), namun melihat adanya kemungkinan peluang dari riset lainnya (masih dalam satu rumpun), sehingga ketika ada data yang kurang baik, masih ada progress dari data lainnya, dan tentunya masih bisa melakukan diskusi lebih lanjut dengan supervisor.

Pramana (Hongo, 8/7/2017)
“Pribadi yang masih bodoh, dan masih terus akan belajar”

Sudah lama rasanya, jemari ini tidak lagi mengetik di antara untaian alfabet keyboard ini, kecuali ketika harus membuat progress report, ataupun report jurnal yang harus dikumpulkan sebagai persyaratan untuk melengkapi kehadiran selama perkuliahan pada periode Spring ini. Lama tidak bersua, dan ternyata sudah hampir 1.5 tahun proses studi dilakukan di sini. Terbayang? Heum, rasanya terkadang terasa singkat bahkan terkadang terasa lama, karena semua bergantung pada perspektif yang dialami setiap insan yang sedang menempuh studi di sini.

Hidup di perantauan terkadang begitu menantang, bahkan hampir terasa ini adalah sebuah hal yang harus dilewatkan untuk merasakan tantangan-tantangan yang akan dihadapi, dimulai dari mengurus perekonomian sendiri, mengatur jadwal makan sendiri, bahkan urusan dapur, dan urusan kamar mandi semuanya harus dijalankan sendiri, karena tentunya ini adalah resiko yang harus diambil, bagi mereka yang terutama untuk memilih berada jauh dari kampung halaman. Pertama kali datang ke negeri ini, adalah ketika mendekati Ramadhan 1437 H. Awal-awal mendengar cerita bahwa berpuasanya akan sangat berbeda, karena tentu saja, tidak akan sama rasanya seperti ketika berada di Yogyakarta, saat menempuh S1. Keluar rumah, burjo di depan, jalan ke depan jalan raya sedikit, nasi goreng, belok kanan sedikit, ada alfamart atau indomaret yang semua makanannya sudah bertuliskan HALAL. Namun, bagi saya yang saat ini berada di negeri minoritas ini, ada kebanggaan sendiri, yakni sebuah usaha untuk mendapatkan makanan yang HALAL, bahkan terkadang, memasak menjadi opsi untuk menjamin setiap kebaikan yang semoga senantiasa menjadi bekal bagi tubuh untuk melaksanakan setiap ibadah yang dilakukan.

2 tahun menjalani ibadah puasa di negeri ini, ya, memang terkadang ada rasa kurang, sedikit berbeda seperti ibadah Ramadhan yang pernah dialami ketika di tanah air, namun tetap saja makna Ramadhan di sini terasa begitu bermakna. Hal ini tentunya terasa, ketika ada teman yang bertanya mengapa harus berpuasa, atau bahkan ketika supervisormu menanyakan bagaimana kamu bisa bertahan selama sebulan tidak makan sejak pagi hingga malam, bahkan ketika datang masa-masa eksperimen yang harus dikerjakan hingga malam tiba. Inilah uniknya ketika harus menjelaskan secara detil, bahkan terkadang memberikan analogi mengapa Allah memberikan perintah kepada ummat-Nya untuk melakukan ibadah puasa. Tentunya, penjelasan yang akan diberikan tidak serta merta langsung membawakan ayat ataupun hadist, melainkan sederhananya dibuat sebisa mungkin untuk dipahami oleh mereka, yang mungkin ini baru kali pertama melihat siswa muslim berpuasa, namun Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar, meskipun terkadang ada kebingungan mengapa jatuhnya Ramadhan pada tahun ini berbeda dengan bulan saat jatuhnya Ramadhan tahun lalu.

Apapun yang berlalu, maka selalu teringat bahwa tujuan ke sini, adalah untuk belajar dan melatih diri menjadi insan yang bertanggung jawab akan setiap keputusan yang diambil. 1.5 tahun perjalanan di negeri ini memanglah waktu yang sangat cepat. Namun, banyak hal yang bisa diperoleh dari setiap perjalanan yang ada. Dulu, saya mengira perjalanan riset akan berlangsung dengan mulus, mengingat ketersediaan semua bahan bahkan alat yang mungkin bisa dikatakan lengkap, akan memberikan jalan yang mulus terhadap angan-angan hasil riset yang diidamkan. But wait, ini adalah jalan pikiran saya pribadi, dengan segala kelemahan yang saya miliki. Terkadang, ada yang dilupakan yakni bagaimana sang Pencipta mencoba untuk mengajarkan banyak setiap hikmah dalam perjalanan yang sedang saya tempuh. Gagal? Pernah, bahkan kehilangan senyawa yang harusnya bisa saya isolasi. Lelah? Sebagai manusia yang normal, wajarlah jika perasaan ini selalu ada, bahkan terkadang bisa mengalahkan 100% semangat yang pernah dibawa ketika dulu menginjakkan kaki di sini. Namun pada akhirnya, banyak perjalanan yang mengajarkan saya untuk memilih berdamai dengan keadaan. Belajar untuk ikhlas dan menguatkan ikhtiar kembali, mengumpulkan serpihan-serpihan yang terkadang menjadi debu karena lelah yang timbul karena tidak ada alasan yang tepat.

Beberapa bulan yang telah berlalu, seperti itulah keadaan yang sedang dialami. Merasa lelah, namun tidak ada yang menjadikan alasan kuat mengapa lelah ini ada? Persatu saya mencoba menguliti apa yang sebenarnya salah ataupun dosa yang mungkin menjadikan lelah ini ada. Hingga pada akhirnya, saya sadar bahwa saya terkadang melupakan untuk menghadirkan Dia yang Maha akan segalanya dalam perjalanan ini. Layaknya charger, ketika battery sudah kosong karena aktivitas yang dilakukan, maka ia perlu diisi. Seperti itulah yang saya rasakan, bagaikan battery yang kosong, namun saya lupa untuk me-recharge kepada Dia yang Maha Memiliki. Selain itu, ada satu sisi terkadang saya tidak bisa berdamai dengan keadaan, yang artinya saya mencoba mencari jalan pembenaran dari lainnya, atau bahkan saya tidak melihat jalan saya sendiri dan melihat jalan orang lain. Hal inilah yang saya sendiri sadari pada akhirnya hanya akan membuahkan kelelahan yang tak beralasan dan berujung pada rasa kurang bersyukur pada keadaan yang ada.

Happy Ramadhan, Ramadhan Kareem
Tokyo, 15 June 2016/20 Ramadhan 1438 H

Korea, untuk pertama kali

Posted: May 23, 2017 in Perjalanan

Akhirnya mengunjungi juga negeri yang laku sekali dengan film-film yang dibintangi artis cantik dan tampah. Bahkan jangan salah, demam K-Pop yang melanda di tanah air juga datang dari negeri ini, bahkan demam K-Pop terasa juga d Jepang, negara tempat saya menempuh studi saat ini.

A3 Foresight Symposium adalah agenda yang telah saya ikuti. A3 Foresight sendiri merupakan kerja sama antara 3 negara di asia, yakni Jepang, Korea, dan China, yang sedang gencarnya membangun hubungan terutama di tengah perkembangan sains yang saat ini sangat luas. Program ini tidak hanya memberikan dana untuk penelitian, namun berusaha membangun kolaborasi bersama anta ketiga negara dengan tujuan menjadikan ketiganya sebagai leading country dalam perkembangan science and technology terutama di kawasan Asia.

Program ini sendiri dikhususkan untuk tahun ini mengenai chemical and synthetic biology on natural products. Hal yang menarik, bahwa perkembangan natural product saat ini memang sudah luar biasa, bidang dalam aplikasi ataupun basic science benar-benar terlihat sepadu seragam dalam perkembangannya. Jika Jepang, selama ini dikenal sebagai negara dengan penelitian yang kuat dalam hal basic research, tidak terkecuali China dan Korea, yang pun menguatkan basic science pula dengan applied science. Hal yang menarik yang saya ikuti dalam kegiatan ini adalah bagaimana sharing ide bahkan konsep riset yang dilakukan, saling dibagi, bahkan tidak menutup kemungkinan akan semakin kolaborasi yang bisa dijalin antara ketiga negara.Bahkan saya sampai lupa, kegiatan ini merupakan kerja sama antara The University of Tokyo, Inha University, dan Shanghai Jiao Tong University.

Mengunjungi Korea saat ini hanya d 2 hari saja, namun semoga ada kesempatan untuk kembali dan mengunjungi negeri ini. Kebetulan, saat ini diadakan di Jeju Island, pulau di selatan pulau utama Korea Selatan, yang mirip sekali dengan Bali.

Tidak banyak hal yang bisa diceritakan di sini, tapi yang jelas, bagi mereka para penyuka serial drama, memang seperti itulah keadaan di sini, bersih, iya, rapi iya, dan yang jelas, uniknya bahasa mereka.

Semoga dilain kesempatan saya bisa memberikan gambar-gambar menarik dari perjalanan ke Korea.

Hampir separuh perjalanan saya sudah hampir selesaikan selama menempuh studi di negeri yang penuh keteraturan, dan tentu saja, bagi teman-teman, mengunjungi negara Jepang, menjadi kesenangan sendiri karena bisa menjelajah satu-persatu setiap negara di belahan bumi manapun. Hampir dulu, setiap saya mendengar orang akan belajar ke luar negeri, satu hal yang ketika itu saya bayangkan, berlibur, sembari belajar dan bahkan hidup dengan nyaman di negeri orang. Heum, itu dulu, ketika saya masih menjadi pelajar di negeri gemah ripah loh jinawi, yang dalam sebuah nyanyian dikatakan, tongkat kayu jadi pohon. Ya, siapa yang tidak akan senang, ketika tahu akan tinggal dan belajar di negeri Sakura, ataupun di negeri-negeri lainnya. Bukan kepayang, akan kehidupan, bahkan lingkungan baru yang akan dihadapi, penuh ketenangan, tidak ada hiruk pikuk politik sana dan sini, adanya saling menghargai, dan tentu saja bagi saya, adalah menemukan nuansa Islam yang baru dan bertemu dengan keluarga-keluarga. Di sini, adalah tempat menempa diri untuk mengasah kepedulian, kepekaan, bahkan mengasah rasa saling membutuhkan satu yang lain, tidak terlepas juga, bagi saya seorang muslim, adalah menumbuhkan rasa saling menyayangi dan menghormati antar saudara-saudara muslim lainnya, yang mungkin mereka berbeda secara latar belakang keluarga, serta berbeda dalam pandangan mazhabnya.

Indah sekali memang, semua serasa berada dalam impian yang kemudian menjadi nyata. Heum, tapi hidup di luar negeri, sembari belajar dan menekuni bidang yang ingin didalami, ternyata akan membawa dampak yang jauh lebih besar terhadap pribadi kehidupan yang bisa dibawa pulang dan diterapkan ketika pulang ke negeri Indonesia. Hari ini memang terasa sangat istimewa bagi saya pribadi.

Ya, kehidupan setelah menjadi anak kos di tempat kuliah semasa S1, di UGM, memang pada akhirnya terbawa ketika sudah berada jauh dari kenyamanan saat dulu semasa berada di Yogyakarta. Mari bayangkan, kehidupan nyaman di Yogyakarta, dimulai dari makanan yang serba bisa kita makan, terutama untuk muslim, tidak begitu menyulitkan untuk dicari. Berangkat 500 m di depan kosan, pastilah ada warung, yang biasa dikenal burjo, yang menjajakan makanan serba murah. Lapar di tengah malam, dan ingin makanan serba lain, maka tinggal menunggu gerobak dorong, yang akan menjajakan makanan berupa nasi goreng, mie goreng, ataupun terkadang penjual batagor ataupun siomay, yang bisa saja kita beli kapan pun sedang dibutuhkan untuk mengganjal perut di kala keroncongan perut sedang berbunyi. Nyaman? Tentu saja. Namun ketika sudah tinggal di luar negeri, bagi saya seorang muslim, bersikap berhati-hati akan sangat diperlukan. Memperhatikan setiap komposisi makanan, tentu saja, bahkan terkadang menanyakan kepada mereka yang paham akan komposisi makanan tersebut. Selain itu, berharap ada warung di depan apartemen yang kita tinggali, oh tentu saja tidak ada. Maka, jalan satu-satunya adalah memasak di apartemen sendiri, ataupun berkunjung ke rumah sesama orang Indonesia, berbincang, dan alhasil maka kita pun bisa bersantap makanan rumaha, yang akan mengingatkan kita pada Indonesia, dan inshaAllah, halal tentunya. Masalah makanan, memang pada dasarnya bergantung pada pribadi masing-masing yang akan memakannya, namun bagi beberapa orang, bersikap berhati-hati benar-benar mereka terapkan, dan semoga saya pun termasuk pada bagian orang-orang tersebut.

 

s__15990932

Terima kasih, Mbk Ela dan Mas Septian, yang setiap harinya mau direpotin, bahkan datang tanpa undangan

 

Well, itu baru makanan. Ada cerita lain hari ini, yakni mengurus rumah. Mungkin ketika dulu di kosan, kita terbiasa tinggal di asrama, ataupun kontrak bersama rekan-rekan teman sejawat lainnya, yang setidaknya, ada orang lain yang tinggal bersama kita. Ada masalah dengan rumah, ataupun terutama masalah kebersihan kamar mandi, tentu saja orang yang paling routine menjaga kebersihan, pasti akan menjadi orang yang istilahnya “pengontrol” dengan kondisi kebersihan di tempat kita tinggal bersama. Apalagi mungkin ketika kita tinggal bersama kedua orang tua, heum, jangan tanya maka semua akan tinggal tersediakan di depan mata. Baju tersetrika, tercuci setiap waktu, lemari yang rapi, bahkan kamar tempat tinggal, heum, jangan ditanya pastilah orang tua akan selalu menjaga kerapiannya. Menarik dari cerita malam ini, adalah kamar mandi yang mampet. Hidup di luar negeri, jangan tanyalah harga tempat potongan rambut yang biasanya kita lakukan, mungkin sebulan sekali ketika berada di Indonesia. Ya, karena kebetulan harganya pun terjangkau. Apakah di Tokyo tidak terjangkau? Oh tentu tidak, ada pula harga potongan rambut yang seharga ¥ 1000, namun bagi para mahasiswa, tentu saja harga ini bisa dikompromikan, dengan memotong rambut tidak sebulan sekali, bahkan biasanya baru setelah 6 bulan atau 3 bulan, atau jika ada cara lain, adalah membeli alat potong rambut sendiri, dan memotong sendiri. Kebetulan saya pribadi belum berani untuk memotong rambut sendiri, jadi alhasil sudah hampir 6 bulan lebih saya belum memotong rambut, dan masalah hari ini adalah kamar mandi yang mampet, alias aliran air yang tidak berjalan lancar. Saat dulu saya berada di kosan, bersama dengan teman-teman saja, masalah kamar mandi mampet jarang sekali dihadapi, karena kebetulan, kami memiliki Mas Arif, yang amat sangat bersih sekali, dan setiap kali pastilah kamar mandi selalu bersih dan terkuras dengan baik. Namun, ketika sudah berada di luar negeri, tinggal sendiri, maka harus menjadi orang yang bertanggung jawab dengan setiap keperluan diri sendiri. Kamar mandi mampet, karena masalah rambut yang menyangkut di saluran kamar mandi, maka tinggalkan pergi ke toko peralatan kamar mandi, dan mencari alat untuk menghentikan penyumbatan karena rambut. Bagi saya, hal ini menjadikan setiap pribadi yang pernah belajar di luar ataupun di dalam yang terjauh dari keluarga, memiliki nilai positif tersendiri, yaitu menjadi diri untuk mandiri. Masalah kelengkapan alat di sini, janganlah ditanya, mulai dari alat untuk aksesoris kamar mandi, hingga alat-alat untuk menyelesaikan permasalahan umum yang biasa dihadapi, semuanya ada, dan secara sendiri setiap orang bisa menyelesaikan dengan mandiri. Apakah tidak ada penyedia jasa? Penyedia jasa tentunya ada, namun penyedia jasa akan dipakai jika memang masalah yang dihadapi tidak bisa diselesaikan secara mandiri, selain itu menggunakan penyedia jasa, jangan tanya bagaimana mereka menghargai mereka, karena menggunakan jasa, maka bersiap juga untuk merogoh kocek yang cukup dalam, dan tentu saja, bagi seorang mahasiswa yang hanya mendapat beasiswa yang cukup, berprinsip menyelesaikan secara mandiri akan jauh lebih diutamakan sebelum menggunakan jasa, atau terlebih dahulu bertanya pada rekan lainnya, yang mungkin saja pernah mengalami hal yang sama.

Hidup di luar negeri, memang akan sangat menyenangkan, membayangkan bisa berjalan dan menginjakkan kaki di negeri, yang mungkin hanya bisa kita lihat di internet ataupun gambar-gambar kalender yang sering kita beli, adalah setiap impian orang. Apalagi hidup sembari belajar di luar negeri memang sangat menyenangkan. Namun, tetaplah harus kita selalu bawa dalam diri, bahwa kita harus bersiap untuk menjadi orang yang struggle, dan percaya akan mampu melewatinya dengan baik. Dan, selain itu, hidup di luar negeri, maka haruslah banyak belajar akan budaya baik yang bisa diambil, secara tetap memelihara hubungan baik dengan saudara-saudara di Indonesia yang juga sedang menjadi perantau dan pembelajar di negeri tersebut.

Tokyo, 26 Februari 2017
Ketika fajar sedang menunggu waktunya untuk terbit, dan kala angin musim semi mulai menyapa di bumi Sakura. Saat sakura-sakura sedang bersiap merekahkan keindahannya.

Kembali kepada Niat

Posted: January 30, 2017 in Hikmah
Tags:

“Segala sesuatunya bergantung pada niat”
Inilah penggalan dalam satu hadist pertama dalam Hadist Arba’in

Semuanya memang kembali pada niat orang tersebut. Aktivitas mahasiswa memang masih dienyam sampai saat ini. Jikalau dulu sebagai mahasiswa S1, kini Allah berikan kenikmatan untuk mengenyam pendidikan S2 bahkan di negeri Sakura, Jepang. Negeri yang terkenal akan adab ketimuran yang masih terjaga, dengan setiap nilai kejujuran, nilai keteraturan yang dimiliki di dalamnya. Aktivitas menjadi mahasiswa, tidak lantas kemudian menutup dan menghentikan aktivitas untuk mengaji, karena di sinilah bekal rohani dipersiapkan, selain karena memang mengaji adalah kebutuhan. Ya, mengaji baik dalam hal Al-Qur’anul karim, maupun mengkaji setiap panutan kehidupan yang berada dalam Al-Qur’an dan telah dicontohkan oleh sebaik-baiknya panutan yakni Rasulullah SAW, dalam setiap perkataan, perbuatan, dan bahkan diamnya beliau.

Suatu hari, dalam halaqah yang masih Allah berikan kenikmatan untuk menjalankannya, ada seseorang yang pernah mengingatkan mengenai, bagaimana bermujahadah di negeri ini. Dalam perbincangan kala itu, diri yang masih dhoif ini, sempat terlontar mengenai kebiasaan menuju rumah Allah yang begitu, menurut pribadi ini, sulit dilakukan, terutama ketika mengenai Shubuh berjamaah. Lalu seketika, saudara kami berkata,”bukankah malah jauh lebih banyak pahala yang akan diberikan, ketika kamu menjadikan mujahadah menuju rumah Allah di negeri ini dilakukan, tanpa berkeluh kesah, dan ihlas mengikatkan diri pada setiap kebaikan, bahkan mengikat diri pada kehidupan masjid di dalamnya?”, tukasnya. Seketika, kami hanya menanggapi dengan sedikit senyum, yang sebenarnya, pribadi ini menjadi malu. Ia, malu terhadap setiap nikmat yang Allah berikan.

Saya masih teringat, ketika masih berada di negeri tercinta, dengan mudahnya menuju rumah Allah, yang paling hanya berjarak 500 meter dari tempat tinggal. Kebetulan masjid di rumah sangat dekat, hanya selang satu gang dari gang rumah. Suara adzan yang begitu mudah terdengar ketika setiap waktu shalat datang, mudah menjadikan kami mengingat, ia mengingat karena waktu shalat yang datang. Dan ketika di sini, maka sayalah sendiri yang harus mengatur waktu, menjadikan setiap sela-sela eksperimen yang dilakukan sebagai waktu menunggu datangnya Shalat, hingga selalu memperhatikan setiap waktu ia datang. Zaman canggih, bisa sahaja menggunakan waktu pengingat? ia benar sekali, namun kembali, mujahadah pribadi yang harus menguatkan diri untuk pergi menghadap-Nya, bermunajat, dan mencintakan waktu bertemu dengan-Nya. Allah memiliki kehendak yang sangat luar biasa, di mana Allah berikan pembimbing yang begitu mau memahami mengenai waktu shalat, dan bersedia memahami akan kebutuhan yang harus dilakukan saya. Inilah yang membuat saya terkadang malu, karena ini adalah bagian nikmat Allah yang begitu besar, namun terkadang saya terlupa. Allahummaghfirly, Ya Allah. Bahkan, nikmat Allah yang begitu besar lainnya adalah ruang shalat berjamaah kami, yang terletak di gedung saya, dan cukup untuk menunaikan setiap shalat secara berjamaah. Allahummaghfirly…

Bagaimana dengan aktivitas halaqah? Semoga Allah selalu memberikan taufik, hidayah, dan ampunan kepada saya, penulis. Saya hanya ingin membagi perasaan yang tadinya secara sepintas tetiba terbesit. Demi waktu yang Allah sumpahkan dalam Surat Al-‘Asr. Halaqah-halaqah di negeri ini, tidak ada bedanya dengan ketika saya masih berada di negeri tercinta. Ia adalah ladang bagi para perindu ukhuwah yang diikat dengan tali keimanan dan kecintaan kepada-Nya. Mengapa saya mengatakan sepintas terbesit? Ya, ketika mengingat tentang kajian, saya teringat ketika dulu berada di Yogyakarta. Kota yang setiap kanan dan kiri, depan dan belakangnya, dipenuhi dengan beragam informasi mengenai kajian di masjid ini, masjid itu, dan sebagainya. Lalu di sana saya teringat, ketika banyak informasi kajian, terkadang rasa malas pun datang, dengan alasan macet, jauh, harus keluar uang bensin, malas karena harus menjemput teman, hujan, dan sebagainya. Saya teringat semua alasan-alasan yang bisa jadi bermunculan dengan tujuan pada akhirnya menjadi kalimat ampuh agar pada akhirnya tidak datang dalam pada kajian. Allahummaghfirly, ya Allah…

Hal yang terbesit adalah bagaimana ketika saat ini, kajian hanya ada dalam setiap pekan sekali, di mana hanya bisa hadir ketika Sabtu dan Minggu? Dalam hati, saya seperti melihat Allah sedang menguji nafas keimanan. Ketika tidak ingin datang, pastilah begitu banyak alasan yang bisa diberikan, apalagi kini Allah sedang memberikan kedudukan untuk menempuh ilmu dari sebelumnya. Ketika akan datang, berniat datang, yang padanya sudah ada catatan kebaikan yang ditulis oleh malaikat, maka sedikit godaan akhirnya pun datang, dengan perlahan ia menggerogoti keinginan untuk datang. Ketika menulis ini, saya hanya merenung…

Ya Allah, ketika dulu masih harus berkendara, malas pun masih melanda…
Namun, kini, ketika hanya harus berjalan, dan duduk manis dalam perjalanan kereta,
Malas pun masih melanda…
Ya Allah, ketika dulu, masih meminta teman menjemput, malas pun masih melanda,
Namun, ketika kini, hanya tinggal duduk manis dalam bus, yang senantiasa datang dengan jadwalnya,
Hamba pun masih memiliki malas…
Ya Allah,
Hamba sering berkata, hamba menginginkan Syurga Firdausmu…
Namun, ketika kesempatan bermujahadah begitu besar,
Masih saja ada malas dan lengah yang hamba sendiri perbuat…

Sedikit renungan ini, bagaikan menampar pribadi sendiri, karena terkadang pribadi tidak pernah bersyukur dalam memaknai setiap kenikmatan yang Allah berikan.
Lalu amatlah benar, ketika pribadi ini, tertegur dengan kalimat yang Allah berulang katakan dalam Surat Ar-Rahman…
“Fabiayyi Ala Irabbikuma Tukadzdziban”, ‘maka nikmat Tuhanmu manakah yang akan engkau dustakan?’

Saya pun sadar, kini hanyalah niat yang akan menjadikan ketulusan dan keihlasan terpancar…

Tokyo, 30 Januari 2017
Seorang yang masih ingin terus belajar dan memaknai setiap proses kehidupan yang dipilih dan dilekatkan pada takdir Rabbnya

Allah dalam Al-Qur’an mengibaratkan bahwa ibarat seorang mukmin yang bermanfaat adalah bagaikan sebuah pohon, yang akarnya menghujam ke tanah, batangnya kokoh berdiri tegak, cabangnya banyak, dan buahnya terasa setiap musim.

Hari ini, di Meguro, KMII menyelenggarakan acara Muslim Millioner, Kembali Ke Titik Nol, yang menghadirkan Ustadz Saptuari dan Bang Teuku Wisnu. Dialah, Allah, yang telah mengatur setiap peristiwa yang tiada sesuatu terjadi jika bukan karena kehendak-Nya. Acara ini sejatinya dimulai sejak ba’da shubuh yang diisi oleh Bang Teuku Wisnu. Dalam sesi ini, beliau bercerita bagaimana tantangan pemuda saat ini, serta sedikit bercerita mengenai proses hijrah dalam dirinya. Hal yang paling saya ingat, dan ini pun sempat diingatkan oleh Ustadz Saptuari, adalah proses mencari kebahagiaan dunia dan akhirat bukanlah mengenai masalah harta, jabatan, kedudukan, melainkan bagaimana sejatinya pribadi yang Allah berikan pinjaman selama di kehidupan di dunia ini, mampu mengikuti segala aturan yang Allah telah jelaskan melalui Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Allah, Allah, Allah, rasanya tertegur hati ini yang telah lama kering, hati yang telah terlupa akan tujuan hidup sebenarnya di dunia ini, jika tidak untuk beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintah dan larangan-Nya. Allah, diri ini bagaikan tersindir, terasa dalam diri berkata,”Hai anak Adam, yang kedua orang tuamu memberimu nama, Abror, yang bermakna orang baik, bagaimana nikmatmu yang telah Allah pinjamkan, kesehatan yang telah dianugerahkan, kesempatan yang Dia hadirkan hingga mengenyam pendidikan jauh di negeri yang terpisah oleh Samudera Pasifik?”. Saya pun hanya tertunduk pada malu, karena begitu sayangnya kedua orang tua saya memberi nama Abror, namun saya belum menjadi seperti orang yang memiliki arti dengan nama tersebut, orang baik. Allah, rasanya sekali lagi tertampar diri ini, apakah prasangka orang saat ini, benarkan itu dalam dirimu? atau sejatinya kemunafikan yang sedang kau lakoni? Sekali lagi, hanya sebuah doa yang saya sematkan dalam hati, “Ya Rabbannas, Rabbussama wa tiwal ardhi, jadikanlah prasangka mereka adalah do’a yang menjadikan hamba menjadi lebih baik dari prasangka mereka. Jauhkanlah kemunafikan dalam diri ini, dan syukur pada-Mu yang telah menutup aib, hamba-Mu ini”.

Kembali kepada titik nol, berhijrah, adalah proses yang tidak mudah, ia sulit, namun Allah selalu membuka pintu-pintu bagi mereka yang ingin menempuh jalan ini. Allah limpahkan keberkahan, rahmat, dan rahim-Nya bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam proses ini. Ini adalah jalan para pecinta taubat, jalan para pendamba Syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, dan ini adalah jalan cinta yang dengannya, Rasulullah dikuatkan oleh Allah SWT, ketika Islam telah hadir di negeri Madinah, setelah berhijrah dari Mekkah.

Kembali ke titik nol, berhijrah, saya pun terus merenungkan makna ini. Sembari melewati jalan pulang menuju apartemen, saya melihat deretan pohon Ginko biloba, yang telah gugur daunnya dalam menghadapi musim dingin. Dalam hati, saya berkata, dia adalah makhluk yang amat patuh terhadap ketetapan Rabbnya. Gugur ketika dingin datang, agar kemudian bersemi dengan daun-daunnya yang hijau, dan menghasilkan buah. Di situlah saya melihat, hijrah, bukanlah kemudian mati, tiada terlihat apapun, namun dia menyiapkan diri untuk menyemai kehidupan baru, mengikuti perintah Rabb, yang dalam setiap do’a shalat, selalu diucapkan,”iyya kana’ budu waiyyaka kanasta’in”.

Ya, hari ini, saya memahami, hijrah ibarat dia memupuk kembali pohon keimanan yang telah gugur dan hampir mati karena banyaknya dosa-dosa yang dibuat, kemudian dia disiram dengan siraman air mata pada kecintaan kepada Rabb dan sunnah Rasul-Nya. Ia, hijrah bagaikan menghidupkan kembali pohon keimanan yang telah Allah berikan semenjak manusia berada dalam kandungan ibunya, ketika dia ditanya, siapa tuhannya, maka ia menjawab Allahu Ahadun. Ia, hijrah bermakna kembali menakar permasalahan dunia dan akhirat dalam keseimbangan yang telah Rasulullah ajarkan, tidak kurang dan tidak lebih, namun pas sesuai dengan yang menjadi porsinya. Dan benar, hijrah bagaikan kembali mengokohkan dan menegakkan batang yang hampir saja tumbang, dan kembali memanjatkan do’a dan usaha terbaik, agar kemudian Allah membuka pintu langitnya, dan mengijabah setiap do’a yang terpanjat, lalu menjadikan hasilnya sebagai buah-buahan terbaik yang manis, harum lagi baunya.

“Ya Rabbannas, jadikanlah diri ini selaku pribadi yang baik. Jauhkanlah rasa sombong, hasad, iri, dengki, dan congkak dalam diri ini. Kuatkanlah iman dan islam yang menjadi nikmat terbesar yang Kau berikan saat ini, hingga malaikat mautmu, Izrail, mencabut nyawa ini. Ya Rabbi, jadikanlah diri ini menjadi orang yang selalu bertzakiyah dalam setiap aktivitas kehidupan di dunia ini, dan ijinkanlah diri ini mencium bau Syurga-Mu”

Tokyo, 15 Januari 2017
Abror,
‘Hamba Allah yang masih ingin terus belajar, fakir dari kesempurnaan, dan masih penuh dengan kebodohan’

Dawai

Posted: January 12, 2017 in Perjalanan

Seutas dawai,

yang dipetik sang pujangga

ia adalah lakon dalam syair

yang bercerita akan senang, sendu, sedih, dan gembira

Seutas dawai,

yang dipetik sang pujangga

memainkan drama dalam alunan nada

mengisahkan setiap alur kehidupan yang dilewati,

ia adalah tangga nada

yang dilukis dengan kesyahduan.

 

Tokyo, 13 Januari 2017