Sebuah Nilai Toleransi

Posted: August 14, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

Sudah hampir 5 bulan perjalanan di negeri sakura ini diarungi. Berbicara suka dan duka, pastilah ada. Entah itu rindu masakan rumah, kegiatan bercanda bersama keluarga, mencium tangan kedua orang tua, bertatap muka dengan saudara, teman, dan semuanya yang ada di tanah air, pasti, dan pasti adalah sebuah kerinduan yang harus ditahan. Meskipun masih sangat-sangat awal berada di negeri ini, namun, kenyataannya di negeri ini, banyak hal yang harus dipelajari, bahasa, budaya, toleransi, dan rasa saling menghargai sesama. Terlepas dari itu semua, mari melihat bagaimana sisi positif yang dapat kita ambil dari negeri sakura ini.

Jepang, yang kita kenal dengan negara penganut Shinto, adalah negara, yang saya rasa, memiliki tingkat toleransi yang sangat tinggi, terutama bagi kami para muslim. Menghadapi Olimpiad 2020 di Tokyo, banyak sekali komoditas makanan-makanan halal yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat muslim, bahkan sebuah komunitas bernama Halal Media Japan (HMJ) terus berpacu memberikan informasi mengenai lokasi ataupun tempat yang menjual makanan-makanan halal di negeri ini. Hal ini tentu saja memberikan kemudahan bagi kami, para muslim untuk mencari makanan dan membeli daging yang telah bersertifikasi halal. Selain itu, makanan khas Jepang, Ramen dan Shabu-shabu pun, tak luput menjadi sasaran pasar Halal, yang ditujukan untuk memudahkan bagi para muslim mengenal makanan ala Jepang, dengan kualitas yang baik dan terjaga, namun tetap sesuai dengan syari’at, yaitu Halal.

Halal Food, juga mulai banyak disediakan di kantin ataupun coop kampus-kampus, yang notabene, banyak mahasiswa muslim yang melakukan studi di sini. Ya, sebegitu concernya mereka ketika telah mengetahui kebutuhan makanan muslim, maka sebisa mungkin komunitas muslim di negeri ini akan mengusahakan. Bagaimana jika kita ke toko, lalu tidak tahu apakah ada ingredient haram di dalamnya? Sepengalaman saya, kita berhak bertanya dan hal ini tidak masalah bagi mereka, bahkan dengan sukarela, masyarakat negeri ini, akan menyampaikan seandainya makanan tersebut tidak bisa dimakan oleh seorang muslim. Saya pun pernah memiliki pengalaman ketika akan membeli onigiri pada tahun 2013 di sebuah shop, lantas ketika bertanya pada kasir, dia pun jujur mengatakan onigiri yang saya beli mengandung sesuatu yang haram, dan sempat dia pun menanyakan, apakah saya seorang muslim, dan dia pun meminta saya untuk tidak membelinya. Seorang teman, ketika semalam berdiskusi, sebut saja Mas Septian, ia menyampaikan bahwa negeri ini sangat detail dalam memperhatikan makanan yang disajikan, termasuk itu makanan Halal. Kualitas, sterilitas, dan proses packing dilakukan semuanya terus mendapatkan kontrol yang sangat baik. Di lain sisi, pihak perusahaan makanan pun memberikan kesempatan kepada konsumen untuk mereview dan menanyakan kepada perusahaan terkait ingredient yang terdapat dalam makanan ataupun minuman. Indahnya sebuah kejujuran dan keterbukaan di sini.

Selain itu, bagi para disabilitas di sini pun, jangan ditanya bagaimana mereka kemudian menghargai mereka dan memberikan pelayanan yang sangat luar biasa. Ketika di bus, saat itu ada penumpang yang menggunakan kursi roda akan masuk ke dalam bus. Apa yang saya lihat ketika itu adalah sebuah bentuk kepedulian yang sangat luar biasa, supir bus itu pun kemudian beranjak dari kursinya, mengambilkan papan bagi penumpang tersebut, lalu menaikkannya, dan melipatkan kursi agar si penumpang itu pun bisa berada di dalam bis. Bahkan ketika turun pun, sang supir tetap melaksanakan pekerjaan mulianya ini, untuk menurunkan penumpang yang menggunakan kursi roda itu. Bagaimana dengan penumpang lainnya? Kami senantiasa menunggu hingga penumpang tersebut turun, barulah kami turun. Inilah nilai yang selalu kami impikan, keteraturan dan kedisiplinan, serta bagaimana sikap respect to people.

Bagi saya, dan teman saya, Mas Septian, yang kala itu berdiskusi kami menyebut negeri ini sebenarnya adalah negeri di mana puncak peradaban Asia berada. Bagaimana nilai kejujuran harus tetap kami dahulukan, bagaimana nilai Respect to People, Respect to Time, dan Respect to System menjadi sebuah jalan bangsa ini menuju puncak peradabannya. Terlepas dari beberapa hal negatif yang memang ada, namun sebagai manusia kita patut belajar. Bukankah Rabb kita meminta kita untuk mengelana di muka bumi, untuk belajar dan mengambil setiap ibrah yang terdapat di dalamnya.

Al Hajj, 22:46
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Banyak negeri-negeri yang sebenarnya memiliki nilai-nilai yang begitu dekat nilai agama ini, Islam. Maka di sinilah, kita harus terus belajar dan memperbaiki diri, dan menjadi hamba-Nya yang selalu berpikir dan mengangungkan rahmat dan rahim-Nya, yang telah Dia curahkan kepada diri kita.

Tokyo, Adachi-ku
22.09/14-8-28

Diam atau Bergerak?

Posted: July 26, 2016 in Hikmah
Tags: , , , ,

Saya ingin membagi sebuah ungkapan yang pernah saya dapat ketika pernah tinggal seasrama bersama mereka, para raksasa-raksasa kampus, yang kini, mereka pun telah menyebar ke dalam dunia yang menjadi fokus keinginan mereka untuk menebar manfaat dan kebaikan, dalam hal apapun.

Ketika dikumpulkan bersama dalam sebuah rangkaian kegiatan yang diadakan di Gunung Salak, saya ingat sekali kala itu, selepas shalat Isya’ kami berkumpul, merapatkan barisan dan shaf-shaf duduk kami. Kala itu, abang kami, sebutlah namanya Bang Bachtiar, diminta untuk memberikan sekapur sirih dalam rangkaian kegiatan itu. Kegiatan ini dilakukan bersama rekan-rekan seasrama lainnya yang berasal dari kampus-kampus lain di Indonesia.

Dinginnya malam, semakin terus membuat kami bergidik kedinginan, namun kala itu  Bang Bachtiar hanya mengenakan kemeja, dan menahan dinginnya malam dengan semangat yang ia bawa untuk mengobarkan semangat kami, para pemuda-pemudi yang kala itu sudah ditempa selama setahun dalam asrama tersebut. Semangat untuk mengingat arti sebuah perjuangan, dan jalan yang kami pilih untuk masuk dalam tempaan berasrama itu. Ya, semangat untuk membawa misi dan visi kelangitan, sebuah misi yang suci dan mulia, dalam materi yang beliau bawakan dalam kajian Training Pengembangan Diri, yang kala itu masih bernama TPD.

Banyak yang beliau sampaikan dalam lantunan kata-kata yang membuat diri ini penuh merefleksikan bahwa begitu jauhnya kekurangan diri ini, dari kata sesuai dengan apa yang pernah beliau harapkan bagi kami, untuk ikut bersama berjuang membangun dan menjadikan diri menjadi agen-agen pembawa misi yang begitu suci dan mulia. Ada sebuah kalimat yang selalu saya ingat, Diam atau Bergerak?

Hidup ini memanglah sebuah pilihan. Allah pun memberikan kuasa yang penuh pada mahkluk-Nya untuk memilih, menjadi baik atau buruk, mendambakan syurga dunia atau syurga akhirat, semuanya adalah pilihan, namun tentu akan memiliki sebuah konsekuensi. Begitu pula memiliki diam atau bergerak? Ketika Diam, maka kita akan terus berada dalam kenyamanan, namun ketika bergerak, maka tentu saja, kondisi nyaman, kondisi tersudut, kondisi stagnan, kondisi di atas, kondisi di bawah, akan selalu hadapi, dan masih ada pilihan, berhenti atau terus bergerak. Semuanya adalah pilihan.

Bagi mereka yang terus bergerak, ibarat sebuah air, yang mengalir dari hulu ke hilir, terkadang harus melewati celah sempit, hingga akhirnya bertemu dengan derasnya aliran air di hilir yang membawa mereka terus bergerak, hingga akhirnya menemukan luasnya samudera. Bagi mereka yang diam, ya mereka pun juga ibarat air, yang awalnya mengalir, lalu kemudian berhenti dari alirannya, memilih untuk tergenang, dan terus tergenang hingga akhirnya pun kering.

Hidup semuanya adalah pilihan, sekali lagi apaka kita memilih untuk bergerak atau diam? menjadi aliran yang menghijaukan lahan-lahan yang dilewatinya, ataukan menjadi genangan air, yang mengeruh dan akhirnya mengering?
Hidup adalah pilihan…

 

Tokyo, Adachi-ku
26 Juli 2016

Sebuah Kerja Keras dan Doa

Posted: July 24, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

Kembali pada rutinitas dan segala hal yang menjadi kebiasaan di beberapa bulan, setelah tinggal di negeri ini.

Rindu? Pastilah ada rindu, namun rindu itu harus dibalut pada sebuah doa dan kerja keras, agar ia dapat terbayarkan dengan sebuah hasil maksimal, tentunya tidak terlepas dari apa yang sudah ditakdirkan-Nya. Namun, bukan itu yang hendak saya ceritakan di sini. Ada hal menarik lainnya, di samping sebongkah rindu yang masih saja menggunung untuk terus disimpan dan diarahkan pada hal yang positif.

Jikken, istilah yang mungkin tidak akan sangat asing bagi para pelajar di negeri Sakura ini, yang bermakna eksperimen, atau istilah Indonesia, penelitian. Jikken pertama saya dimulai pada bulan April 2016, awal ketika pertama saya datang. Minggu awal, saya langsung disodori untuk membaca jurnal penelitian laboratorium, dan meminta berdiskusi lebih lanjut ketika usai membacanya. Ya, dalam 3 hari pun saya mencoba untuk memahami, dan segera berdiskusi dengan supervisor saya. Alhasil, beliau menyatakan saya sudah bisa melakukan penelitian kala itu. Kaget? Pasti, karena biasanya, mahasiswa master akan fokus pada penelitian ketika sudah masuk di semester kedua. Tapi, saya sudah diminta sejak awal datang memulai eksperimen. Baiklah, dalam hati saya pun bergumam, semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam penelitian ini.

Bermain dengan mikrobia, bukanlah hal yang sangat mudah, bahkan saya katakan terkadang ada sebuah tantangan, yakni mencegah kontaminasi, ataupun menghindari kesalahan membuat medium, atau sebagainya. Bahkan, yang lebih utama, adalah memastikan kita benar dalam mengkultur strain yang akan digunakan. Heum, sejak memulai eksperimen, saya pun sudah menggunakan sebanyak 100 strain bakteri tanah, aktinobakteria, yang telah dikultur dan memberikan hasil yang bagi saya cukup, namun pada kenyataannya, masih harus ada effort yang lebih. Why? Hasil yang masih belum konstan bahkan terkadang, sedikit meragukan, atau bisa jadi sedikit mencengangkan dari yang seharusnya. Saya tak pernah tahu, apa yang sedang terjadi dalam kultur cair yang saya inkubasi, saya tidak tahu menahu, apa yang mikrobia itu lakukan selama dikultur dalam medium, namun saya hanya percaya, jika usaha semaksimal mungkin telah dilakukan, maka hasil akhir mempercayakan sepenuhnya kepada kekuatan Yang Maha Tahu.

Acap kali ketika sudah begitu sedikit mengendur dari semangat, saya mengirim gambar pada kedua orang tua, berkabar dengan apa yang saya lakukan di sini, sembari terselip permohonan sebuah doa, sebuah restu, dan sebuah harapan, agar apa yang dilakukan di sini, bisa memberikan manfaat ke depannya. Saya paham kerja keras saya, tetaplah saya butuh pada restu kedua orang tua saya, mendengar dukungan, dan doa, bahkan sebuah isyarat ketika restu terucap, menjadikan diri ini terus bersemangat dan mengingatkan pada sebuah nasehat yang saya jadikan wallpaper dalam laptop,”Berpeluhlah engkau dalam berusaha dan berdoa, karena lezatnya kehidupan akan terasa setelah itu”.

Kerja keras haruslah tetap diimbangi dengan doa, bahkan terutama doa dari kedua orang tua, yang selama ini menguatkan pundak dan mengangkat pribadi ini untuk mau maju, dan berpikir untuk orang lain, tidak hanya untuk diri sendiri.

Kerja keras dan doa adalah kunci sebuah akselerasi diri dalam berproses…
terutama doa mereka yang kita cintai, adalah penambah kecepatan akselerasi, agar ada keberkahan dalam setiap langkah, dan ada ridho Ilahi yang membersamai proses tersebut.

Adachi-ku,
Sunday, 24 Juli 2016.

Masih Tersisa 21 Purnama…

Posted: July 10, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

“Allah will change the family you left out”
Three months, I have already lived out from my home, leaving my family, leaving whom I loving them, my parents.

Rindu akan pulang, itulah yang memang dirasa selama 3 bulan berada jauh dari rumah. Suasana lebaran, adalah suasana yang sangat dirindukan, ketika dirimu hanya berjumpa melalui sebuah layanan telepon via dunia maya, bertatap maaf hanya melalui sebuah kata-kata, dan hanya melihat wajah dari jauhnya jarak yang telah memisahkan. Sudah lebih dari 3 purnama terlewati di negeri orang, namun memang itulah cinta, bahwa tanah air dan keluarga, serta setiap kenangan di tanah sendiri, akan sangat terasa begitu dalam, ketika sudah berada dalam perantauan.

Di sini, masih tersisa 21 purnama yang harus dilewati. Sebuah ucapan yang harus diingat ketika dulu rasa begitu kuat, maka sebenarnya, Allah mengajarkan kita akan cinta dan rindu yang sesungguhnya. Ketika sepotong roti, tak lagi bernilai sepotong, namun telah habis satu persatu, maka disitulah ada nikmat, namun disitulah juga ada sebuah kenangan, dan disitulah tersimpan sebuah ingatan.

Masih ada 21 purnama yang harus dilewati. Bukanlah aku ingin menghitung hari, tapi memang begitulah sebuah rindu, yang terus diingat melalui sebuah janji dulu. Bahwa ia akan meminta dirinya sendiri untuk terus mengingat, dan menyimpan sebuah memori yang kuat dalam pikirannya.

“Imam As-Syafi’i said while we doing and working hard, we would feel the delicacy of life”

Meneguhkan Keimanan

Posted: June 12, 2016 in Hikmah, Puisi
Tags: , ,

Keimanan,
Begitu mudah lidah ini mengucap
Aku beriman…
Iya,
Aku beriman pada rukun Iman yang 6
Aku pun beriman pada rukun Islam yang 5,
Ya,
Aku beriman…
Aku beriman…
Namun, Keimanan bukanlah hanya ucapan
Keimanan tidak sekedar ada pada manisnya lisan,
Ia membutuhkan bukti dan aplikasi,
Ia membutuhkan tindakan aksi…

Keimanan,
Hal yang selalu Rasulullah ingatkan dan tekankan
Fondasi dari setiap hal yang terlaku pada diri ini,
Cerminan bagi setiap orang yang meneguhkan dirinya
hanya pada Khaliq-nya semata…

Keimanan,
ia yang menjadi jalan syahidnya Sumayyah binti Khayyath,
ia pula menjadi jalan syahidnya Yasir bin Amir
dan ia lah yang menjadi kekuatan dan keberanian Bilal,
melantangkan “Ahadun Ahad…”

Keimanan,
Fondasi yang Rasulullah dakwahkan selama fase Mekkah,
Jalan yang menjadi penguat Ja’far bin Abi Thalib untuk berhijrah ke Habasyah,

Allah Ya Karim,
Inilah jalan yang telah Rasul-Mu tunjukkan,
Inilah jalan para Khalifatur Rasyidin,
Para Salafush Shalih, Tabi’in, Umara, dan pemimpin ummat kami terdahulu
Genggam hingga akhir hayat menemui-Mu…

Allah Ya Karim,
Cukupkah keimanan kami saat ini untuk menghadap-Mu?

*Jepang, Tokyo (8 Ramadhan 1437 H)

Kabar adalah satu hal yang terus dinanti, pagi, siang, sore, malam, bahkan hingga pagi pun akan datang, kabar dialah yang senantiasa ditunggunya. Saya hanya ingin berkabar, saya baik-baik saja di sini, dan Alhamdulillah, ada keluarga baru yang saya temukan di negeri sakura ini. Keluarga yang bukan karena sedarah, bahkan bukan karena berasal dari kakek dan nenek, namun keluarga yang dieratkan dan didekap karena ukhuwah, persaudaraan, dan rasa cintanya pada tanah air. Ah, maaf karena lupa untuk tidak lagi menulis seperti janji yang saya pelihara sendiri, yaitu menulis sekali dalam seminggu. Berkabar meski dengan tulisan, karena tidak bisa setiap hari untuk berkontak, bahkan terkadang hanya berujung 3-6 menit di ujung telepon, yang tersambung melalui sebuah koneksi via maya. Maaf…

Hari ini dan hari lalu, dua peristiwa yang begitu membahagiakan saya dapati, di tengah menjelang sebulan telah berada di negeri ini. Alunan jemari untuk kembali mengetik dan bercerita, rasanya membuat mata kantuk ini menjadi tetap bersemangat untuk menulis dan menceritakan apa yang sudah terjadi selama beberapa minggu ini di sini. Heum, tidak begitu banyak, namun tentu saja benar-benar membuat sedikit decak kagum dan decak haru yang ada.

Akhirnya, aku kembali bertemu…

Ya, Al-Qur’an pemberian seorang teman, yang menyimpan sebuah foto masa kecil dan foto kedua orang tua pun kembali. Al-Quran yang saya tinggal pada 13 Februari itu akhirnya bisa kembali saya lihat dan baca, serta saya peroleh kembali foto-foto yang pada akhirnya mengingatkan saya akan rumah saya sebenarnya. Bagaikan sebuah perjumpaan yang begitu lama. Apa istimewanya? Ya, di situlah saya mengikat sebuah janji untuk kembali dan mengambil Al-Quran itu beserta seluruh isinya. Bukan apa, bukan ingin pamer, ataupun ingin terlihat begitu alim. Bukan, namun ada sebuah hikmah yang saya ambil. Ucapan adalah Do’a. Inilah yang saya teringat akan sabda Rasulullah, “KULLU KALAM ADDU’A” yang artinya, “Setiap perkataan itu merupakan do‚Äôa‚ÄĚ. Dan juga bagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Israa`(17): 53 yang maknanya¬†“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)”.
Kala itu hanya sebatas saya berucap, “InshaAllah saya akan kembali dan mengambilnya kembali”. Dan Allah pun menjawab doa itu kini. 3 bulan lamanya berpisah, dan kini Al-Quran itu pun kembali bisa saya buka dan baca.

Bukan saya tidak mau membaca yang lain,
Bukan saya pula menspesialkannya,
Namun, ada hikmah yang saya ambil dari peristiwa ini…

Lalu, masihkah ada yang ingin saya bagi? Masih jawaban hati ini…

Saya ingin berkabar, dua hari ini, saya dan teman-teman PPI Todai mengikuti rangkaian acara Gogatsusai atau di sini kami menyebutnya, May Festival. Kami memasak dan mengenalkan makanan khas kami di Indonesia. Kami tidak pernah ingin melupakan cita rasa, bahkan aroma yang sering kali begitu khas tercium dari masakan rumah yang selalu kedua orang tua kami sajikan dulu, meskipun kami pun harus jauh dari negeri kami, Indonesia. Kami menyajikan “Bakso”. Ya, Bakso, yang sering kali dengan mudahnya kami jumpai, di warung-warung pinggir rumah, sekolah atau bahkan kantin kampus kami dulu di Indonesia, para pedagang jalanan, yang menjajakan baksonya, dengan mengetuk piring berlambang ayam dengan sebuah merek penyedap tertentu. Ah, kami pun masih belum bisa melupakannya. Ketika di rumah, sedang menonton TV, bahkan sedang bepergian, masihlah kami mengingat,”Bakso, Bakso, tek tek tek…”. Kini kami pun menjajakannya, bagi mereka para masyarakan Jepang. Ada yang penasaran, ada yang sudah pernah merasakan ketika tinggal atau berkunjung ke Indonesia.

Tahukah bahwa dagangan ini pun laris manis kami jajakan di sini? Pagi, hingga sore, pengunjung datang, membeli, bertanya, dan terakhir mereka kembali, dan mengatakan,”Oishi, desu!”, yang artinya,”Nikmatnya, enaknya”, apalah itu yang penting mereka sangat puas. Tidak hanya dagangan yang kami jajakan, kami pun mencoba membawa semangat keluarga ke-Indonesiaan kami. Semangat kebersamaan di tengah negeri perantauan, di tengah-tengah keluarga Indonesia kami yang juga sedang belajar, bekerja, hanya semata-mata bukan untuk kepentingan pribadi, namun berpikir bagaimana suatu saat ketika Indonesia sudah siap, maka kami pun siap untuk membangun negeri kami tercinta.

Oh ya, di sini kami belajar untuk tertib pada administrasi yang berlaku. Para koki, mereka wajib menggunakan celemek untuk masak dan topi untuk menghindari rambut masuk dan mengotori makanannya. Tidak hanya itu, di sini, kami dituntut untuk tetap berupaya, satu proses dalam menjajakan bakso, dagangan kami. Artinya, tidak boleh ada proses memotong atau apapun, yang artinya semuanya sudah siap, dan hanya tinggal merebus atau menyiapkan untuk siap disajikan pada pengunjung. Apa untungnya? Ya, konsumen tidak akan terlalu menunggu lama, karena semuanya sudah dipersiapkan matang dan detail.

Bagi saya, ini adalah event pertama yang saya ikuti, dan menjadi even untuk mengenal keluarga-keluarga kami lainnya, yang mungkin belum sempat bertemu pada welcome party sebelumnya. Bahagia, adalah perasaan di hari ini, karena semua upaya yang telah direncanakan, akhirnya berbuah manis pada banyaknya pengunjung, dan target yang setelah diperoleh, melebih target yang diharapkan dan beroleh pada keuntungan untuk tahun ini. Alhamdulillah,,, dan syukur yang terus kami ucapkan, karena hanya ada senyum yang pantas untuk terus diberikan atas setiap ikhtiar serta kerja cerdas yang telah dilakukan. Hikmah beroleh pada ujung kebersamaan dan keingin untuk bekerja sama. Kalau bolehlah saya mengambil sebuah istilah, yaitu beramal jama’i. Inilah konsep yang sebenarnya luhur dan ada dalam identitas penduduk negeri Indonesia, Gotong Royong dalam Bekerja dan Berkarya.
‚ÄúWahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).‚ÄĚ (al-Hujurat 49:11)
‚ÄúJauhkanlah diri kalian dari tindakan merusak hubungan persaudaraan karena tindakan itu adalah pencukur (agama)‚ÄĚ (HR. Tirmidzi)

13254431_10206614473546039_9068669773873221782_n13226822_10206614473866047_8919325012778350957_nCourtesy foto: Kiswanto (Tokyo, 2016)

Baiklah cukuplah tulisan untuk hari ini, selamat beraktivitas di Senin pagi. Menyosong setiap hari dengan senyum dan syukur. Menghela nafas dan menghirup nafas dengan rasa syukur atas ijin-Nya memberikan hari-hari yang penuh akan senyuman.

Karena dalam setiap prosesnya, Ia memberikan hikmah dan pelajaran…

“Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269)”

Senin, 16 Mei 2016
Shibuya-ku, Tokyo

Bagi dia yang merasa sedang sepi,

Sesungguhnya dia tak sadar, bahwa Rabbnya selalu memberikan kekasih,

Mengaruniakan kebahagiaan, dan mengangkat kesedihan.

Bagi dia yang merasa harinya penuh cobaan,

Dia tidak pernah mengenal Tuhannya lebih dekat,

bahkan mungkin dia lupa akan rasa syukur yang seharusnya terus terucap.

Benim Allah,

hari ini kau limpahkan kembali kebahagiaan dan persaudaraan.

Kau pertemukan kembali dalam sebuah keluarga, yang selalu penuh syukur,

serta menjadi pengobat bagi rindu kami akan tanah air kami.

Benim Allah,

Rekatkan jiwa ini karena kecintaan kami pada-Mu dan bakti kami untuk menjadikan negeri kami menjadi negeri yang Engkau berkahi.
(Puisi Cinta, Pujangga Pengembara_Karunia_Shibuya, 24 April 2016)

Hari ini, disambutlah kami mahasiswa baru di Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Daigaku. Sambutan yang sangat hangat yang diberikan oleh para senpai-senpai kami yang terlebih dahulu telah belajar dan mendalami apa yang ingin mereka pelajari di negeri matahari terbit ini. Pukul 10 pagi (Japan Local Time), kami pun berkumpul di Tokyo Sky Tree Tower Station untuk menuju tempat kami akan mengadakan sebuah pesta penyambutan kecil, bagi kami yang baru memasuki Tokyo Daigaku.

Gerimis dan sedikit awan mendung menemani langkah kami, menuju daerah di tepi sungai, yang membelah daerah ini. Sisi barat adalah daerah Asakusa dan sisi timur kami berjalan masuk pada daerah Tokyo lainnya. Ah, indahnya pagi ini, rasanya begitu nyaman ketika keluarga pun bisa menikmati keindahan yang juga Allah limpahkan keindahan di dalamnya. Gerimis dan semilir angin bak mengingatkan diri ini pada tanah air, yang telah banyak memberikan hasil buminya dan menjadi bagian dari darah dan daging kami.

Tak apalah kami kini jauh darimu, namun hati, pikiran, dan rindu kami tetap bersama tanah air kami, Indonesia. Di sana, ada kedua malaikat yang telah Ia beri, di sana, ada keluarga yang senantiasa menunggu kabar, dan di sana ada rindu yang selalu kami haturkan bersama semilir angin yang setiap saat berhembus dan menerpa diri ini.

Tak terasa waktu pun berjalan begitu cepat, acara yang begitu hangat dan khidmat, di tepian sungai yang begitu tenang mengalirkan airnya, ditengah banyaknya orang yang menikmati pemandangan di sekitar Tokyo Sky Tree, pada akhirnya ditutup dengan sesi foto bersama semua anggota PPI Todai yang hadir di kala itu.

Tajam,

Semakin ia menjauh, semakin terasah akan kerinduannya.

Semakin ia berpisah, semakin tak tenang untuknya segera kembali.

Inilah anak-anak negeri yang bertebaran merantau di manapun,

menempa diri, mengasah kepekaan, dan memperdalam tajamnya analisis.

Menimba sebanyak-banyaknya ilmu,

Untuk pulang, menyarikan dan memberikannya pada orang lain.

Karena mereka anak negeri,

Bagaikan mata air yang akan terus memberikan pancarannya hingga rumput hijau pun hendak untuk tumbuh.

Dan tidak ada lagi tangan-tangan nakal yang melukainya bahkan mencabutnya dari akar yang telah kuat dan mendasar.
(Puisi Cinta_Pujangga Pengembara_Tajam_Shibuya, 24 April 2016)

Ku tutup tulisan ini dengan sebuah foto dari keluarga baru, yang kini Allah berikan selama menimba ilmu di negeri ini.

13043591_10206479732697602_2466081100863975758_n

Keluarga PPI Todai 

13100757_10206479732657601_8736881426366418238_n

Welcome in Tokyo Daigaku

 

Terima Kasih, Adit

Posted: April 16, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

IMG_1936[1]

Tribute to Masyaikh Abror
*tulisan ini dibuat atas dasar keisengan yang tak disengaja.

Sore ini mungkin jadi sore terakhir. Jogja hujan, entah bagaimana di Surabaya. Semoga take off lancar, ya bro.

Abrory Agus Cahya Pramana, usia 23 thn. Single. Gatau mau sama yang mana, soalnya doi ga pernah bicarakan wanita, maqom doi beda bro. Yang kalau sehabis subuh bisa di ekstrim kanan dengan hafalan dan qiroah yang luar biasa syahdu, dan di waktu matahari terbit atau malam hari bisa di ekstrim kiri, dengan dendang dangdut India kuch kuch hotahe, disertai jari kelingking nge-tril kelakuannya.

Malam ini 20.25 wkt Surabaya akan take off menuju City of Hope, Capital city kedua setelah Shogunate Tokugawa, ato setelah era restorasi Meiji bergulir. *eh bener ga ya ini seingetnya aja sih* Ya, Tokyo, Jepang. Kota penuh hiruk era modern, yg semoga nilai-nilai yg tertanam dan cita-cita Luhur yg dipegang spt bushido, kaizen dkk dan segala macam nilai-nilai lain nya tidak habis tergerus zaman.
Doi bakal terbang kesana, untuk memenuhi cita, harapan dan cintanya, eh studi-nya. At the number one university in Asia, Todai (red. Tokyo Daigaku refers to University of Tokyo). Mohon doanya biar doi bisa menjadi Pribadi yang lebih baik, dan bisa Istiqomah menjadi risercer di bidangnya saat ini, dan bisa menjadi Muslim yang menebarkan kebaikan di tanah Samurai sana, serta membawa kebaikan sepulangnya sekolah ke tanah air tercinta. Amiin

Entah tulisan ini bisa jadi pengobat rindu ato malah jadi bahan tertawa, tapi saya Yakin ditengah perjalanan pasti doi mewek inget semua dari ortu, teman-teman, kakak, adik, sodara, dan segala kenangan di Indo yg akan tertahan setidaknya dua tahun doi disana. Tetap kuat bro! Semoga dikuatkan di jalan-Nya, amiiin

Tulisan iseng dan banyak guyonnya, dari teman yg mungkin banyak gatau dirinya. Wkwkkw
Salam,
Adit

Tulisan yang dibuat sahabat asrama, sahabat yang baru dikenal pas PPSMB, langsung dihilangin penggaris, sahabat yang baru kenal wes diminta beli jas hujan dan diajak service motor… ūüôā
Terima kasih banyak, see you on top and let’s collaborate, terima kasih sharing ilmu yang pernah dibagi dan menjadikan saya bisa seperti saat ini.IMG_1936[1]

Ridhomu, adalah Ridho-Nya

Posted: April 16, 2016 in Hikmah, Perjalanan
Tags: , ,

IMG_1965[1]

Di sebelah kiri, Bapak dan Ibu, dan di sebelah kanan saya, Bu Lek.

Mungkin saya sendiri, menjadi pribadi yang banyak belajar. Menempuh studi lanjut master di negeri sakura, yang luar biasa jauhnya dari Indonesia. Rindu? Pasti. Baru saja saya akan berangkat, entah masih ada rindu, masih ada rasa yang belum terpuaskan untuk di Indonesia. Namun, sekali lagi, Safarlah, karena kita pun harus mencari ilmu, dan mendatangi ilmu.
Bukankah mereka para pencari sanad, berkelana, dari negeri mereka, menuju negeri rasulullah, bertemu para sahabat, mengembara kembali dan menuju negeri-negeri yang ditempati oleh para sahabat, untuk menyebarkan Islam dan pengetahuan yang Allah siratkan dalam Al-Quran?

Safarlah…
Ini yang menguatkan diri ini untuk kemudian mau berpisah jauh dari mereka. Selain itu, karena mereka pun ridho, saya pun yakin, Allah pun akan ridho dengan perjalanan ini. Tiada lain yang menjadikan diri ini rindu, jikalau bukan karena ingin terus membuat mereka tersenyum, dengan cara apapun, meskipun terkadang, sedikit saya membuat mereka kesal. Namun, mereka tetap melemparkan senyuman, meskipun sesekali, menasehati dengan cara yang ahsan, untuk kebaikan saya.

Safar dan belajarlah…
Karena di sini saya akan menemukan keluarga baru, menjalin silaturrahim baru, dan memiliki ikatan persahabatan yang baru. Inilah alasan, yang selalu saya sampaikan pada mereka ketika akan pergi, entah ke manapun, meskipun itu hanya ketika mengikuti kegiatan sekecil apapun.

Doakan anakmu ini, agar terus menjadi anak yang besyukur dan terus memberikan kebahagiaan untuk keluarga, dan untuk negeri di mana kaki ini memijak tanah-Nya. Karena satu pesan, yang saya ingat ketika akan pergi meninggalkan negeri ini, sebuah ucapan dari ibu dan bapak,”InshaAllah, Ikhlas, Ridho, dan Hati sudah lega”.

 

Surabaya,
Terminal 2 Juanda International Aiport

cycle_of_goodness

Beasiswa ini adalah salah satu beasiswa yang ditawarkan oleh professor saya, dan dengan ijin Allah, doa kedua orang tua, serta bimbingan dari professor saya, saya pun mendapatkan beasiswa ini, yang tentunya akan membantu studi saya di salah satu universitas di Tokyo.

Pada awalnya, saya berencana untuk mengajukan beasiswa dari negeri saya, dan juga dari beberapa perusahaan lainnya, namun entah, professor saya ketika itu hanya mengatakan untuk membahas beasiswa tersebut di lain waktu, dan beliau tetap fokus agar saya mau berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkan beasiswa dari Yoshida Scholarship Foundation. Namun, di sisi lain, beliau pun masih tetap memberikan pilihan dan pertimbangan bagi saya agar kemudian memutuskan, dan apa yang membuat saya yakin, setelah kemudian saya berdiskusi dengan senior saya, adalah keyakinan dari sensei saya yang menyiratkan dalam pesan beliau bahwa saya dapat memperoleh beasiswa ini. Sempat beberapa kali, saya mengunjungi website beasiswa ini, dalam sambutannya, Tadahiro Yoshida, selaku COE YKK Company berpesan untuk bahwa dengan adanya beasiswa ini, diharapkan para pemeroleh beasiswa mampu untuk kemudian memberikan manfaat bagi masa depan, dan juga membangun jejaring dengan masyarakat luas nantinya menuju abad 21. Dalam hati pribadi saya, saya melihat ada sebuah nilai yang ingin ditanamkan bagi mereka para penerima beasiswa ini, dan ada sebuah kebermanfaatan yang diharapkan dari para penerima beasiswa ini, tidak hanya untuk diri sendirinya, melainkan untuk masyarakat global.

“Ah, baiklah, ‘Bismillah’, aku pun berujar, untuk mengikuti seleksi beasiswa ini”. Setelah melalui proses pendaftaran, dan menyatakan kesiapan saya pada sensei untuk mengikuti seleksi beasiswa ini, dalam hati sebenarnya kemudian muncul sebuah pertanyaan, apa sebenarnya YKK Company itu? Siapa pendiri YKK Company? Mulailah kemudian saya membrowsing apa itu YKK Company…

Dalam sebuah laman website, YKK adalah kepanjangan dari Yoshida Kogyo Kabushikikaisha, sebuah perusahaan resleting yang berdiri pada tahun 1934. Tadao Yoshida adalah pendiri pertama perusahaan ini, dan kini perusahaan ini telah berhasil menjadi perusahan retsleting terbesar, yang mempunyai 132 anak perusahaan di lebih dari 60 negara. Perusahaan YKK sendiri tidak hanya memproduksi retsleting, tetapi juga membuat mesin yang dapat menciptakan retsleting itu sendiri (1).

Saya pun kaget karena tahu bahwa YKK adalah perusahaan resleting. Dan kemudian saya pun mencari apa sebenarnya yang perusahaan ini miliki, hingga kemudian perusahaan ini pun masih terus tetap ada sampai saat ini. Akhirnya pun, saya mencari profile YKK Company.

Dalam sebuah laman wesbite, YKK Company¬†yang didirikan oleh Tadao Yoshida memiliki sebuah filosofi mengenai “Cycle of Goodness” (Siklus Kebaikan). Saya pun bertanya apa yang dimaksud oleh seorang Tadao Yoshida kala itu?

Also, Tadao Yoshida felt strongly that the fruits of these innovative ideas must not be retained by any individual. Instead, they should be distributed widely to society, thereby circulating the benefit. In this way, one can prosper while making a contribution to the enrichment of all humankind. Tadao Yoshida called this the ‘Cycle of Goodness’, and he made this idea his fundamental philosophy of business (2).

Saya pun begitu kagum dengan pemaknaan filosofi yang begitu dalam dimaknai oleh seorang Tadao Yoshida. Bagi saya seorang muslim, sebenarnya, Allah telah begitu jelas memberikan dan menjelaskan filosofi yang begitu dalam ini. Dalam Al Quran Surat Ibrahim ayat 24-25, Allah menjelaskan bagaimana mengenai seseorang berilmu yang diibaratkan seolah pohon yang baik, dan terus berbuah.

24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
25. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Jika kemudian saya melihat kembali ke belakang, sebuah inovasi dari seorang Tadao Yoshida untuk kemudian berinovasi dengan membuat sebuah resleting, pada akhirnya kini amat sangat bermanfaat dirasakan oleh orang banyak. Ibarat sebuah pohon, Tadao Yoshida mampu memberikan buah-buah yang dihasilkannya demi kebermanfaatan orang lain.

Saya pun sebagai seorang muslim merasa bahwa sebenarnya banyak nilai-nilai Islam yang pada akhirnya banyak diaplikasikan oleh orang-orang non Islam, yang kemudian menghasilkan begitu banyak kebermanfaatan bagi orang lain. Saya pribadi dalam hati berdoa, semoga saya pun dapat kemudian mengaplikasikan ilmu yang saya miliki, dan mengaplikasikan apa yang telah saya pelajari dari hal ini. Semoga Allah selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada hamba yang banyak bergelimang dosa ini.

 

Refrensi:
1. http://www.kompasiana.com/gumilangsatria/kisah-resleting-dan-ykk_550b3a6b813311ad1eb1e15c
2. http://www.ykk.co.id/web/profile