Beberapa pekan lalu, sepintas dalam beberapa timeline teman-teman yang menempuh studi di Belanda, sebuah selebaran bertuliskan MataNajwa: Goes to Netherland. Bukan hal baru memang, MataNajwa, menjadi tontonan tersendiri, yang unik, menguak hal-hal baru, mengupas berbagai macam sisi mulai dari sosial, budaya, bahkan hal yang paling kontroversial, dengan para narasumbernya. Bagi saya pribadi, melihat acara MataNajwa memberikan inspirasi tersendiri, bahkan saat Najwa Shihab membacakan puisi-puisi di akhir acara tersebut, ada nilai, makna, ungkapan, yang menjadikan setiap pendengarnya, berpikir dan melihat kenyataan dan realita yang ada.

Walau hanya sebatas membaca status teman, tapi bagi saya, bertanya ataupun sekedar meminta cerita pada teman yang berada di sana, adalah cukup untuk bisa berbagi pesan dengan apa yang sudah mereka dapatkan dalam acara itu. Ini adalah pesan yang Najwa Shihab berikan ketika menutup acara MataNajwa: Goes to Netherland.

Saat rantau menawarkan beribu goda dan harapan
Kampung halaman terasa sungguh meragukan
Di bawah naungan bujuk rayu materi
Tanah air terasa hanya sekedar melankoli
Wajar jika keraguan merajalela
Indonesia tampak belum menjanjikan apa-apa
Tapi Ibu Pertiwi tak pernah bosan memanggil
Perantau kuyuh oleh perasaan sentimentil
Dipanting oleh ingatan dan kenangan
Rindu tanah kelahiran pasti tak tertahankan
Namun kepulangan jangan semata memuaskan kerinduan
Indonesia butuh sumbangsih kalian yang berpengetahuan
Begitu banyak agenda bersama yang harus direalisasikan
Mimpi dan harapan yang harus jadi kenyataan
Kami amat risau menunggu kepulangan kalian yang sedang berguru
Pulanglah kapanpun kalian mau
Saudara-saudara mu juga sangat ingin maju
Rawe rawe rantas malang malang putung
Kita bikin Indonesia jadi bangsa yang agung
@matanajwa

Inilah kutipan puisi yang saya beroleh ijin untuk membagikannya, dari akun instagram teman saya, @sitimariyam1.

27-28 Oktober 1928, adalah momentum sumpah pemuda, yang menjadikan ikatan para pemuda-pemudi Indonesia menjadi satu padu, menghilangkan rasa kedaerahan, menghilangkan jarak kesukuan, dan meleburkan mereka pada rasa cinta akan tanah airnya. Di tengah momentum akan Sumpah Pemuda pada tahun ini, menjadi momentum kembali untuk para pemuda di seluruh penjuru negeri, dan di seluruh dunia, untuk kembali memadukan  rasa persaudaraan dan membangun cintanya untuk membangun negeri, di tengah kerinduan Ibu Pertiwi kepada anak-anak bangsanya.

Bagi saya pribadi, yang saat ini sedang menempuh studi di negeri Sakura, memang tidak dipungkiri, di sini, kehidupan jauh lebih baik, tidak ada hingar bingar kegaduhan politik, keteraturan dalam segala hal, transportasi, kepatuhan pada hukum yang berlaku, dan norma yang ada. Namun, tetaplah, rindu akan tanah air, pada nyatanya tetap tidak terbendung.

Memang benar apa yang disampaikan dalam puisi MataNajwa, ingatan dan kenangan selama perjalanan hidup di bumi pertiwi lah, yang terus menjadikan hati kecil, selalu berbicara,”Suatu saat aku akan pulang, tidak dengan tangan kosong, namun dengan hal kecil yang akan membawa sedikit senyum dan perubahan untuk tanah air”. Namun, sekali lagi ini tidak bisa dilakukan sendiri, namun harus dilakukan dengan kerja-kerja kolektif, kerja-kerja pemuda-pemudi yang saling bantu membantu, saling membahu, dan saling memberikan masukan demi cita-cita yang disampaikan dalam puisi tersebut, yakni “menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang agung”.

Generasi pembelajar, meminjam istilah yang disampaikan oleh Najwa Shihab, adalah generasi terdidik, yang mengabdikan dirinya untuk berguru, membuka cakrawala pemikiran, menjadikan diri untuk terus belajar, rendah hati, selalu bersikap objektif dalam menilai hal-hal yang sedang terjadi, dan bersikap terbuka dengan siapapun. Jika Generasi Pembelajar, pada tahun 1928, dipersatukan karena adanya persamaan untuk menghimpun para pemuda-pemudinya, melawan penjajahan, maka sejatinya, Generasi Pembelajar saat ini pun, sedang diminta oleh Ibu Pertiwi, untuk menjadi mata air, yang membawa kebermanfaatan untuk rakyat Indonesia.

Tokyo, Kita-Ayase, 25 Oktober 2016
Di tengah dinginnya malam langit Tokyo, menilik kembali diri ini, meluruskan niat, dan membaca kembali jalan yang sudah dilaluinya.

 

Welcome Autumn-Winter

Posted: September 28, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

img_1434

Gugur pertama di Negeri Sakura…

Ibarat sebuah pertanda musim yang akan berganti, langit bagaikan mencurahkan seluruh anugerah berupa hujan pada seluruh tanaman dan makhluk hidup di bawahnya. Beberapa hari ini tampak langit Tokyo yang terkadang cerah, kemudian berganti dengan gelayut mendung. Ibarat sebuah pertanda, Tuhan sedan memberikan kesempatan bagi makhluknya untuk menyiapkan datangnya musim gugur yang sekiranya akan berlanjut pada music dingin hingga akhir Maret tahun depan.

Ini adalah pohon Ginko yang berada tepat di tengah Kampus Yayoi, UTokyo. Setiap hari yang terlewati nampaklah, daun-daun yang berguguran, dan daun-daun yang terus menguning menandakan mular masuknya musim gugur yang akan berlanjut pada musim dingin.

Musim yang akan dilewati dengan dinginnya cuaca, dan hangatnya semangat penuh mengejar apa yang sudah pernah menjadi mimpi dan tujuan perjalanan ke negeri ini. Daun yang gugur bagaikan memasrahkan segala urusannya pada Dia yang Maha Memiliki dan Menggenggam semuanya. Begitu juga diri ini, seharusnya terus berpasrah, setelah ikhtiar yang dilakukan.

 

Welcome Autumn-Winter 2016
Sudah 7 bulan saja, saya menginjakkan kaki di negeri ini. Semoga langkah ini menjadi langkah untuk selalu berbuah keberkahan dan kebaikan.

Kita-ayase, 28 September 2016

Bersabar…

Posted: September 13, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

Kata “Sabar”, yang selalu ibu saya ingatkan. Memulai perjalanan seorang diri, di negeri orang, tanpa sanak keluarga, mungkin memang berat pada awalnya. Namun, bagi seorang ibu, ia paham bahwa inilah yang harus dilakukan sang anak, agar ia paham, bahwa nantinya perjalanan kehidupannya, akan ditempuh dengan tanggung jawab pribadi, dan memiliki hak penuh untuk memutuskannya sendiri. Bagi saya, ibu dan bapak, adalah sosok yang begitu sabar.

Sejak menginjakkan kaki di bangku SMA hingga bangku kuliah, saya telah berpisah dan tinggal sendiri, karena pekerjaan bapak, yang harus membawanya terbang dari daerah kami berasal, Madura. Namun, perhatian dan kehadiran mereka, masih nampak bahkan hingga saya saat ini melanjutkan kuliah di sini, Jepang. Telepon setiap pagi, membangunkan saya untuk pergi kuliah, setiap hari saya dengar dari Indonesia, ditambah sedikit percakapan agar saya tetap terbangun. Ya, bersabar untuk menempa diri, jauh dari sanak keluarga, teman yang pernah dikenal, serta sahabat, adalah pilihan jalan yang dipilih agar kita terus membuka diri, membelah cakrawala keterbatasan yang menutup diri, dan membuka pintu-pintu kebaikan di setiap jalan yang dilewati di tengah kehidupan di negeri orang.

Jalan cinta bukanlah jalan yang selalu berisi manis atau senangnya kehidupan, namun jalan cinta adalah jalan yang diajarkan dengan melewati manisnya kurva sinus, yang harus naik dan turun. Ketika naik, maka menundukkan hati untuk bersyukur dan bersujud, dan ketika turun, maka menengadahkan tangan dan merendahkan hati, untuk meminta, dan memohon kepada sang pemilik alam semesta, Rabbul Alamin.

 

Sebuah Nilai Toleransi

Posted: August 14, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

Sudah hampir 5 bulan perjalanan di negeri sakura ini diarungi. Berbicara suka dan duka, pastilah ada. Entah itu rindu masakan rumah, kegiatan bercanda bersama keluarga, mencium tangan kedua orang tua, bertatap muka dengan saudara, teman, dan semuanya yang ada di tanah air, pasti, dan pasti adalah sebuah kerinduan yang harus ditahan. Meskipun masih sangat-sangat awal berada di negeri ini, namun, kenyataannya di negeri ini, banyak hal yang harus dipelajari, bahasa, budaya, toleransi, dan rasa saling menghargai sesama. Terlepas dari itu semua, mari melihat bagaimana sisi positif yang dapat kita ambil dari negeri sakura ini.

Jepang, yang kita kenal dengan negara penganut Shinto, adalah negara, yang saya rasa, memiliki tingkat toleransi yang sangat tinggi, terutama bagi kami para muslim. Menghadapi Olimpiad 2020 di Tokyo, banyak sekali komoditas makanan-makanan halal yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat muslim, bahkan sebuah komunitas bernama Halal Media Japan (HMJ) terus berpacu memberikan informasi mengenai lokasi ataupun tempat yang menjual makanan-makanan halal di negeri ini. Hal ini tentu saja memberikan kemudahan bagi kami, para muslim untuk mencari makanan dan membeli daging yang telah bersertifikasi halal. Selain itu, makanan khas Jepang, Ramen dan Shabu-shabu pun, tak luput menjadi sasaran pasar Halal, yang ditujukan untuk memudahkan bagi para muslim mengenal makanan ala Jepang, dengan kualitas yang baik dan terjaga, namun tetap sesuai dengan syari’at, yaitu Halal.

Halal Food, juga mulai banyak disediakan di kantin ataupun coop kampus-kampus, yang notabene, banyak mahasiswa muslim yang melakukan studi di sini. Ya, sebegitu concernya mereka ketika telah mengetahui kebutuhan makanan muslim, maka sebisa mungkin komunitas muslim di negeri ini akan mengusahakan. Bagaimana jika kita ke toko, lalu tidak tahu apakah ada ingredient haram di dalamnya? Sepengalaman saya, kita berhak bertanya dan hal ini tidak masalah bagi mereka, bahkan dengan sukarela, masyarakat negeri ini, akan menyampaikan seandainya makanan tersebut tidak bisa dimakan oleh seorang muslim. Saya pun pernah memiliki pengalaman ketika akan membeli onigiri pada tahun 2013 di sebuah shop, lantas ketika bertanya pada kasir, dia pun jujur mengatakan onigiri yang saya beli mengandung sesuatu yang haram, dan sempat dia pun menanyakan, apakah saya seorang muslim, dan dia pun meminta saya untuk tidak membelinya. Seorang teman, ketika semalam berdiskusi, sebut saja Mas Septian, ia menyampaikan bahwa negeri ini sangat detail dalam memperhatikan makanan yang disajikan, termasuk itu makanan Halal. Kualitas, sterilitas, dan proses packing dilakukan semuanya terus mendapatkan kontrol yang sangat baik. Di lain sisi, pihak perusahaan makanan pun memberikan kesempatan kepada konsumen untuk mereview dan menanyakan kepada perusahaan terkait ingredient yang terdapat dalam makanan ataupun minuman. Indahnya sebuah kejujuran dan keterbukaan di sini.

Selain itu, bagi para disabilitas di sini pun, jangan ditanya bagaimana mereka kemudian menghargai mereka dan memberikan pelayanan yang sangat luar biasa. Ketika di bus, saat itu ada penumpang yang menggunakan kursi roda akan masuk ke dalam bus. Apa yang saya lihat ketika itu adalah sebuah bentuk kepedulian yang sangat luar biasa, supir bus itu pun kemudian beranjak dari kursinya, mengambilkan papan bagi penumpang tersebut, lalu menaikkannya, dan melipatkan kursi agar si penumpang itu pun bisa berada di dalam bis. Bahkan ketika turun pun, sang supir tetap melaksanakan pekerjaan mulianya ini, untuk menurunkan penumpang yang menggunakan kursi roda itu. Bagaimana dengan penumpang lainnya? Kami senantiasa menunggu hingga penumpang tersebut turun, barulah kami turun. Inilah nilai yang selalu kami impikan, keteraturan dan kedisiplinan, serta bagaimana sikap respect to people.

Bagi saya, dan teman saya, Mas Septian, yang kala itu berdiskusi kami menyebut negeri ini sebenarnya adalah negeri di mana puncak peradaban Asia berada. Bagaimana nilai kejujuran harus tetap kami dahulukan, bagaimana nilai Respect to People, Respect to Time, dan Respect to System menjadi sebuah jalan bangsa ini menuju puncak peradabannya. Terlepas dari beberapa hal negatif yang memang ada, namun sebagai manusia kita patut belajar. Bukankah Rabb kita meminta kita untuk mengelana di muka bumi, untuk belajar dan mengambil setiap ibrah yang terdapat di dalamnya.

Al Hajj, 22:46
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Banyak negeri-negeri yang sebenarnya memiliki nilai-nilai yang begitu dekat nilai agama ini, Islam. Maka di sinilah, kita harus terus belajar dan memperbaiki diri, dan menjadi hamba-Nya yang selalu berpikir dan mengangungkan rahmat dan rahim-Nya, yang telah Dia curahkan kepada diri kita.

Tokyo, Adachi-ku
22.09/14-8-28

Diam atau Bergerak?

Posted: July 26, 2016 in Hikmah
Tags: , , , ,

Saya ingin membagi sebuah ungkapan yang pernah saya dapat ketika pernah tinggal seasrama bersama mereka, para raksasa-raksasa kampus, yang kini, mereka pun telah menyebar ke dalam dunia yang menjadi fokus keinginan mereka untuk menebar manfaat dan kebaikan, dalam hal apapun.

Ketika dikumpulkan bersama dalam sebuah rangkaian kegiatan yang diadakan di Gunung Salak, saya ingat sekali kala itu, selepas shalat Isya’ kami berkumpul, merapatkan barisan dan shaf-shaf duduk kami. Kala itu, abang kami, sebutlah namanya Bang Bachtiar, diminta untuk memberikan sekapur sirih dalam rangkaian kegiatan itu. Kegiatan ini dilakukan bersama rekan-rekan seasrama lainnya yang berasal dari kampus-kampus lain di Indonesia.

Dinginnya malam, semakin terus membuat kami bergidik kedinginan, namun kala itu  Bang Bachtiar hanya mengenakan kemeja, dan menahan dinginnya malam dengan semangat yang ia bawa untuk mengobarkan semangat kami, para pemuda-pemudi yang kala itu sudah ditempa selama setahun dalam asrama tersebut. Semangat untuk mengingat arti sebuah perjuangan, dan jalan yang kami pilih untuk masuk dalam tempaan berasrama itu. Ya, semangat untuk membawa misi dan visi kelangitan, sebuah misi yang suci dan mulia, dalam materi yang beliau bawakan dalam kajian Training Pengembangan Diri, yang kala itu masih bernama TPD.

Banyak yang beliau sampaikan dalam lantunan kata-kata yang membuat diri ini penuh merefleksikan bahwa begitu jauhnya kekurangan diri ini, dari kata sesuai dengan apa yang pernah beliau harapkan bagi kami, untuk ikut bersama berjuang membangun dan menjadikan diri menjadi agen-agen pembawa misi yang begitu suci dan mulia. Ada sebuah kalimat yang selalu saya ingat, Diam atau Bergerak?

Hidup ini memanglah sebuah pilihan. Allah pun memberikan kuasa yang penuh pada mahkluk-Nya untuk memilih, menjadi baik atau buruk, mendambakan syurga dunia atau syurga akhirat, semuanya adalah pilihan, namun tentu akan memiliki sebuah konsekuensi. Begitu pula memiliki diam atau bergerak? Ketika Diam, maka kita akan terus berada dalam kenyamanan, namun ketika bergerak, maka tentu saja, kondisi nyaman, kondisi tersudut, kondisi stagnan, kondisi di atas, kondisi di bawah, akan selalu hadapi, dan masih ada pilihan, berhenti atau terus bergerak. Semuanya adalah pilihan.

Bagi mereka yang terus bergerak, ibarat sebuah air, yang mengalir dari hulu ke hilir, terkadang harus melewati celah sempit, hingga akhirnya bertemu dengan derasnya aliran air di hilir yang membawa mereka terus bergerak, hingga akhirnya menemukan luasnya samudera. Bagi mereka yang diam, ya mereka pun juga ibarat air, yang awalnya mengalir, lalu kemudian berhenti dari alirannya, memilih untuk tergenang, dan terus tergenang hingga akhirnya pun kering.

Hidup semuanya adalah pilihan, sekali lagi apaka kita memilih untuk bergerak atau diam? menjadi aliran yang menghijaukan lahan-lahan yang dilewatinya, ataukan menjadi genangan air, yang mengeruh dan akhirnya mengering?
Hidup adalah pilihan…

 

Tokyo, Adachi-ku
26 Juli 2016

Sebuah Kerja Keras dan Doa

Posted: July 24, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

Kembali pada rutinitas dan segala hal yang menjadi kebiasaan di beberapa bulan, setelah tinggal di negeri ini.

Rindu? Pastilah ada rindu, namun rindu itu harus dibalut pada sebuah doa dan kerja keras, agar ia dapat terbayarkan dengan sebuah hasil maksimal, tentunya tidak terlepas dari apa yang sudah ditakdirkan-Nya. Namun, bukan itu yang hendak saya ceritakan di sini. Ada hal menarik lainnya, di samping sebongkah rindu yang masih saja menggunung untuk terus disimpan dan diarahkan pada hal yang positif.

Jikken, istilah yang mungkin tidak akan sangat asing bagi para pelajar di negeri Sakura ini, yang bermakna eksperimen, atau istilah Indonesia, penelitian. Jikken pertama saya dimulai pada bulan April 2016, awal ketika pertama saya datang. Minggu awal, saya langsung disodori untuk membaca jurnal penelitian laboratorium, dan meminta berdiskusi lebih lanjut ketika usai membacanya. Ya, dalam 3 hari pun saya mencoba untuk memahami, dan segera berdiskusi dengan supervisor saya. Alhasil, beliau menyatakan saya sudah bisa melakukan penelitian kala itu. Kaget? Pasti, karena biasanya, mahasiswa master akan fokus pada penelitian ketika sudah masuk di semester kedua. Tapi, saya sudah diminta sejak awal datang memulai eksperimen. Baiklah, dalam hati saya pun bergumam, semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam penelitian ini.

Bermain dengan mikrobia, bukanlah hal yang sangat mudah, bahkan saya katakan terkadang ada sebuah tantangan, yakni mencegah kontaminasi, ataupun menghindari kesalahan membuat medium, atau sebagainya. Bahkan, yang lebih utama, adalah memastikan kita benar dalam mengkultur strain yang akan digunakan. Heum, sejak memulai eksperimen, saya pun sudah menggunakan sebanyak 100 strain bakteri tanah, aktinobakteria, yang telah dikultur dan memberikan hasil yang bagi saya cukup, namun pada kenyataannya, masih harus ada effort yang lebih. Why? Hasil yang masih belum konstan bahkan terkadang, sedikit meragukan, atau bisa jadi sedikit mencengangkan dari yang seharusnya. Saya tak pernah tahu, apa yang sedang terjadi dalam kultur cair yang saya inkubasi, saya tidak tahu menahu, apa yang mikrobia itu lakukan selama dikultur dalam medium, namun saya hanya percaya, jika usaha semaksimal mungkin telah dilakukan, maka hasil akhir mempercayakan sepenuhnya kepada kekuatan Yang Maha Tahu.

Acap kali ketika sudah begitu sedikit mengendur dari semangat, saya mengirim gambar pada kedua orang tua, berkabar dengan apa yang saya lakukan di sini, sembari terselip permohonan sebuah doa, sebuah restu, dan sebuah harapan, agar apa yang dilakukan di sini, bisa memberikan manfaat ke depannya. Saya paham kerja keras saya, tetaplah saya butuh pada restu kedua orang tua saya, mendengar dukungan, dan doa, bahkan sebuah isyarat ketika restu terucap, menjadikan diri ini terus bersemangat dan mengingatkan pada sebuah nasehat yang saya jadikan wallpaper dalam laptop,”Berpeluhlah engkau dalam berusaha dan berdoa, karena lezatnya kehidupan akan terasa setelah itu”.

Kerja keras haruslah tetap diimbangi dengan doa, bahkan terutama doa dari kedua orang tua, yang selama ini menguatkan pundak dan mengangkat pribadi ini untuk mau maju, dan berpikir untuk orang lain, tidak hanya untuk diri sendiri.

Kerja keras dan doa adalah kunci sebuah akselerasi diri dalam berproses…
terutama doa mereka yang kita cintai, adalah penambah kecepatan akselerasi, agar ada keberkahan dalam setiap langkah, dan ada ridho Ilahi yang membersamai proses tersebut.

Adachi-ku,
Sunday, 24 Juli 2016.

Masih Tersisa 21 Purnama…

Posted: July 10, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

“Allah will change the family you left out”
Three months, I have already lived out from my home, leaving my family, leaving whom I loving them, my parents.

Rindu akan pulang, itulah yang memang dirasa selama 3 bulan berada jauh dari rumah. Suasana lebaran, adalah suasana yang sangat dirindukan, ketika dirimu hanya berjumpa melalui sebuah layanan telepon via dunia maya, bertatap maaf hanya melalui sebuah kata-kata, dan hanya melihat wajah dari jauhnya jarak yang telah memisahkan. Sudah lebih dari 3 purnama terlewati di negeri orang, namun memang itulah cinta, bahwa tanah air dan keluarga, serta setiap kenangan di tanah sendiri, akan sangat terasa begitu dalam, ketika sudah berada dalam perantauan.

Di sini, masih tersisa 21 purnama yang harus dilewati. Sebuah ucapan yang harus diingat ketika dulu rasa begitu kuat, maka sebenarnya, Allah mengajarkan kita akan cinta dan rindu yang sesungguhnya. Ketika sepotong roti, tak lagi bernilai sepotong, namun telah habis satu persatu, maka disitulah ada nikmat, namun disitulah juga ada sebuah kenangan, dan disitulah tersimpan sebuah ingatan.

Masih ada 21 purnama yang harus dilewati. Bukanlah aku ingin menghitung hari, tapi memang begitulah sebuah rindu, yang terus diingat melalui sebuah janji dulu. Bahwa ia akan meminta dirinya sendiri untuk terus mengingat, dan menyimpan sebuah memori yang kuat dalam pikirannya.

“Imam As-Syafi’i said while we doing and working hard, we would feel the delicacy of life”

Meneguhkan Keimanan

Posted: June 12, 2016 in Hikmah, Puisi
Tags: , ,

Keimanan,
Begitu mudah lidah ini mengucap
Aku beriman…
Iya,
Aku beriman pada rukun Iman yang 6
Aku pun beriman pada rukun Islam yang 5,
Ya,
Aku beriman…
Aku beriman…
Namun, Keimanan bukanlah hanya ucapan
Keimanan tidak sekedar ada pada manisnya lisan,
Ia membutuhkan bukti dan aplikasi,
Ia membutuhkan tindakan aksi…

Keimanan,
Hal yang selalu Rasulullah ingatkan dan tekankan
Fondasi dari setiap hal yang terlaku pada diri ini,
Cerminan bagi setiap orang yang meneguhkan dirinya
hanya pada Khaliq-nya semata…

Keimanan,
ia yang menjadi jalan syahidnya Sumayyah binti Khayyath,
ia pula menjadi jalan syahidnya Yasir bin Amir
dan ia lah yang menjadi kekuatan dan keberanian Bilal,
melantangkan “Ahadun Ahad…”

Keimanan,
Fondasi yang Rasulullah dakwahkan selama fase Mekkah,
Jalan yang menjadi penguat Ja’far bin Abi Thalib untuk berhijrah ke Habasyah,

Allah Ya Karim,
Inilah jalan yang telah Rasul-Mu tunjukkan,
Inilah jalan para Khalifatur Rasyidin,
Para Salafush Shalih, Tabi’in, Umara, dan pemimpin ummat kami terdahulu
Genggam hingga akhir hayat menemui-Mu…

Allah Ya Karim,
Cukupkah keimanan kami saat ini untuk menghadap-Mu?

*Jepang, Tokyo (8 Ramadhan 1437 H)

Kabar adalah satu hal yang terus dinanti, pagi, siang, sore, malam, bahkan hingga pagi pun akan datang, kabar dialah yang senantiasa ditunggunya. Saya hanya ingin berkabar, saya baik-baik saja di sini, dan Alhamdulillah, ada keluarga baru yang saya temukan di negeri sakura ini. Keluarga yang bukan karena sedarah, bahkan bukan karena berasal dari kakek dan nenek, namun keluarga yang dieratkan dan didekap karena ukhuwah, persaudaraan, dan rasa cintanya pada tanah air. Ah, maaf karena lupa untuk tidak lagi menulis seperti janji yang saya pelihara sendiri, yaitu menulis sekali dalam seminggu. Berkabar meski dengan tulisan, karena tidak bisa setiap hari untuk berkontak, bahkan terkadang hanya berujung 3-6 menit di ujung telepon, yang tersambung melalui sebuah koneksi via maya. Maaf…

Hari ini dan hari lalu, dua peristiwa yang begitu membahagiakan saya dapati, di tengah menjelang sebulan telah berada di negeri ini. Alunan jemari untuk kembali mengetik dan bercerita, rasanya membuat mata kantuk ini menjadi tetap bersemangat untuk menulis dan menceritakan apa yang sudah terjadi selama beberapa minggu ini di sini. Heum, tidak begitu banyak, namun tentu saja benar-benar membuat sedikit decak kagum dan decak haru yang ada.

Akhirnya, aku kembali bertemu…

Ya, Al-Qur’an pemberian seorang teman, yang menyimpan sebuah foto masa kecil dan foto kedua orang tua pun kembali. Al-Quran yang saya tinggal pada 13 Februari itu akhirnya bisa kembali saya lihat dan baca, serta saya peroleh kembali foto-foto yang pada akhirnya mengingatkan saya akan rumah saya sebenarnya. Bagaikan sebuah perjumpaan yang begitu lama. Apa istimewanya? Ya, di situlah saya mengikat sebuah janji untuk kembali dan mengambil Al-Quran itu beserta seluruh isinya. Bukan apa, bukan ingin pamer, ataupun ingin terlihat begitu alim. Bukan, namun ada sebuah hikmah yang saya ambil. Ucapan adalah Do’a. Inilah yang saya teringat akan sabda Rasulullah, “KULLU KALAM ADDU’A” yang artinya, “Setiap perkataan itu merupakan do’a”. Dan juga bagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Israa`(17): 53 yang maknanya “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)”.
Kala itu hanya sebatas saya berucap, “InshaAllah saya akan kembali dan mengambilnya kembali”. Dan Allah pun menjawab doa itu kini. 3 bulan lamanya berpisah, dan kini Al-Quran itu pun kembali bisa saya buka dan baca.

Bukan saya tidak mau membaca yang lain,
Bukan saya pula menspesialkannya,
Namun, ada hikmah yang saya ambil dari peristiwa ini…

Lalu, masihkah ada yang ingin saya bagi? Masih jawaban hati ini…

Saya ingin berkabar, dua hari ini, saya dan teman-teman PPI Todai mengikuti rangkaian acara Gogatsusai atau di sini kami menyebutnya, May Festival. Kami memasak dan mengenalkan makanan khas kami di Indonesia. Kami tidak pernah ingin melupakan cita rasa, bahkan aroma yang sering kali begitu khas tercium dari masakan rumah yang selalu kedua orang tua kami sajikan dulu, meskipun kami pun harus jauh dari negeri kami, Indonesia. Kami menyajikan “Bakso”. Ya, Bakso, yang sering kali dengan mudahnya kami jumpai, di warung-warung pinggir rumah, sekolah atau bahkan kantin kampus kami dulu di Indonesia, para pedagang jalanan, yang menjajakan baksonya, dengan mengetuk piring berlambang ayam dengan sebuah merek penyedap tertentu. Ah, kami pun masih belum bisa melupakannya. Ketika di rumah, sedang menonton TV, bahkan sedang bepergian, masihlah kami mengingat,”Bakso, Bakso, tek tek tek…”. Kini kami pun menjajakannya, bagi mereka para masyarakan Jepang. Ada yang penasaran, ada yang sudah pernah merasakan ketika tinggal atau berkunjung ke Indonesia.

Tahukah bahwa dagangan ini pun laris manis kami jajakan di sini? Pagi, hingga sore, pengunjung datang, membeli, bertanya, dan terakhir mereka kembali, dan mengatakan,”Oishi, desu!”, yang artinya,”Nikmatnya, enaknya”, apalah itu yang penting mereka sangat puas. Tidak hanya dagangan yang kami jajakan, kami pun mencoba membawa semangat keluarga ke-Indonesiaan kami. Semangat kebersamaan di tengah negeri perantauan, di tengah-tengah keluarga Indonesia kami yang juga sedang belajar, bekerja, hanya semata-mata bukan untuk kepentingan pribadi, namun berpikir bagaimana suatu saat ketika Indonesia sudah siap, maka kami pun siap untuk membangun negeri kami tercinta.

Oh ya, di sini kami belajar untuk tertib pada administrasi yang berlaku. Para koki, mereka wajib menggunakan celemek untuk masak dan topi untuk menghindari rambut masuk dan mengotori makanannya. Tidak hanya itu, di sini, kami dituntut untuk tetap berupaya, satu proses dalam menjajakan bakso, dagangan kami. Artinya, tidak boleh ada proses memotong atau apapun, yang artinya semuanya sudah siap, dan hanya tinggal merebus atau menyiapkan untuk siap disajikan pada pengunjung. Apa untungnya? Ya, konsumen tidak akan terlalu menunggu lama, karena semuanya sudah dipersiapkan matang dan detail.

Bagi saya, ini adalah event pertama yang saya ikuti, dan menjadi even untuk mengenal keluarga-keluarga kami lainnya, yang mungkin belum sempat bertemu pada welcome party sebelumnya. Bahagia, adalah perasaan di hari ini, karena semua upaya yang telah direncanakan, akhirnya berbuah manis pada banyaknya pengunjung, dan target yang setelah diperoleh, melebih target yang diharapkan dan beroleh pada keuntungan untuk tahun ini. Alhamdulillah,,, dan syukur yang terus kami ucapkan, karena hanya ada senyum yang pantas untuk terus diberikan atas setiap ikhtiar serta kerja cerdas yang telah dilakukan. Hikmah beroleh pada ujung kebersamaan dan keingin untuk bekerja sama. Kalau bolehlah saya mengambil sebuah istilah, yaitu beramal jama’i. Inilah konsep yang sebenarnya luhur dan ada dalam identitas penduduk negeri Indonesia, Gotong Royong dalam Bekerja dan Berkarya.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (al-Hujurat 49:11)
“Jauhkanlah diri kalian dari tindakan merusak hubungan persaudaraan karena tindakan itu adalah pencukur (agama)” (HR. Tirmidzi)

13254431_10206614473546039_9068669773873221782_n13226822_10206614473866047_8919325012778350957_nCourtesy foto: Kiswanto (Tokyo, 2016)

Baiklah cukuplah tulisan untuk hari ini, selamat beraktivitas di Senin pagi. Menyosong setiap hari dengan senyum dan syukur. Menghela nafas dan menghirup nafas dengan rasa syukur atas ijin-Nya memberikan hari-hari yang penuh akan senyuman.

Karena dalam setiap prosesnya, Ia memberikan hikmah dan pelajaran…

“Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269)”

Senin, 16 Mei 2016
Shibuya-ku, Tokyo

Bagi dia yang merasa sedang sepi,

Sesungguhnya dia tak sadar, bahwa Rabbnya selalu memberikan kekasih,

Mengaruniakan kebahagiaan, dan mengangkat kesedihan.

Bagi dia yang merasa harinya penuh cobaan,

Dia tidak pernah mengenal Tuhannya lebih dekat,

bahkan mungkin dia lupa akan rasa syukur yang seharusnya terus terucap.

Benim Allah,

hari ini kau limpahkan kembali kebahagiaan dan persaudaraan.

Kau pertemukan kembali dalam sebuah keluarga, yang selalu penuh syukur,

serta menjadi pengobat bagi rindu kami akan tanah air kami.

Benim Allah,

Rekatkan jiwa ini karena kecintaan kami pada-Mu dan bakti kami untuk menjadikan negeri kami menjadi negeri yang Engkau berkahi.
(Puisi Cinta, Pujangga Pengembara_Karunia_Shibuya, 24 April 2016)

Hari ini, disambutlah kami mahasiswa baru di Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Daigaku. Sambutan yang sangat hangat yang diberikan oleh para senpai-senpai kami yang terlebih dahulu telah belajar dan mendalami apa yang ingin mereka pelajari di negeri matahari terbit ini. Pukul 10 pagi (Japan Local Time), kami pun berkumpul di Tokyo Sky Tree Tower Station untuk menuju tempat kami akan mengadakan sebuah pesta penyambutan kecil, bagi kami yang baru memasuki Tokyo Daigaku.

Gerimis dan sedikit awan mendung menemani langkah kami, menuju daerah di tepi sungai, yang membelah daerah ini. Sisi barat adalah daerah Asakusa dan sisi timur kami berjalan masuk pada daerah Tokyo lainnya. Ah, indahnya pagi ini, rasanya begitu nyaman ketika keluarga pun bisa menikmati keindahan yang juga Allah limpahkan keindahan di dalamnya. Gerimis dan semilir angin bak mengingatkan diri ini pada tanah air, yang telah banyak memberikan hasil buminya dan menjadi bagian dari darah dan daging kami.

Tak apalah kami kini jauh darimu, namun hati, pikiran, dan rindu kami tetap bersama tanah air kami, Indonesia. Di sana, ada kedua malaikat yang telah Ia beri, di sana, ada keluarga yang senantiasa menunggu kabar, dan di sana ada rindu yang selalu kami haturkan bersama semilir angin yang setiap saat berhembus dan menerpa diri ini.

Tak terasa waktu pun berjalan begitu cepat, acara yang begitu hangat dan khidmat, di tepian sungai yang begitu tenang mengalirkan airnya, ditengah banyaknya orang yang menikmati pemandangan di sekitar Tokyo Sky Tree, pada akhirnya ditutup dengan sesi foto bersama semua anggota PPI Todai yang hadir di kala itu.

Tajam,

Semakin ia menjauh, semakin terasah akan kerinduannya.

Semakin ia berpisah, semakin tak tenang untuknya segera kembali.

Inilah anak-anak negeri yang bertebaran merantau di manapun,

menempa diri, mengasah kepekaan, dan memperdalam tajamnya analisis.

Menimba sebanyak-banyaknya ilmu,

Untuk pulang, menyarikan dan memberikannya pada orang lain.

Karena mereka anak negeri,

Bagaikan mata air yang akan terus memberikan pancarannya hingga rumput hijau pun hendak untuk tumbuh.

Dan tidak ada lagi tangan-tangan nakal yang melukainya bahkan mencabutnya dari akar yang telah kuat dan mendasar.
(Puisi Cinta_Pujangga Pengembara_Tajam_Shibuya, 24 April 2016)

Ku tutup tulisan ini dengan sebuah foto dari keluarga baru, yang kini Allah berikan selama menimba ilmu di negeri ini.

13043591_10206479732697602_2466081100863975758_n

Keluarga PPI Todai 

13100757_10206479732657601_8736881426366418238_n

Welcome in Tokyo Daigaku