Archive for February, 2013

“Pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap menyebarnya virus corona….”[1]

            Terdengar adanya berita penyebaran virus Corona yang berasal dari Jazirah Arab. Virus Corona adalah virus yang dapat menyebabkan penyakit dan infeksi pada saluran nafas manusia. Famili virus ini memiliki kesamaan dengan famili virus SARS1. Saat ini berita penyebarab virus ini telah masuk di London, dan terdengar adanya kabar bahwa serangan virus ini telah menyebabkan kematian terhadap dua oang warganya.

            Sebagai negara dengan umat muslim terbanyak, tentu saja ada kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah terutama setiap tahunnya jamaah haji ataupun jamaag yang ingin melakukan umroh semakin meningkat. Kekhawatiran seperti ini dikarenakan kondisi geografis yang berbeda, dan penularan virus yang begitu cepat dapat menyebabkan terjadinya kejadian yang luar biasa, seperti proses penyebaran virus yang malah dapat membahayakan bagi masyarakat tanah air. Hal ini dapat diambil contoh, ketika terjadinya kasus Avian Influenza di wilayah Asia lainnya, dan virus ini masuk ke wilayah Indonesia, menyebabkan kasus kejadian luar biasa dengan kematian unggas yang tinggi, bahkan penularan kepada manusia, yang berakhir pada kematian.

Mudah sekali Menginfeksi dan Menyebar

            Virus bukanlah materi hidup layaknya sel. Virus merupakan parasit obligatif aselular. Virus tidak dapat didefinisikan sebagai sel, meskipun pada bagian virus terdapat bagian yang menyimpan asam nukleat. Virus membutuhkan inang dalam proses untuk bertahan hidup, dan hal ini tentu saja, menyebabkan sang inang akan terinfeksi suatu penyakit.

            Secara biologis, penyebaran virus sangat cepat, bahkan mampu menginfeksi dengan cepat. Bayangkan saja, misal, ketika di kelas, ada teman kita yang flu, maka secara langsung esok hari atau beberapa jam kemudian, pastilah kita atau teman-teman kita akan merasakan flu yang sama. Penyebaran dan infeksi yang sangat cepat ini akan menentut tubuh kita untuk terus prima, agar terhindar dari infeksi virus, dan tentu saja menjaga pola makan.

            Kasus penyebaran virus Corona yang saat ini sedang terjadi di Jazirah Arab, sangat perlu untuk mendapatkan tanggapan serius dari pemerintah. Setiap tahunnya, jamaah haji Indonesia selalu meningkat. Hal ini tentu saja akan memiliki potensi untuk penyebaran virus Corona di wilayah Indonesia, karena kontak antara wilayah pandemik dengan masyarakat sangat dekat.

Monitoring Jamaah Haji dan Vaksinasi

            Salah satu langkah yang dapat menjadi antisipasi bagi pemerintah agar menghambat masuknya virus ini ke Indonesia, adalah dengan melakukan monitoring bagi setiap kedatangan jamaah ataupun wisatawan yang berasal dari wilayah Jazirah Arab. Langkah preventif ini dapat dilakukan dengan proses melakukan medical check up terhadap semua jamaah yang baru datang dari wilayah Jazirah Arab. Selain itu, bagi para wisatawan yang juga datang ke Indonesia, harus juga mendapat perhatian khusus untuk menghindari masuknya vektor pembawa virus ini.

            Selain langkah tersebut, pemerintah dapat melakukan proses vaksinasi bagi jamaah yang akan merencakan keberangkatan menuju Jazirah Arab. Vaksinasi ini diperlukan untuk membentuk antibodi pertama sehingga ketika adanya infeksi kedua, tubuh dapat merespon dengan cepat dan melemahkan virus yang sudah masuk.

            Langkah tepat diperlukan untuk menangani kasus yang berhubungan dengan virus seperti dalam halnya kasus ini. Virus yan pada mulanya tidak pernah terdeteksi, kemudian masuk ke wilayah baru, dapat dengan cepat melakukan perubahan, dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada. Berdasarkan informasi yang diperoleh, virus ini menginfeksi saluran pernafasan secara ringan, namun ketika langkah pencegahan tidak dilakukan, virus ini bahkan mungkin akan menyebabkan terjadinya kematian yang sangat tinggi, mengingat kemampuan virus melakukan proses mutasi yang sangat cepat.

            Tentu saja, bangsa Indonesia tidak menginginkan masuknya virus baru yang tentu saja akan menjadikan kejadian luar biasa atau pandemik penyakit terjadi di wilayah ini. Masyarakat pun dituntut berpatisipasi aktif untuk terus berupaya menjaga kesehatan, terutama bagi mereka yang akan melaksanakan perjalanan haji atau umroh, ataupun ingin berpariwisata ke wilayah timur tengah. 

 


[1] Faizal, Achmad. 2013. Indonesia Waspada Virus Corona. http://regional.kompas.com/read/2013/02/15/15240422/Indonesia.Waspada.Virus.Corona. Akses 18 Februari 2013.

“untuk tahun ini memang terjadi ledakan kasus DB di Sardjito meski tidak ada yang meninggal dunia”(Nugroho, 2013)[1].

            Saat ini,  Indonesia tengah memasuki musim penghujan, yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Tentu saja, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian di kalangan masyarakat dan pemerintah. Salah satu penyakit ataupun wabah yang kerap kali menyerang masayakarat Indonesia, ketika musim penghujan tiba adalah kasus demam berdarah.

            Kasus demam berdarah yang umumnya terjadi di wilayah Indonesia, disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegepty. Nyamuk ini pada umumnya bersarang di daerah-daerah yang memiliki genangan air, dan melepaskan telur-telurnya di genangan air tersebut. Pada umumnya nyamuk ini menggigit pada pagi hari. Ciri-ciri morfologis nyamuk ini yaitu memiliki garis hitam dan putih pada bagian tubuhnya.

            Saat ini kasus demam berdarah di Indonesia, mulai bermunculan dan dapat menjadi ancaman serius jika tidak mendapatkan respon yang cepat, serta antisipasi yang lebih dari masyarakat. Masa penghujan yang kini sedang memasuki wilayah Indonesia, dapat menjadi masa yang baik untuk berkembang biaknya nyamuk ini karena secara siklusnya, masa inkubasi telur-telur nyamuk ini hanyalah dua minggu. Oleh sebab itu, pada masa-masa penghujan seperti pada saat ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih, agar kasus DBD seperti pada tahun 2010, tidak terulang kembali.

Hanya dengan gigitan

            Pada tahun 2010, Indonesia, khususnya di beberapa wilayah pernah menetapkan status waspada demam berdarah, bahkan status Kejadian Luar Biasa di beberapa daerah khusus yang mengalami tingkat kematian pasien yang tinggi akibat Demam Berdarah Dengue. Pada tahun ini, sebanyak 5.500 kasus DBD masuk ke dalam daftar Kementerian Kesehatan.

            Selama ini dianggap bahwa penularan penyakit ini hanya melalui gigitan nyamuk. Namun, salah satu hal penting melalui gigitan tersebut virus dengue masuk dan berkembang dalam tubuh manusia, dan menyebabkan gejala demam berdarah. Hal paling fatal ketika penanganan yang terlambat adalah kematian yang akan terjadi

Bertindak cepat dan siaga untuk menghadapi wabah DBD

            Sebagai tindakan antisipasi dengan meningkatnya curah hujan di berbagai wilayah di Indonesia, masyarakat sebaiknya bertindak cepat dan segera untuk bersiap siaga menghadapai penyakit ini. Hal ini tentu saja, dikarenakan sekali wabah ini menyebar, maka lonjakan angka penderita penyakit DBD dapat terus meningkat, dan dapat menyebabkan status kejadian luar biasa dapat kembali terulang seperti halnya yang terjadi pada tahun 2010. Masyarakat dapat menerapkan langkah 3M, yakni menguras bak kamar mandi, menutup penampungan sampah, dan mengubur barang-barang yang sekiranya dapat menjadi tempat bergenangnya air yang dikhawatirkan dapat menjadi tempat berkembang biaknya larva nyamuk ini. Selain itu, masyarakat dapat turut berperan aktif dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan dan sekitarnya, serta secara aktif dan tanggap segera membawa korban yang mengalami gejala DBD ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan yang tepat.

            Bagi pemerintah sendiri, bersiap siaga terhadap wabah DBD menjadi langkah yang cepat dan tepat guna menekan angka kematian akibat penyakit demam berdarah dengue. Pemerintah melalui dinas-dinas kesehatan, dapat memberikan sosialisasi bagi masyarakat awam mengenai gejala penyakit ini baik melalui penyuluhan-penyuluhan, iklan layanan televisi, ataupun melalui sosial media yang saat ini menjadi dunia pertukaran informasi yang sangat cepat. Selain itu, dinas-dinas kesehatan di daerah mampu mengerahkan petugas untuk melakukan fogging secara berkala di daerah-daerah yang telah disinyalir menjadi daerah endemis wabah DBD. Hal yang sangat penting adalah pemerintah melalui pusat-pusat penelitian penyakit tropis, ataupun akademisi di lingkungan perguruan tinggi, dapat bekerja sama untuk mengembangkan metode ataupun teknik dalam upaya menekan laju perkembangbiakan larva nyamuk ini.    

 

 


[1] Sugianto, M. W. 2013. Pasien DBD di RS Sardjito Melonjak. http://daerah.sindonews.com/read/2013/02/09/22/716048/pasien-dbd-di-rs-sardjito-melonjak. Akses 9 Februari 2013.

Kasus avian influenza kembali merebak di wilayah Indonesia. Kasus yang dulu pertama kali masuk di Indonesia pada tahun 2005, kini kembali terulang pada tahun 2013. Avian influenza yang dikenal sebagai flu burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang pada umumnya akan menyerang burung (unggas) dan mamalia. Dalam beberapa kasus yang terjadi, penyebaran virus ini dapat terjadi melalui udara ataupun kontak langsung antar hewan yang sehat dengan hewan yang terkena penyakit ini. Virus yang menjadi penyebab dari penyakit ini dikenal sebagai virus H5N1.

Seperti yang dilansir, bahwa status kasus flu burung di Indonesia kini kembali menjadi status darurat, dikarenakan adanya kasus kematian pada itik yang mencapai jumlah 200 ribu lebih. Data dari Pusat Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, mengungkapkan bahwa sebanyak 242.368 ekor itik mati akibat merebaknya flu burung dengan jenis baru, yaitu AI H5N1 clade 2.3.2[1]. Kasus Avian Influenza juga terjadi di wilayah DI Yogyakarta.  Data dari Local Disease Control Center (LDCC) Yogyakarta, menyebutkan bahwa setidaknya kurang lebih 1.300 ekor itik di daerah DI Yogyakarta positif terhadap flu burung[2].

Informasi masyarakat yang lambat

            Flu burung pada umumnya telah banyak diketahui oleh masyarakat. Selain itu, banyaknya penyuluhan yang telah dilakukan oleh kementerian terkait, seharusnya mampu menjadikan masyarakat paham mengenai gejala-gejala yang terjadi jika ada unggas yang diduga terkena penyakit ini. Namun, sayang pada umumnya masyarakat mencoba untuk menyimpan kasus yang terjadi, bahkan secara tersirat berusaha untuk menutup-nutupi kasus yang terjadi.

Seperti yang dilansir dalam surat kabar yang beredar, sebenarnya kasus kematian itik yang terjadi di wilayah DI Yogyakarta telah terjadi sejak di awal Januari2. Namun, ada masyarakat tidak langsung melaporkan kejadian atas kematian iti tersebut terhadap dinas yang menangani masalah tersebut.

Sikap positif masyarakat Indonesia terutama para peternak mandiri sangat diperlukan di sini, terutama hal ini berhubungan dengan para peternak unggas yang notabene merupakan masyarakat yang memiliki lapangan kerja sendiri, dan menghasilkan perekonomian mandiri.

Viru AI Baru, Status Darurat Membahayakan

            Avian Influenza Virus sendiri, yang dikenal sebagai virus H5N1, merupakan virus yang sangat aktif, dan memiliki tingkat penyebab kematian tertinggi di dunia. Dalam beberapa informasi yang diperoleh, virus ini memiliki potensi untuk menyebabkan pandemik di suatu wilayah. Selain itu, dalam beberapa kasus yang pernah terjadi, virus ini bahkan mampu mengalamin transfer yang cepat dari unggas (aves) ke mamalia, bahkan sampai ke manusia.

Dalam kasus yang saat ini sedang melanda negeri ini, virus AI yang menyerang itik merupakan virus Avian Influenza dengan tipe H5N1 yang memiliki clade baru. Hal ini tentu saja akan sangat membahayakan jika penanganan yang diberikan terlambat, dan tidak terjadi hubungan positif antara para peternak, dengan dinas atau kementerian terkait yang menangani mengenai kasus Avian Influenza. Status darurat yang kini sedang disandang dengan adanya kasus Avian Influenza yang sedang menyerang itik, dapat membahayakan semua sektor di negeri ini. Bagi sektor perekonomin, adanya kasus ini dapat menyebabkan banyaknya unggas yang akan mati, dan menurunkan produksi hasil ternak unggas. Selain itu, kasus mutasi AI yang begitu cepat, dan menyebabkan penularan pada manusia, akan menyebabkan kekhawatiran tersendiri karena adanya potensi menyebabkan penyakit pandemik, yang mampu mematikan tidak hanya populasi unggas, bahkan manusia itu pun sendiri.

Oleh sebab itu, perlu adanya dukungan penuh yang diberikan oleh masyarakat, terutama para peternak unggas, untuk turut bekerja sama aktif dengan dinas terkait terutama, dalam hal mengurangi dampak penularan Avian Influenza, dan meningkatkan status ketahanan penyakit pada ternak di Indonesia. Selain itu, dari masyarakat peniliti, dibutuhkan usaha yang lebih terutama dalam memperdalam dan melakukan banyak penelitian mengenai penyakit flu burung ini, sehingga pada akhirnya dapat melakukan pemetaan mengenai penyebaran virus ini. Dari pihak pemerintah, diperlukan usaha yang serius untuk merangkul masyarakat peternak unggas, para peneliti, dan membuka jalan peluang kerja sama yang lebih baik antar ketiga sektor tersebut, serta memberikan solusi penengah untuk menyelesaikan masalah kompensasi pembayaran untuk ternak unggas yang dimusnahkan karena serangan penyakit tersebut.

 


[1] Kematian 200 Ribu Lebih Itik Akibat Flu Burung Clade Baru. www.republika.co.id. Akses 5 Februari 2013.

[2] Virus AI Pada itik Serang Seluruh DIY. www.jogja.tribunnews.com. Akses 5 februari 2013.

“…sebanyak 15 negara telah melaporkan kepada Badan PBB untuk Kesehatan Dunia (WHO) mengenai kasus flu burung “clade” baru yang ditemukan pada unggas termasuk Indonesia…” (Republika Online, 7 Januari 2013)

Kasus flu burung di Indonesia, kini mencapai babak baru. Pasalnya kasus pada bulan Desember 2012, mengenai penemuan Virus H5N1 dengan clade baru 2.3 kini telah mencapai sedikit kejelasan. Seperti dilansir dalam beberapa berita, kasus penyerangan virus tersebut dari ayam menuju itik, sampai saat ini pun masih menjadi perhatian khusus.

Virus Avian Influenza sendiri, sampai saat ini masih banyak dikenal hanya menyerang ayam, burung, ataupun unggas lainnya, dan di Indoesia kasus flu burung sendiri banyak menyerang ayam. Penemuan kasus penyerangan virus ini ke itik, seolah menjadi babak baru bagi pemerintah khususnya dinas terkait untuk kembali melacak penyebaran virus yang tergolong virus HA, namun dengan clade 2.3.

Perlu penanganan serius dari pemerintah

            Sampai saat ini, terlihat begitu nyata aksi pemerintah, yang bersama lembaga Kementan, dan jajaran laboratorium di bawahnya, sedang berusaha memecahkan teka-teki penularan virus ini yang menjangkiti wilayah Jawa. Berdasarkan data yang diperoleh, dalam empat bulan penyerangan virus tersebut, menyebabkan kurang lebih 113.700 ekor itik mati di tiga provinsi, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta[1]. Tentu saja, hal ini merupakan hal luar biasa, mengingat pangsa pasar terutama bagi para peternak unggas jenis itik, merupakan pangsa pasar yang luas.

Penanganan yang serius perlu dilakukan, demi menjamin keamanan pangan dari itik, dan menjamin kesejahteraan para peternak unggas. Pasalnya, penanganan yang kurang serius akan menyebabkan turunnya harga unggas terutama jenis itik, yang dapat merugikan para peternak itik. Tentu saja, jika hal ini terjadi akan menyebabkan masalah baru bagi pemerintah terutama mengenai penurunan harga jual dan beli itik, dan bagi para peternak unggas dapat mengancam mata pencaharian tersebut.

Vaksin yang tepat untuk mencegah penularan

Langkah yang tepat untuk saat ini adalah pengembangan vaksin yang tepat untuk menyelesaikan kasus Avian Influenza pada itik. Hal ini tentu sangat diharapkan oleh masyarakat, terutama para peternak unggas sendiri. Selain itu, pemerintah, dan pihak yang berwenang, sebaiknya segera melakukan sosialisasi dan penyuluhan, terkait bahaya virus Avian Influenza dengan clade 2.3. Pasalnya, mengingat hal yang pernah terjadi adalah, sifat zoonosis virus Avian Influenza clade 2.1 yang dapat menyerang manusia, dan mengakibatkan kematian sekitar 150 orang[2].

Selain itu, sebagai langkah awal, masyarakat sebaiknya tidak langsung gegabah dalam menggunakan vaksin yang kini beredar di pasaran luas. Hal ini mengingat, vaksin sendiri adalah antigen/virus yang sudah dilemahkan, dan sengaja untuk digunakan dalam mengaktifkan antibodi dalam tubuh unggas. Ketidakcocokan vaksin dengan virus yang menyerang saat ini, malah dapat berakibat munculnya virus baru, bahkan mampu menjadikan berkembangnya virus dengan tipe baru, yang mungkin dapat lebih bersifat patogen dan virulen.

Lebih dari itu, masyarakat harus bersikap terbuka dalam memberikan informasi mengenai kasus kematian unggas yang terjadi pada ternaknya. Hal ini dilakukan demi membantu pemerintah, dan instansi yang berwenang dalam masalah hal ini, untuk setidaknya meminimalisir dampak penyebaran virus ini terhadap unggas lain, sehingga memudahkan pemerintah dalam mengatasi kasus penularan virus ini, dan mencegah meluasnya penularan virus ini ke daerah ataupun provinsi lain.

Bagi pemerintah sendiri, sudah waktunya mulai turun aktif, dan memberikan perhatian lebih pada masalah ini. Hal ini dikarenakan, masalah penularan virus terutama penyerangan terhadap unggas, yang notabene menjadi andalan masyarakat Indonesia, bukanlah masalah atau perkara mudah. Penularan virus, dan penyebaran yang hanya membutuhkan waktu singkat merupakan masalah yang begitu pelik, dan tidak bisa didiamkan hanya dengan menunggu penyakit ini mereda. Masalah penularan ini bukanlah seperti mengejar mobil dengan waktu yang singkat, melainkan ini masalah serius, yang jika terlambat maka akan memberikan efek negatif yang lebih besar, dan dapat membunuh ternak unggas dalam waktu yang mungkin relatif singkat.

 

 


[1] Grehenson, G. 2012. Flu Burung Jenis Baru Sebabkan Ribuan Itik dan Unggas Mati Mendadak. http://ugm.ac.id. Akses 6 Februari 2013.

[2] Anonim. 2013. Peranan Unggas Air dalam Penyebaran Virus AI. http://bbalitvet.litbang.deptan.go.id. Akses 6 Februari 2013.