Archive for September, 2016

Welcome Autumn-Winter

Posted: September 28, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

img_1434

Gugur pertama di Negeri Sakura…

Ibarat sebuah pertanda musim yang akan berganti, langit bagaikan mencurahkan seluruh anugerah berupa hujan pada seluruh tanaman dan makhluk hidup di bawahnya. Beberapa hari ini tampak langit Tokyo yang terkadang cerah, kemudian berganti dengan gelayut mendung. Ibarat sebuah pertanda, Tuhan sedan memberikan kesempatan bagi makhluknya untuk menyiapkan datangnya musim gugur yang sekiranya akan berlanjut pada music dingin hingga akhir Maret tahun depan.

Ini adalah pohon Ginko yang berada tepat di tengah Kampus Yayoi, UTokyo. Setiap hari yang terlewati nampaklah, daun-daun yang berguguran, dan daun-daun yang terus menguning menandakan mular masuknya musim gugur yang akan berlanjut pada musim dingin.

Musim yang akan dilewati dengan dinginnya cuaca, dan hangatnya semangat penuh mengejar apa yang sudah pernah menjadi mimpi dan tujuan perjalanan ke negeri ini. Daun yang gugur bagaikan memasrahkan segala urusannya pada Dia yang Maha Memiliki dan Menggenggam semuanya. Begitu juga diri ini, seharusnya terus berpasrah, setelah ikhtiar yang dilakukan.

 

Welcome Autumn-Winter 2016
Sudah 7 bulan saja, saya menginjakkan kaki di negeri ini. Semoga langkah ini menjadi langkah untuk selalu berbuah keberkahan dan kebaikan.

Kita-ayase, 28 September 2016

Advertisements

Bersabar…

Posted: September 13, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

Kata “Sabar”, yang selalu ibu saya ingatkan. Memulai perjalanan seorang diri, di negeri orang, tanpa sanak keluarga, mungkin memang berat pada awalnya. Namun, bagi seorang ibu, ia paham bahwa inilah yang harus dilakukan sang anak, agar ia paham, bahwa nantinya perjalanan kehidupannya, akan ditempuh dengan tanggung jawab pribadi, dan memiliki hak penuh untuk memutuskannya sendiri. Bagi saya, ibu dan bapak, adalah sosok yang begitu sabar.

Sejak menginjakkan kaki di bangku SMA hingga bangku kuliah, saya telah berpisah dan tinggal sendiri, karena pekerjaan bapak, yang harus membawanya terbang dari daerah kami berasal, Madura. Namun, perhatian dan kehadiran mereka, masih nampak bahkan hingga saya saat ini melanjutkan kuliah di sini, Jepang. Telepon setiap pagi, membangunkan saya untuk pergi kuliah, setiap hari saya dengar dari Indonesia, ditambah sedikit percakapan agar saya tetap terbangun. Ya, bersabar untuk menempa diri, jauh dari sanak keluarga, teman yang pernah dikenal, serta sahabat, adalah pilihan jalan yang dipilih agar kita terus membuka diri, membelah cakrawala keterbatasan yang menutup diri, dan membuka pintu-pintu kebaikan di setiap jalan yang dilewati di tengah kehidupan di negeri orang.

Jalan cinta bukanlah jalan yang selalu berisi manis atau senangnya kehidupan, namun jalan cinta adalah jalan yang diajarkan dengan melewati manisnya kurva sinus, yang harus naik dan turun. Ketika naik, maka menundukkan hati untuk bersyukur dan bersujud, dan ketika turun, maka menengadahkan tangan dan merendahkan hati, untuk meminta, dan memohon kepada sang pemilik alam semesta, Rabbul Alamin.