Archive for May, 2016

Kabar adalah satu hal yang terus dinanti, pagi, siang, sore, malam, bahkan hingga pagi pun akan datang, kabar dialah yang senantiasa ditunggunya. Saya hanya ingin berkabar, saya baik-baik saja di sini, dan Alhamdulillah, ada keluarga baru yang saya temukan di negeri sakura ini. Keluarga yang bukan karena sedarah, bahkan bukan karena berasal dari kakek dan nenek, namun keluarga yang dieratkan dan didekap karena ukhuwah, persaudaraan, dan rasa cintanya pada tanah air. Ah, maaf karena lupa untuk tidak lagi menulis seperti janji yang saya pelihara sendiri, yaitu menulis sekali dalam seminggu. Berkabar meski dengan tulisan, karena tidak bisa setiap hari untuk berkontak, bahkan terkadang hanya berujung 3-6 menit di ujung telepon, yang tersambung melalui sebuah koneksi via maya. Maaf…

Hari ini dan hari lalu, dua peristiwa yang begitu membahagiakan saya dapati, di tengah menjelang sebulan telah berada di negeri ini. Alunan jemari untuk kembali mengetik dan bercerita, rasanya membuat mata kantuk ini menjadi tetap bersemangat untuk menulis dan menceritakan apa yang sudah terjadi selama beberapa minggu ini di sini. Heum, tidak begitu banyak, namun tentu saja benar-benar membuat sedikit decak kagum dan decak haru yang ada.

Akhirnya, aku kembali bertemu…

Ya, Al-Qur’an pemberian seorang teman, yang menyimpan sebuah foto masa kecil dan foto kedua orang tua pun kembali. Al-Quran yang saya tinggal pada 13 Februari itu akhirnya bisa kembali saya lihat dan baca, serta saya peroleh kembali foto-foto yang pada akhirnya mengingatkan saya akan rumah saya sebenarnya. Bagaikan sebuah perjumpaan yang begitu lama. Apa istimewanya? Ya, di situlah saya mengikat sebuah janji untuk kembali dan mengambil Al-Quran itu beserta seluruh isinya. Bukan apa, bukan ingin pamer, ataupun ingin terlihat begitu alim. Bukan, namun ada sebuah hikmah yang saya ambil. Ucapan adalah Do’a. Inilah yang saya teringat akan sabda Rasulullah, “KULLU KALAM ADDU’A” yang artinya, “Setiap perkataan itu merupakan do’a”. Dan juga bagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Israa`(17): 53 yang maknanya “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)”.
Kala itu hanya sebatas saya berucap, “InshaAllah saya akan kembali dan mengambilnya kembali”. Dan Allah pun menjawab doa itu kini. 3 bulan lamanya berpisah, dan kini Al-Quran itu pun kembali bisa saya buka dan baca.

Bukan saya tidak mau membaca yang lain,
Bukan saya pula menspesialkannya,
Namun, ada hikmah yang saya ambil dari peristiwa ini…

Lalu, masihkah ada yang ingin saya bagi? Masih jawaban hati ini…

Saya ingin berkabar, dua hari ini, saya dan teman-teman PPI Todai mengikuti rangkaian acara Gogatsusai atau di sini kami menyebutnya, May Festival. Kami memasak dan mengenalkan makanan khas kami di Indonesia. Kami tidak pernah ingin melupakan cita rasa, bahkan aroma yang sering kali begitu khas tercium dari masakan rumah yang selalu kedua orang tua kami sajikan dulu, meskipun kami pun harus jauh dari negeri kami, Indonesia. Kami menyajikan “Bakso”. Ya, Bakso, yang sering kali dengan mudahnya kami jumpai, di warung-warung pinggir rumah, sekolah atau bahkan kantin kampus kami dulu di Indonesia, para pedagang jalanan, yang menjajakan baksonya, dengan mengetuk piring berlambang ayam dengan sebuah merek penyedap tertentu. Ah, kami pun masih belum bisa melupakannya. Ketika di rumah, sedang menonton TV, bahkan sedang bepergian, masihlah kami mengingat,”Bakso, Bakso, tek tek tek…”. Kini kami pun menjajakannya, bagi mereka para masyarakan Jepang. Ada yang penasaran, ada yang sudah pernah merasakan ketika tinggal atau berkunjung ke Indonesia.

Tahukah bahwa dagangan ini pun laris manis kami jajakan di sini? Pagi, hingga sore, pengunjung datang, membeli, bertanya, dan terakhir mereka kembali, dan mengatakan,”Oishi, desu!”, yang artinya,”Nikmatnya, enaknya”, apalah itu yang penting mereka sangat puas. Tidak hanya dagangan yang kami jajakan, kami pun mencoba membawa semangat keluarga ke-Indonesiaan kami. Semangat kebersamaan di tengah negeri perantauan, di tengah-tengah keluarga Indonesia kami yang juga sedang belajar, bekerja, hanya semata-mata bukan untuk kepentingan pribadi, namun berpikir bagaimana suatu saat ketika Indonesia sudah siap, maka kami pun siap untuk membangun negeri kami tercinta.

Oh ya, di sini kami belajar untuk tertib pada administrasi yang berlaku. Para koki, mereka wajib menggunakan celemek untuk masak dan topi untuk menghindari rambut masuk dan mengotori makanannya. Tidak hanya itu, di sini, kami dituntut untuk tetap berupaya, satu proses dalam menjajakan bakso, dagangan kami. Artinya, tidak boleh ada proses memotong atau apapun, yang artinya semuanya sudah siap, dan hanya tinggal merebus atau menyiapkan untuk siap disajikan pada pengunjung. Apa untungnya? Ya, konsumen tidak akan terlalu menunggu lama, karena semuanya sudah dipersiapkan matang dan detail.

Bagi saya, ini adalah event pertama yang saya ikuti, dan menjadi even untuk mengenal keluarga-keluarga kami lainnya, yang mungkin belum sempat bertemu pada welcome party sebelumnya. Bahagia, adalah perasaan di hari ini, karena semua upaya yang telah direncanakan, akhirnya berbuah manis pada banyaknya pengunjung, dan target yang setelah diperoleh, melebih target yang diharapkan dan beroleh pada keuntungan untuk tahun ini. Alhamdulillah,,, dan syukur yang terus kami ucapkan, karena hanya ada senyum yang pantas untuk terus diberikan atas setiap ikhtiar serta kerja cerdas yang telah dilakukan. Hikmah beroleh pada ujung kebersamaan dan keingin untuk bekerja sama. Kalau bolehlah saya mengambil sebuah istilah, yaitu beramal jama’i. Inilah konsep yang sebenarnya luhur dan ada dalam identitas penduduk negeri Indonesia, Gotong Royong dalam Bekerja dan Berkarya.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (al-Hujurat 49:11)
“Jauhkanlah diri kalian dari tindakan merusak hubungan persaudaraan karena tindakan itu adalah pencukur (agama)” (HR. Tirmidzi)

13254431_10206614473546039_9068669773873221782_n13226822_10206614473866047_8919325012778350957_nCourtesy foto: Kiswanto (Tokyo, 2016)

Baiklah cukuplah tulisan untuk hari ini, selamat beraktivitas di Senin pagi. Menyosong setiap hari dengan senyum dan syukur. Menghela nafas dan menghirup nafas dengan rasa syukur atas ijin-Nya memberikan hari-hari yang penuh akan senyuman.

Karena dalam setiap prosesnya, Ia memberikan hikmah dan pelajaran…

“Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269)”

Senin, 16 Mei 2016
Shibuya-ku, Tokyo