Archive for May, 2018

Dalam kesehariannya aktivitas di bulan Ramadhan tidak jauh berbeda dengan aktivitas sehari-hari yang dilakukan. Berhubung saya banyak melakukan aktivitas di kampus, tidak serta merta menjadikan Ramadhan menjadi tidak produktif. Kebanyakan orang Jepang masih belum mengenal istilah Ramadhan atau berpuasa bagi setiap muslim yang menjadi kewajibannya. Terkadang, kita harus memberikan pengertian dan apa sebenarnya puasa dalam Islam itu sendiri. FYI, berilah penjelasan yang singkat dan mudah mereka pahami mengenai kewajiban berpuasa ini agar kemudian mereka bisa mengerti, namun jangan berharap kemudian akan ada libur satu atau dua minggu karena berpuasa. Ada hal menarik ketika pertama kali datang melaksanakan kegiatan kampus di awal perkuliahan. Saya akan sedikit berbagi pengalaman tentang ini…

  • Berpuasa di tengah aktivitas laboratorium

Saya adalah mahasiswa asing dan muslim pertama yang diterima oleh Prof. Hiroyasu Onaka untuk menempuh sekolah lanjut di laboratorium beliau (ini pun saya baru tahu selepas farewell seminar dengan seluruh anggota laboratorium). Saya tiba di Tokyo pada 17 April 2016 melalui Bandara International Narita. Kebetulan ketika bulan ini, Tokyo sedang mengalami musim semi (namun sayang di awal pertama kali datang, Bunga Sakura telah berguguran, dan saya hanya mendapatkan sisa-sisanya). Awal pertama kali datang, umumnya professor akan menyiapkan seorang mentor untuk membantu keperluan selama beradaptasi di awal kedatangan, dan tentu saja ini menjadi peluang untuk bertanya mengenai kehidupan di Jepang, dan utamanya kultur atau budaya kerja di laboratorium yang kita akan belajar di sana sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Alhasil, saya ingat bahwa pada Bulan Juni, saya akan melaksanakan puasa pertama di negeri rantau, Jepang. Lalu saya sampaikanlah mengenai kewajiban ini kepada mentor saya waktu itu, Morito Shimomura. Mengapa ini perlu dilakukan? Sebagai sedikit informasi, salah satu kultur yang sering dilakukan di laboratorium saya adalah makan siang bersama bagi dengan seluruh anggota laboratorium dan berhubungan professor saya menyenangi party, sering kali ketika mendekati weekend, pada hari Jum’at, laboratorium saya melaksanakan party. Hal ini penting disampaikan agar mereka sudah paham ketika misal kita sedang berpuasa di saat Ramadhan. Pun jika memiliki kebiasaan untuk berpuasa sunnah, juga ada baiknya disampaikan. Meski terkadang ada sedikit effort untuk menjelaskan mengapa kita sebagai ummat Islam melaksanakan kegiatan tersebut.

Suatu hari pernah ketika itu saya melaksanakan puasa sunnah, sekaligus untuk mempersiapkan fisik dengan kondisi negara baru. Hal terduga kadang pun akan muncul dari professor atau assistant professor ketika melaksanakan aktivitas di laboratorium. Kala itu saya ditelpon dari office untuk mengikuti makan siang, namun kemudian saya menyampaikan kepada mentor saya bahwa hari itu sedang berpuasa (di sini menjadi kata kunci, yakni komunikasi sangat penting agar saling memahami). Mentor saya ternyata kemudian menjelaskan kondisi ini kepada rekan-rekan lab yang kala itu makan siang. Dan ternyata sedikit mengejutkan respon mereka ketika saya kembali ke office kala itu. Ada yang bertanya apakah saya baik-baik saja dengan tidak makan dan minum dari Shubuh (fajar menyingsing) hingga Maghrib (tenggelamnya matahari), dan eksperi yang unik bahkan datang dari professor saya yang khawatir saya mati dengan tidak makan dan minum. Tetapi semua itu bernilai syi’ar dan dakwah kepada mereka. Karena pada akhirnya, dalam sebuah pesta akhir tahun (bonenkai) mereka kemudian bertanya apa pentingnya puasa bagi ummat Islam dan mengapa itu menjadi kewajiban. Bagi mereka ternyata Islam begitu menarik dengan segala kewajibannya. Bahkan sebuah jalan syi’ar adalah ketika mereka menanyakan bagaimana kami beribadah (shalat), serta di mana lokasi kami shalat mengingat tidak ada tempat khusus, semacam mushalla atau masjid, yang disediakan bagi kami, yang beragama Islam, untuk melaksanakan shalat.

Salah satu kisah unik ketika Ramadhan adalah party yang mereka hadirkan hingga menunggu waktu adzan bagi saya kala itu untuk bersantap makanan. Ceritanya kala itu, hari Jum’at dan tepat di Bulan Ramadhan pertama di sana. Ketika itu, saya sudah menyampaikan bahwa saya akan berpuasa selama satu bulan penuh (ekspresi mereka kala itu adalah sedikit kekhawatiran, namun jangan berharap dapat libur ya… hehehe) dan mereka pun menanyakan tanggal saya akan memulai dan mengakhirinya. Kebetulan di minggu kedua Ramadhan, lab akan mengadakan party, karena akan ada anggota universitas kenalan sensei besar yang akan berpindah tugas ke Amerika. Jadilah waktu itu saya pun diminta untuk memasak masakan Indonesia, yakni opor ayam. Di tengah puasa yang masuk pada musim panas kala itu, jadilah saya berpuasa 16 jam, yang berakhir pada waktu berbuka sekitar kurang lebih pukul 18.45. Uniknya sensei kemudian meminta menghidangkan makanan pada pukul 18.30, karena biasanya party lab dimulai pukul 18.00. Lalu beliau menyampaikan kepada koleganya bahwa saya sedang berpuasa, sehingga dia memulai pukul 18.30, meskipun tetap sensei menyampaikan bahwa akan memulai party 15 menit lebih awal dari jadwal berbuka saya. Namun bagi saya pribadi kala itu, ini adalah salah satu bentuk toleransi yang diberikan. Sejatinya, intinya adalah komunikasi yang baik antara student dan professor sehingga bisa didapat rasa saling respect dengan satu yang lain.

…bersambung…

InshaAllah serba-serbi kegiatan di Tokyo lainnya akan terus saya tulis, semoga bermanfaat…

 

Advertisements

Cerita Jepang #1

Posted: May 22, 2018 in Perjalanan
Tags: , , ,

Hello, sahabat semua, semoga Ramadhan kali ini akan memberikan kita ketenangan serta benar-benar menjadikan kita mendapatkan derajat taqwa, sebagaimana Allah firmankan dalam Al-Baqarah: 183. Rasanya setiap dari kita pasti sudah hafal dengan surat ini. Ya, surat yang memerintahkan setiap mukmin dan mukminah untuk kemudian berpuasa.

Namun, sebelumnya, ijinkan saya menyapa dengan salam, Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh. Sebuah salam terbaik yang baginda Rasulullah ajarkan untuk mendoakan keselamatan setiap orang yang berjumpa diri kita, termasuk para pembaca tulisan ini, semoga keselamatan, dari-Nya, yang akan selalu menjadikan diri ini penuh keberkahan dalam setiap aktivitasnya. Di tulisan kali ini, mohon maaf jika tulisan yang dibuat tidak begitu formal, bahkan cenderung merupakan format tulisan bebas.

Ya, memang kali ini saya akan berbagi sedikit pengalaman selama 2 tahun, ketika menjalani Ramadhan di Negeri Sakura. Jepang yang terletak di sebelah timur laut Indonesia memang begitu menakjubkan. Bagi kebanyakan orang, termasuk saya, bisa jadi Jepang adalah Eropa atau Amerika rasa Asia. Hehe. Mengapa? Kalau saya sebut Amerika punya patung Liberty yang menjadi landmark negara ini, maka jangan salah, Jepang pun punya patung ini, namun lebih kecil dan terletak di Odaiba (teman-teman yang pernah ke Jepang, pasti tahulah tempat ini, tempat romantis, dan cakep untuk membuat foto kenangan di negeri Sakura).

Kenapa Eropa juga? Kalau teman-teman pernah dengar nama Tsuchiura, di daerah ini ada sebuah tempat yang menyajikan hamparan tanaman tulip lengkap dengan bangunan kincir anginnya, sehingga tampaklah bagaikan berada di Negeri Van Oranje, Belanda. FYI, kalau mau ke sini pas musim natsu (musim panas), biasanya bunga-bunga sudah bermekaran dan siap memanjakan mata kita dengan keindahan, dan tentu saja siapkan kamera dan jangan lupa abadikan momen terbaik anda bersama keluarga, teman, dan partner anda (ssstt… jangan lupa ya, partner yang Halal, karena pacaran setelah menikah itu asyik, he, ini judul salah satu buku Ustadz Salim A. Fillah). 8Sejujurnya penulis belum pernah ke sana, karena harap maklum, kegiatan jikken (eksperimen) di laboratorium lebih diutamakan. Lalu dari mana dapat kabar dan informasinya? Biasanya penulis lihat di IG Story kawan yang, alhamdulillah ‘ala kulli lah, Allah beri waktu dan kesempatan ke sana, dan penulis mencuri lihat keindahannya dari IG Story yang diberikan. Sebagai alasan, haha, karena dengan inilah sebagai salah satu hiburan ketika muncul penat dengan kegiatan di laboratorium. Jadi, sesama perantau di negeri orang, kami ingin selalu berbagi dengan teman-teman Indonesia kami, karena kami yakin bahwa dengan ini rasa cinta dan rindu akan tanah air bisa terobati, dan semangat menyelesaikan hal yang sudah dimulai bisa bangkit kembali.
(hahaha… maapkeun penulis yang teramat berlebihan nampaknya di sini… but, it is ok)

Hari ini saya akan membagi beberapa hal yang berkaitan dengan serba-serbi dari Tokyo atau Jepang di kala Ramadhan khususnya, dan ketika aktivitas sehari-hari. Yuk, tengok beberapa kegiatan yang biasanya penulis lakukan di kegiatan Ramadhan, atau aktivitas sehari-sehari…

  • KMII dengan kegiatan Tabligh Akbar dan WS di Ramadhan

Pertama kali datang ke Tokyo, hal yang pertama saya cari waktu itu adalah kegiatan keIslaman yang banyak dilakukan di Tokyo. Pertama kali saya mendapat informasi mengenai Kajian Islam KIMOCHI di Masjid Assalam, Okachimach. Kala itu pertama kali masih jauh jarak yang ditempuh untuk menuju Masjid (dulu berpikir ada kereta akan tidak lelah meskipun perjalanan jauh, tapi kenyataannya sama saja tetap lelah, harap maklum anak kampung di kota yang modern). FYI, di Tokyo, saya hampir 3 kali berganti tempat tinggal, dan pengurusan ke Kuyakusho (semacam kecamatan begitu sangat mudah, yang sulit adalah ketika harus berbicara nihonggo, padahal pertama kali datang, nihonggo saya adalah 0, istilah para senpai (senior), nihonggo tabemasen. Tapi, kali ini kemudahan banyak datang, pertama pindah dibantu oleh rekan satu laboratorium, pindahan kedua memberanikan diri dengan hanya menyampaikan haik ketika dijelaskan, hingga akhirnya pindahan ketiga mendapatkan kemudahan karena ada petugas yang mampu berbahasa Inggris, meskipun terkadang harus menggunakan google translate ketika petugas tidak memahami kata-kata yang disampaikan. Then, balik ke kegiatan keIslaman di sana, akhirnya saya pun diajak bergabung kala itu dengan kegiatan Shubuh Berjamaah di Musholla SRIT (kala itu MIT (Masjid Indonesia Tokyo) sedang dalam masa peletakan batu pertama, penandatanganan kontrak, dan penyiapan pembangunan, cerita tentang MIT mungkin bisa dilihat di web Masjid Indonesia Tokyo). Kegiatan Shubuh Berjamaah ini rutin dilakukan oleh para jamaah yang berdekatan di daerah Meguro. Lalu saya kapan ke sana? Kesempatan ini hadir ketika weekend sudah masuk, yakni pada hari Sabtu. Karena di sinilah saya bisa mengambil waktu untuk menginap (mabit) lalu dilanjutkan dengan Shubuh Berjamaah dan tentu saja, ini semacam tradisi, kami para jamaah (alhamdulillah, jamaah selalu ramai dan banyak hadir dari wilayah Kanto) dilanjutkan dengan tausiyah di Shubuh hingga menjelang waktu Syuruq, lalu dilanjutkan bersantap pagi. Nah, kapan mengenal KMII? Hehe, di sinilah saya kemudian tahu bahwa ada organisasi Keluarga Masyarakat Islam Indonesia, yang kemudian banyak mengadakan kegiatan terkait Ramadhan, Iedul Fitri, Iedul Adha, Muharram, Kajian Islam (Islam Gakkou) untuk nihonjin (orang Jepang), yang bekerja sama juga dengan organisasi Islam lainnya di Tokyo khususnya. Mengapa tertarik? Karena dasarnya saya orang yang senang untuk bergaul, maka di sana saya benar-benar mendapat keluarga baru, bertemu dengan para anak-anak bangsa yang semenjak S1 sudah mengenyam pendidikan di Negeri Sakura, bertemu dengan para trainee (yang luar biasa bersemangat mendapatkan ilmu dan Islam di sini), bertemu para perawat Indonesia yang bekerja di Jepang, dan tentu saja bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Jepang. Di sini saya mendapat rumah kedua, bertemu dengan orang-orang yang mencintai agamanya, Islam, dan mencintai tanah airnya Indonesia.

Di sini kami menjadi keluarga untuk memberikan kegiatan Islami terbaik dan menjadi panitia dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh KMII tersebut. Gitu aja mas, apa yang dirindukan pas Ramadhan? Santai mas/mbk, di sinilah nikmatnya ukhuwah. Ketika Ramadhan hadir, kegiatan Tabligh Akbar dan Workshop hadir di setiap akhir pekan Ramadhan. Ustadz dari Indonesia hadir untuk menyirami hati-hati yang kering karena lamanya tidak tersentuh oleh air sejuk dan menyejukkan, langsung dari para Ustadz (sedikit bolehlah ya puitis, hehe). Di sinilah kami diuji keihlasannya, ketika setiap pekan yang sudah terbagi dalam kepanitiaan kecil, kemudian, tetap ada rasa saling membantu untuk saling menyukseskan setiap kegiatan Ramadhan yang sudah dicanangkan meski terkadang hasil koordinasi di awal oke, namun ternyata di lapangan belum maksimal. Di momen-momen seperti ini terasa bahwa ta’aruf (rasa kenal) teruji antara satu yang lain dalam hal berkoordinasi, berkomunikasi, bahkan sampai pada sikap saling untuk memaklumi.

Selain itu, hal yang tentu saja paling dirindukan dari kegiatan di sini adalah makan besar (kalau ini macam-macam, kadang bakso, atau apalah yang diberikan oleh ibu-ibu penjual bazar) rame-rame selepas kegiatan TA selesai bareng panitia lainnya. Meskipun esok adalah hari Senin, namun di sini kita saling memahami bahwa setiap orang yang di sana pastilah sibuk dan memiliki kerja masing-masing (bahkan penulis sendiri jujur beberapa kali kegiatan Tabligh Akbar selesai, harus pulang lebih awal mengingat terkejar oleh deadline tugas, namun di sinilah terasa manisnya iman dan Islam dari setiap saudara/saudari yang beraktivitas bersama untuk kegiatan yang juga berbuah kebaikan untuk kemaslahatan orang lain).

…bersambung…