Archive for the ‘Perjalanan’ Category

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, masa ujian midterm semester sudah terselesaikan, meski masih banyak pertanyaan yang masih tersisa dengan riset penelitian yang sedang dilakukan. Begitu pun, malam ini dapat kesempatan untuk menulis kembali di blog yang terkadang tidak terupdate dengan baik, :).

Kali ini akan saya bercerita mengenai menjadi bagaimana begitu rapinya kami ketika berada di kantin kampus. Jika sering kali melihat anime-anime Jepang atau film-film yang bercerita mengenai kehidupan di Jepang, benarlah adanya jika kegiatan makan di kantin kampus seperti apa yang terlihat di film atau anime tersebut. Setiap orang akan berjajar, sembari memilih makanan yang sudah disediakan oleh pihak kantin kampus. Di sini, setiap makanan akan memiliki catatan atau tertera berapa kalori yang diperoleh, lalu selain itu, akan ada cap makanan tersebut, apakah mengandung daging sapi, daging ayam, daging babi, ikan, ataupun hanya sayuran, yang tidak kalah penting adalah harga makanan pun sudah tertera di bawahnya, sehingga bagi kita yang hanya ingin makan sesuai dengan kebutuhan energi atau menyesuaikan dengan pantangan-pantangan makanan yang tidak bisa dimakan bisa memilih menu sesuai dengan yang diinginkan.

Ada sebuah cerita menarik, dari seorang teman yang pernah menyantap makan malam di salah satu kantin kampus. Suatu saat di membeli sebuah menu, yang pada awalnya dia tidak tahu apa yang terdapat di dalam menu tersebut. FYI, bagi rekan-rekan yang akan membeli makanan di sini, you are be pleasured bertanya mengenai bahan-bahan apa saja yang terdapat di dalamnya, semisal apakah mengandung alkohol atau tidak, karena petugas kantin akan memberi tahu secara jujur apa yang terdapat dalam menu makanan tersebut, selain itu, hal yang unik di sini adalah petugas akan paham dari mana makanan tersebut berasal, semisal apakah makanan di kantin A sama dengan kantin B. Baik kembali ke cerita kawan saya tadi, akhirnya dia pun membayarkan makanan yang sudah dibeli tersebut, namun ketika hendak membayar di kasir, dia pun menanyakan apakah terdapat kandungan buta dalam makanan tersebut. Beberapa menit kemudian, pihak kasir pun menanyakan pada bagian petugas kantin, dan dijawablah bahwa minyak yang dipakai berasal dari minyak buta. Karena sudah dibeli, akhirnya dia pun membayar dan membawa kemeja kantin, namun karena syari’at yang melaranga, akhirnya dia pun segera bergegas dan meletakkan makanan yang belum disentuh tersebut ke bagian tray sehingga petugas akan membersihkan sisa makanan tersebut. Pergilah ia akhirnya meninggalkan kantin, namun tidak lama petugas kantin pun memanggilnya dan mengembalikan uang yang tadinya ia gunakan untuk membayar makanan tersebut, sembari meminta maaf.

Nah, dari cerita teman tersebut, saya melihat bagaimana begitu menghargainya orang-orang di sini terhadap hal-hal yang menjadi pantangan bagi seseorang. Selain itu, di sana terdapat nilai bagaimana mereka kemudian mengembalikan uang yang dibayar dikarenakan teman saya tidak menyentuh sama sekali makanan tersebut. Teman saya pun menduga kemungkinan ketika makanan tersebut masuk melewati tray menuju dapur untuk dibersihkan, pihak kantin melihat makanan tersebut masih utuh, sehingga mereka kemudian pun mengembalikan uang tersebut.

Tidak hanya sampai di sini ya, hidup di sini memang semuanya sudah teratur. Bukan hanya dari urusan kantin, namun juga bagaimana aturan membuang sampah. Di setiap kota di Jepang, akan memiliki aturan sendiri dalam memisah dan memilah sampah, bahkan sampai pada waktu kapan sampah tersebut akan diangkut oleh petugas kebersihan. Mungkin bagi kita, ah sudah biasa mah milah sampah, organik, non organik, combustible, uncombustible, dan lainnya. Mungkin bagi sebagian orang, udah basi lah ya mengenai hal tersebut. Well, bagi saya ini adalah sebuah pelajaran yang luar biasa, karena pada kenyataannya di negeri sendiri masih susah untuk melakukannya, namun di sini, you must do it. Kita dilatih membiasakan diri untuk kemudian melakukan hal tersebut, semenjak pertama kali sampai di negeri ini. Jangan bayangkan, tong sampah akan berada di kanan-kiri jalan, ataupun setiap toko-toko kecil di kanan-kiri jalan akan menyediakan sampah, yang jelas NO. Jika ada sampah, dan tidak menemukan tempat sampah, maka bawalah sampah tersebut sampai ke rumah, dan buanglah sesuai dengan bagian mana sampah tersebut harus dipilah.

Bagaimana dengan sampah laboratorium di sini? Semuanya diatur dengan baik. Setiap sepekan sekali, saya bersama rekan-rekan satu laboratorium akan membersihkan laboratorium. Sampah laboratorium di sini, juga harus dipisah sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan oleh pihak kampus. Sampah plastik laboratorium tidak boleh digabung dengan sampah plastik umum, begitu pun, dengan peralatan habis pakai yang mengandung medium juga tidak bisa digabung dengan satu yang lainnya. Semuanya harus dipisah satu dengan yang lain sesuai dengan ketentuannya. Aturan seperti ini sebenarnya sangat baik dilakukan, karena pada dasarnya sampah laboratorium memang harus dikelola sendiri mengingat tidak ada yang bisa menyadari bahaya dari sampah-sampah ini.

Baiklah sekian dulu dari cerita hari ini, dan harapannya, tulisan ini kelak akan menjadi pengingat bagi saya pribadi untuk terus belajar dari apa yang sudah dapat ketika belajar dan juga menerapkan hal-hal baik yang sudah dijaga agar nantinya virus-virus kebaikan itu pun bisa menular bagi lingkungan sekitar.

 

Tokyo, 28 Juli 2017

Malam Minggu

Posted: July 8, 2017 in Perjalanan

Selamat datang malam minggu,
Malam yang selalu identik dengan hang out, ataupun sekedar duduk mengopi bersama, atau bahkan bagi rekan-rekan lainnya malam yang dinanti untuk duduk mengaji dan mengkaji (halaqah) bersama rekan-rekan lainnya. Every body, I think, they will have their own way to spend this night.

Malam minggu ini, saya berada di laboratorium untuk menyelasaikan pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga di hari Senin saya bisa tenang, karena tugas yang sudah terselesaikan “(harap tidak digeneralisir untuk semua orang di sini ya)“, dan waktu yang tidak terbuang di malam ini akhirnya bisa dimanfaatkan untuk keesokan harinya.

Baiklah, malam ini sebenarnya saya tidak ingin membahas pekerjaan di malam minggu, yang sejujurnya, I even do not know, kenapa saya merindukan masa-masa akan berada di laboratorium seharian penuh dengan banyaknya kegiatan eksperimen yang harus dilaksanakan, terutama ketika menghitung satu minggu sebelum progress report schedule.

Hal yang saya kerjakan saat ini di laboratorium adalah mengenai combined-culture of microbia, serta interaksi keduanya untuk menghasilkan specialized-metabolites yang memiliki peran sebagai antibiotik. Selama lebih dari satu tahun, saya dan supervisor mengerjakan mengenai analisis senyawa yang dihasilkan serta mengisolasi senyawa tersebut guna mendapatkan struktur kimia, serta dapat melakukan uji aktivitas terhadap senyawa tersebut. Pada beberapa penelitian sebelumnya, penggunaan combined-culture berhasil mendapatkan senyawa baru dengan struktur yang unik dan memiliki beberapa aktivitas baik sebagai antibiotik ataupun senyawa kanker.

Berbicara mengenai antibiotik, maka tidak terlepas terkait isu resistensi antibiotik yang saat ini mulai terjadi baik terhadap antibiotik lama yang telah ditemukan atau terhadap semi-synthetic antibiotic yang mulai banyak diproduksi saat ini. Beberapa jurnal yang membahas mengenai hal ini menjelaskan bahwa resistensi terhadap antibiotik yang dikembangkan oleh bakteri terkait mengenai gen yang bisa saling bertransfer dari satu bakteri ke bakteri lain, baik yang berada dalam satu genus ataupun berbeda genus. Kemampuan inilah yang menyebabkan tingginya akan resistensi terhadap antibiotik.

Salah satu penelitian yang dilakukan di McMaster University, pernah melakukan isolasi bakteri dari tanah yang kemudian dilakukan pengujian terhadap berbagai antibiotik yang sudah berada komersil digunakan. Hal yang kemudian sangat mengejutkan adalah beberapa isolat bakteri ditemukan sudah mengembangkan kemampuan untuk resisten terhadap berbagai macam antibiotik yang sudah mulai komersil. Dalam satu sisi, ini artinya proses penggunaan antibiotik yang baru ditemukan juga harus mengantisipasi munculnya resistensi terhadap antibiotik tersebut. Namun di sisi lain, hal ini haruslah mendorong untuk dilakukan proses eksplorasi lebih lanjut baik mengenai pencarian senyawa baru antibiotik ataupun penelitian bagaimana resistance-gene yang terdapat pada bakteri, kemudian bisa bertransfer dari satu bakteri ke bakteri lain, baik dalam satu genus ataupun berbeda genus.

Kembali pada penelitian yang dilakukan di salah satu group laboratorium di McMaster University, ketika dilakukan pengkajian terhadap salah satu isolat yang resisten terhadap salah satu semi-synthetic antibiotic, mereka menemukan bahwa isolat tersebut memiliki kemampuan untuk memodifikasi antibiotik tersebut menjadi tidak aktif dengan menambahkan gugus gula pada salah satu moiety struktur antibiotik tersebut. Hal ini mereka temukan dengan melihat adanya perubahan m/z setelah dilakukan proses ekstraksi terhadap medium yang telah ditambahkan senyawa antibiotik tersebut, dan ditumbuhkan isolat bakteri tersebut.

Menarik? Tentu saja, karena resistensi terhadap antibiotik oleh bakteri sangatlah menjadi topik yang saat ini menjadi hangat di kalangan para pakar mikrobiologi, ditambah mengenai kajian peran specialized-metabolite yang mereka produksi, berkaitan dengan peran ekologi, dan fungsinya terhadap mikrobia lainnya.

Selain itu, chance bagi para peneliti di Indonesia, adalah kesempatan menemukan senyawa-senyawa baru dari alam Indonesia, yang melimpah ruah terhampat dari Sabang hingga Merauke dengan keunikan setiap ekosistemnya. Selama ini, penelitian mengenai isolat baru dari tanah Indonesia sudah begitu pesat, namun tidak memungkinkan untuk meningkatkan pada penelitian mengenai aktivitas secondary metabolite yang dihasilkan oleh isolat tersebut.

 

Laboratorium No. 34, Tokyo Daigaku (10:38 (JLT))

Bekerja Paralel

Posted: July 7, 2017 in Perjalanan

Pekerjaan di laboratorium kini semakin terasa menyenangkan, betapa tidak, 5 bulan menjadi batas akhir penyelesaian program kuliah yang sedang ditempuh saat ini, dalam artian Thesis Submission deadline will face on me.

Beberapa hari terakhir, bekerja paralel rasanya benar-benar terasa sedang saya lakukan, padahal awalnya, dulu saya pikir bekerja paralel ini akan sangat memberatkan dan melelahkan. Namun, pada kenyataannya ini yang sedang terjadi pada saya. Tenggat waktu pendidikan master di sini adalah 2 tahun, karena basic yang kami ambil adalah research based. Sehingga, 2 tahun yang didalami adalah riset dan riset. Jangan dibayangkan seperti halnya ketika masih di sarjana, yakni satu hari bisa tidak ada pekerjaan sama sekali, atau bahkan mungkin bisa jadi satu atau dua hari lepas dari riset yang dilakukan. Saya pribadi merasakan, satu hari atau dua hari mendapatkan sakit, akan berdampak pada eksperimen yang sedang dikerjakan, kebetulan, karena bidang saya berkaitan dengan mikrobiologi, maka tentu saja, waktu kultivasi menjadi sangat penting, bahkan waktu untuk memanen hasi kultivasi menjadi sangat penting. Satu hari terlambat, maka riset yang dilakukan bisa jadi tidak akan menjadi valid.

Pada awal masuk di laboratorium, supervisor saya pernah menyampaikan, bahwa bekerja secara paralel akan sangat dibutuhkan. Di awal penelitian, memang saya agak tergopoh mengejar ritme kerja yang dilakukan. Dalam satu hari, 2 sampai 3 eksperimen bersama bisa dilakukan oleh rekan-rekan satu laboratorium. Alhasil, jadilah saya sedikit ragu, can I do this experiment as they do?

Kenyataannya, beberapa minggu ini mulailah terasa bekerja paralel yang pernah dimaksudkan supervisor saya. Semisal, ketika sedang melakukan ekstraksi dari sampel bervolume 2 liter, maka ketika ada waktu luang di tengah menunggu proses ekstraksi, maka eksperimen lainnya bisa dikerjakan (eksperimen di sini, bermaksud persiapan yang diperlukan untuk menyiapkan sampel pada eksperimen lainnya), semisal inokulasi mikrobia pada medium cair, ataupun menyiapkan sampel untuk proses uji aktivitas, ataupun menyiapkan medium. Planning riset di sini memang sepertinya nampak begitu banyak, namun entah akhir-akhir ini merasakan adanya sistem kerja paralel menyebabkan mudahnya untuk menentukan setiap data sampel yang diperlukan. Ditambah lagi, supervisor sering kali memberikan clue terhadap hasil yang diperoleh.

Kenyataanya, semakin hari semakin dijalani, ada beberapa nilai positif yang bisa diambil dari sistem bekerja ini. Tidak perlu menunggu hasil riset yang sebelumnya (dalam artian meninggalkan sama sekali), namun melihat adanya kemungkinan peluang dari riset lainnya (masih dalam satu rumpun), sehingga ketika ada data yang kurang baik, masih ada progress dari data lainnya, dan tentunya masih bisa melakukan diskusi lebih lanjut dengan supervisor.

Pramana (Hongo, 8/7/2017)
“Pribadi yang masih bodoh, dan masih terus akan belajar”

Sudah lama rasanya, jemari ini tidak lagi mengetik di antara untaian alfabet keyboard ini, kecuali ketika harus membuat progress report, ataupun report jurnal yang harus dikumpulkan sebagai persyaratan untuk melengkapi kehadiran selama perkuliahan pada periode Spring ini. Lama tidak bersua, dan ternyata sudah hampir 1.5 tahun proses studi dilakukan di sini. Terbayang? Heum, rasanya terkadang terasa singkat bahkan terkadang terasa lama, karena semua bergantung pada perspektif yang dialami setiap insan yang sedang menempuh studi di sini.

Hidup di perantauan terkadang begitu menantang, bahkan hampir terasa ini adalah sebuah hal yang harus dilewatkan untuk merasakan tantangan-tantangan yang akan dihadapi, dimulai dari mengurus perekonomian sendiri, mengatur jadwal makan sendiri, bahkan urusan dapur, dan urusan kamar mandi semuanya harus dijalankan sendiri, karena tentunya ini adalah resiko yang harus diambil, bagi mereka yang terutama untuk memilih berada jauh dari kampung halaman. Pertama kali datang ke negeri ini, adalah ketika mendekati Ramadhan 1437 H. Awal-awal mendengar cerita bahwa berpuasanya akan sangat berbeda, karena tentu saja, tidak akan sama rasanya seperti ketika berada di Yogyakarta, saat menempuh S1. Keluar rumah, burjo di depan, jalan ke depan jalan raya sedikit, nasi goreng, belok kanan sedikit, ada alfamart atau indomaret yang semua makanannya sudah bertuliskan HALAL. Namun, bagi saya yang saat ini berada di negeri minoritas ini, ada kebanggaan sendiri, yakni sebuah usaha untuk mendapatkan makanan yang HALAL, bahkan terkadang, memasak menjadi opsi untuk menjamin setiap kebaikan yang semoga senantiasa menjadi bekal bagi tubuh untuk melaksanakan setiap ibadah yang dilakukan.

2 tahun menjalani ibadah puasa di negeri ini, ya, memang terkadang ada rasa kurang, sedikit berbeda seperti ibadah Ramadhan yang pernah dialami ketika di tanah air, namun tetap saja makna Ramadhan di sini terasa begitu bermakna. Hal ini tentunya terasa, ketika ada teman yang bertanya mengapa harus berpuasa, atau bahkan ketika supervisormu menanyakan bagaimana kamu bisa bertahan selama sebulan tidak makan sejak pagi hingga malam, bahkan ketika datang masa-masa eksperimen yang harus dikerjakan hingga malam tiba. Inilah uniknya ketika harus menjelaskan secara detil, bahkan terkadang memberikan analogi mengapa Allah memberikan perintah kepada ummat-Nya untuk melakukan ibadah puasa. Tentunya, penjelasan yang akan diberikan tidak serta merta langsung membawakan ayat ataupun hadist, melainkan sederhananya dibuat sebisa mungkin untuk dipahami oleh mereka, yang mungkin ini baru kali pertama melihat siswa muslim berpuasa, namun Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar, meskipun terkadang ada kebingungan mengapa jatuhnya Ramadhan pada tahun ini berbeda dengan bulan saat jatuhnya Ramadhan tahun lalu.

Apapun yang berlalu, maka selalu teringat bahwa tujuan ke sini, adalah untuk belajar dan melatih diri menjadi insan yang bertanggung jawab akan setiap keputusan yang diambil. 1.5 tahun perjalanan di negeri ini memanglah waktu yang sangat cepat. Namun, banyak hal yang bisa diperoleh dari setiap perjalanan yang ada. Dulu, saya mengira perjalanan riset akan berlangsung dengan mulus, mengingat ketersediaan semua bahan bahkan alat yang mungkin bisa dikatakan lengkap, akan memberikan jalan yang mulus terhadap angan-angan hasil riset yang diidamkan. But wait, ini adalah jalan pikiran saya pribadi, dengan segala kelemahan yang saya miliki. Terkadang, ada yang dilupakan yakni bagaimana sang Pencipta mencoba untuk mengajarkan banyak setiap hikmah dalam perjalanan yang sedang saya tempuh. Gagal? Pernah, bahkan kehilangan senyawa yang harusnya bisa saya isolasi. Lelah? Sebagai manusia yang normal, wajarlah jika perasaan ini selalu ada, bahkan terkadang bisa mengalahkan 100% semangat yang pernah dibawa ketika dulu menginjakkan kaki di sini. Namun pada akhirnya, banyak perjalanan yang mengajarkan saya untuk memilih berdamai dengan keadaan. Belajar untuk ikhlas dan menguatkan ikhtiar kembali, mengumpulkan serpihan-serpihan yang terkadang menjadi debu karena lelah yang timbul karena tidak ada alasan yang tepat.

Beberapa bulan yang telah berlalu, seperti itulah keadaan yang sedang dialami. Merasa lelah, namun tidak ada yang menjadikan alasan kuat mengapa lelah ini ada? Persatu saya mencoba menguliti apa yang sebenarnya salah ataupun dosa yang mungkin menjadikan lelah ini ada. Hingga pada akhirnya, saya sadar bahwa saya terkadang melupakan untuk menghadirkan Dia yang Maha akan segalanya dalam perjalanan ini. Layaknya charger, ketika battery sudah kosong karena aktivitas yang dilakukan, maka ia perlu diisi. Seperti itulah yang saya rasakan, bagaikan battery yang kosong, namun saya lupa untuk me-recharge kepada Dia yang Maha Memiliki. Selain itu, ada satu sisi terkadang saya tidak bisa berdamai dengan keadaan, yang artinya saya mencoba mencari jalan pembenaran dari lainnya, atau bahkan saya tidak melihat jalan saya sendiri dan melihat jalan orang lain. Hal inilah yang saya sendiri sadari pada akhirnya hanya akan membuahkan kelelahan yang tak beralasan dan berujung pada rasa kurang bersyukur pada keadaan yang ada.

Happy Ramadhan, Ramadhan Kareem
Tokyo, 15 June 2016/20 Ramadhan 1438 H

Korea, untuk pertama kali

Posted: May 23, 2017 in Perjalanan

Akhirnya mengunjungi juga negeri yang laku sekali dengan film-film yang dibintangi artis cantik dan tampah. Bahkan jangan salah, demam K-Pop yang melanda di tanah air juga datang dari negeri ini, bahkan demam K-Pop terasa juga d Jepang, negara tempat saya menempuh studi saat ini.

A3 Foresight Symposium adalah agenda yang telah saya ikuti. A3 Foresight sendiri merupakan kerja sama antara 3 negara di asia, yakni Jepang, Korea, dan China, yang sedang gencarnya membangun hubungan terutama di tengah perkembangan sains yang saat ini sangat luas. Program ini tidak hanya memberikan dana untuk penelitian, namun berusaha membangun kolaborasi bersama anta ketiga negara dengan tujuan menjadikan ketiganya sebagai leading country dalam perkembangan science and technology terutama di kawasan Asia.

Program ini sendiri dikhususkan untuk tahun ini mengenai chemical and synthetic biology on natural products. Hal yang menarik, bahwa perkembangan natural product saat ini memang sudah luar biasa, bidang dalam aplikasi ataupun basic science benar-benar terlihat sepadu seragam dalam perkembangannya. Jika Jepang, selama ini dikenal sebagai negara dengan penelitian yang kuat dalam hal basic research, tidak terkecuali China dan Korea, yang pun menguatkan basic science pula dengan applied science. Hal yang menarik yang saya ikuti dalam kegiatan ini adalah bagaimana sharing ide bahkan konsep riset yang dilakukan, saling dibagi, bahkan tidak menutup kemungkinan akan semakin kolaborasi yang bisa dijalin antara ketiga negara.Bahkan saya sampai lupa, kegiatan ini merupakan kerja sama antara The University of Tokyo, Inha University, dan Shanghai Jiao Tong University.

Mengunjungi Korea saat ini hanya d 2 hari saja, namun semoga ada kesempatan untuk kembali dan mengunjungi negeri ini. Kebetulan, saat ini diadakan di Jeju Island, pulau di selatan pulau utama Korea Selatan, yang mirip sekali dengan Bali.

Tidak banyak hal yang bisa diceritakan di sini, tapi yang jelas, bagi mereka para penyuka serial drama, memang seperti itulah keadaan di sini, bersih, iya, rapi iya, dan yang jelas, uniknya bahasa mereka.

Semoga dilain kesempatan saya bisa memberikan gambar-gambar menarik dari perjalanan ke Korea.

Hampir separuh perjalanan saya sudah hampir selesaikan selama menempuh studi di negeri yang penuh keteraturan, dan tentu saja, bagi teman-teman, mengunjungi negara Jepang, menjadi kesenangan sendiri karena bisa menjelajah satu-persatu setiap negara di belahan bumi manapun. Hampir dulu, setiap saya mendengar orang akan belajar ke luar negeri, satu hal yang ketika itu saya bayangkan, berlibur, sembari belajar dan bahkan hidup dengan nyaman di negeri orang. Heum, itu dulu, ketika saya masih menjadi pelajar di negeri gemah ripah loh jinawi, yang dalam sebuah nyanyian dikatakan, tongkat kayu jadi pohon. Ya, siapa yang tidak akan senang, ketika tahu akan tinggal dan belajar di negeri Sakura, ataupun di negeri-negeri lainnya. Bukan kepayang, akan kehidupan, bahkan lingkungan baru yang akan dihadapi, penuh ketenangan, tidak ada hiruk pikuk politik sana dan sini, adanya saling menghargai, dan tentu saja bagi saya, adalah menemukan nuansa Islam yang baru dan bertemu dengan keluarga-keluarga. Di sini, adalah tempat menempa diri untuk mengasah kepedulian, kepekaan, bahkan mengasah rasa saling membutuhkan satu yang lain, tidak terlepas juga, bagi saya seorang muslim, adalah menumbuhkan rasa saling menyayangi dan menghormati antar saudara-saudara muslim lainnya, yang mungkin mereka berbeda secara latar belakang keluarga, serta berbeda dalam pandangan mazhabnya.

Indah sekali memang, semua serasa berada dalam impian yang kemudian menjadi nyata. Heum, tapi hidup di luar negeri, sembari belajar dan menekuni bidang yang ingin didalami, ternyata akan membawa dampak yang jauh lebih besar terhadap pribadi kehidupan yang bisa dibawa pulang dan diterapkan ketika pulang ke negeri Indonesia. Hari ini memang terasa sangat istimewa bagi saya pribadi.

Ya, kehidupan setelah menjadi anak kos di tempat kuliah semasa S1, di UGM, memang pada akhirnya terbawa ketika sudah berada jauh dari kenyamanan saat dulu semasa berada di Yogyakarta. Mari bayangkan, kehidupan nyaman di Yogyakarta, dimulai dari makanan yang serba bisa kita makan, terutama untuk muslim, tidak begitu menyulitkan untuk dicari. Berangkat 500 m di depan kosan, pastilah ada warung, yang biasa dikenal burjo, yang menjajakan makanan serba murah. Lapar di tengah malam, dan ingin makanan serba lain, maka tinggal menunggu gerobak dorong, yang akan menjajakan makanan berupa nasi goreng, mie goreng, ataupun terkadang penjual batagor ataupun siomay, yang bisa saja kita beli kapan pun sedang dibutuhkan untuk mengganjal perut di kala keroncongan perut sedang berbunyi. Nyaman? Tentu saja. Namun ketika sudah tinggal di luar negeri, bagi saya seorang muslim, bersikap berhati-hati akan sangat diperlukan. Memperhatikan setiap komposisi makanan, tentu saja, bahkan terkadang menanyakan kepada mereka yang paham akan komposisi makanan tersebut. Selain itu, berharap ada warung di depan apartemen yang kita tinggali, oh tentu saja tidak ada. Maka, jalan satu-satunya adalah memasak di apartemen sendiri, ataupun berkunjung ke rumah sesama orang Indonesia, berbincang, dan alhasil maka kita pun bisa bersantap makanan rumaha, yang akan mengingatkan kita pada Indonesia, dan inshaAllah, halal tentunya. Masalah makanan, memang pada dasarnya bergantung pada pribadi masing-masing yang akan memakannya, namun bagi beberapa orang, bersikap berhati-hati benar-benar mereka terapkan, dan semoga saya pun termasuk pada bagian orang-orang tersebut.

 

s__15990932

Terima kasih, Mbk Ela dan Mas Septian, yang setiap harinya mau direpotin, bahkan datang tanpa undangan

 

Well, itu baru makanan. Ada cerita lain hari ini, yakni mengurus rumah. Mungkin ketika dulu di kosan, kita terbiasa tinggal di asrama, ataupun kontrak bersama rekan-rekan teman sejawat lainnya, yang setidaknya, ada orang lain yang tinggal bersama kita. Ada masalah dengan rumah, ataupun terutama masalah kebersihan kamar mandi, tentu saja orang yang paling routine menjaga kebersihan, pasti akan menjadi orang yang istilahnya “pengontrol” dengan kondisi kebersihan di tempat kita tinggal bersama. Apalagi mungkin ketika kita tinggal bersama kedua orang tua, heum, jangan tanya maka semua akan tinggal tersediakan di depan mata. Baju tersetrika, tercuci setiap waktu, lemari yang rapi, bahkan kamar tempat tinggal, heum, jangan ditanya pastilah orang tua akan selalu menjaga kerapiannya. Menarik dari cerita malam ini, adalah kamar mandi yang mampet. Hidup di luar negeri, jangan tanyalah harga tempat potongan rambut yang biasanya kita lakukan, mungkin sebulan sekali ketika berada di Indonesia. Ya, karena kebetulan harganya pun terjangkau. Apakah di Tokyo tidak terjangkau? Oh tentu tidak, ada pula harga potongan rambut yang seharga ¥ 1000, namun bagi para mahasiswa, tentu saja harga ini bisa dikompromikan, dengan memotong rambut tidak sebulan sekali, bahkan biasanya baru setelah 6 bulan atau 3 bulan, atau jika ada cara lain, adalah membeli alat potong rambut sendiri, dan memotong sendiri. Kebetulan saya pribadi belum berani untuk memotong rambut sendiri, jadi alhasil sudah hampir 6 bulan lebih saya belum memotong rambut, dan masalah hari ini adalah kamar mandi yang mampet, alias aliran air yang tidak berjalan lancar. Saat dulu saya berada di kosan, bersama dengan teman-teman saja, masalah kamar mandi mampet jarang sekali dihadapi, karena kebetulan, kami memiliki Mas Arif, yang amat sangat bersih sekali, dan setiap kali pastilah kamar mandi selalu bersih dan terkuras dengan baik. Namun, ketika sudah berada di luar negeri, tinggal sendiri, maka harus menjadi orang yang bertanggung jawab dengan setiap keperluan diri sendiri. Kamar mandi mampet, karena masalah rambut yang menyangkut di saluran kamar mandi, maka tinggalkan pergi ke toko peralatan kamar mandi, dan mencari alat untuk menghentikan penyumbatan karena rambut. Bagi saya, hal ini menjadikan setiap pribadi yang pernah belajar di luar ataupun di dalam yang terjauh dari keluarga, memiliki nilai positif tersendiri, yaitu menjadi diri untuk mandiri. Masalah kelengkapan alat di sini, janganlah ditanya, mulai dari alat untuk aksesoris kamar mandi, hingga alat-alat untuk menyelesaikan permasalahan umum yang biasa dihadapi, semuanya ada, dan secara sendiri setiap orang bisa menyelesaikan dengan mandiri. Apakah tidak ada penyedia jasa? Penyedia jasa tentunya ada, namun penyedia jasa akan dipakai jika memang masalah yang dihadapi tidak bisa diselesaikan secara mandiri, selain itu menggunakan penyedia jasa, jangan tanya bagaimana mereka menghargai mereka, karena menggunakan jasa, maka bersiap juga untuk merogoh kocek yang cukup dalam, dan tentu saja, bagi seorang mahasiswa yang hanya mendapat beasiswa yang cukup, berprinsip menyelesaikan secara mandiri akan jauh lebih diutamakan sebelum menggunakan jasa, atau terlebih dahulu bertanya pada rekan lainnya, yang mungkin saja pernah mengalami hal yang sama.

Hidup di luar negeri, memang akan sangat menyenangkan, membayangkan bisa berjalan dan menginjakkan kaki di negeri, yang mungkin hanya bisa kita lihat di internet ataupun gambar-gambar kalender yang sering kita beli, adalah setiap impian orang. Apalagi hidup sembari belajar di luar negeri memang sangat menyenangkan. Namun, tetaplah harus kita selalu bawa dalam diri, bahwa kita harus bersiap untuk menjadi orang yang struggle, dan percaya akan mampu melewatinya dengan baik. Dan, selain itu, hidup di luar negeri, maka haruslah banyak belajar akan budaya baik yang bisa diambil, secara tetap memelihara hubungan baik dengan saudara-saudara di Indonesia yang juga sedang menjadi perantau dan pembelajar di negeri tersebut.

Tokyo, 26 Februari 2017
Ketika fajar sedang menunggu waktunya untuk terbit, dan kala angin musim semi mulai menyapa di bumi Sakura. Saat sakura-sakura sedang bersiap merekahkan keindahannya.

Allah dalam Al-Qur’an mengibaratkan bahwa ibarat seorang mukmin yang bermanfaat adalah bagaikan sebuah pohon, yang akarnya menghujam ke tanah, batangnya kokoh berdiri tegak, cabangnya banyak, dan buahnya terasa setiap musim.

Hari ini, di Meguro, KMII menyelenggarakan acara Muslim Millioner, Kembali Ke Titik Nol, yang menghadirkan Ustadz Saptuari dan Bang Teuku Wisnu. Dialah, Allah, yang telah mengatur setiap peristiwa yang tiada sesuatu terjadi jika bukan karena kehendak-Nya. Acara ini sejatinya dimulai sejak ba’da shubuh yang diisi oleh Bang Teuku Wisnu. Dalam sesi ini, beliau bercerita bagaimana tantangan pemuda saat ini, serta sedikit bercerita mengenai proses hijrah dalam dirinya. Hal yang paling saya ingat, dan ini pun sempat diingatkan oleh Ustadz Saptuari, adalah proses mencari kebahagiaan dunia dan akhirat bukanlah mengenai masalah harta, jabatan, kedudukan, melainkan bagaimana sejatinya pribadi yang Allah berikan pinjaman selama di kehidupan di dunia ini, mampu mengikuti segala aturan yang Allah telah jelaskan melalui Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Allah, Allah, Allah, rasanya tertegur hati ini yang telah lama kering, hati yang telah terlupa akan tujuan hidup sebenarnya di dunia ini, jika tidak untuk beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintah dan larangan-Nya. Allah, diri ini bagaikan tersindir, terasa dalam diri berkata,”Hai anak Adam, yang kedua orang tuamu memberimu nama, Abror, yang bermakna orang baik, bagaimana nikmatmu yang telah Allah pinjamkan, kesehatan yang telah dianugerahkan, kesempatan yang Dia hadirkan hingga mengenyam pendidikan jauh di negeri yang terpisah oleh Samudera Pasifik?”. Saya pun hanya tertunduk pada malu, karena begitu sayangnya kedua orang tua saya memberi nama Abror, namun saya belum menjadi seperti orang yang memiliki arti dengan nama tersebut, orang baik. Allah, rasanya sekali lagi tertampar diri ini, apakah prasangka orang saat ini, benarkan itu dalam dirimu? atau sejatinya kemunafikan yang sedang kau lakoni? Sekali lagi, hanya sebuah doa yang saya sematkan dalam hati, “Ya Rabbannas, Rabbussama wa tiwal ardhi, jadikanlah prasangka mereka adalah do’a yang menjadikan hamba menjadi lebih baik dari prasangka mereka. Jauhkanlah kemunafikan dalam diri ini, dan syukur pada-Mu yang telah menutup aib, hamba-Mu ini”.

Kembali kepada titik nol, berhijrah, adalah proses yang tidak mudah, ia sulit, namun Allah selalu membuka pintu-pintu bagi mereka yang ingin menempuh jalan ini. Allah limpahkan keberkahan, rahmat, dan rahim-Nya bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam proses ini. Ini adalah jalan para pecinta taubat, jalan para pendamba Syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, dan ini adalah jalan cinta yang dengannya, Rasulullah dikuatkan oleh Allah SWT, ketika Islam telah hadir di negeri Madinah, setelah berhijrah dari Mekkah.

Kembali ke titik nol, berhijrah, saya pun terus merenungkan makna ini. Sembari melewati jalan pulang menuju apartemen, saya melihat deretan pohon Ginko biloba, yang telah gugur daunnya dalam menghadapi musim dingin. Dalam hati, saya berkata, dia adalah makhluk yang amat patuh terhadap ketetapan Rabbnya. Gugur ketika dingin datang, agar kemudian bersemi dengan daun-daunnya yang hijau, dan menghasilkan buah. Di situlah saya melihat, hijrah, bukanlah kemudian mati, tiada terlihat apapun, namun dia menyiapkan diri untuk menyemai kehidupan baru, mengikuti perintah Rabb, yang dalam setiap do’a shalat, selalu diucapkan,”iyya kana’ budu waiyyaka kanasta’in”.

Ya, hari ini, saya memahami, hijrah ibarat dia memupuk kembali pohon keimanan yang telah gugur dan hampir mati karena banyaknya dosa-dosa yang dibuat, kemudian dia disiram dengan siraman air mata pada kecintaan kepada Rabb dan sunnah Rasul-Nya. Ia, hijrah bagaikan menghidupkan kembali pohon keimanan yang telah Allah berikan semenjak manusia berada dalam kandungan ibunya, ketika dia ditanya, siapa tuhannya, maka ia menjawab Allahu Ahadun. Ia, hijrah bermakna kembali menakar permasalahan dunia dan akhirat dalam keseimbangan yang telah Rasulullah ajarkan, tidak kurang dan tidak lebih, namun pas sesuai dengan yang menjadi porsinya. Dan benar, hijrah bagaikan kembali mengokohkan dan menegakkan batang yang hampir saja tumbang, dan kembali memanjatkan do’a dan usaha terbaik, agar kemudian Allah membuka pintu langitnya, dan mengijabah setiap do’a yang terpanjat, lalu menjadikan hasilnya sebagai buah-buahan terbaik yang manis, harum lagi baunya.

“Ya Rabbannas, jadikanlah diri ini selaku pribadi yang baik. Jauhkanlah rasa sombong, hasad, iri, dengki, dan congkak dalam diri ini. Kuatkanlah iman dan islam yang menjadi nikmat terbesar yang Kau berikan saat ini, hingga malaikat mautmu, Izrail, mencabut nyawa ini. Ya Rabbi, jadikanlah diri ini menjadi orang yang selalu bertzakiyah dalam setiap aktivitas kehidupan di dunia ini, dan ijinkanlah diri ini mencium bau Syurga-Mu”

Tokyo, 15 Januari 2017
Abror,
‘Hamba Allah yang masih ingin terus belajar, fakir dari kesempurnaan, dan masih penuh dengan kebodohan’

Dawai

Posted: January 12, 2017 in Perjalanan

Seutas dawai,

yang dipetik sang pujangga

ia adalah lakon dalam syair

yang bercerita akan senang, sendu, sedih, dan gembira

Seutas dawai,

yang dipetik sang pujangga

memainkan drama dalam alunan nada

mengisahkan setiap alur kehidupan yang dilewati,

ia adalah tangga nada

yang dilukis dengan kesyahduan.

 

Tokyo, 13 Januari 2017

Baru saja berselang satu hari di negeri Jepang, tentang Semangat Pemuda-Pemudi Indonesia, di tahun 1928 yang pada akhirnya menjadikan 28 Oktober sebagai hari, di mana hati, tekad, dan cita-cita kuat tergabung, menjadi sebuah asa yang digelorakan dengan Sumpah Pemuda. Semangat yang menjadikan bangsa, tanah air, dan bahasa yang satu, yaitu Indonesia.

Tetapi hari ini, seperti biasa, rasa-rasanya kebiasaan untuk tidur setelah pukul 00.00 menjadi sebuah kebiasaan, dan seperti biasanya pula, pagi ini belum bisa untuk memejamkan mata, sekedar bermimpi atau sekedar untuk berdoa untuk melihat esok yang akan terus cerah, dengan semangat-semangat yang selalu menjadi pagi.

Malam yang lalu, di tengah-tengah percakapan grup KKN-Misool 2014 (ex-PPB-01), seperti biasanya titik-titik rindu kembali dijalin dengan cerita-cerita yang masih saja kami ingat, ketika kami melakukan sedikit kerja sosial kami, yang kami sendiri sebut diri kami kala itu sebagai Sahabat Misool 2014 (karena kebetulan kami adalah kelompok KKN pertama yang berhasil untuk mengajukan Misool Selatan, terutamanya Kampung Fafanlap untuk dijadikan tempat KKN kami). Singkat cerita, kami pun sedikit mengingat kembali masa-masa ketika harus berjuang, mencari dana, menelpon kerabat, teman, ataupun orang yang kami anggap untuk bisa membantu mendanai KKN kami di Misool Selatan, hingga kami pun melakukan crowd funding melalui kitabisa.com, hingga singkat ceritanya, kami pun bisa berangkat menuju Kampung Fafanlap, Misool Selatan, Raja Ampat.

Malam ini, ditengah dinginnya Tokyo, ditemani lagu Tatinggal di Papua, yang dipopulerkan oleh Pacenogei, serasanya kembali, saya pribadi, mengingat kisah-kisah, dan begitu beraneka ragamnya kehidupan masyarakat di sana, begitu menakjubkan keindahan alamnya, serta melimpahnya sumber daya alam yang dimilikinya. Mungkin tidak salah, jika dalam liriknya, Pacenogei menyiratkan sebuah kerinduan pada Papua, kerinduan akan alamnya, kerinduan akan kehidupannya, hingga hati pun memang benar adanya, hati yang tertinggal di Papua, dan bagi kami pun sama, begitu pula mungkin bagi rekan-rekan yang pernah mengunjungi Papua, maka hati pun akan tetap tertinggal, dan ingin rasanya terus berkisah bahwa Papua memang begitu cantik dan indah, serta dilingkupi kehidupan masyarakat yang begitu harmonis.

Ini saat kami bermain di “Gag”, istilah danau air payau di sana, yap, Ikan Bandeng dan Gabus dengan mudah kami tanggap hanya dengan jaring

Sebenarnya, tidak cukup sampai di sini, perjalanan saya berujung. Lepas selesai KKN di Raja Ampat, Papua Barat, saya melanjutkan perjalanan, ketika itu saya membuat sebuah ungkapan, “merajut ukhuwah, mencintai negeri, mengikat rajutan Indonesia”. Kali ini, ujung Barat, Aceh pun menjadi tempat hari berlabuh. Indonesia, sebenarnya bukanlah hanya Aceh dan Papua, namun ia adalah bentangan zamrud di khatulistiwa, yang setia disinari oleh sang surya, yang setia menjadi zona lalu linta perairan internasional, karena letaknya yang berada di antara dua samudera, yakni Pasifik dan Hindia. Indonesia adalah rumah dari beragam sumber daya alam, dan ia adalah rumah bagi lebih dari 200 suku yang tinggal dengan beragam bahasa daerah yang dimilikinya.

Aceh kala itu menjadi langkah kaki selanjutnya, mulai mengenal Indonesia perlahan, mulai untuk merajut bingkai rindu di setiap tempat yang didatangi. Di Aceh, Pantai Iboeh yang terletak di Pulau Weh, menjadi tujuan kala itu. Di sini, tidak kalah indahnya dengan Raja Ampat, pantai, laut, desiran angin, semburatan cahaya sore kala matahari hendak tenggelam menjadi rasa tersendiri yang tetap saja teringat meski sudah hampir 2 tahun, belum lagi menginjakkan kaki di sana. Dari Raja Ampat dan Aceh, kami belajar, mengenai makna sebuah kesederhaan yang ada dalam masyarakat, kesederhanaan, namun memiliki kebaikan dan rasa berbagi yang sama.

Masjid Baiturrahman Aceh, landmark kota dengan sebutan Serambi Mekkah

 

2 tahun perjalanan sudah dari kedua foto ini, namun ingatan akan keduanya akan terus mengisi cerita perjalanan selanjutnya. Rajutan Indonesia akan terus terajut hingga ia menjadi bingkai Indonesia seutuhnya, menjadi bingkai yang mengikat penuh rasa rindunya.

Selamat melanjutkan mimpi-mimpi selanjutnya Sahabat Misool dan selamat berkarya di manapun kaki ini berpijak, dan kita masih memiliki janji untuk Sahabat Misool…

Suasana lebaran di Kampung Fafanlap

Tokyo, Kita-Ayase
29 Oktober 2016, 01:47

Beberapa pekan lalu, sepintas dalam beberapa timeline teman-teman yang menempuh studi di Belanda, sebuah selebaran bertuliskan MataNajwa: Goes to Netherland. Bukan hal baru memang, MataNajwa, menjadi tontonan tersendiri, yang unik, menguak hal-hal baru, mengupas berbagai macam sisi mulai dari sosial, budaya, bahkan hal yang paling kontroversial, dengan para narasumbernya. Bagi saya pribadi, melihat acara MataNajwa memberikan inspirasi tersendiri, bahkan saat Najwa Shihab membacakan puisi-puisi di akhir acara tersebut, ada nilai, makna, ungkapan, yang menjadikan setiap pendengarnya, berpikir dan melihat kenyataan dan realita yang ada.

Walau hanya sebatas membaca status teman, tapi bagi saya, bertanya ataupun sekedar meminta cerita pada teman yang berada di sana, adalah cukup untuk bisa berbagi pesan dengan apa yang sudah mereka dapatkan dalam acara itu. Ini adalah pesan yang Najwa Shihab berikan ketika menutup acara MataNajwa: Goes to Netherland.

Saat rantau menawarkan beribu goda dan harapan
Kampung halaman terasa sungguh meragukan
Di bawah naungan bujuk rayu materi
Tanah air terasa hanya sekedar melankoli
Wajar jika keraguan merajalela
Indonesia tampak belum menjanjikan apa-apa
Tapi Ibu Pertiwi tak pernah bosan memanggil
Perantau kuyuh oleh perasaan sentimentil
Dipanting oleh ingatan dan kenangan
Rindu tanah kelahiran pasti tak tertahankan
Namun kepulangan jangan semata memuaskan kerinduan
Indonesia butuh sumbangsih kalian yang berpengetahuan
Begitu banyak agenda bersama yang harus direalisasikan
Mimpi dan harapan yang harus jadi kenyataan
Kami amat risau menunggu kepulangan kalian yang sedang berguru
Pulanglah kapanpun kalian mau
Saudara-saudara mu juga sangat ingin maju
Rawe rawe rantas malang malang putung
Kita bikin Indonesia jadi bangsa yang agung
@matanajwa

Inilah kutipan puisi yang saya beroleh ijin untuk membagikannya, dari akun instagram teman saya, @sitimariyam1.

27-28 Oktober 1928, adalah momentum sumpah pemuda, yang menjadikan ikatan para pemuda-pemudi Indonesia menjadi satu padu, menghilangkan rasa kedaerahan, menghilangkan jarak kesukuan, dan meleburkan mereka pada rasa cinta akan tanah airnya. Di tengah momentum akan Sumpah Pemuda pada tahun ini, menjadi momentum kembali untuk para pemuda di seluruh penjuru negeri, dan di seluruh dunia, untuk kembali memadukan  rasa persaudaraan dan membangun cintanya untuk membangun negeri, di tengah kerinduan Ibu Pertiwi kepada anak-anak bangsanya.

Bagi saya pribadi, yang saat ini sedang menempuh studi di negeri Sakura, memang tidak dipungkiri, di sini, kehidupan jauh lebih baik, tidak ada hingar bingar kegaduhan politik, keteraturan dalam segala hal, transportasi, kepatuhan pada hukum yang berlaku, dan norma yang ada. Namun, tetaplah, rindu akan tanah air, pada nyatanya tetap tidak terbendung.

Memang benar apa yang disampaikan dalam puisi MataNajwa, ingatan dan kenangan selama perjalanan hidup di bumi pertiwi lah, yang terus menjadikan hati kecil, selalu berbicara,”Suatu saat aku akan pulang, tidak dengan tangan kosong, namun dengan hal kecil yang akan membawa sedikit senyum dan perubahan untuk tanah air”. Namun, sekali lagi ini tidak bisa dilakukan sendiri, namun harus dilakukan dengan kerja-kerja kolektif, kerja-kerja pemuda-pemudi yang saling bantu membantu, saling membahu, dan saling memberikan masukan demi cita-cita yang disampaikan dalam puisi tersebut, yakni “menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang agung”.

Generasi pembelajar, meminjam istilah yang disampaikan oleh Najwa Shihab, adalah generasi terdidik, yang mengabdikan dirinya untuk berguru, membuka cakrawala pemikiran, menjadikan diri untuk terus belajar, rendah hati, selalu bersikap objektif dalam menilai hal-hal yang sedang terjadi, dan bersikap terbuka dengan siapapun. Jika Generasi Pembelajar, pada tahun 1928, dipersatukan karena adanya persamaan untuk menghimpun para pemuda-pemudinya, melawan penjajahan, maka sejatinya, Generasi Pembelajar saat ini pun, sedang diminta oleh Ibu Pertiwi, untuk menjadi mata air, yang membawa kebermanfaatan untuk rakyat Indonesia.

Tokyo, Kita-Ayase, 25 Oktober 2016
Di tengah dinginnya malam langit Tokyo, menilik kembali diri ini, meluruskan niat, dan membaca kembali jalan yang sudah dilaluinya.