Archive for March, 2016

Dalamnya Lautan…

Posted: March 31, 2016 in Puisi
Tags: , , ,

Misool-Eco-Resort-In-Raja-Ampat-15

Ah, birunya laut itu memukau hati siapa saja yang melihatnya,

Hijaunya dataran memikat siapapun, pelancong yang pernah menatapnya.

Inilah negeriku, dengan beragam budaya dan bangsanya,

kaya akan adat dan istiadat yang tersebar luar dari Sabang hingga Merauke…

Ah, dalamnya lautan,

begitu engkau merayu diri ini untuk ikut menyelami keindahan di dalammu

kau tawarkan sejuta keindahan yang membuat hati ku berdecak kagum

kau bagikan pesona mu kepada siapa saja yang pernah menyelami dirimu

Ah lautmu,

masih menyimpan sejuta misteri yang menunggu anak-anak bangsamu untuk mengungkapnya

Ah, dalamnya lautan Indonesiaku…

Advertisements

Life is a Gift

Posted: March 25, 2016 in Hikmah
Tags: ,

What do I think about life?

I just say Allah has written our journey in His Lauh Mahfudz, in fact, we either accept or not. Life is an accumulation of choice we face, and sometimes, we need to choose the proper chance that bringing us to the next stage.

Life is a candle given by Allah for kept and giving the light to others people, but not to burn its own self. This life should be faced by sincere and a feeling to respect people around us.

Our life has its own story that can not be mixed with others people story, but it could be fulfilled by other ones. We have our own life and we decide who we are.

Respecting our life will give us a feeling of how others trying to make their own life valuable and respectable.

Just thanks to Allah for every moment we have in this life and do what Allah orders to us, thus bringing into His True Way.

Karena Rahmat Tuhanku,

Posted: March 20, 2016 in Puisi
Tags: , , ,

aku adalah manusia,

yang acap kali berjalan congkak,

dan terus berbuat fasik dan mungkar.

aku adalah makhluk,

yang terkadang lupa,

dan acap kali sombongkan diriku.

aku adalah dzat yang Ia sempurnakan,

namun terkadang menjadi tinggi,

karena merasa akal menjadi penentu akan segala hal keputusan.

aku lupa siapa aku,

dan pada siapa aku harus menunduk dan tunduk.

aku lupa siapa aku,

karena aku terus menjadikan akal sebagai dewa kebenaran,

dan melupakan Ia sebagai Khalik yang Maha Benar dan Besar.

aku lupa dengan diri-Nya,

yang senantiasa menjaga dan mengawasi,

dan tidak pernah lengah dari sekecil apapun dosa yang ku lakukan.

aku lupa akan diri-Nya,

yang Maha Melihat dan Mengetahui, sekecil apapun dusta yang aku simpan.

aku lupa akan diri-Nya,

yang menutup aib-aib diri penuh dosa ini di mata manusia,

dan masih aku terus berjalan congkak,

merasa benar akan setiap logika yang berjalan dalam pikiran,

membantah setiap firman-Nya yang telah jelas.

sekali lagi, aku pun congkak,

dan aku sendiri yang melangkah pada jalan kehinaan di dunia-Nya.

satu, dua, bahkan ratusan kali kata taubat aku ucapkan,

karena rahmat Tuhanku, aku beroleh kesehatan,

karena rahmat Tuhanku, aku beroleh kebaikan,

karena rahmat Tuhanku pulalah, aku beroleh kesenangan.

ya, karena rahmat Tuhanku,

bukan karena kepandaian, ketampanan, kekayaan, dan kebijaksanaan

namun, karena rahmat Tuhanku aku masih menjadi orang yang dikatakan baik.

Tuhanku,

hanyalah Kesempurnaan Sejati milik-Mu,

dan adalah Kebenaran Haqiqi yang berada di genggaman-Mu.

 

 

IMG_1185[1]

Mrs. Chan and I met on the Air Asia flight to Tokyo

Mrs. Chan adalah seorang warga Malaysia yang sangat baik sekali. Dalam perjalanan pesawat menuju Tokyo dari Malaysia, dia duduk tepat di sebelah saya. Ketika ingin meminjam balpoint untuk mengisi kartu imigrasi, dia dengan sangat baik mempersilahkan saya memakai barang miliknya.

Awalnya sangat canggung untuk bercakap dengannya, namun sesekali saya memberanikan diri untuk berkomunikasi dengannya. Di percakapan pembuka, saya menanyakan tujuannya selama di Jepang. Ia pun bercerita bahwa dia hanya ingin berlibur di Jepang. Diskusi kami pun terus berlanjut, hingga pada akhirnya dia pun menanyakan tujuan saya menuju Jepang. Saya pun menjawab bahwa saya akan mengikuti ujian di universitas di Tokyo, untuk melanjutkan studi master di negeri Sakura. Sesekali ia pun kaget, karena saya hanya seorang diri dan nekat untuk ke Jepang, lalu  mengikuti ujian di negeri ini. Dia pun bertanya dari mana dana yang saya peroleh, saat itu pun ketika saya katakan bahwa ini adalah gambling, ia pun sangat kaget, dan mengatakan bahwa saya cukup berani untuk mengambil resiko tersebut. Namun bagi saya ini adalah perjalanan yang telah Allah takdirkan untuk dilalui oleh seorang hamba-Nya yang masih sangat bodoh dan haus akan ilmu-Nya.

Saat itu, saya sedang dalam kondisi radang tenggorokan, dan Mrs. Chan mengatakan bahwa saya pun termasuk orang gila, dalam keadaan sakit namun masih tetap berangkat ke Jepang. Ketika itu, ia pun menanyakan apakah saya membawa obat selama berada di Jepang. Saya pun menyampaikan bahwa obat saya ada, tapi saya masih belum makan. Saat itulah, ia pun mengatakan bahwa saya harus mengisi perut saya, dan dia pun menanyakan adakah saya membawa uang? Spontan saya pun menjawab iya, dan segera ia memanggilkan waitress untuk menanyakan adakah makanan untuk saya. Mungkin karena sudah banyak yang membeli, saya pun hanya mendapatkan sebuah cup mie dengan rasa Tom Yam, dan ketika akan membeli mineral water, Mrs. Chan langsung memberikan mineral water yang ia peroleh, dan dia mengatakan,”Abrory, you don’t need to buy, just drink my mineral water”. Dalam hati saya hanya mengatakan,”Kalau semua orang memiliki hati yang baik dan tulus, tanpa memandang agama, suku, dan ras, maka kehidupan dunia ini akan sangat aman dan nyaman”. Saat berada di dalam pesawat dan harus shalat, Mrs. Chan pun dengan ramah mempersilahkan saya untuk shalat.

Saya berdoa, suatu saat saya dapat bertemu dengan Mrs. Chan kembali. Seorang perempuan Malaysia, yang berasal dari etnis China, namun dapat tetap saling berinteraksi bahkan begitu baiknya dalam berhubungan, meski hanya bertemu sekali di pesawat dalam perjalanan menuju Tokyo.

Semoga suatu saat, bangsa ini akan terus belajar untuk saling menghargai, bertoleransi, dan membangun negara dalam satu tujuan yang sama. Tidak ada lagi perpecahan, tidak ada lagi adu domba, bahkan tidak ada lagi pertikaian yang mengatasnamakan suku dan ras, karena sejatinya Allah menciptakan kita dalam keadaan bersuku-suku dan beras untuk saling mengenal dan berkasih sayang.

Thank you so much, Mrs. Chan, for your help as long as our flight to Tokyo.

 

 

edit_DSC4727

Kumpul Sahabat Misool

Kami, masih ada…
Untuk kalian, Misool…

Lama mungkin, sudah tidak lagi terdengar kabar, Sahabat Misool, dan begitu lama pula tangan ini tidak menulis kembali kisah ceritanya, yang telah dilalui sejak tahun 2013. Banyak kenangan yang masih kami ingat, mulai sejak kami berangkat, bahkan ketika kami harus merelakan diri, berpikir lama sekali, mencari metode untuk mendekati masyarakat dan proses menggali lebih dalam mengenai sosial masyarakat. 2 bulan memang waktu yang amat singkat bagi kami untuk mengabdi dan mencoba memberikan pola tatanan masyarakat ideal, di sebuah daerah yang sudah lama, sebenarnya sudah tertata ideal, namun masih harus disempurnakan agar nantinya daerah Fafanlap, kampung KKN kami, menjadi lebih ideal danlebih maju tentunya.

Namun, tulisan ini tidak akan lagi bercerita apa itu Fafanlap, dan bagaimana kehidupan masyarakat di sana. Saya pribadi menulis di sini, untuk kemudian mengembalikan ingatakan akan sebuah cita-cita mulia yang kami gagas dari kelompok KKN-PB 01, untuk menjadikan Sahabat Misool sebagai sebuah komunitas yang mengajak untuk mari bersama-sama ikut bergerak dan tergerak membangun dan memberdayakan masyarakat di Kampung Fafanlap, Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

Sahabat Misool kini dikoordinatori oleh Mohammad Ali Seknun, yang tinggal di Maluku. Saat ini kami lebih mengedapankan untuk tetap menjaga tali silaturrahmi yang telah kami jalin hampir kurang lebih 2 tahun sejak 2014, kelompok KKN ini terbentuk. Apa yang kami lakukan selama KKN? Banyak hal yang telah kami coba lakukan, sosialiasi terkait sampah, sosialisasi sistem peternakan yang lebih ramah, penghijauan dermaga, sosialisasi cara bercocok tanam sayuran dengan lahan sempit, menggunakan vertical garden, penggalakan sistem kepemudaan, peningkatan IMTAQ dan IPTEK bagi adik-adik generasi penerus bangsa di Kampung Fafanlap, sosialisasi sanggar belajar, bahkan kami pun menutup KKN kami dengan Fafanlap Fair 2014, yang saat ini menjadi acara akbar, di mana silaturrahim antar warga Fafanlap dengan kampung lainnya, semakin akrab, tarian panah-panah pun kembali dibawakan oleh adik-adik SD, masakan tradisional masyarakat pun tumpah ruah dihadirkan bagi para tamu undangan, bahkan kerajinan-kerijanan masyarakat pun mengisi pegelaran akbar kala itu.

 

IMG_4235 (FILEminimizer)

Fafanlap Fair 2014

Itu adalah cerita singkat kami saat mengawal KKN-PB 01 perdana yang berlokasi di Kampung Fafanlap, Distrik Misool, Provinsi Papua Barat. Ya cerita KKN bagi kami adalah masa-masa yang benar-benar menjadi suatu langkah awal bagi kami merasakan bahwa Indonesia sangatlah indah, dan masyarakatnya sangatlah kaya akan budaya dan seni. Bagi kami yang saat ini sedang terus berusaha menjaga hidupnya Sahabat Misool, adalah sebuah keniscayaan karena jarak, waktu, dan kesempatan lah yang kemudian memisahkan kami semua ber-20 yang kini menempuh karir dan jalan masing-masing. Namun apakah kami lupa akan arti Sahabat Misool? Tidak, sama sekali tidak melupakan semangat Sahabat Misool yang ingin terus mengabdi dan menjadikan kampung tempat KKN kami dulu menjadi kampung yang terus maju. Namun, kami yakin, apa yang kami jalani dan api semangat yang kami jaga ini, akan berkobar lebih menyala, ketika kami nanti akan bertemu dalam waktu dan kesempatan yang Allah berikan.

Jika kami pun ditanya, sudah puaskah dengan yang kami lakukan 2014? Jujur, kami belum merasakan kepuasaan, dan masih banyak PR yang kami harus lakukan untuk benar-benar mampu memberdayakan masyarakat di Kampung Fafanlap. Namun, semangat dan api yang membara itu akan terus kami jaga, karena kami yakin, semangat ini pun bisa kami tularkan kepada sahabat, rekan, ataupun teman yang mungkin akan esok kita ajak berlari bersama untuk kembali mencurahkan perhatian dan berbagi mimpi bersama kami untuk membangun Sahabat Misool yang benar-benar mampu mewujudkan visi dan misi yang dulu pernah kami usung. Haruskah kami menyerah? Tidak, kami tidak akan menyerah, karena kami percaya masih ada Allah yang akan terus memberikan dan mengingatkan kami pada mimpi dan cita-cita yang pernah kami bicarakan ketika kami berada di Kampung Fafanlap. Namun, memang saat ini kami percaya inilah cara Allah, agar kami terus menjaga nafas dan semangat terhadap Sahabat Misool.

Kami masih ada…

Dan kami masih akan terus menjaga api semangat yang sudah kami kobarkan…

Meskipun kini, kami jauh…

Namun, di hati kami, masih ada nama Kampung Fafanlap…

Kami akan ceritakan pada keluarga kami…

Kami akan ceritakan pada saudara, sepupu, dan sahabat kami…

Agara suatu saat mereka pun akan menyalakan api yang sama…

Dan memberikan kobaran api dengan nyala yang sama…

Ayah dan Ibu adalah penyemangat kami untuk terus mengabdi…

Karena selama ini mereka tahu mengapa kami rela jauh untuk mengabdi di Kampung Fafanlap…

Bukan untuk bertamasya…

Bukan untuk berlibur…

tapi,,,

Kedua malaikat kami tahu kami ingin mengabdi untuk ibu pertiwi,

Untuk bisa berbagi dengan saudara setanah air kami…

Karena kami di sini,,,

ada…

 

 

Perjalanan: Tokyo #3

Posted: March 15, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

A long journey should be accomplished…

“After getting from my professor about his decision to supervise me, I was asked by him to contact my thesis undergraduate supervisor and my academic dean in Biology Faculty for giving a recommendation letter”

Setelah lama mengontak beliau, sebanyak kurang lebih 73 percakapan via email, pada akhirnya Professor Onaka mau untuk menerima saya menjadi mahasiswanya. Namun, ketika itu beliau menyampaikan untuk menjadi mahasiswa di Tokyo Daigaku, maka setiap mahasiswa akan melewati ujian masuk atau entrance examination, dan barulah akan ada pengumuman kelulusan apakah ia lulus ataupun gagal dalam ujian masuk. Bagaimana dengan beasiswa? Hal ini pun tidak luput dari perhatian Professor Onaka, dengan ramah beliau menawarkan terkait beasiswa Yoshida Scholarship Foundation yang dapat membiayai masa studi saya jika itupun saya bisa lulus ujian dan lulus seleksi Yoshida Scholarship Foundation. Pada saat itupun saya tidak bisa memberikan jawaban secara langsung. Banyak hal yang dipertimbangkan dan dipikirkan secara matang, baik dari orang tua saya.

“I asked so many advices from my senpai (senior) in The University of Tokyo, Mr. Dwi Andi Listiawan, Mr. Fajar Sofyantoro, and Mr. Syaiful Amri Saragih. Both of them giving an advice for continuing my Professor advice”

Ada dua hal yang ketika itu pun berkecamuk dalam pikiran, jika saya tidak lulus, maka saya pun tidak akan mendapatkan beasiswa, dan pada saat itu juga saya telah menyiapkan rencana untuk memperdalam bahasa, dan mengambil beasiswa dari dalam negeri, LPDP, untuk melanjutkn studi master. Di sisi lain, saya pun percaya dengan apa yang professor saya sampaikan, dalam email yang beliau kirim, saya melihat bahwa beliau percaya pada kemampuan saya, meskipun beliau pun tidak pernah bertemu dengan saya sebelumnya. Di sisi lain, orang tua pun memberikan kepercayaan untuk melanjutkan studi saya, dan mengikuti saran dari para senpai saya, sekaligus mengikuti step yang telah diberikan oleh sensei (professor). Pada saat saya masih bekerja di sebuah lembaga negara, saya pun mencoba untuk mengirimkan lamaran kepada sebuah lembaga negara lainnya, yaitu Eijkman Institute, yang kala itu sedang membuka lowongan asisten peneliti. Di sela-sela itulah, saya pun memberikan kepastian kepada sensei saya, bahwa saya akan melanjutkan studi saya dengan mengambil ujian masuk pada tanggal 9-10 Februari 2016 di Tokyo, dan melanjutkan untuk mendaftar beasiswa Yoshida Scholarship Foundation. Oh, iya terkait lamaran di Eijkman Institute, pada akhirnya, saya pun melepas untuk bekerja di lembaga kesehatan ternama di Indonesia ini. Pada saat tahap wawancara, saya pun menyampaikan bahwa saya akan melanjutkan studi di The University of Tokyo, dan akan mengikuti ujian masuk pada tanggal 9-10 Februari 2016. Ketika akhir dari proses wawancara, Mbk Shisi, salah satu peneliti di laboratorium tersebut, menyampaikan bahwa saya diberi waktu 2 minggu untuk memutuskan apakah akan meneruskan tahapan tersebut, ataupun memutuskan untuk menghentikan proses seleksi tersebut, dan melanjutkan studi di Tokyo, dan pada akhirnya setelah 2 minggu, saya pun memutuskan untuk melanjutkan studi dan berhenti dari proses seleksi. Namun, inilah pengorbanan yang harus diberikan, karena tidak bisa keduanya berjalan bersama, namun pasti ada satu hal yang harus dikorbankan. Begitu pula dengan kerja saya di salah satu lembaga negara yang mengurus para awardee yang memperoleh beasiswa pendidikan, saya pun meminta ijin untuk resign, dan meneruskan mimpi saya untuk melanjutkan studi di negeri Sakura. Alhamdulillah, saya pun memperoleh dukungan dan mendapatkan keluarga baru selama di lembaga tersebut, sekaligus memperoleh banyak ilmu dari para pembicara yang merupakan tokoh-tokoh bangsa ini, untuk kemudian menjadi bekal dan menjadi pelecut semangat untuk terus memberikan sekecil mungkin kontribusi demi negeri ini.

Life must go on and continued to better condition…

Ada sebuah sinyal baik yang kemudian sensei saya berikan dalam balasan email beliau untuk menjawab tekad saya untuk kemudian melanjutkan perjuangan itu, tidak lama, beliau pun langsung membalas kembali dengan melampirkan beberapa dokumen yang berisi mengenai formulir pendaftaran yang nantinya harus diisi, karena beliau sudah mengirimkannya ke Indonesia. Selain itu, dalam email tersebut, juga terdapat form aplikasi pendaftaran beasiswa yang harus diisikan dan dikirimkan sebelum 15 Januari 2016.

Seminggu berikutnya pun, formulir aplikasi dari Tokyo pun sampai di Indonesia, dan diantarkan ke alamat rumah yang sudah saya berikan kepada sensei. Saya pun meminta bantuan Mas Syaiful Amri Saragih untuk kemudian membimbing pengisian formulir tersebut. Dalam formulit tersebut, saya pun diminta untuk mengukur kemampuan bahasa Jepang saya, dan saya pun meminta bantuan kepada Pusat Studi Bahasa Jepang untuk mengisikan form tersebut, dengan menuliskan apa adanya terkait kemampuan bahasa Jepang saya. Butuh lebih dari satu minggu, untuk benar-benar menfinalisasi dokumen-dokumen tersebut dan mengirimkannya kembali kepada sensei. Begitu juga dengan formulir aplikasi beasiswa, untuk hal ini, lebih dari satu minggu untuk kemudian saya kirimkan kembali kepada sensei, beserta semua file yang dibutuhkan, semisal scan passport, transcript, dan recommendation letter. Saya pun menyampaikan kepada sensei, bahwa semua dokumen telah saya kirimkan kembali ke beliau.

Menjelang batas pendaftaran ujian pada 22 Desember 2015, ada sebuah kendala, dikarenakan dokumen yang saya kirim belum sampai di Jepang. Saya pun mengontak sensei pada tanggal 20 Desember 2015. Tanpa berpikir panjang, melalui balasan email, sensei yang saat itu sedang berada di Hawaii karena sedang mengikuti konferensi, meminta saya untuk mengirimkan kembali file-file tersebut via email, dengan mengisi kembali formulirnya dan menscannya untuk kemudian beliau sampaikan sebagai file sementara, sembari menunggu dokumen asli tiba di Jepang. Bagi saya, sensei adalah orang yang begitu luar biasa, di tengah kesibukan beliau yang akan pulang dari Hawaii, dengan segera beliau pun langsung meminta saya mengirimkan berkas-berkasnya kembali, bahkan untuk sertifikasi bahasa Jepang, beliau langsung yang akan memberikan tanda tangannya dan mensertifikasi kemampuan bahasa saya. Mungkin inilah sebuah nilai yang dapat saya petik dari seorang sensei. Sensei tidak hanya sekedar sebagai sebuah jabatan administratif, melainkan ia adalah orang yang benar-benar paham, bertanggung jawab, bahkan memiliki sebuah otoritas penuh, serta mampu langsung memberikan arahan yang tepat dan jelas. Ya, sensei adalah orang yang ahli dalam bidangnya dan mampu untuk mentransfer nilai-nilai tersebut kepada mereka-mereka yang bekerja dengannya.

Dan, Alhamdulillah, akhirnya semua berkas telah sensei sampaikan kepada pihak kampus, dan saya pun resmi untuk mengikuti ujian di kampus. Untuk biaya masuk, Alhamdulillah ketika itu, senpai saya, Mas Muhammad Prima Putra berkenan untuk memberikan pinjaman uang untuk biaya ujian di Jepang, karena sebelumnya ketika mencoba untuk membayar menggunakan kartu kredit di Indonesia gagal, bahkan ketika menggunakan kartu kredit adik kelas saya, Nita Wakan. Dan itulah memang sebuah perjalanan, pasti akan ada banyak hikmah yang bisa dipetik satu persatu.

Dalam perjalanan ini, saya begitu banyak berterima kasih kepada kedua orang tua saya, yang telah banyak memberikan pengorbanan selama akan berangkat menuju Tokyo, Jepang. Tidak bisa saya ceritakan, namun cukuplah saya yang merasakan begitu besar pengorbanan mereka hingga pada akhirnya saya pun dapat berangkat menuju Jepang pada tanggal 4 Februari 2016 melalui Soekarno-Hatta, Cengkareng.

 

 

Maaf belum melanjutkan untuk kisah perjalanan menuju Tokyo, InshaAllah ia berlanjut kembali beberapa waktu lagi.

Hari ini adalah hari kedua Nanem (Nakula Enam) dan Srinem (Srikandi Enam) melanjutkan aktivitas yang kita sebut sebagai “piknik”. Seperti biasa, kebiasaan kami selama 2 tahun, selain berada di asrama, tentu saja kegiatan yang acap kali kami laksanakan bersama. Meskipun sudah lulus dari Rumah Kepemimpinan, tetaplah kami adalah kami, yang sangat menyukai sekali piknik, terutama untuk hari ini, dua museum yang kebetulan berada di Yogyakarta, kami datangi.

Museum Diponegoro dan Museum Jenderal Besar H.M. Soeharto, menjadi pilihan hari ini untuk kami datangi.

Museum Diponegoro ini terletak di Tegalrejo, Yogyakarta. Dahulunya di daerah inilah, Pangeran Diponegoro tinggal, namun ketika terjadi pengepungan oleh Kompeni Belanda, Pangeran Diponegoro kemudian menjobol tembok rumahnya. Kabarnya, P. Diponegoro kemudian melarikan diri menuju Samigaluh, lalu menuju Gua Selarong, kemudian beliau melarikan diri lagi, hingga pada akhirnya beliau dijebak, dan akhirnya diasingkan hingga meninggal di Makassar.

 

IMG_1521[1]

Tembok yang dijebol oleh Pangeran Diponegoro untuk meloloskan diri dari Kompeni Belanda

 

IMG_1543[1]

Salah satu tugu yang menjelaskan mengenai pembangunan Museum Pangeran Diponegoro

Setelah dari Museum Diponogero, awalnya kami ingin melanjutkan untuk menuju Gua Selarong yang berada di daerah Bantul, namun kemudian di tengah perjalanan pun akhirnya diputuskan untuk menuju Museum Jenderal Besar H.M. Soehato.

Museum ini terletak di daerag Godean, Yogyakarta. Di dalamnya, museum ini banyak mengulas tentang kehidupan Presiden Soeharto hingga kemudian menuju akhir karir beliau sebagai presiden, bahkan dalam satu sisi di bagian dalam museum ini, ditampilkan juga video saat para dokter dari rumah sakit tempat Presiden Soeharto dirawat yang kemudian menyatakan bahwa Presiden Soeharto sudah wafat.

IMG_1564[1]

IMG_1565[1]

Patung Presiden H.M. Soeharto di pintu masuk

Terik matahari memang sangat menyengat, tapi tidak apalah, karena di sanalah ada sebuah rasa yang dibayar, senang karena bisa mengunjungi dua museum, dan keduanya pun menjadi sejarah perjalanan Bangsa Indonesia, keduanya adalah putra Indonesia, yang lahir dari rahim ibu pertiwi dan memiliki masanya sendiri untuk tetap diingat.

Bersiaplah untuk berpiknik, bersiaplah untuk terus belajar, dan bersiaplah untuk terus melakukannya bersama. Karena dalam setiap perjalanan pasti akan ada hikmah besar yang bisa diambil, dan karena pada saat itulah kita akan memahami saudara-saudara kita.

IMG_1579[1]

Perjalanan: Tokyo #2

Posted: March 10, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

Proses berkirim email adalah proses yang begitu setiap akan dikirim, maka basmalah menjadi untaian demi meraih keberkahan-Nya. Dwi Andi Listiawan, adalah senpai dari Fakultas Biologi, yang banyak memberikan masukan dan memberikan contoh bagaimana perkenalan pertama pada Sensei saat akan berkirim email. Beberapa kali, email diminta diubah, bahasa yang terlalu monoton dan berpola Indonesia yang diInggriskan. Tapi itulah proses, Mas Dwi Andi pulalah yang banyak memberikan masukan pada setiap email yang akan saya kirimkan. Selama 5 hari, saya hanya mengutak-atik email yang akan saya kirimkan, memeriksa, membaca kembali, apakah bisa dimengerti atau tidak bagi pembaca. Lama sekali menunggu, hingga beberapa kali saya menanyakan kepada senpai-senpai saya di Tokyo, adakah bagian yang salah dalam email tersebut? Sesekali saya pun menanyakan pada Abi (sebutan kakak di Turki), dengan tidak ada balasan dari professor yang saya tuju di negara tersebut. Dalam hati saya bergumam, mungkin belum saatnya saya melanjutkan sekolah, karena kebetulan saja pada saat itu, saya sedang bekerja di sebuah lembaga negara yang juga mengurusi para awardee yang luar biasa. Dalam hati sebenarnya ada rasa takjub, karena mereka memiliki kemampuan yang luar biasa, diterima di universitas yang luar biasa, mulai dari benua Amerika, Eropa, bahkan Asia, yang tak tanggung-tanggung pun universitas yang amat sangat bergengsi. Iri? Tentu saja, namun yang saya pegang adalah setiap orang akan memiliki jalan yang telah ditakdirkan-Nya, dan masa untuk memperolehnya pun akan berbeda-beda berdasar sesuai dengan usaha yang dilakukannya. Saya tak pernah berhenti menanti balasan email, selesai acara di kegiatan tersebut, saya selalu melihat inbox email, sekiranya mungkin ada balasan dari para professor yang telah saya kirimkan email karena ketertarikan untuk belajar dan menjalin kerja sama dengan beliau-beliau. Sehari,dua hari, bahkan sampai seminggu tak kunjung balasan itu datang. Baiklah, saya pun meminta saran dari seorang senpai yang kebetulan bersekolah di Graduate School of Agricultural and Life Scinces, The University of Tokyo. Dia pun memberikan saya link untuk menghubungi rekannya, yang saat itu juga sedang bersekolah di graduate school yang sama, namun berbeda departemen. Alhasil, saya kontaklah beliau, dan saya pun baru mengenalnya melalui facebook. Syaiful Amri Saragih dan Muhammad Prima Putra, kedualah jua yang menjadi jembatan saya biidznillah memantapkan hati untuk mendaftar di The University of Tokyo.

Setelah tak ada email yang kunjung dibalas, malam hari, saya mengontak Mas Prima dan menyampaikan bahwa seminggu sebelumnya, saya berkirim email kepada Hiroyasu Onaka Sensei, menjelaskan ketertarikannya untuk belajar di lab beliau. Alhasil, email yang awal diminta untuk dirubah, diperpendek, dan diberi sedikit ulasan mengenai alasan yang benar-benar membuat saya tertarik belajar di bawah supervisi beliau. Mas Prima pun meminta email tersebut dikirim pada keesokan harinya, dan dia menyampaikan dirinya akan mencoba mengontak salah satu associate professor di lab, yaitu Taro Ozaki Sensei, yang secara kebetulan adalah sensei yang pernah belajar di lab Mas Prima. Baiklah, saya pun mencoba mengirim kembali keesokan harinya, dan sekali itu, dalam benak hanya mengatakan jika memang takdir membawa pada jalan ini, maka doa kedua orang tua yang membuka jalan karena ridho mereka adalah jalan akan keridhoan Allah. 9 Okober 2015, adalah email kedua yang aku kirim kepada beliau. Entah mengapa, hanya beliau yang saya kirimkan email kedua. Semua professor di tujuan awal, karena mungkin tidak ada lowongan, saya pun tidak mengirimkannya.  Dan, pada akhir proses penantian, sebuah email yang berbalas pada tanggal 14 Oktober 2015, menjadi pembuka jalan bagi seorang yang masih haus akan ilmu-Nya, untuk melanjutkan studinya di negeri Sakura, Jepang.

to be continued…

Ah, sudah lama sekali jemari ini tidak mengetikkan setiap cerita dalam untaian masa yang sudah dilewati. Masih segar dalam ingatan ini, 3 Maret 2016, hari di mana sebuah jawaban yang Allah berikan atas doa kedua orang tua, serta keridhoan mereka. Tepat pada tanggal itu, Allah memberikan sebuah jawaban atas ikhtiar dan tawakkal yang, saya dan kedua orang tua, lakukan. Sebuah hari yang Allah menjadikan diri ini menjadi tersadar, bahwa begitu luar biasanya, sebuah ridho yang terucap dari kedua orang tua, terhampar bagaikan sebuah sajadah yang begitu saja jatuh dari tempatnya. Ya, pada hari itu, Allah mengijabah doa yang setiap malam, dalam shalat, duduk, dan diam mereka, sebuah pengumuman akan kelulusan ujian anaknya di ujian masuk di Universitas Tokyo.

Ketika ridho kedua orang tua bersambut dengan ridho Ilahi, apalagi yang kemudian menjadi keraguan, bahwa begitulah doa tulus dan ikhlas dari kedua orang tua. Saya ingat, ketika awal memutuskan untuk melanjutkan studi, saya berkeinginan kuat ingin sekali melanjutkan studi di Turki. Namun, ibu, tidak mengijinkan saya, karena alasan keamanan negara tersebut pada saat itu. Sempat sesekali bersilang pendapat, lalu saya pun menyampaikan pilihan kedua, yaitu New Zealand. Sama hasil yang saya peroleh. Ibu tidak memberikan izin, karena masalah yang terjadi pada waktu itu, antara Australia dengan Indonesia. Sekali lagi, tidak ada titik temu yang saya diskusikan dengan ibu saya. Beralihlah saya pada bapak saya. Berbeda jawaban yang saya dapat, beliau hanya menyampaikan pilihan pertama, agak kurang berkenan, dengan alasan yang sama yakni faktor keamanan negara tersebut. Lalu, saya pun bertanya, bagaimana dengan pilihan kedua? Beliau mengatakan tidak masalah, asal ibu pun menyetujuinya. Alih-alih harus kemudian mengutarakan pernyataan dan memberikan alasan lainnya, saya pun bertanya, ke mana sebenarnya hati ibu saya, menyetujui anaknya ini melanjutkan sekolahnya?

Lama berdiskusi, muncullah sebuah negara di mana beliau suka dan setuju bagi saya untuk melanjutkkan sekolah. Jepang. Itulah negara yang kemudian muncul dari perkataan beliau. Dalam hati, baiklah, tidak ada masalah, karena di sana pun saya akan banyak sekali menimba ilmu, menghargai kultur dan adab ketimuran, menghargai bagaimana masyarakatnya mampu untuk menerapkan prinsip respect to people, respect to system, dan respect to time. Meskipun begitu, saya pun masih saja tetap mengirimkan email langsung pada professor di sebuah universitas di Turki dan New Zealand. Dalam hati saya hanya bergumam, jika pun dibalas dan bisa dilanjutkan pasti kedua orang tua pada akhirnya akan menyetujui juga. Tidak cukup di sini, saya pun mulai mencari universitas di Jepang. Osaka University menjadi universitas yang pertama kali saya telusuri, karena pada awal saya ke Jepang, Osaka adalah wilayah yang pertama kali didatangai, dan Osaka University pernah didatangi pula saat itu, meskipun hanya untuk melihat-lihat saja kala itu. Setelah itu, saya pun mencari universitas lainnya, yang dirasa benar-benar sesuai kemampuan saya. The University of Tokyo kala itu tidak sempat terpikirkan, karena saya pun tahu bahwa universitas ini termasuk yang menjadi top di Jepang, dan saya pun tidak memiliki kemampuan untuk di sana. Mulailah, saya mencari universitas lainnya, di Jepang sembari saya menanyakan adakah lab yang sesuai dengan bidang saya pada saat itu. Kebetulan di Osaka University, saya menemukan lab yang sesuai dengan minat saya dan berkirimlah email pada professor yang saya tuju tersebut. Di sela waktu lain, cobalah saya memberanikan diri mencari-cari laboratorium di The University of Tokyo yang juga sesuai dengan minat saya, dan cobalah ketika itu saya berkirim email ke profesor yang kebetulan menjadi ahli dalam bidang tersebut dan beliau menjadi professor di lab yang fokus dengan bidang tersebut.

to be continued…