Archive for February, 2015

Persaudaraan itulah makna dari Ukhuwah.

Persahabatan itulah kata yang sering kita ucapkan dalam keseharian kita.

Tiada beda antara ketiganya,

Saudaraku, jika esok kelak kita bertemu, semoga akan selalu teringat cerita manis, pahit, getir, senang, suka, maupun duka yang pernah dilewati.

Hari ini, masing-masing telah menempuh kehidupannya,

Masing-masing mencoba untuk terus melangkahkan kakinya menuju masa depan yang diimpikannya.

Hari ini, masing-masing diri kita telah bersepakat untuk terus menggapai mimpi,

Sampai esok, kita akan bertemu kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik.

Kita akan sama-sama berjuang untuk menjadi anak bangsa terbaik,

Yang membawa persembahan terbaik demi kemajuan bangsa dan ibu pertiwi ini.

Kita telah bersepakat, di manapun kaki melangkah dan menapakkan jejaknya,

Bumi pertiwi tidak akan pernah hilang dari hati dan indahnya jalinan ukhuwah yang pernah dirajut.

Salam cinta untuk kalian, karena ijin-Nya,

Salam perjuangan untuk kalian.

Hidup karena cintaNya,

Mengabdi karena cintaNya untuk bangsa dan tanah air, Indonesia

AiwwRqbgKsquCC09hE4QEidVdgG-We_DOuuba1zJ5oXk

Silaturrahim sekaligus perpisahan dengan Laskar Nakula 6, Phisca, yang akan melanjutkan studinya di Korea, SNU-ST

An9ftxxZL0iyfLi9rZ_colWtlBrksbJ0waIo5iejdv1y

Silaturrahim sekaligus syukuran Nisa dan Sanka, dua sahabat lama, Bunga Serampai, yang baru saja lulus dan sidang pendadaran

See You On The Top!!!

Semoga tali ukhuwah ini yang akan selalu mengingatkan kita.

🙂

Advertisements

Jemari ini pun ingin terus menuliskan cerita perjalanan penuh hikmah yang telah dirasakan. Dulu, saat tempaan berasrama dirasakan, ada sebuah sindiran yang menjadikan saya sedikit terpantik. “Kita pun tidak akan pernah dikenal, jika kita tidak pernah menulis”. Maka sejak saat itu, saya pun mencoba untuk belajar menulis, entah dari kisah apapun, dengan bahasa yang terkadang masih belum terarah, dan mungkin sampai saat ini. Hatta, diri ini harus menforce agar kemudian terbiasa untuk menulis, Saya pun teringat, awal saya beranikan diri menulis, adalah ketika tugas asrama saat sebuah impian di penghujung tahun 2013 harus saya torehkan dalam rangkaian kursor di laptop, kemudian saya visualisasikan dalam mimpi saya, dan saya pun setorkan ke pembina saya kala itu. Alhamdulillah, hal yang luar biasa pun terjadi, Man Jadda Wa Jadda. Tidak ada sebuah keajaiban, namun yang ada adalah ketika mempertemukan ikhtiar kita dengan takdir Allah, maka Jepang pun akhirnya pernah disinggahi.

AoNDKvt9-1ThxWyhJksUUA_Kkcq1qOTMLGexGWQFvhgp

Terima kasih, Raka dan Jhovy. Sauyunan Saklawasna

Rintik hujan kembali mengantar keberangkatan kami dari Kota Bandung menuju Kota Bogor. Raka dan Jhovy, saya berterima kasih karena berkenan mengantarkan kami, meski saat itu gelayut mendung Kota Bandung, siap-siap menghantui dan membasahi kalian. Namun, itulah arti sahabat, Beritsar, mendahulukan saudaranya terlebih dahulu baru kemudian dirinya. Sedikit jadi teringat, ketika ada sebuah kisah besar, di mana dulu seorang sahabat kemudian mendahulukan saudaranya untuk menikah, namun, bukan tentang menikah yang dimaksud, melainkan sikap seorang saudara yang akan mendahulukan saudaranya, untuk kemudian mengambil manfaat dan kebaikan pada keduanya. Perjalanan menuju Kota Bogor, tepatnya ke Kampus IPB, saya dan Lutfi jalani dengan transit terlebih dahulu di Kota Depok, untuk sekaligus bersilaturrahim kepada pengurus pusat Asrama PPSDMS. Perjalanan kami tempuh kurang lebih tiga jam lebih hingga kami pun sampai di Asrama PPSDMS Pusat, di Lenteng Agung. Alhamdulillah, adalah ucapan pertama yang keluar dari mulut ini, setelah tidak lagi berasrama, dan belum sempat berwisuda alumni di sini, namun Allah mempertemukan kembali saya dengan asrama peradaban dan rumah kepemimpinan. Di tengah guyuran hujan yang begitu lebat disertai sedikit kilatan petir, penuh doa terharap agar esok, hari akan cerah, dan kemudahan bagi kami untuk melanjutkan perjalanan menuju, Kota Hujan, Bogor.

Bertemu Mereka, Pembina Sekaligus Pembimbing di Rumah Kepemimpinan

Banyak cerita indah yang dapat direcall untuk mengingat kenangan dua tahun lalu, tepatnya ketika kembali di tempat ini. Kenangan, bahwasanya ternyata hati manusia terkadang cepat sekali puas dan berbangga terhadap sebuah pencapaian. Di sinilah, saya mulai sadar, bahwa ternyata itulah ciri-ciri dari sebuah kesombongan dan kehancuran, yaitu cepat puas, cepat sombong, dan cepat merasa segalanya ada dikarenakan apa yang dikerjakannya. Di akhir tempaan ini, saya teringat akan pesan seorang abang, beliau adalah orang yang saya kagumi dan hormati, beliau berpesan di masa akhir-akhir pembinaan,“Stay Foolish, Stay Hungry”. Ah, betapa bodohnya, terkadang diri ini, ketika sudah terlalu banyak melihat ke atas, maka hanya ada rasa Ujub dan lupa akan hakikat manusia untuk selalu Qona’ah dan menjadi manusia yang selayaknya padi,” Semakin berisi, maka ia akan semakin merunduk”. Inilah yang pada akhirnya, tertanam dan mencoba untuk terus diaplikasikan dalam kehidupan ini.

Jika teringat akan masa-masa itu, maka hanya ada rasa syukur, karena Allah telah merencanakan perjalanan yang saya sendiri dapat katakan sebagai tarbiyah dalam kehidupan saya pribadi. Sebuah perjalanan yang memproses dan memoles saya menjadi sebuah pribadi yang ingin terus berada dalam kebaikan dan memberikan kebaikan sekecil apapun dan sesuai dengan kemampuan yang saya miliki hingga batas kemampuan yang memang seharusnya. Untunglah, pada akhirnya saya mampu untuk belajar dan terus belajar, sesuai dengan prinsip yang saya pegang,“Stay Foolish, Stay Hungry”.

Masa lalu adalah kenangan dan pembelajaran, dan masa mendatang adalah sebuah harapan dan tantangan, serta masa sekarang adalah masa menabur dan menanam benih-benih kebaikan, agar di masa mendatang, harapan dan tantangan akan berbuah jawaban yang berlandaskan pada kebaikan dan kebenaran.  Maka pada hari ini, saya bersyukur karena saya kembali dapat bertemu mereka yang dulu pernah membimbing dan mengajarkan nilai-nilai yang berlandaskan pada kebaikan. Bang Adji dan Bang Bachtiar, alhamdulillah, saya sempat bertemu meskipun tidak sempat banyak berbagi cerita dan menimba ilmu dari keduanya. Namun,sayang sekali, saya belum sempat bertakzim dengan Ustad Musholli, meski demikian semoga kebaikan selalu tercurah untuk beliau.

Milad Seorang Sahabat dan Refleksi Perjalanan ini

Malam pun datang, tanpa suara, dan hanya dengan sebuah tanda terbenamnya sang fajar. Meskipun, hujan masih tidak kunjung reda, seorang sahabat, Jilul, mengajak kami untuk makan malam. Bergegaslah kami menuju salah satu rumah makan di daerah Lenteng Agung. Kebetulan, sehari sebelumnya, kawan satu ini, merayakan miladnya, dan malam ini pun dia membagikan sedikit rejeki yang dimilikinya untuk berbagi bersama kami. Selamat Milad untuk Sahabat kami, Jilul, sehat selalu, Lul! Terima kasih atas jamuannya malam ini. Malam pun semakin larut dan kami pun memutuskan untuk kembali ke asrama pusat.

AjKO39xBeGxBUA_lBHCAp-6An9FMBnE2ftNYZC7KiYMq

Barakallahu fi umrik, Bro Jilul. Sukses selalu Cak Jilul

Begitulah persahabatan yang terjalin, dua tahun bersama ditempa, dan selamanya mengabdi untuk negeri ini, karena proses tempaan dan pemahaman yang sama, yakni perjuangan untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. kata-kata itu yang semoga akan menjadi pengingat di kala diri telah letih, di kala hati telah melelah dan menyerahkan semuanya pada kemalasan dunia. Kata-kata tersebut yang akan menjadi pengingat serta semangat untuk terus bangkit dan berjuang secara bersama-sama.

Terima kasih, saya sampaikan kepada kehidupan, yang telah banyak mempertemukan dengan mereka yang terus belajar dan belajar. Mempelajari sebuah peradaban, dan kembali mengangkat ghirah re-build  peradaban yang kini sedang dirintis. Terima kasih atas setiap nasehat dan kritikan yang diberikan selama proses tempaan dan tarbiyah itu diberikan hingga menjadikan diri ini sebagai insan yang terus belajar menjadi baik. Terima kasih atas setiap titik perjalanan yang memberikan waktu untuk mengkulminasi setiap sari yang dapat dipetik dari dalamnya. Dari Yogyakarta, kami menuju Bandung, di sanalah kembali kami temukan saudara-saudara yang saling mencintai karena iman. Dari Bandung, kami menuju Depok, dan di sinilah kami bertemu para pembimbing dan guru kami, serta merefleski idealisasi yang pernah tertanam, serta berbagi rasa ketika milad sahabat. Selanjutnya, Bogor, di sanalah kami akan menuntut secuplik kecil dari ilmu-Mu. Dan akhirnya, malam pun yang akan menjadi tempat, ketika mata ini harus terpejam dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan esok di pagi hari menuju Bogor, Kota Hujan.

Ah, terkadang memang cinta tidak mengenal batas, jarak, luas, dan apapun lah yang memisahkan. Hari ini, Sahabat Misool kembali mendapat pesan cintanya dari Bumi Makkah. Jika teringat saat masa-masa KKN kemarin di Bumi Misool, ada beberapa keluarga yang akan melangsungkan ibadah haji ke Bumi Mekkah, dan seperti pada umumnya, banyak acara adat akan dilakukan sebelum keluarga tersebut berangkat haji. Dimulai dari selamatan, doa keberkahan, hingga kemudian mengundang seluruh sanak famili untuk kembali pulang ke kampung halaman dan turu serta dalam doa adat tersebut. Konon, hal ini dilaksanakan, karena pada dahulunya banyak keluarga yang berangkat haji, namun kemudian Allah lebih mencintai mereka untuk kembali ke haribaan-Nya sehingga kemudian meninggal dan dikuburkan di bumi Allah, Mekkah, Tanah Haram.

Als4k4gauLXzlM7JA3xxmpJozijiodSxfzTAr5ubRTqI

Cinta untuk Sahabat Misool dari Laut Merah, Jeddah

Av93hadUHoXrRAddFYPYvV28hNz7K8MSrjVBuz5BtQEm

Masjid Ar Rahman, sebuah masjid yang sering kali orang Indonesia katakan sebagai masjid terapung di kala laut pasang. Sahabat Misool, kita terpisah oleh laut dan beberapa gugus pulau, namun hati kita akan selalu dekat

AlyesOfdqkEoDEqZk7TsMCy192bWHHuw19Xtz9brpqOW

Masjid Terapung Ar Rahman, cinta Sahabat Misool yang dibagi untuk kalian

Namun, hal itu terjadi dulu, kala banyaknya jamaah haji yang banyak menggunakan kapal laut untuk berangkat ke tanah suci. Untungnya, melalui hikmah pada manusia, Allah kemudian memberikan akal, agar kemudian manusia menciptakan kapal udara, hingga akhirnya kini manusia dapat bepergian ke tanah suci dalam waktu yang relatif lebih singkat dibandingkan menggunakan kapal laut atau bahkan berjalan kaki, dari Jazirah Asia menuju Jazirah Timur Tengah. Nah, Sahabat Misool, cinta kami pada kalian tidak akan pernah pudar, meski hampir lebih dari lima bulan kita sudah berpisah, dan hanya melalui SMS kita terus menyapa kalian di sana. Inilah cinta itu untuk kalian, Sahabat Misool.

Bandung, Kota Kembang sekaligus sebagai kota yang penuh cerita. Perjalanan untuk menghadiri pernikahan sahabat sekaligu teman satu perjuangan, memang tujuan utama saya pergi ke kota ini, namun lebih dari itu, Bandung sekaligus menjadi tempat bagi saya menjalin kembali tali silaturrahim yang telah lama belum tersambung karena adanya jarak yang memisahkan kami.

PPSDMS, Rumah Kepemimpinan yang Merajut Tali Silaturrahmi

Dua tahun yang lalu, ceritanya saya dan kawan-kawan Bandung Boys pernah merasakan yang namanya tempaan sebuah rumah peradaban, rumah kepemimpinan, atau rumah yang menjadikan kami mampu untuk membangun setiap mimpi-mimpi menjadi sebuah karya yang dapat kami visualisasikan dalam ingatan kami. Rumah kepemimpinan yang menjadikan kami memiliki sebuah ikatan karena adanya idealisme dan visi serta misi yang sama.

Idealisme Kami yang terus berusaha dijaga, baik dalam masa tidak berasrama, ataupun ketika masa mencoba merajut tali silaturrahmi dan menyelaraskan visi dan misi yang pernah kami buat. Masa pasca kampus, adalah masa ketika realitas kehidupan harus dihadapi dan mencoba untuk tidak membenturkan pada idealisme, namun mencoba memberi warna baru pada yang akan dilalu dengan nilai idealisme yang kami miliki.

Masa berasrama merupakan masa-masa ketika setiap aktivitas harus dibangun pada sebuah perencanaan bahkan dalam sebuah rangka perjalanan yang jelas. Namun inilah yang membangun setiap pribadi di dalamnya, menjadi manusia yang memiliki perencanaan bahkan pencanangan aktivitas yang matang. Yah itulah masa-masa ketika asrama. Bagi saya dan kawan-kawan, PPSDMS adalah sebuah institusi yang mampu membesarkan serta mengoptimalkan setiap kemampuan yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia

Ya, rumah peradaban banyak mengajarkan kami menjadi pribadi yang moderat, terbuka, rendah hati, bahkan menjadi manusia-manusia objektif yang mampu melihat setiap masalah dari berbagai sudut pandang dan melihat setiap latar belakang dibalik munculnya keadan tersebut. Tidak hanya itu, rumah kepemimpinan pula yang mengajarkan kami tentang akan pentinganya membangun networking dengan siapapun kita berkenalan bahkan dengan seorang petani sekaligus.

Rumah Kepemimpinan mengajarkan kami akan pentingnya beramal atau berusaha, ataupun bekerja secara kolektif, karena mansuia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang tidak akan terlepaskan dari kata membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Saya pribadi tidak mengatakan ini sebagai sebuah doktrin, namun lebih bagaimana kemudian melihat kehidupan dan berkaca pada masa perjuangan para pendahulu kita silam, ketika kemerdekaan negara ini diperoleh dengan perjuangan secara kolektif.

Kehidupan akan terus berjalan, setiap orang akan memiliki masa untuk melewatis setiap dinamika yang dijalaninya. Bagi saya, berkumpul bersama saudara-saudara Bandung Boys, menjadi ajang untuk kembali bersilaturrahmi, kembali mendengar dan mengambil setiap ibrah ataupun pelajaran ketika mereka lebih awal menapaki jalan atau dunia pasca kampus ataupun jalan untuk benar-benar langsung terjun dan turun untuk mengabdikan diri pada masyarakat. Bagi saya, bertemu dan berkumpul dengan mereka, tidak hanya sekedar tertawa ataupun bercanda, melainkan menjadi wadah untuk kembali meneguhkan idealisme yang pernah kita ucapkan saat berada di rumah kepemimpinan. Bagi saya, sangat begitu menyenangkan ketika kemudian benar-benar mampu bercengkerama dengan sahabat serta saudara yang selama ini hanya dipertemukan dalam sebuah dunia maya, karena kita pun mampu untuk bertatap langsung dan bertukar mimpi satu dengan lainnya. Cerita ini pun ternyata tidak hanya berlangsung di dalam asrama, namun ternyata, salah seorang saudara kami, Yahya, mencoba mengenalkan dan membagi apa yang pernah Rumah Peradaban ini, PPSDMS, berikan selama kami ditempa, dengan adik-adik dari LDK Salman ITB. Secara pribadi, apalah arti kehidupan jika tidak mau berbagi dengan yang lain, apalah sebuah makna kehidupan jika tidak berusaha memberikan dan membagi manfaat dengan orang lain, dan apalah sebuah makna makhluk sosial jika tidak membangun silaturrahim dan memperkuat jejaring dengan orang lain.

Aj0j1D_XnZoquR0Ms_sFysys2W6rcLJsHSWu0_pMQz-8

Persahabatan, 2 tahun, Sahabat Selamanya

Tidak hanya Bandung Boys, namun Sahabat SMA pun dipertemukan

Pagi di Bandung kala itu memang sangat dingin, ya maklumlah, hujan semalam, sejak selesai walimahan hingga kembali ke Markas Besar, tempat saya beristirahat, tidak kunjung berhenti. Namun itulah nikmat yang Dia berikan, dan bagi saya pribadi, hanya ada rasa syukur yang harus terpanjat. Kebiasaan lama memang, tidak nyaman memang jika tidak mencoba sedikit membagi masakan yang dipelajari bersama mereka, para Bandung Boys.

AvbWdOuDaKVbS-zJQyd1-gyfSf5OXmHBRyfS-CsZ56vA

Berbagi bersama Bandung Boys di MaBes, Makanan ala kadarnya

Saya minta Fadly untuk membeli sayur dan beberapa bahan masakan untuk dibeli di pasar terdekat. Ya maklumlah, Bandung di kala pagi, terutama daerah dekat kontrakan ini, banyak sekali pedagang sayur-mayur yang menjajakan dagangannya sejak waktu subuh. Tidak berpikir lama, dia pun menyegerakan membeli bahan-bahan bersama Hifni di warung terdekat. Selang beberapa menit, akhirnya mereka pun tiba. Langsung saja saya minta mereka yang berada di asrama untuk memontong-memotong bahan-bahan yang telah dibeli. Selang potongan sayur dan bahan lainnya sudah siap, saya minta Raka mengulek sambal, sedangkan Hifni sibuk untuk menanak nasi. Minggu pagi itu, memang menjadi sangat istimewa, karena selain sibuk untuk memasak bagi rekan-rekan Bandung Boys, Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk bertemu dengan dua rekan SMA yang sudah hampir 4 tahun lebih, lama tidak bertatap muka dan mendengar kabar dari mereka, Ajang dan Romi.

Pertemuan yang Allah rencanakan memang begitu indah, di Kota Bandung, Kota Kembang, meskipun hanya tidak lebih dari 2 jam bertemu, namun begitu banyak yang dibincangkan. Mulai dari masalah-masalah kecil hingga masalah-masalah yang menyentuh tentang prinsip. Ajang dan Romi, dua sahabat yang memilih untuk melanjutkan studi di kampus di Bandung dan mereka memang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan muslim di kampus tersebut. Gamais menjadi salah satu bagian cerita yang pernah mengisi sisi kehidupan mereka yang kini telah beranjak menjadi sarjana lulusan kampus ternama ini. Semoga esok, kita akan bertemu dalam kondisi yang lebih baik kawan, dalam keberkahan di jalanNya, dan dalam sebuah kondisi yang menjadika kita mampu membawa mimpi-mimpi ini menjadi kenyataan karena kecintaan pada bangsa dan tanah air Indonesia. Begitulah sebuah perjalanan ini diskenarionakan olehNya. Perjalanan ini tidak akan berhenti hanya di Kota Bandung ini, ada sebuah perjalanan yang harus dilanjutkan ke kota selanjutnya, yaitu Kota Bogor, tempat yang menjadi tujuan bagi saya dan Lutfi, sahabat saya, untuk menuntut ilmu. Bukankah Rasulullah pernah menyampaikan sebuah hadist,” Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”. Ya begitulah harusnya seorang pencari ilmu, belajar dan menuntut ilmu dari seorang ahli, ke manapun dia berada maka langkah kaki ini akan tetap mengikutinya, walaupun ia berada jauh di sana, karena ilmu adalah cahaya, cahaya yang berasal dari Rabb kita, yang menjadikan kita menjadi orang yang pandai, bersyukur, dan tentu saja tetap rendah hati.

Raka dan Jhovy, hari ini mengantar kepulangan saya, Lutfi, dan Jilul menuju Kota Depok untuk transit terlebih dahulu di PPSDMS, rumah peradaban, dan rumah kepemimpinan, yang pernah mendidik kematangan objektifitas kami. Kota Bandung, kota yang sudah pernah didatangi sebanyak tiga kali, dan mampu memberikan kisah-kisah yang banyak mengajarkan hikmah, dimulai dari sebuah kisah persahabatan hingga sebuah kisah yang mengajarkan untuk selalu hidup dan berbagi dengan saudara-saudara lainnya. Semoga kelak kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang jauh lebih baik. Teringat sebuah kata-kata dari seorang kakak kelas yang pernah membagi kisah-kisahnya,”See You on Top”. Sampai jumpa Bandung Boys, semoga kelak kita akan membagi kisah inspirasi dan tetap berbagi untuk menjaga idealisme yang pernah kita tempa bersama. Selamat berjuang juga, bagi saudaraku, Romi dan Ajang, semoga kalian tetap akan mampu menjaga idealisme kalian, dan tetap menjaga api mimpi untuk Madura yang lebih dan bermartabat. Sampai jumpa Bandung.

Saudara itu ibarat jendela dan kusen yang harus dipasang pas dan klop. Begitu juga persahabatan ini bagaikan keduanya, saling melengkapi dan menutupi kekurangan saudaranya. Perjalanan menapakkan kaki di tanah Bandung, yang katanya tanah bagi para mojang dan jejaka Bandung yang pada kasep-kasep, benar-benar menjadi perjalanan ketiga setelah beberapa tahun sebelumnya menginjakkan kaki di stasiun yang sama, yaitu Kiara Condong. Tujuan saya ke Bandung sebenarnya adalah sebuah transit perjalanan sebelum menuju Bogor untuk mengikuti workshop di IPB, sama seperti saudara saya sebelumnya, Adit, yang telah menunaikan tugas menuntut ilmunya di sana.

Walimatul ‘Ursy, Selamat Berbahagia Bagi Bandung Boys

AtJcdab_speXiD-lLWxJvvInxKAoMzRzeHmaGrqLF6I3

Pasukan Bandung Boys Angkatan 6 dan 7

            Bandung, kota kembang, tepat pukul 23.30 kereta menghentikan perjalanannya di Stasiun ini. Stasiun yang kedua kalinya saya kunjungi dengan tujuan berbeda, pertama untuk mengikuti Latihan Gabungan Barat yang dulu dilaksanakan di Bandung, dan tujuan kedua untuk mengunjungi saudara-saudara yang disatukan dalam perjuangan, yaitu Bandung Boys, sekaligus menghadiri walimatul ‘ursy salah satu sahabat, yaitu Arif Nur Pratomo.

Suasana dingin kala itu, menyambut kedatangan saya, yang kala itu dengan polosnya tidak membawa jaket untuk dikenakan. Endang, salah satu Bandung Boys yang menjemput saya malam itu, dengan senang hati dia berangkat dari kontrakannya di Dipati Ukur ke stasiun dan mengantarkan saya menuju MaBes (sebutan bagi kontrakan Bandung Boys 6) di daerah Tubagus. Ya, Bandung tidak ubahnya kota-kota besar lainnya, tengah malam pun bagaikan suasana malam yang tidak mengenal larut. Aktivitas mahasiswa, mobil, pesepeda motor, dan penjaja kuliner malam Bandung terus terlihat selama perjalanan menuju MaBes. Mahasiswa salah satu institut ternama di daerah ini, terus berlalu lalang mengunjungi setiap warung-warung di pinggir jalan yang menjajakan begitu banyaknya makanan untuk menghangatkan diri di tengah dinginnya malam kala itu.

Akhirnya setelah beberapa menit mengarungi jalanan yang masih ramai dengan aktivitas, sampailah di MaBes, sebuah kontrakan mahasiswa, alumni rumah kepemimpinan angkatan 6, yang masih terjada dengan idealismenya. Sempat bercengkerama dengan mereka, mengingat masa-masa ketika masih tertanam idealisme di rumah peradaban, tempat tempaan kawah candradimuka. Fadly, Fuad, Mawla, Eka, Denny, Darmadi, Raka, dan Hifni, merekalah orang-orang yang berada di MaBes ini, dan menyebutnya sebagai markas besar. Ya, tidak terasa pagi pun, pukul 02.30 menyapa kami, ditambah kami pun kedatangan personel lama, yakni Aby yang saat ini berada di Depok, Jakarta. Tambahlah kami meninggalkan sejenak waktu istirahat. Alhasil, pukul 03.00 kami sempatkan untuk beristirahat, karena hari ini ada agenda saudara kami, Arif, yang tidak ingin dilewatkan, yaitu walimatul ‘ursynya di Darut Tauhid, Bandung. Seperti biasa, Adzan Subuh menyapa saya yang kala itu hanya tertidur untuk beberapa jam.

Pagi di Bandung, rasanya begitu berbeda, karena diri ini sedang berada di bumi lainnya, untuk merasakan kenikmatan Allah yang dilimpahkan dari Barat dan Timur. Acara kami di DT, tepatnya pukul 09.30, akad nikah akan dimulai. Segeralah kami bergegas dan menghubungi salah satu saudara kami, Yahya, untuk membersamai kami menuju DT. Tepat pukul 09.30 kami sampai di DT dan menuju Masjid DT untuk segera bertemu Arif dan melihat sebuah ucapan sakral, yaitu Ijab Qabul yang akan diucapkannya untuk menyempurnakan agamanya dalam sebuah ikatan pernikahan karena Allah. Proses yang berlangsung khidmat ini pun akhirnya dapat diselesaikan dengan penuh kelancaran. Selamat berbahagia Arif, semoga sakinah, mawaddah, dan warahmah ya.     

            Acara pun dilanjutkan pada resespsi pernikahan. Hampir semua personil Bandung Boys pun datang dan berkumpul dalam acara ini. Acara yang begitu sederhana, namun begitu meriah. Seperti biasa, Bandung Boys pun tidak sendiri, ada Jilul, dari Heroboy, saya, Lutfi, dan Nisa, dari Nakula dan Srikandi yang juga turut hadir dan memberikan doa terbaik untuk saudara kami ini. Ya begitulah saudara, membagi kebahagiaan dan kesenangan dengan saudara lainnya. Sempat terucap dari Arif,”Wah, ada orang jauh.” Namun, bagi kami Yogyakarta-Bandung adalah sebuah perjalanan singkat yang tetap dapat kami tempuh selama kaki ini masih diberikanNya kemudahan dan kelancaran dalam melangkah. Bagi kami Yogykarta-Bandung adalah sebuah perjalanan penuh hikmah, selama masih ada kesempatan yang diberikanNya untuk membagi doa dan membagi cerita bagi setiap mimpi-mimpi yang sudah disusun di saat pertama bertemu dalam sebuah acara nasional di Depok kala itu, dalam sebuah MHMMD. Selamat berbahagia kawan, saudara, dan sahabat kami, Arif, semoga keluargamu akan menjadi keluarga yang menjadi inspirasi dan menjadikan putra-putrimu kelak sebagai calon-calon pemimpin masa depan yang lahir dari sebuah keluarga yang memiliki visi dan misi bersih untuk membangun peradaban Bangsa Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

AsG4Do2ZAzc8Qtp32R3nbnW8DSAp4YpxCBUq1KQdNYHF

Heroboyo, Nakula, dan Srikandi 6, selamat berbahagia saudara kami, Arif N. P.

Kesempatan menggores pena kembali di halaman ini. Perjalanan Yogyakarta-Bandung dan berakhir di Bogor. Alhamdulillah, kembali Allah memberikan kesempatan untuk berjalan dan bertemu kembali dengan saudara-saudara di Bandung dan Bogor. Berawal dari rencana untuk mengikuti Workshop di Kampus IPB Bogor, saya sendiri memilih untuk menuju Bandung terlebih dahulu, sekaligus bertemu dan bersilaturrahim dengan rekan-rekan sejawat di Bandung, yang dijuluki Kota Kembang. Perjalanan dimulai dari Stasiun Lempuyangan menuju Stasiun Kiara Condong, stasiun terakhir bagi kereta ekonomi menuju Bandung.

Belajar Makna Ketulusan Ibu

Melewatkan perjalanan menuju Kota Bandung, banyak hal-hal yang ditemui selama perjalanan di dalam kereta ekonomi Pasundan. Ya, kereta yang berangkat dari Surabaya ini berhenti pukul 14.30 di Stasiun Lempuyangan, terlambat 30 menit dari jadwal yang seharusnya. Bertempat di Gerbong 1, saya pun mencari tempat duduk saya di bangku 15 C. Sebenarnya dalam perjalanan ini saya tidak sendiri, ada dua rekan saya lainnya yang juga membersamai perjalanan menuju kota kembang dan kota hujan, Bandung dan Bogor.

Perjalanan di dalam kereta dengan suara roda dan rel kereta yang bersentuhan, melewati area persawahan di jalur K.A. Pasundan memberikan suasana yang begitu menyenangkan. Alam dan nuansa pedesaan yang masih terasa hijau begitu memberikan kenyamanan selama perjalanan ini. Entah tidak disadari, saya memberanikan diri menyapa dua orang ibu yang berhadapan duduknya di dalam kereta. Sempat ragu awalnya dan sedikit canggung, namun silaturrahim itu tidak harus mengenal, tetapi melalui pertemuan singkat pun bisa menjadikan diri ini dapat memperat ukhuwah dengan orang lain, meskipun tidak mengenalnya, bahkan bisa jadi ada sebuah nilai kehidupan yang dapat diambil dari peristiwa itu. Alhasil, beranilah saya untuk berbincang dan mengobrol banyak dengan ibu tersebut.

Perbincangan saya dan kedua ibu tersebut ternyata cukup akrab, beliau bercerita banyak tentang anak-anaknya bahkan secara tidak langsung banyak bercerita bagaimana keluarga mereka dibentuk dan bagaimana mereka mengambil peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Tidak jarang sesekali, perbincangan aktivitas saya sebagai mahasiswa ditanyakan, aktivitas mengaji di kampus pun ditanyakan, bahkan sempat bertanya mengenai peran kedua orang tua saya mendidik saya hingga sampai seperti saat ini. Ibu Pur, salah satu wanita yang memiliki paras layaknya seorang guru ketika berbincang, berasal dari Surabaya, ibu ini banyak menceritakan bagaimana ia banyak mengajarkan makna filosofi kehidupan kepada anak-anak di keluarganya, bahkan tidak jarang beliau juga menceritakan tentang bagaimana ia menguatkan anak pertamanya ketika berada dalam kesulitan saat mencari sekolah lanjutan, hingga kemudian sang anak mampu melewati masa sulitnya dan memantapkan hati  memiliki salah satu sekolah favorit di negeri ini. Ibu Wati, seorang ibu asal Yogyakarta, juga menceritakan bagaimana ia membesarkan anak-anaknya, termasuk bagaimana ia memberikan perhatian lebih kepada anak keduanya yang saat ini sedang berkuliah di perguruan tinggi negeri favorit di negeri ini. Keduanya banyak memberikan cerita-cerita inspirasi sebagai sosok ibu yang memberikan haru dan menjadikan saya mengingat sosok ibu yang selama ini membesarkan saya sebagai seorang anak.

Perbincangan singkat itupun harus terhenti di Stasiun Kiara Condong, Bandung. Sebelum berpisah, saya hanya menyampaikan, semoga esok dapat bertemu kembali dan menyambung tali silaturrahim ini dalam kondisi yang lebih baik. Dalam perjalanan keluar dari kereta, saya begitu paham bahwa sosok orang tua adalah sosok yang mendambakan putra dan putrinya untuk selalu lebih baik darinya, bahkan jika boleh, orang tua berharap anak-anak mereka akan mampu membawa mereka pada arah yang lebih baik dengan ilmu yang mereka miliki, entah ilmu agama bahkan ilmu dunia. Selama mencari sahabat saya, Endang untuk menuju ke rumah saudara di Markas Besar rekan-rekan Bandung, saya jadi teringat, sosok ibu yang saat ini berada jauh di Kalimantan Selatan. Beliau pernah berpesan, seorang ibu selalu menginginkan anaknya menjadi anak sholeh dan sholehah serta mampu membawa kedua orang tuanya menuju Jannah-Nya bersama-sama. Itulah ketulusan seorang ibu, tidak peduli dalam sebuah keluarga apa, namun dalam hatinya ia akan selalu berdoa demi kebaikan anak-anaknya.