Archive for the ‘Hikmah’ Category

Kembali kepada Niat

Posted: January 30, 2017 in Hikmah
Tags:

“Segala sesuatunya bergantung pada niat”
Inilah penggalan dalam satu hadist pertama dalam Hadist Arba’in

Semuanya memang kembali pada niat orang tersebut. Aktivitas mahasiswa memang masih dienyam sampai saat ini. Jikalau dulu sebagai mahasiswa S1, kini Allah berikan kenikmatan untuk mengenyam pendidikan S2 bahkan di negeri Sakura, Jepang. Negeri yang terkenal akan adab ketimuran yang masih terjaga, dengan setiap nilai kejujuran, nilai keteraturan yang dimiliki di dalamnya. Aktivitas menjadi mahasiswa, tidak lantas kemudian menutup dan menghentikan aktivitas untuk mengaji, karena di sinilah bekal rohani dipersiapkan, selain karena memang mengaji adalah kebutuhan. Ya, mengaji baik dalam hal Al-Qur’anul karim, maupun mengkaji setiap panutan kehidupan yang berada dalam Al-Qur’an dan telah dicontohkan oleh sebaik-baiknya panutan yakni Rasulullah SAW, dalam setiap perkataan, perbuatan, dan bahkan diamnya beliau.

Suatu hari, dalam halaqah yang masih Allah berikan kenikmatan untuk menjalankannya, ada seseorang yang pernah mengingatkan mengenai, bagaimana bermujahadah di negeri ini. Dalam perbincangan kala itu, diri yang masih dhoif ini, sempat terlontar mengenai kebiasaan menuju rumah Allah yang begitu, menurut pribadi ini, sulit dilakukan, terutama ketika mengenai Shubuh berjamaah. Lalu seketika, saudara kami berkata,”bukankah malah jauh lebih banyak pahala yang akan diberikan, ketika kamu menjadikan mujahadah menuju rumah Allah di negeri ini dilakukan, tanpa berkeluh kesah, dan ihlas mengikatkan diri pada setiap kebaikan, bahkan mengikat diri pada kehidupan masjid di dalamnya?”, tukasnya. Seketika, kami hanya menanggapi dengan sedikit senyum, yang sebenarnya, pribadi ini menjadi malu. Ia, malu terhadap setiap nikmat yang Allah berikan.

Saya masih teringat, ketika masih berada di negeri tercinta, dengan mudahnya menuju rumah Allah, yang paling hanya berjarak 500 meter dari tempat tinggal. Kebetulan masjid di rumah sangat dekat, hanya selang satu gang dari gang rumah. Suara adzan yang begitu mudah terdengar ketika setiap waktu shalat datang, mudah menjadikan kami mengingat, ia mengingat karena waktu shalat yang datang. Dan ketika di sini, maka sayalah sendiri yang harus mengatur waktu, menjadikan setiap sela-sela eksperimen yang dilakukan sebagai waktu menunggu datangnya Shalat, hingga selalu memperhatikan setiap waktu ia datang. Zaman canggih, bisa sahaja menggunakan waktu pengingat? ia benar sekali, namun kembali, mujahadah pribadi yang harus menguatkan diri untuk pergi menghadap-Nya, bermunajat, dan mencintakan waktu bertemu dengan-Nya. Allah memiliki kehendak yang sangat luar biasa, di mana Allah berikan pembimbing yang begitu mau memahami mengenai waktu shalat, dan bersedia memahami akan kebutuhan yang harus dilakukan saya. Inilah yang membuat saya terkadang malu, karena ini adalah bagian nikmat Allah yang begitu besar, namun terkadang saya terlupa. Allahummaghfirly, Ya Allah. Bahkan, nikmat Allah yang begitu besar lainnya adalah ruang shalat berjamaah kami, yang terletak di gedung saya, dan cukup untuk menunaikan setiap shalat secara berjamaah. Allahummaghfirly…

Bagaimana dengan aktivitas halaqah? Semoga Allah selalu memberikan taufik, hidayah, dan ampunan kepada saya, penulis. Saya hanya ingin membagi perasaan yang tadinya secara sepintas tetiba terbesit. Demi waktu yang Allah sumpahkan dalam Surat Al-‘Asr. Halaqah-halaqah di negeri ini, tidak ada bedanya dengan ketika saya masih berada di negeri tercinta. Ia adalah ladang bagi para perindu ukhuwah yang diikat dengan tali keimanan dan kecintaan kepada-Nya. Mengapa saya mengatakan sepintas terbesit? Ya, ketika mengingat tentang kajian, saya teringat ketika dulu berada di Yogyakarta. Kota yang setiap kanan dan kiri, depan dan belakangnya, dipenuhi dengan beragam informasi mengenai kajian di masjid ini, masjid itu, dan sebagainya. Lalu di sana saya teringat, ketika banyak informasi kajian, terkadang rasa malas pun datang, dengan alasan macet, jauh, harus keluar uang bensin, malas karena harus menjemput teman, hujan, dan sebagainya. Saya teringat semua alasan-alasan yang bisa jadi bermunculan dengan tujuan pada akhirnya menjadi kalimat ampuh agar pada akhirnya tidak datang dalam pada kajian. Allahummaghfirly, ya Allah…

Hal yang terbesit adalah bagaimana ketika saat ini, kajian hanya ada dalam setiap pekan sekali, di mana hanya bisa hadir ketika Sabtu dan Minggu? Dalam hati, saya seperti melihat Allah sedang menguji nafas keimanan. Ketika tidak ingin datang, pastilah begitu banyak alasan yang bisa diberikan, apalagi kini Allah sedang memberikan kedudukan untuk menempuh ilmu dari sebelumnya. Ketika akan datang, berniat datang, yang padanya sudah ada catatan kebaikan yang ditulis oleh malaikat, maka sedikit godaan akhirnya pun datang, dengan perlahan ia menggerogoti keinginan untuk datang. Ketika menulis ini, saya hanya merenung…

Ya Allah, ketika dulu masih harus berkendara, malas pun masih melanda…
Namun, kini, ketika hanya harus berjalan, dan duduk manis dalam perjalanan kereta,
Malas pun masih melanda…
Ya Allah, ketika dulu, masih meminta teman menjemput, malas pun masih melanda,
Namun, ketika kini, hanya tinggal duduk manis dalam bus, yang senantiasa datang dengan jadwalnya,
Hamba pun masih memiliki malas…
Ya Allah,
Hamba sering berkata, hamba menginginkan Syurga Firdausmu…
Namun, ketika kesempatan bermujahadah begitu besar,
Masih saja ada malas dan lengah yang hamba sendiri perbuat…

Sedikit renungan ini, bagaikan menampar pribadi sendiri, karena terkadang pribadi tidak pernah bersyukur dalam memaknai setiap kenikmatan yang Allah berikan.
Lalu amatlah benar, ketika pribadi ini, tertegur dengan kalimat yang Allah berulang katakan dalam Surat Ar-Rahman…
“Fabiayyi Ala Irabbikuma Tukadzdziban”, ‘maka nikmat Tuhanmu manakah yang akan engkau dustakan?’

Saya pun sadar, kini hanyalah niat yang akan menjadikan ketulusan dan keihlasan terpancar…

Tokyo, 30 Januari 2017
Seorang yang masih ingin terus belajar dan memaknai setiap proses kehidupan yang dipilih dan dilekatkan pada takdir Rabbnya

Advertisements

Diam atau Bergerak?

Posted: July 26, 2016 in Hikmah
Tags: , , , ,

Saya ingin membagi sebuah ungkapan yang pernah saya dapat ketika pernah tinggal seasrama bersama mereka, para raksasa-raksasa kampus, yang kini, mereka pun telah menyebar ke dalam dunia yang menjadi fokus keinginan mereka untuk menebar manfaat dan kebaikan, dalam hal apapun.

Ketika dikumpulkan bersama dalam sebuah rangkaian kegiatan yang diadakan di Gunung Salak, saya ingat sekali kala itu, selepas shalat Isya’ kami berkumpul, merapatkan barisan dan shaf-shaf duduk kami. Kala itu, abang kami, sebutlah namanya Bang Bachtiar, diminta untuk memberikan sekapur sirih dalam rangkaian kegiatan itu. Kegiatan ini dilakukan bersama rekan-rekan seasrama lainnya yang berasal dari kampus-kampus lain di Indonesia.

Dinginnya malam, semakin terus membuat kami bergidik kedinginan, namun kala itu  Bang Bachtiar hanya mengenakan kemeja, dan menahan dinginnya malam dengan semangat yang ia bawa untuk mengobarkan semangat kami, para pemuda-pemudi yang kala itu sudah ditempa selama setahun dalam asrama tersebut. Semangat untuk mengingat arti sebuah perjuangan, dan jalan yang kami pilih untuk masuk dalam tempaan berasrama itu. Ya, semangat untuk membawa misi dan visi kelangitan, sebuah misi yang suci dan mulia, dalam materi yang beliau bawakan dalam kajian Training Pengembangan Diri, yang kala itu masih bernama TPD.

Banyak yang beliau sampaikan dalam lantunan kata-kata yang membuat diri ini penuh merefleksikan bahwa begitu jauhnya kekurangan diri ini, dari kata sesuai dengan apa yang pernah beliau harapkan bagi kami, untuk ikut bersama berjuang membangun dan menjadikan diri menjadi agen-agen pembawa misi yang begitu suci dan mulia. Ada sebuah kalimat yang selalu saya ingat, Diam atau Bergerak?

Hidup ini memanglah sebuah pilihan. Allah pun memberikan kuasa yang penuh pada mahkluk-Nya untuk memilih, menjadi baik atau buruk, mendambakan syurga dunia atau syurga akhirat, semuanya adalah pilihan, namun tentu akan memiliki sebuah konsekuensi. Begitu pula memiliki diam atau bergerak? Ketika Diam, maka kita akan terus berada dalam kenyamanan, namun ketika bergerak, maka tentu saja, kondisi nyaman, kondisi tersudut, kondisi stagnan, kondisi di atas, kondisi di bawah, akan selalu hadapi, dan masih ada pilihan, berhenti atau terus bergerak. Semuanya adalah pilihan.

Bagi mereka yang terus bergerak, ibarat sebuah air, yang mengalir dari hulu ke hilir, terkadang harus melewati celah sempit, hingga akhirnya bertemu dengan derasnya aliran air di hilir yang membawa mereka terus bergerak, hingga akhirnya menemukan luasnya samudera. Bagi mereka yang diam, ya mereka pun juga ibarat air, yang awalnya mengalir, lalu kemudian berhenti dari alirannya, memilih untuk tergenang, dan terus tergenang hingga akhirnya pun kering.

Hidup semuanya adalah pilihan, sekali lagi apaka kita memilih untuk bergerak atau diam? menjadi aliran yang menghijaukan lahan-lahan yang dilewatinya, ataukan menjadi genangan air, yang mengeruh dan akhirnya mengering?
Hidup adalah pilihan…

 

Tokyo, Adachi-ku
26 Juli 2016

Meneguhkan Keimanan

Posted: June 12, 2016 in Hikmah, Puisi
Tags: , ,

Keimanan,
Begitu mudah lidah ini mengucap
Aku beriman…
Iya,
Aku beriman pada rukun Iman yang 6
Aku pun beriman pada rukun Islam yang 5,
Ya,
Aku beriman…
Aku beriman…
Namun, Keimanan bukanlah hanya ucapan
Keimanan tidak sekedar ada pada manisnya lisan,
Ia membutuhkan bukti dan aplikasi,
Ia membutuhkan tindakan aksi…

Keimanan,
Hal yang selalu Rasulullah ingatkan dan tekankan
Fondasi dari setiap hal yang terlaku pada diri ini,
Cerminan bagi setiap orang yang meneguhkan dirinya
hanya pada Khaliq-nya semata…

Keimanan,
ia yang menjadi jalan syahidnya Sumayyah binti Khayyath,
ia pula menjadi jalan syahidnya Yasir bin Amir
dan ia lah yang menjadi kekuatan dan keberanian Bilal,
melantangkan “Ahadun Ahad…”

Keimanan,
Fondasi yang Rasulullah dakwahkan selama fase Mekkah,
Jalan yang menjadi penguat Ja’far bin Abi Thalib untuk berhijrah ke Habasyah,

Allah Ya Karim,
Inilah jalan yang telah Rasul-Mu tunjukkan,
Inilah jalan para Khalifatur Rasyidin,
Para Salafush Shalih, Tabi’in, Umara, dan pemimpin ummat kami terdahulu
Genggam hingga akhir hayat menemui-Mu…

Allah Ya Karim,
Cukupkah keimanan kami saat ini untuk menghadap-Mu?

*Jepang, Tokyo (8 Ramadhan 1437 H)

Ridhomu, adalah Ridho-Nya

Posted: April 16, 2016 in Hikmah, Perjalanan
Tags: , ,

IMG_1965[1]

Di sebelah kiri, Bapak dan Ibu, dan di sebelah kanan saya, Bu Lek.

Mungkin saya sendiri, menjadi pribadi yang banyak belajar. Menempuh studi lanjut master di negeri sakura, yang luar biasa jauhnya dari Indonesia. Rindu? Pasti. Baru saja saya akan berangkat, entah masih ada rindu, masih ada rasa yang belum terpuaskan untuk di Indonesia. Namun, sekali lagi, Safarlah, karena kita pun harus mencari ilmu, dan mendatangi ilmu.
Bukankah mereka para pencari sanad, berkelana, dari negeri mereka, menuju negeri rasulullah, bertemu para sahabat, mengembara kembali dan menuju negeri-negeri yang ditempati oleh para sahabat, untuk menyebarkan Islam dan pengetahuan yang Allah siratkan dalam Al-Quran?

Safarlah…
Ini yang menguatkan diri ini untuk kemudian mau berpisah jauh dari mereka. Selain itu, karena mereka pun ridho, saya pun yakin, Allah pun akan ridho dengan perjalanan ini. Tiada lain yang menjadikan diri ini rindu, jikalau bukan karena ingin terus membuat mereka tersenyum, dengan cara apapun, meskipun terkadang, sedikit saya membuat mereka kesal. Namun, mereka tetap melemparkan senyuman, meskipun sesekali, menasehati dengan cara yang ahsan, untuk kebaikan saya.

Safar dan belajarlah…
Karena di sini saya akan menemukan keluarga baru, menjalin silaturrahim baru, dan memiliki ikatan persahabatan yang baru. Inilah alasan, yang selalu saya sampaikan pada mereka ketika akan pergi, entah ke manapun, meskipun itu hanya ketika mengikuti kegiatan sekecil apapun.

Doakan anakmu ini, agar terus menjadi anak yang besyukur dan terus memberikan kebahagiaan untuk keluarga, dan untuk negeri di mana kaki ini memijak tanah-Nya. Karena satu pesan, yang saya ingat ketika akan pergi meninggalkan negeri ini, sebuah ucapan dari ibu dan bapak,”InshaAllah, Ikhlas, Ridho, dan Hati sudah lega”.

 

Surabaya,
Terminal 2 Juanda International Aiport

Life is a Gift

Posted: March 25, 2016 in Hikmah
Tags: ,

What do I think about life?

I just say Allah has written our journey in His Lauh Mahfudz, in fact, we either accept or not. Life is an accumulation of choice we face, and sometimes, we need to choose the proper chance that bringing us to the next stage.

Life is a candle given by Allah for kept and giving the light to others people, but not to burn its own self. This life should be faced by sincere and a feeling to respect people around us.

Our life has its own story that can not be mixed with others people story, but it could be fulfilled by other ones. We have our own life and we decide who we are.

Respecting our life will give us a feeling of how others trying to make their own life valuable and respectable.

Just thanks to Allah for every moment we have in this life and do what Allah orders to us, thus bringing into His True Way.

Air Mata Sang Perindu

Posted: October 15, 2015 in Hikmah
Tags: , ,

Ia datang dengan lirih dan penuh lusuh. Tampak dari kejauhan ia begitu penat dengan segala aktivitas yang dilakukannya pada pagi hingga sore. Dalam beberapa tarikan nafas yang diambilnya, masih saja ia teta berdzikir kepada Rabbnya. Pemuda bertubuh kecil itu pun paham, bahwa apa yang telah dilakukan olehnya adalah sebuah scenario yang telah ditakdirkan oleh Rabb Semesta Alam. Sekali dalam tarikan nafasnya ia pun beristighfar dengan memejamkan matanya. Pemuda yang mencoba untuk menjalani rutinitiasnya itu kini pun mencoba beristirahat sejenak dari kepenatan hidupnya.

Pemuda itu pun kemudian berdiri dan melanjutkan separuh perjalanannya menuju rumah yang kini ia tinggali sebagai hasil dari jerih payah kedua orang tuanya, yang terlebih dahulu wafat. Pemuda murah senyum, yang oleh teman-temannya itu disenangi, pada akhirnya melirihkan dizkir yang ia panjatkan sembari menyusuri jalan menuju pulang ke rumahnya.

Pemuda yang dalam tenangnya ia memikirkan kehidupan bangsanya, berjalan penuh harapan. Ia menatap pada sang rembulan, dan berkata,”Malam ini, aku berjalan dalam terangnya malam atas anugerah-Mu”. Ya, dialah pemuda yang memiliki air mata di kala dalamnya berfikir. Ia lah sang pemuda yang selalu memberikan visi dan misi kehidupannya untuk berbagi bersama orang-orang terdekatnya, rela berkorban demi kemaslahatan dan kesempurnaan orang lain, namun tidak pernah melupakan akan kebutuhan pribadinya.

Suatu hari, sang pemuda, menyusuri kota dengan penuh gedung bertingkat. Ia pun hanyut dalam keriuhan ramainya kota metropolitan. Ia membaur laksana tiada apapun yang membatasinya, namun hadir sebuah kegelisahan, saat ia pun harus melewati banyaknya rumah dan perkampungan yang masih berada di bawah kolong jembatan, namun tidak mendapatkan penghidupan layak. Sekali lagi, dalam perjalanannya, ia menjadi orang-orang yang bergetar hatinya. Sang pemuda, meneteskan air mata yang sekali lagi, ia rindukan sebuah kesejahteraan, namun masih nampak, dan tidak kunjung muncul. Berulang kali, tetesan syahdu air matanya, terteteskan kala ia pun mendengar begitu banyaknya anak-anak yang kelaparan, tidak memiliki rumah, terjerumus dalam lubang penjualan anak dan ekploitasi anak. Ia pun terus berjalan dalam pikirnya,”Apa yang sedang negeriku hadapi? Apa yang sedang negeri ini jalani?”. Dalam baginya untuk terus berpikir. Ya, dialah pemuda yang selalu meneteskan air mata rindu akan kejayaan negerinya.

Kebaikan yang Berbuah Kebaikan

Posted: September 27, 2015 in Hikmah
Tags: , ,

Jakarta, siapa yang tak mengenal ibu kota negara Republik Indonesia tercinta ini. Hari ini saya menuju ibu kota dengan menggunakan burung besi dari bandara tujuan Juanda, Sidoarjo menuju Soekarno-Hatta, Cengkareng. Dalam perjalanannya menunggu pesawat yang sedang delayed 90 menit, seorang tua sekitar umuran 60 an yang lebih tua dari umur Abi saya duduk di sebelah saya. Sejenak saya pun tak menghiraukan apa yang dilihatnya ketika itu, saat saya sedang melihat youtube dari murottal Syeikh Mishari Rasyid. Tak lama berselang, bapak itu bertanya,”pake wifi bandara ya? Kok lancar internetnya?”. Saya pun menjawab,”Tidak pak, saya gunakan jaringan internet pribadi.” Ternyata percakapan singkat ini  pun terus berlangsung lama, mulai dari membahas asal-usul kami, apa yang akan saya lakukan di Jakarta ini, bahkan perbincangan sempat membahas bahwa ternyata sang bapak ketinggalan pesawatnya yang harusnya beliau terbang pukul 13.00, karena terlambat akhirnya terpaksa ia pun menggunakan pesawat lainnya, dan terbang bersamaan dengan pesawat yang akan saya tumpangi juga.

Lama pembicaraan kami terus berlangsung. Banyak cerita yang beliau utarakan, sehingga saya pun tahu, ternyata beliau berasal dari Nias, Sumatera Utara. Ditengah-tengah percakapan, beliau menanyakan tujuan saya ke Jakarta, dan saya pun menyampaikan bahwa saya akan menuju wilayah Depok, Wisma Hijau. Seketika itu pun beliau menanyakan tentang kepastian saya yang akan menuju daerah tersebut terutama terkait kendaraan yang akan ditumpangi. Meskipun ini adalah kali kedua bagi saya menuju tempat tersebut, tapi saya masih ragu, karena begitu malamnya saya akan tiba di tempat tersebut, bahkan bisa jadi tengah malam, yang dalam banyak benak orang, Jakarta dan seorang diri di tengah malam, maka bisa jadi kota ini tidak akan begitu ramah.

Beliau pun akhirnya mencoba memberikan berbagai saran dan alternatif untuk mencapai daerah saya tadi yang notabene ternyata rumah beliau pun masih searah dengan lokasi yang akan saya tuju. Pukul 20.15 WIB pesawat yang akan kami tumpangi pun siap dan kami pun langsung melakukan boarding pass. Sebelumnya kami telah melakukan appointment untuk bertemu di pintu keluar dan bersama-sama menggunakan bus. Hal yang terpikir bagi saya kala itu adalah siapa bapak ini? Meskipun baik, tapi tetap saja kita bertanya siapakah beliau yang kemudian secara rela mau mengantarkan bahkan bertanggung jawab pada saya yang notabene adalah orang yang baru dikenalnya di bandara? 1 jam 20 menit perjalanan ditempuh, dan pada pukul 22.06 WIB pesawat ini landing di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sempat terlintas dalam benak saya kala itu,’ah sudahlah, saya tinggal saja menggunakan taksi bapak tadi, toh pada akhirnya saya pun langsung menuju lokasi saya’. Tapi niat tersebut urung dilakukan, karena saya tahu saya berjanji akan menemui beliau di pintu keluar setelah mengambil bagasi.

Waktu pun terus berjalan, sehingga pada akhirnya kami memutuskan untuk menaiki bus dengan tujuan Pasar Minggu. Kala itu, masih saja terlintas dalam pikiran saya, siapa sebenarnya bapak ini. Di dalam bus beliau kemudian meminta nomor handphone saya, tentu saja saya berikan, dan beliau mengatakan,”Saya perlu simpan nomor ini, takut kalau ada apa-apa, nanti mas bisa telepon saya. Saya bisa bantu mas.” Saya pun hanya memberikan sedikit senyum, namun dalam hati saya pun masih sedikit ada keraguan hingga akhirnya kami pun berhenti di depan sebuah toko modern yang sudah tutup pada waktu, dan mencari kendaraan taksi yang biasa kami pakai. Di dalam taksi pun, sang bapak ini meminta saya mencatat nomor pintu taksi beserta sopirnya, bahkan beliau pun juga mencatatnya.

Banyak percakapan yang beliau sampaikan dengan sopir taksi, bahkan kala itu bagi saya, sang bapak ingin meyakinkan agar sang sopir tidak macam-macam dan memberikan pelayanan terbaiknya bahkan agar tidak berbuat curang, karena kondisi tengah malam dan sangat rawan kala itu. Tiba akhirnya beliau sampai di depan rumahnya dan menyampaikan pada sang supir taksi agar mengantarkan saya ke lokasi yang saya tuju.

Cerita di atas mungkin termasuk cerita yang meloncat dan tak beralur. Namun, bagi saya banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari peristiwa yang malam ini telah dijalani. Pertama, saya adalah orang yang baru mengenal bapak tersebut. Namanya adalah Bapak Eli, seorang perantau asal Nias yang telah menetap di Jakarta sejak 1981. Beliau baru saja pulang dari Malang, yang kebetulan sedang mengunjungi anaknya yang bersekolah di salah satu universitas ternama di kota tersebut. Perawakan beliau kala itu, bagi saya yang baru mengenalnya, beliau tampak seperti orang yang biasa namun telah mengenal Jakarta, layaknya preman yang sudah paham betul akan karakter kota Jakarta. Selama di bus, apa yang membuat saya kemudian yakin beliau adalah orang baik? Beliau berpesan bahwa percaya pada seseorang yang baru ditemui adalah 30% dan 70% adalah tetap menaruh curiga. Namun di sela percakapan tersebut, beliau menyampaikan bahwa dirinya benar-benar berniat untuk membantu dan sedikit pun tidak mengharapkan uang ataupun macam lainnya. Kedua, beliau menyampaikan niat menolong saya kala itu adalah hanya untuk membantu, karena beliau yakin, bahwa kebaikan pada seseorang pasti Tuhan akan balas dengan kebaikan lainnya. Itupun beliau utarakan kisahnya ketika beliau mendapatkan bantuan di Kota Malang ketika motornya sedang mogok.

Ya, kebaikan yang akan selalu berbuah kebaikan. Itulah yang disebut sebagai keberkahan. Ketika kita ikhlas membantu saudara kita yang sedang kesusahan dan kita membantu tanpa ada pamrih atau bermaksud meminta imbalan, maka sebenarnya kita sedang menyiapkan kebaikan untuk diri kita sendiri, yang kita pun tidak tahu kapan Tuhan itu akan melepas kebaikan tersebut. Hal ini yang selalu Bapak Eli jaga, jika memang beliau bisa membantu, maka beliau akan membantu dan beliau yakin, suatu saat jika ia membantu saudara atau temannya, pasti beliau juga akan mendapat bantuan ketika sedang dalam kesusahan. Bagi seorang muslim, benarlah Allah yang menulis firmannya dalam Al-Isra’ ayat 17 yang artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,…”(QS. Al Isra (17):7). Kita akan menuai sesuai dengan apa yang kita tanam selama kita hidup. Semoga akan selalu banyak hikmah yang dapat diambil dalam setiap perjalanan yang akan saya lalui.

Bertemu Dalam Do’a

Posted: September 25, 2015 in Hikmah
Tags: , , , ,

Sebuah kalimat yang bagi saya begitu sangat mengena ketika kita akan berpisah dengan mereka yang kita sayangi atau rindukan,”Bertemu Dalam Doa”. Ketika dulu pergi ke Raja Ampat dan mengabdi di sana, selalu saja pikiran ini terbayang akan keindahan dan pengabdian yang sudah dilakukan, bahkan terkadang sampai tidak bisa untuk tidak berkirim pesan kepada masyarakat di sana. Rasanya keluarga di sana telah menjadi bagian keluarga sendiri yang baru bertemu 2 bulan namun telah menjadi bak keluarga yang sudah mengenal bertahun-tahun.

Namun, hal yang sama pun masih terus dirasakan, meski sudah hampir lebih dari satu tahun lebih telah berlalu. Ruang rindu yang masih tetap ada, api semangat mengabdi yang masih terus terjaga, bahkan api harapan yang selalu akan dijaga, hingga suatu saat nanti mampu memberikan yang terbaik bagi tempat pengabdian kami dulu, Fafanlap, Raja Ampat.

Menemukan keluarga baru bagaikan menemukan sebuah permata yang kita harus tahu kerasnya, kilaunya, bahkan harganya. Namun, dibalik itu kita akan mengenal pribadi-pribadi baru dan menyenangkan bahkan sikap-sikap unik yang akan menambah kebahagiaan bagi kita sendiri. Saya tidak tahu dan saya terus berpikir, apa yang Allah rencanakan dalam perjalanan ini, keluarga baru yang terus saya temukan, dalam lingkaran-lingkaran kebaikan, bahkan dalam lingkungan orang-orang yang terus memberi inspirasi dan semangat.

Semoga kita terus bertemu dalam doa, keluarga-keluarga yang Dia berikan untuk membangun negeri ini, keluarga yang terus menjadi api semangat dan api harapan, keluarga yang terus menyebarkan inspirasi dari satu pribadi ke pribadi lainnya.

Semangat baru dalam setiap perjalanannya, inspirasi baru dalam setiap aktivitasnya, dan harapan baru dalam setiap pribadi yang dijumpai.

-TIM PK-

Sebagai orang yang beriman dan percaya pada rukun Iman, maka mustahil bagi kita untuk kemudian mengabaikan ataupun mungkin tidak mengambil ‘ibrah dari setiap peristiwa dan kejadian yang Allah berikan bagi nabi dan rasul-Nya, termasuk pula Nabi Ibrahim AS. Ummat Muslim di seluruh dunia pun, pada akhirnya akan kembali melangitkan takbir dan merayakan hari besarnya yakni ‘Idul Adha, yang akan jatuh pada 10 Dzulhijjah. Bagi saya pribadi,  tidak ingin hanya karena perbedaan tanggal jatuhnya hari raya tersebut menjadikan kita lupa untuk mengambil hikmah dan pelajaran yang telah Nabi Ibrahim ajarkan melalui peristiwa tersebut.

Dari keturunan Nabi Ibrahim AS., Allah memberikan rahmat yakni banyaknya nabi dan rasul yang berasal dari garis keturunan beliau. Bahkan Rasulullah SAW. pun jika ditarik garis keturunan ke atas, maka Rasulullah memiliki garis keturunan Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang terlahir dari keluarga dengan seorang ayah yang merupakan pembuat patung berhala di kala zaman penguasa Raja Namrud. Namun, hal tersebut tidak membuat Nabi Ibrahim mengikuti agama dan keyakinan ayahnya. Adalah hidayah dan mukjizat dari Allah SWT., Nabi Ibrahim terlahir dengan sikap kritis dan kecerdasan yang luar biasa. Ia mencari sendiri akan kebenaran Rabb Semesta Alam. Dalam Al-Qur’an dikisahkan pada mulanya Nabi Ibrahim AS. mengira matahari adalah Tuhannya, namun ketika malam datang, ia digantikan oleh bulan dan bintang, maka Nabi Ibrahim pun mengira bahwa tidaklah mungkin matahari sebagai tuhannya, namun bulan dan bintang lah tuhannya saat ini. Namun, tatkala malam berganti dengan siang, maka bulan dan bintang pun tiada, berganti matahari. Dengan akal yang Allah SWT. berikan, maka Nabi Ibrahim AS. yang masih muda saat itu, mencapai sebuah kesimpulan yang sangat luar biasa. Nabi Ibrahim AS. pun mengatakan bahwa Tuhannya adalah Dzat Maha Suci yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, yang mempergantikan siang dan malam dengan kesempurnaan-Nya. Itulah sosok Nabi Ibrahim AS. pada masa mudanya yang sudah mampu untuk memberikan kesempurnaan jawaban dengan pemahaman yang Allah berikan melalui kecerdasan yang dimilikinya.

Kisah Nabi Ibrahim, tentu saja tidak cukup di sini. Lalu muncul pertanyaan dalam pribadi, apa yang membuatnya menjadi nabi dengan teladan yang memberikan pelajaran keikhlasan melalui peringatan ‘Idul Adha yang selalu diperingati dengan suka cita oleh seluruh umat Muslim di dunia tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah?

Nabi Ibrahim dalam sejarah Islam dikisahkan menikah dengan seorang perempuan shalihah bernama, Siti Hajar. Dalam pernikahannya tersebut, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar memiliki kesabaran yang luar biasa untuk terus memanjatkan doa agar kemudian Allah memberikan keturunan di usia senja mereka, yang kala itu usia Nabi Ibrahim mencapai 90 tahun. Dalam penantian mereka, doa kepada Allah SWT. terus mereka panjatkan, tanpa ada sebuah keraguan. Sebuah keyakinan akan setiap doa yang akan Allah berikan jawaban dan hal ini pun kemudian berbuah dengan kasih sayang Allah yang memberikan kelahiran seorang putra dari rahim Siti Hajar bernama Nabi Ismail. Sungguh sebuah perasaan yang luar biasa kala itu, seorang putra yang sudah dinantinya bertahun-tahun kini pun telah Allah anugerahkan. Namun, ternyata menginjak usia Nabi Ismail 7 tahun (namun dalam beberapa pendapat dikatakan berusia 13 tahun), Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Kisah ini Allah SWT. abadikan dalam Al Qur’an, Ash-Shaffat 100-107, yang artinya:

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang  yang saleh.(100)
Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101)
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(102)

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).(103)
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,(104)
Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, Sesungguhnya demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. .(105)
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.(106)
dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.(107)

Dalam kisah tersebut jelaslah bahwa Nabi Ibrahim kemudian berdialog dengan Nabi Ismail dan menanyakan terkait pendapat Nabi Ismail akan perintah Allah tersebut. Apa yang kemudian terjadi adalah sebuah hikmah di mana seorang Nabi Ismail tidak menolak apa yang sudah diperintahkan Allah kepada ayahnya, Nabi Ibrahim, bahkan Nabi Ismail pun ikhlas jika hal ini merupakan perintah dari Rabb Semesta Alam. Allah SWT. pun pada akhirnya mengganti Nabi Ismail dengan hewan sembelihan lainnya. Hal inilah yang kemudian mendasari adanya hari raya ‘Idul Adha.

Namun, apa yang kemudian dapat diambil dari peristiwa tersebut?

Dari peristiwa tersebut, penulis mencoba untuk mengambil sebuah hikmah yang sekiranya dapat diambil dari perisitiwa tersebut.
1. Ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terhadap perintah Allah SWT.
Berdasarkan kisah tersebut, maka kita sebagai umat muslim dapat melihat, bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memiliki ketaatan yang penuh atas perintah Rabb-Nya. Tidak ada tawar menawar dalam menjalankan syari’at yang sudah Allah gariskan, hal ini terlihat meskipun berat atas perintah tersebut, namun Nabi Ibrahim tetap melakukannya sesuai dengan perintah yang diberikan. Hal ini harus menjadi semangat bagi kita, terutama penulis, untuk terus menjadikan diri sebagai seorang yang bertakwa dalam kekaffahan tanpa mencari alasan apapun untuk pembenaran karena emosi dan nafsu yang timbul dari diri kita sendiri.

2. Dialog santun Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail yang memperlihatkan pendidikan akhlak dan moral
Dalam masalah pendidikan akhlak dan moral, dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan sebuah percakapan yang demokratis namun kemudian mengikat dan dipertanggungjawabkan. Kesantunan seorang Nabi Ibrahim yang notabene adalah seorang ayah menjadi sebuah pembelajaran bagaimana kemudian Nabi Ibrahim tetap mengajarkan dialog santun dan penuh akan pembelajaran moral dan akhlak. Nabi Ibrahim tidak semena-mena atau mungkin langsung memaksa, namun Nabi Ibrahim tetap menanyakan perihal perintah Allah tersebut kepada Nabi Ismail. Begitu pula Nabi Ismail, tidak kemudian menyatakan menolak dengan kasar, bahkan beliau pun menjawab dengan memberikan ketenangan kepada Nabi Ibrahim untuk kemudian menjalankan perintah Allah SWT. Hal inilah yang dapat diterapkan, bahwa pendidikan yang tepat dengan penguatan keagamaan akan menjadikan sebuah keluarga, bahkan komunikasi dalam keluarga menjadi tenang dan menenangkan.

‘Idul Adha bukanlah sekedar sebuah simbol perayaan hari raya saja, namun harus menjadi sebuah manifestasi dalam mengambil hikmah agar kemudian dapat membangun kehidupan yang lebih baik dan berkualitas ke depannya. ‘idul Adha tidak kemudian hanya menjadi sebuah ritual saja, namun kemudian harus dapat diambil esensi dari peristiwa yang melatarbelakanginya, bahkan harus menjadi refleksi bagi semua umat muslim untuk mengambil setiap ‘ibrah dari peristiwa yang telah terjadi. Semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai orang yang selalu mengambil hikmah dalam setiap perisitwa dan selalu memberikan hidayah dalam setiap perjalanan kehidupan kita menuju Surga-Nya.

Daftar Acuan:
1. https://www.facebook.com/notes/quranic-explorer-kamus-indeks-al-quran/kisah-kesabaran-nabi-ismail-sejarah-hari-idul-adha/437286008444
2. http://www.dakwatuna.com/2013/10/14/40719/meneladani-jiwa-pembelajar-nabi-ibrahim-as/#ixzz3kaiAiHS0
3. http://supervisiaceh2012.blogspot.co.id/2013/12/konsep-pendidikan-dalam-surat-ash.html

Salam hormat,
Penulis
Yogyakarta, 16 September 2015
Pemuda yang masih terus mencari dan haus akan Ilmu. Pemuda yang masih belajar untuk hidup dalam sunnah dan tuntunan Rasul-Nya. Pemuda yang masih memantaskan diri untuk memasuki Jannah-Nya.

Hidup itu Hanya Sekali

Posted: September 12, 2015 in Hikmah, Puisi
Tags: , ,

Hidup itu hanya sekali,
jangan diambil susah dan sulit,
karena engkau masih memiliki Rabb Semesta Alam,
dan jangan mengeluh,
karena itu hanya akan menyusahkanmu.

Hidup itu hanya sekali,
karena kebaikanmu akan terus dihitung,
dan keburukanmu akan terus dicatat,
hingga datanglah hari pembalasan,
atas setiap tindakan dan perkataan.

Hidup itu hanya sekali,
jadilah mata yang selalu berbinar dalam kebaikan,
dan jadilah mata keadilan ketika melihat keburukan,
jadilah mata hati kejujuran dalam bertutur,
dan jadilah mata hati kebijaksanaan dalam bertindak.

Hidup itu hanya sekali,
karenanya jalani dalam setiap senyuman,
syukuri dalam setiap keadaan,
dan teruslah berderma dalam membagi kebersamaan,
serta menjadikan diri peka dengan lingkungan.

Hidup itu hanya sekali,
maka janganlah muram yang nampak,
bahkan dendam hingga amarah yang menjadi pijakan,
dan hidup ini hanya terbakar oleh keserakahan.

Hidup itu hanya sekali,
memberikan usaha yang terbaik dalam setiap amalan,
memijakkan nurani dan keikhlasan dalam bertindak,
bahkan tiada henti memberi di setiap waktu.

Hidup itu hanya sekali,
maka berilah sebanyak mungkin,
tanpa ada rasa imbalan yang diharapkan,
bahkan rasa terima kasih pun.

Hidup itu hanya sekali,
karena itu maka sukseskan hidup ini,
dengan memberi, berbagi,
agar esok ada cerita yang bisa dikenang.

Yogyakarta, 12092015
12:21
“Tulisan ini saya tulis karena saya ingat, suatu waktu ketika mengikuti sebuah seleksi beasiswa, ada sebuah pertanyaan yang sangat sulit kala itu untuk dijawab.”Saat engkau mati, apa yang ingin engkau dengar dari orang-orang sekitarmu?”, sebuah pertanyaan yang bisa saja saya jawab dengan bermacam-macam jawaban. Tapi saya ingat, dalam jawaban itu saya tulis, “saya ingin masyarakat mengenal saya sebagai orang yang baik, yang memberikan kebaikan bagi lingkungannya, dan mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya”.
“Maka bagi saya, di mana pun saya berada, maka haruslah kebaikan yang saya berbagi, datang dengan baik, maka pergi pun dengan baik. Datang tak membawa apa pun, namun pergi haruslah saya memberikan apa yang saya peroleh dari lingkungan baru saya, bagi orang sekitar saya. Terima kasih, Ibu dan Ayah yang setiap saat selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menyematkan nama Abror (anak yang berbakti), semoga akan menjadi doa untukmu, kedua malaikatku di bumi ini, dan menjadi kebaikan bagi bangsa dan negara ini kelak.”