Archive for the ‘Artikel’ Category

Sebagai orang yang beriman dan percaya pada rukun Iman, maka mustahil bagi kita untuk kemudian mengabaikan ataupun mungkin tidak mengambil ‘ibrah dari setiap peristiwa dan kejadian yang Allah berikan bagi nabi dan rasul-Nya, termasuk pula Nabi Ibrahim AS. Ummat Muslim di seluruh dunia pun, pada akhirnya akan kembali melangitkan takbir dan merayakan hari besarnya yakni ‘Idul Adha, yang akan jatuh pada 10 Dzulhijjah. Bagi saya pribadi,  tidak ingin hanya karena perbedaan tanggal jatuhnya hari raya tersebut menjadikan kita lupa untuk mengambil hikmah dan pelajaran yang telah Nabi Ibrahim ajarkan melalui peristiwa tersebut.

Dari keturunan Nabi Ibrahim AS., Allah memberikan rahmat yakni banyaknya nabi dan rasul yang berasal dari garis keturunan beliau. Bahkan Rasulullah SAW. pun jika ditarik garis keturunan ke atas, maka Rasulullah memiliki garis keturunan Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang terlahir dari keluarga dengan seorang ayah yang merupakan pembuat patung berhala di kala zaman penguasa Raja Namrud. Namun, hal tersebut tidak membuat Nabi Ibrahim mengikuti agama dan keyakinan ayahnya. Adalah hidayah dan mukjizat dari Allah SWT., Nabi Ibrahim terlahir dengan sikap kritis dan kecerdasan yang luar biasa. Ia mencari sendiri akan kebenaran Rabb Semesta Alam. Dalam Al-Qur’an dikisahkan pada mulanya Nabi Ibrahim AS. mengira matahari adalah Tuhannya, namun ketika malam datang, ia digantikan oleh bulan dan bintang, maka Nabi Ibrahim pun mengira bahwa tidaklah mungkin matahari sebagai tuhannya, namun bulan dan bintang lah tuhannya saat ini. Namun, tatkala malam berganti dengan siang, maka bulan dan bintang pun tiada, berganti matahari. Dengan akal yang Allah SWT. berikan, maka Nabi Ibrahim AS. yang masih muda saat itu, mencapai sebuah kesimpulan yang sangat luar biasa. Nabi Ibrahim AS. pun mengatakan bahwa Tuhannya adalah Dzat Maha Suci yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, yang mempergantikan siang dan malam dengan kesempurnaan-Nya. Itulah sosok Nabi Ibrahim AS. pada masa mudanya yang sudah mampu untuk memberikan kesempurnaan jawaban dengan pemahaman yang Allah berikan melalui kecerdasan yang dimilikinya.

Kisah Nabi Ibrahim, tentu saja tidak cukup di sini. Lalu muncul pertanyaan dalam pribadi, apa yang membuatnya menjadi nabi dengan teladan yang memberikan pelajaran keikhlasan melalui peringatan ‘Idul Adha yang selalu diperingati dengan suka cita oleh seluruh umat Muslim di dunia tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah?

Nabi Ibrahim dalam sejarah Islam dikisahkan menikah dengan seorang perempuan shalihah bernama, Siti Hajar. Dalam pernikahannya tersebut, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar memiliki kesabaran yang luar biasa untuk terus memanjatkan doa agar kemudian Allah memberikan keturunan di usia senja mereka, yang kala itu usia Nabi Ibrahim mencapai 90 tahun. Dalam penantian mereka, doa kepada Allah SWT. terus mereka panjatkan, tanpa ada sebuah keraguan. Sebuah keyakinan akan setiap doa yang akan Allah berikan jawaban dan hal ini pun kemudian berbuah dengan kasih sayang Allah yang memberikan kelahiran seorang putra dari rahim Siti Hajar bernama Nabi Ismail. Sungguh sebuah perasaan yang luar biasa kala itu, seorang putra yang sudah dinantinya bertahun-tahun kini pun telah Allah anugerahkan. Namun, ternyata menginjak usia Nabi Ismail 7 tahun (namun dalam beberapa pendapat dikatakan berusia 13 tahun), Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Kisah ini Allah SWT. abadikan dalam Al Qur’an, Ash-Shaffat 100-107, yang artinya:

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang  yang saleh.(100)
Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101)
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(102)

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).(103)
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,(104)
Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, Sesungguhnya demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. .(105)
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.(106)
dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.(107)

Dalam kisah tersebut jelaslah bahwa Nabi Ibrahim kemudian berdialog dengan Nabi Ismail dan menanyakan terkait pendapat Nabi Ismail akan perintah Allah tersebut. Apa yang kemudian terjadi adalah sebuah hikmah di mana seorang Nabi Ismail tidak menolak apa yang sudah diperintahkan Allah kepada ayahnya, Nabi Ibrahim, bahkan Nabi Ismail pun ikhlas jika hal ini merupakan perintah dari Rabb Semesta Alam. Allah SWT. pun pada akhirnya mengganti Nabi Ismail dengan hewan sembelihan lainnya. Hal inilah yang kemudian mendasari adanya hari raya ‘Idul Adha.

Namun, apa yang kemudian dapat diambil dari peristiwa tersebut?

Dari peristiwa tersebut, penulis mencoba untuk mengambil sebuah hikmah yang sekiranya dapat diambil dari perisitiwa tersebut.
1. Ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terhadap perintah Allah SWT.
Berdasarkan kisah tersebut, maka kita sebagai umat muslim dapat melihat, bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memiliki ketaatan yang penuh atas perintah Rabb-Nya. Tidak ada tawar menawar dalam menjalankan syari’at yang sudah Allah gariskan, hal ini terlihat meskipun berat atas perintah tersebut, namun Nabi Ibrahim tetap melakukannya sesuai dengan perintah yang diberikan. Hal ini harus menjadi semangat bagi kita, terutama penulis, untuk terus menjadikan diri sebagai seorang yang bertakwa dalam kekaffahan tanpa mencari alasan apapun untuk pembenaran karena emosi dan nafsu yang timbul dari diri kita sendiri.

2. Dialog santun Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail yang memperlihatkan pendidikan akhlak dan moral
Dalam masalah pendidikan akhlak dan moral, dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan sebuah percakapan yang demokratis namun kemudian mengikat dan dipertanggungjawabkan. Kesantunan seorang Nabi Ibrahim yang notabene adalah seorang ayah menjadi sebuah pembelajaran bagaimana kemudian Nabi Ibrahim tetap mengajarkan dialog santun dan penuh akan pembelajaran moral dan akhlak. Nabi Ibrahim tidak semena-mena atau mungkin langsung memaksa, namun Nabi Ibrahim tetap menanyakan perihal perintah Allah tersebut kepada Nabi Ismail. Begitu pula Nabi Ismail, tidak kemudian menyatakan menolak dengan kasar, bahkan beliau pun menjawab dengan memberikan ketenangan kepada Nabi Ibrahim untuk kemudian menjalankan perintah Allah SWT. Hal inilah yang dapat diterapkan, bahwa pendidikan yang tepat dengan penguatan keagamaan akan menjadikan sebuah keluarga, bahkan komunikasi dalam keluarga menjadi tenang dan menenangkan.

‘Idul Adha bukanlah sekedar sebuah simbol perayaan hari raya saja, namun harus menjadi sebuah manifestasi dalam mengambil hikmah agar kemudian dapat membangun kehidupan yang lebih baik dan berkualitas ke depannya. ‘idul Adha tidak kemudian hanya menjadi sebuah ritual saja, namun kemudian harus dapat diambil esensi dari peristiwa yang melatarbelakanginya, bahkan harus menjadi refleksi bagi semua umat muslim untuk mengambil setiap ‘ibrah dari peristiwa yang telah terjadi. Semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai orang yang selalu mengambil hikmah dalam setiap perisitwa dan selalu memberikan hidayah dalam setiap perjalanan kehidupan kita menuju Surga-Nya.

Daftar Acuan:
1. https://www.facebook.com/notes/quranic-explorer-kamus-indeks-al-quran/kisah-kesabaran-nabi-ismail-sejarah-hari-idul-adha/437286008444
2. http://www.dakwatuna.com/2013/10/14/40719/meneladani-jiwa-pembelajar-nabi-ibrahim-as/#ixzz3kaiAiHS0
3. http://supervisiaceh2012.blogspot.co.id/2013/12/konsep-pendidikan-dalam-surat-ash.html

Salam hormat,
Penulis
Yogyakarta, 16 September 2015
Pemuda yang masih terus mencari dan haus akan Ilmu. Pemuda yang masih belajar untuk hidup dalam sunnah dan tuntunan Rasul-Nya. Pemuda yang masih memantaskan diri untuk memasuki Jannah-Nya.

Ucapan-Selamat-Tahun-Baru-Islam-1-1024x768

Love You All My Brothers and Sisters in Islam

Tidak terasa, ummat Islam kini telah memasuki Bulan Muharram kembali namun dengan angka tahun yang berbeda yaitu 1436 H. Tahun Baru Qomariyah yang baru dimasuki beberapa hari yang lalu, menjadi momentum tersendiri bagi ummat muslim baik untuk melakukan evaluasi atau bermuhasabah, merayakan dengan suka cita, bahkan menggelar doa bersama sebagai wujud dari ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memperkenankan ummat Islam ini terus berada dalam perlindunganNya hingga saat ini. Pada umumnya, dalam setiap perayaan tahun baru, akan dilakukan dengan penuh riuh bahkan dengan bunyi-bunyian terompet yang membahana di setiap persimpangan ataupun di setiap pusat-pusat kota. Namun, tidak dengan tahun baru Islam yang begitu sangat bermakna mendalam bagi ummat muslim. Tahun Baru Islam yang jatuh pada tanggal 1 Muharram diperingati dengan penuh khidmat dengan begitu banyaknya kajian, tausiyah, bahkan mabit-mabit yang kerap dilakukan sebagai upaya untuk menyadarkan kembali bagi ummat Islam di manapun berada, untuk kembali merangkul saudara-saudara se Iman dan se Islam untuk lebih meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah SWT.
Sudah menjadi pengetahuan umum bagi kita bersama bahwa penanggalan Hijriah adalah penanggalan yang didasarkan pada pergerakan bulan terhadap bumi, atau sebagai istilah lebih umum dapat dikatakan sebagai penanggalan Qomariyyah. Namun apakah sekedar itu saja makna dari tahun Islam yakni Hijriah? Ataukah sebenarnya ada sebuah makna lain yang menjadikan kemudian ummat Islam menjadikan Hijriah sebagai tahun dalam sistem penanggalannya?

Sejarah Tahun Baru Hijriah
Acap kali sebagai orang awam diri ini ketika tahun baru Hijriah datang, mengucapkan “Selamat Tahun Baru 1436 Hijriah, semoga Allah menjadikan kemudahan bagi segala aktivitas kita setahun ke depan”, ataupun dengan ucapan dan doa yang lainnya. Ya tahun yang begitu istimewa ini memang benar-benar memiliki keistimewaan yang sangat besar di dalamnya. Dalam sejarahnya, tahun Islam digunakan pada masa Umar Bin Al Khattab sebagai sebuah ijma’ para ulama kala itu akibat sebuah surat balasan berupa kritik karena belum adanya penanggalan yang jelas pada pemerintahan ummat Islam kala itu. Dengan adanya ijma’ ini, menjadikan momentum bagi peristiwa hijrah sebagai titik acuan dalam awal mula perhitungan tahun dalam Islam, dan bukan dimulai dari bulan di mana peristiwa hijrah itu terjadi, atau bahkan dimulai ketika Al Quran diturunkan, ataupun ketika Nabi dilahirkan maupun ketika pembebasan kota Mekkah, ataupun ketika Nabi wafat . Makna Hijriah yang berkaitan erat dengan perisitwa Hijrah Nabi dan para sahabat menuju kota Madinah, diisyaratkan sebagai sebuah momentum bahwa Islam secara resmi menjadi sebuah badan hukum yang berdaulat keberadaannya secara global, memiliki hukum yang jelas dengan berlandaskan Al Quran dan As Sunnah, memiliki sistem pemerintahan yang resmi, serta mampu sejajar dengan kerajaan-kerajaan lain dalam percaturan Internasional kala itu [1]. Mengutip sebuah pemikiran Tamim Ansary dalam bukunya Dari Puncak Baghdad, beliau menuliskan:
“Peristiwa kepindahan kaum muslim dari Makkah ke Madinah dikenal sebagai Hijriah. 12 tahun kemudian, ketika umat Islam menciptakan kalender mereka sendiri, mereka menghitungnya dari peristiwa Hijrah, karena meraka rasa hal ini menandai poros sejarah, titik balik nasib mereka, momen yang membagi semua waktu menjadi sebelum dan sesudah Hijriah. Perhitungan tanggal bukan dari hari lahir atau kematian pengemban risalah, namun dari peristiwa Hijrah“

Dari sitiran kalimat ini, menjadi jelas dan sangat gamblang bagi kita semua khususnya ummat Islam, bahwa peristiwa hijrah dan penamaan tahun Hijriah merupakan sebuah peristiwa yang sebaiknya menjadikan titik balik perubahan menuju arah perbaikan, menjadikan sebuah titik tolak untuk kembali menuju jalan yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah. Ibarat sebuah pesawat, tahun baru Hijriah bagaikan sebuah pesawat dengan kualitas yang kembali diperbaharui dan memiliki nuansa megah, yang seharusnya kembali dihias untuk menjadikan penumpang di dalamnya nyaman dalam mengarungi bumi Allah selama 11 bulan ke depan hingga pada akhirnya dapat kembali bertemu dengan tahun Hijriah yang akan datang. Maka hiasan yang tepat, adalah dengan bermuhasabah dan menghiasi serta memperbaharui akhlak an semangat yang akan di bawa selama satu tahun ke depannya. Lalu cukupkah sampai di sini ummat Islam memahami makna mendalam dari tahun Hijriah? Tentu saja tidak.

Dimensi Berhijrah adalah Dimensi Membangun Ukhuwah
Dalam memaknai Hijriah, tidaklah cukup jika sampai hanya didefinisi ataupun sejarah yang ada di dalamnya. Namun lebih luas, memaknai Hijriah ataupun momentum Hijrahnya Rasulullah dan para sahabat, haruslah pada dimensi yang lebih luas, yaitu dimensi Al Ukhuwah Al Islamiyah. Dimensi persaudaraan dalam hal ini harus menjadi yang utama dan diutamakan, karena tahun baru Islam ini bukanlah hanya milik satu golongan ataupun satu suku, atau bahkan satu ras saja, namun tahun baru Hijriah merupakan tahun yang dimiliki oleh ummat Islam yang harus dilihat dan dikontekstualkan dengan keadaan ummat Islam global saat ini. Kembali menyitir sebuah pemikiran Tamim Ansary dalam bukunya Dari Puncak Baghdad, beliau menuliskan:
“Apa yang membuat perpindahan dari satu kota ke kota lain begitu penting? Hijrah menempati kedudukan penting diantara peristiwa dalam sejarah Islam karena menandai lahirnya komunitas muslim, ummah, sebagaimana penyebutannya dalam Islam. Orang-orang yang bergabung dengan komunitas di Madinah meninggalkan ikatan kesukuan dan menerima kelompok baru ini sebagai ikatan transenden. Hal ini merupakan proyek sosial yang bersifat ibadah dan berdimensi epik”

Peristiwa hijrah bukan menjadi sebuah momentum yang tidak begitu mengharukan. Momentum yang terjadi di kala itu adalah momentum untuk ikhlas bagi Kaum Muhajirin untuk meninggalkan setiap harta, ataupun sanak famili yang berada di Mekkah untuk bersama-sama Rasulullah berhijrah ke Madinah, dan momentum persaudaraan atau Al Ukhuwah bagi Kaum Anshar yang menerima Rasulullah dan para sahabatnya menjadi satu bagian dari kehidupan mereka di Madinah. Peristiwa hijrah yang terjadi juga menjadikan sebuah momentum yang tidak kalah penting yaitu Muakkhoh, yang mana Rasulullah mempersaudarakan Kaum Muhajirin dengan Kaum Anshar yang pada akhirnya persaudaraan ini menghasilkan kekuatan baru bagi kaum muslim kala itu, sebuah kekuatan untuk saling menghargai, sebuah kekuatan untuk saling mendahulukan (itsar) terhadap saudaranya, bahkan sebuah kekuatan untuk saling menguatkan satu saudara dengan saudara lainnya karena bagaikan sebuah anggota tubuh yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Lalu saudaraku, apakah momentum ini juga terasa dalam benak-benak qolbu kita yang setiap kali merasakan perubahan tahun Hijriah? Adakah kemudian kita mulai mau melepaskan ikatan kesukuan ataupun ikatan ke-an lainnya untuk kemudian mau bersama-sama atas nama Al Ukhuwah menguatkan barisan ummat Islam dan menjadikan ikatan transenden karena kecintaan kepada Allah sebagai bagian pengisi dalam menghijrahkan diri ini menjadi hamba yang benar-benar saling bertakzim karena Allah SWT? Lebih luas lagi, momentum pergantian Hijriah ini menjadikan hati-hati ini semakin terikat dan dekat dengan saudara-saudara se-Iman dan se-Islam dengan melepas semua baju ataupun ikatan-ikatan lainnya, dan hanya menjadikan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai ikatan inti yang tidak mudah terlepas dan tidak mudah untuk diadu domba bahkan dipecah belahkan hanya karena nafsu ataupun godaan syaitan semata.
Momentum pergantian Hijriah juga menjadi momentum untuk kembali melihat saudara-saudara dalam satu iman dan Islam, yakni saudara-saudara di Palestina, Libya, Suriah, Afghanistan, Mesir, dan negara-negara Islam lainnya, yang mungkin sampai saat ini, secara lahir mereka merayakan momentum pergantian tahun baru Hijriah 1436, namun secara batin masih dalam kekuasaan tirani-tirani ataupun mungkin saat ini mereka masih terintimidasi dan belum sepenuhnya merdeka, layaknya saudara di Palestina? Saudaraku, sesungguhnya begitu rasa syukur ini terus terpanjat untukNya, karena saat ini pergantian tahun baru 1436 Hijriah dapat dirasakan secara damai dan penuh khidmat. Maka menjadi sebuah keharusan bagi ummat Islam, menjadikan momentum ini sebagai momentum merapikan shaf-shaf barisannya dan menguatkan kembali jalinan dan bingkaian Al Ukhuwah Al Islamiyah di manapun mereka berada dalam harapan memberikan keberkahan bagi ummat manusia.

Tahun Baru 1436 Hijriah: Tahun Membangun Kembali Komunitas Komunal
Islam adalah agama yang begitu toleran serta mampu membangun dan mengakomodir fitrah manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk indvidu. Ya, sejatinya kedua fitrah ini pun Allah dalam Al Quran maupun Rasulullah mengakui dan mensyiratkannya. Dalam Al Quran, Surat Ali Imran ayat 103, Allah berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS: Ali Imran Ayat: 103)

Rasulullah SAW. pun bersabda:
“Tidaklah beriman seseorang diantara kalian hingga ia (dapat) mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari)

Dari keduanya pun dapat dipahami bahwa manusia sebagai makhluk individu tidak akan bisa lepas dari sisi sebagai makhluk sosial, yaitu manusia yang membutuhkan manusia lain untuk kemudian membentuk komunitas dalam hal mencapai tujuannya. Begitu juga hikmah besar dari peristiwa Hijrah yang Rasulullah lakukan atas perintah Allah SWT. Dalam surah Al-Anfal ayat 72, Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan ke­pada­mu dalam (urusan pembelaan) agama, kamu wajib memberikan pertolongan, kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Hikmah terbesar dari peristiwa Hijrah adalah Rasulullah mampu membangun komunitas muslim yang beliau bina secara langsung dengan pembinaan Islam yang sangat kuat dan komprehensif. Adanya peristiwa hijrah ini, menjadikan batas-batas daerah ataupun kesukuan telah terhapuskan karena persaudaraan yang Rasulullah lakukan untuk membangun jiwa-jiwa persaudaraan agar mampu membangun Islam yang kokoh dan kuat. Selain itu, peristiwa Hijrah telah membawa perubahan dimensi yang luas, di mana ikatan transenden menjadi landasan ukhuwah dan menjadi ghirah dalam upaya membangun dan mengajak secara bersama-sama ummat manusia di belahan bumi lain melalui dakwah Islam untuk membangun komunitas Islam yang memberikan Rahmatan Lil Alamin. Menyitir kembali apa yang dituliskan oleh Tamim Ansary dalam bukunya Dari Puncak Baghdad, beliau menuliskan:
“Cukup jelas, Islam adalah sebuah agama juga ummahnya merupakan suatu entitas politik. Ya, Islam menentukan cara untuk menjadi baik dan ya, setiap muslim yang taat berharap untuk masuk surga dengan mengikuti jalan itu, tapi bukannya berfokus pada keselamatan individu sendiri-sendiri, Islam menyajikan sebuah rencana untuk membangun masyarakat yang taat”

Menjadi sebuah landasan yang cukup jelas, bahwa Islam bukan sebuah agama yang menginginkan keselamatan individu-individu. Tidak, namun Islam lebih menyukai adanya sebuah komunitas yang terwajahkan dalam ummah sebagai sebuah entitas politik yang dapat hidup taat dan mendapatkan keselamatan secara berjamaah. Sama layaknya dengan konsep dakwah yang dilakukan, yakni dimulai dari individu, kemudian keluarga, berlanjut pada masyarakat, hingga kemudian memberikan dampak secara global yaitu negara dan dunia. Inilah yang telah diajarkan oleh Allah SWT. melalui Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah pun telah mengajarkan ummat di kala ini, bahwa peristiwa ini telah menjadikan Islam sebagai sebuah agama bahkan sebagai entitas daulah yang secara utuh menyajikan tatanan masyarakat komunal yang sejajar dan setara dengan masyarakat kerajaan-kerajaan lainnya kala itu, bahkan memiliki sebuah entitas sendiri yaitu masyarakat yang terbangun dalam entitas komunal yang memiliki ketaatan kepada Rabb Semesta Alam, yaitu Allah SWT. Maka besar harapan, dengan adanya pergantian tahun baru 1436 Hijriah ini, maka entitas komunal masyarakat Islam yang taat, mencintai saudara se Iman dan se Islam, memiliki sikap toleransi, memberikan keberkahan bagi masyarakat di sekitarnya dapat kembali terbangun. Pergantian tahun baru Islam 1436 H dapat bermakna untuk menghidupkan kembali masyarakat yang taat serta mampu menghilangkan ikatan-ikatan lainnya serta menjadikan ikatan transenden atas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya hanya sebagai ikatan sejati untuk membangun negeri yang lebih baik dan bermanfaat secara global.

Selamat Tahun Baru 1436 Hijriah
Saudara-saudara di Seluruh Dunia
Semoga momentum pergantian ini menjadikan hati kita terikat dengan sebuah
Ikatan Transenden
Karena kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya
dan mampu melepas ikatan-ikatan yang hanya bersifat dunia dan kenikmatan semata
Semoga Allah mengampuni dosa penulis
dan semoga Allah mempertemukan kita semua dalam kesempurnaan jannah-Nya

[1] Mika, W. 2013. Pengertian danSejarah Tahun Baru Hijriah, serta Hukum Merayakannya. http://www.jadipintar.com/2013/11/Pengertian-Dan-Sejarah-Tahun-Baru-Hijriah-Serta-HukumMerayakannya.html. Diakses pada 26 Oktober 2014.

“Pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap menyebarnya virus corona….”[1]

            Terdengar adanya berita penyebaran virus Corona yang berasal dari Jazirah Arab. Virus Corona adalah virus yang dapat menyebabkan penyakit dan infeksi pada saluran nafas manusia. Famili virus ini memiliki kesamaan dengan famili virus SARS1. Saat ini berita penyebarab virus ini telah masuk di London, dan terdengar adanya kabar bahwa serangan virus ini telah menyebabkan kematian terhadap dua oang warganya.

            Sebagai negara dengan umat muslim terbanyak, tentu saja ada kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah terutama setiap tahunnya jamaah haji ataupun jamaag yang ingin melakukan umroh semakin meningkat. Kekhawatiran seperti ini dikarenakan kondisi geografis yang berbeda, dan penularan virus yang begitu cepat dapat menyebabkan terjadinya kejadian yang luar biasa, seperti proses penyebaran virus yang malah dapat membahayakan bagi masyarakat tanah air. Hal ini dapat diambil contoh, ketika terjadinya kasus Avian Influenza di wilayah Asia lainnya, dan virus ini masuk ke wilayah Indonesia, menyebabkan kasus kejadian luar biasa dengan kematian unggas yang tinggi, bahkan penularan kepada manusia, yang berakhir pada kematian.

Mudah sekali Menginfeksi dan Menyebar

            Virus bukanlah materi hidup layaknya sel. Virus merupakan parasit obligatif aselular. Virus tidak dapat didefinisikan sebagai sel, meskipun pada bagian virus terdapat bagian yang menyimpan asam nukleat. Virus membutuhkan inang dalam proses untuk bertahan hidup, dan hal ini tentu saja, menyebabkan sang inang akan terinfeksi suatu penyakit.

            Secara biologis, penyebaran virus sangat cepat, bahkan mampu menginfeksi dengan cepat. Bayangkan saja, misal, ketika di kelas, ada teman kita yang flu, maka secara langsung esok hari atau beberapa jam kemudian, pastilah kita atau teman-teman kita akan merasakan flu yang sama. Penyebaran dan infeksi yang sangat cepat ini akan menentut tubuh kita untuk terus prima, agar terhindar dari infeksi virus, dan tentu saja menjaga pola makan.

            Kasus penyebaran virus Corona yang saat ini sedang terjadi di Jazirah Arab, sangat perlu untuk mendapatkan tanggapan serius dari pemerintah. Setiap tahunnya, jamaah haji Indonesia selalu meningkat. Hal ini tentu saja akan memiliki potensi untuk penyebaran virus Corona di wilayah Indonesia, karena kontak antara wilayah pandemik dengan masyarakat sangat dekat.

Monitoring Jamaah Haji dan Vaksinasi

            Salah satu langkah yang dapat menjadi antisipasi bagi pemerintah agar menghambat masuknya virus ini ke Indonesia, adalah dengan melakukan monitoring bagi setiap kedatangan jamaah ataupun wisatawan yang berasal dari wilayah Jazirah Arab. Langkah preventif ini dapat dilakukan dengan proses melakukan medical check up terhadap semua jamaah yang baru datang dari wilayah Jazirah Arab. Selain itu, bagi para wisatawan yang juga datang ke Indonesia, harus juga mendapat perhatian khusus untuk menghindari masuknya vektor pembawa virus ini.

            Selain langkah tersebut, pemerintah dapat melakukan proses vaksinasi bagi jamaah yang akan merencakan keberangkatan menuju Jazirah Arab. Vaksinasi ini diperlukan untuk membentuk antibodi pertama sehingga ketika adanya infeksi kedua, tubuh dapat merespon dengan cepat dan melemahkan virus yang sudah masuk.

            Langkah tepat diperlukan untuk menangani kasus yang berhubungan dengan virus seperti dalam halnya kasus ini. Virus yan pada mulanya tidak pernah terdeteksi, kemudian masuk ke wilayah baru, dapat dengan cepat melakukan perubahan, dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada. Berdasarkan informasi yang diperoleh, virus ini menginfeksi saluran pernafasan secara ringan, namun ketika langkah pencegahan tidak dilakukan, virus ini bahkan mungkin akan menyebabkan terjadinya kematian yang sangat tinggi, mengingat kemampuan virus melakukan proses mutasi yang sangat cepat.

            Tentu saja, bangsa Indonesia tidak menginginkan masuknya virus baru yang tentu saja akan menjadikan kejadian luar biasa atau pandemik penyakit terjadi di wilayah ini. Masyarakat pun dituntut berpatisipasi aktif untuk terus berupaya menjaga kesehatan, terutama bagi mereka yang akan melaksanakan perjalanan haji atau umroh, ataupun ingin berpariwisata ke wilayah timur tengah. 

 


[1] Faizal, Achmad. 2013. Indonesia Waspada Virus Corona. http://regional.kompas.com/read/2013/02/15/15240422/Indonesia.Waspada.Virus.Corona. Akses 18 Februari 2013.

“untuk tahun ini memang terjadi ledakan kasus DB di Sardjito meski tidak ada yang meninggal dunia”(Nugroho, 2013)[1].

            Saat ini,  Indonesia tengah memasuki musim penghujan, yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Tentu saja, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian di kalangan masyarakat dan pemerintah. Salah satu penyakit ataupun wabah yang kerap kali menyerang masayakarat Indonesia, ketika musim penghujan tiba adalah kasus demam berdarah.

            Kasus demam berdarah yang umumnya terjadi di wilayah Indonesia, disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegepty. Nyamuk ini pada umumnya bersarang di daerah-daerah yang memiliki genangan air, dan melepaskan telur-telurnya di genangan air tersebut. Pada umumnya nyamuk ini menggigit pada pagi hari. Ciri-ciri morfologis nyamuk ini yaitu memiliki garis hitam dan putih pada bagian tubuhnya.

            Saat ini kasus demam berdarah di Indonesia, mulai bermunculan dan dapat menjadi ancaman serius jika tidak mendapatkan respon yang cepat, serta antisipasi yang lebih dari masyarakat. Masa penghujan yang kini sedang memasuki wilayah Indonesia, dapat menjadi masa yang baik untuk berkembang biaknya nyamuk ini karena secara siklusnya, masa inkubasi telur-telur nyamuk ini hanyalah dua minggu. Oleh sebab itu, pada masa-masa penghujan seperti pada saat ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih, agar kasus DBD seperti pada tahun 2010, tidak terulang kembali.

Hanya dengan gigitan

            Pada tahun 2010, Indonesia, khususnya di beberapa wilayah pernah menetapkan status waspada demam berdarah, bahkan status Kejadian Luar Biasa di beberapa daerah khusus yang mengalami tingkat kematian pasien yang tinggi akibat Demam Berdarah Dengue. Pada tahun ini, sebanyak 5.500 kasus DBD masuk ke dalam daftar Kementerian Kesehatan.

            Selama ini dianggap bahwa penularan penyakit ini hanya melalui gigitan nyamuk. Namun, salah satu hal penting melalui gigitan tersebut virus dengue masuk dan berkembang dalam tubuh manusia, dan menyebabkan gejala demam berdarah. Hal paling fatal ketika penanganan yang terlambat adalah kematian yang akan terjadi

Bertindak cepat dan siaga untuk menghadapi wabah DBD

            Sebagai tindakan antisipasi dengan meningkatnya curah hujan di berbagai wilayah di Indonesia, masyarakat sebaiknya bertindak cepat dan segera untuk bersiap siaga menghadapai penyakit ini. Hal ini tentu saja, dikarenakan sekali wabah ini menyebar, maka lonjakan angka penderita penyakit DBD dapat terus meningkat, dan dapat menyebabkan status kejadian luar biasa dapat kembali terulang seperti halnya yang terjadi pada tahun 2010. Masyarakat dapat menerapkan langkah 3M, yakni menguras bak kamar mandi, menutup penampungan sampah, dan mengubur barang-barang yang sekiranya dapat menjadi tempat bergenangnya air yang dikhawatirkan dapat menjadi tempat berkembang biaknya larva nyamuk ini. Selain itu, masyarakat dapat turut berperan aktif dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan dan sekitarnya, serta secara aktif dan tanggap segera membawa korban yang mengalami gejala DBD ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan yang tepat.

            Bagi pemerintah sendiri, bersiap siaga terhadap wabah DBD menjadi langkah yang cepat dan tepat guna menekan angka kematian akibat penyakit demam berdarah dengue. Pemerintah melalui dinas-dinas kesehatan, dapat memberikan sosialisasi bagi masyarakat awam mengenai gejala penyakit ini baik melalui penyuluhan-penyuluhan, iklan layanan televisi, ataupun melalui sosial media yang saat ini menjadi dunia pertukaran informasi yang sangat cepat. Selain itu, dinas-dinas kesehatan di daerah mampu mengerahkan petugas untuk melakukan fogging secara berkala di daerah-daerah yang telah disinyalir menjadi daerah endemis wabah DBD. Hal yang sangat penting adalah pemerintah melalui pusat-pusat penelitian penyakit tropis, ataupun akademisi di lingkungan perguruan tinggi, dapat bekerja sama untuk mengembangkan metode ataupun teknik dalam upaya menekan laju perkembangbiakan larva nyamuk ini.    

 

 


[1] Sugianto, M. W. 2013. Pasien DBD di RS Sardjito Melonjak. http://daerah.sindonews.com/read/2013/02/09/22/716048/pasien-dbd-di-rs-sardjito-melonjak. Akses 9 Februari 2013.

Kasus avian influenza kembali merebak di wilayah Indonesia. Kasus yang dulu pertama kali masuk di Indonesia pada tahun 2005, kini kembali terulang pada tahun 2013. Avian influenza yang dikenal sebagai flu burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang pada umumnya akan menyerang burung (unggas) dan mamalia. Dalam beberapa kasus yang terjadi, penyebaran virus ini dapat terjadi melalui udara ataupun kontak langsung antar hewan yang sehat dengan hewan yang terkena penyakit ini. Virus yang menjadi penyebab dari penyakit ini dikenal sebagai virus H5N1.

Seperti yang dilansir, bahwa status kasus flu burung di Indonesia kini kembali menjadi status darurat, dikarenakan adanya kasus kematian pada itik yang mencapai jumlah 200 ribu lebih. Data dari Pusat Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, mengungkapkan bahwa sebanyak 242.368 ekor itik mati akibat merebaknya flu burung dengan jenis baru, yaitu AI H5N1 clade 2.3.2[1]. Kasus Avian Influenza juga terjadi di wilayah DI Yogyakarta.  Data dari Local Disease Control Center (LDCC) Yogyakarta, menyebutkan bahwa setidaknya kurang lebih 1.300 ekor itik di daerah DI Yogyakarta positif terhadap flu burung[2].

Informasi masyarakat yang lambat

            Flu burung pada umumnya telah banyak diketahui oleh masyarakat. Selain itu, banyaknya penyuluhan yang telah dilakukan oleh kementerian terkait, seharusnya mampu menjadikan masyarakat paham mengenai gejala-gejala yang terjadi jika ada unggas yang diduga terkena penyakit ini. Namun, sayang pada umumnya masyarakat mencoba untuk menyimpan kasus yang terjadi, bahkan secara tersirat berusaha untuk menutup-nutupi kasus yang terjadi.

Seperti yang dilansir dalam surat kabar yang beredar, sebenarnya kasus kematian itik yang terjadi di wilayah DI Yogyakarta telah terjadi sejak di awal Januari2. Namun, ada masyarakat tidak langsung melaporkan kejadian atas kematian iti tersebut terhadap dinas yang menangani masalah tersebut.

Sikap positif masyarakat Indonesia terutama para peternak mandiri sangat diperlukan di sini, terutama hal ini berhubungan dengan para peternak unggas yang notabene merupakan masyarakat yang memiliki lapangan kerja sendiri, dan menghasilkan perekonomian mandiri.

Viru AI Baru, Status Darurat Membahayakan

            Avian Influenza Virus sendiri, yang dikenal sebagai virus H5N1, merupakan virus yang sangat aktif, dan memiliki tingkat penyebab kematian tertinggi di dunia. Dalam beberapa informasi yang diperoleh, virus ini memiliki potensi untuk menyebabkan pandemik di suatu wilayah. Selain itu, dalam beberapa kasus yang pernah terjadi, virus ini bahkan mampu mengalamin transfer yang cepat dari unggas (aves) ke mamalia, bahkan sampai ke manusia.

Dalam kasus yang saat ini sedang melanda negeri ini, virus AI yang menyerang itik merupakan virus Avian Influenza dengan tipe H5N1 yang memiliki clade baru. Hal ini tentu saja akan sangat membahayakan jika penanganan yang diberikan terlambat, dan tidak terjadi hubungan positif antara para peternak, dengan dinas atau kementerian terkait yang menangani mengenai kasus Avian Influenza. Status darurat yang kini sedang disandang dengan adanya kasus Avian Influenza yang sedang menyerang itik, dapat membahayakan semua sektor di negeri ini. Bagi sektor perekonomin, adanya kasus ini dapat menyebabkan banyaknya unggas yang akan mati, dan menurunkan produksi hasil ternak unggas. Selain itu, kasus mutasi AI yang begitu cepat, dan menyebabkan penularan pada manusia, akan menyebabkan kekhawatiran tersendiri karena adanya potensi menyebabkan penyakit pandemik, yang mampu mematikan tidak hanya populasi unggas, bahkan manusia itu pun sendiri.

Oleh sebab itu, perlu adanya dukungan penuh yang diberikan oleh masyarakat, terutama para peternak unggas, untuk turut bekerja sama aktif dengan dinas terkait terutama, dalam hal mengurangi dampak penularan Avian Influenza, dan meningkatkan status ketahanan penyakit pada ternak di Indonesia. Selain itu, dari masyarakat peniliti, dibutuhkan usaha yang lebih terutama dalam memperdalam dan melakukan banyak penelitian mengenai penyakit flu burung ini, sehingga pada akhirnya dapat melakukan pemetaan mengenai penyebaran virus ini. Dari pihak pemerintah, diperlukan usaha yang serius untuk merangkul masyarakat peternak unggas, para peneliti, dan membuka jalan peluang kerja sama yang lebih baik antar ketiga sektor tersebut, serta memberikan solusi penengah untuk menyelesaikan masalah kompensasi pembayaran untuk ternak unggas yang dimusnahkan karena serangan penyakit tersebut.

 


[1] Kematian 200 Ribu Lebih Itik Akibat Flu Burung Clade Baru. www.republika.co.id. Akses 5 Februari 2013.

[2] Virus AI Pada itik Serang Seluruh DIY. www.jogja.tribunnews.com. Akses 5 februari 2013.

“…sebanyak 15 negara telah melaporkan kepada Badan PBB untuk Kesehatan Dunia (WHO) mengenai kasus flu burung “clade” baru yang ditemukan pada unggas termasuk Indonesia…” (Republika Online, 7 Januari 2013)

Kasus flu burung di Indonesia, kini mencapai babak baru. Pasalnya kasus pada bulan Desember 2012, mengenai penemuan Virus H5N1 dengan clade baru 2.3 kini telah mencapai sedikit kejelasan. Seperti dilansir dalam beberapa berita, kasus penyerangan virus tersebut dari ayam menuju itik, sampai saat ini pun masih menjadi perhatian khusus.

Virus Avian Influenza sendiri, sampai saat ini masih banyak dikenal hanya menyerang ayam, burung, ataupun unggas lainnya, dan di Indoesia kasus flu burung sendiri banyak menyerang ayam. Penemuan kasus penyerangan virus ini ke itik, seolah menjadi babak baru bagi pemerintah khususnya dinas terkait untuk kembali melacak penyebaran virus yang tergolong virus HA, namun dengan clade 2.3.

Perlu penanganan serius dari pemerintah

            Sampai saat ini, terlihat begitu nyata aksi pemerintah, yang bersama lembaga Kementan, dan jajaran laboratorium di bawahnya, sedang berusaha memecahkan teka-teki penularan virus ini yang menjangkiti wilayah Jawa. Berdasarkan data yang diperoleh, dalam empat bulan penyerangan virus tersebut, menyebabkan kurang lebih 113.700 ekor itik mati di tiga provinsi, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta[1]. Tentu saja, hal ini merupakan hal luar biasa, mengingat pangsa pasar terutama bagi para peternak unggas jenis itik, merupakan pangsa pasar yang luas.

Penanganan yang serius perlu dilakukan, demi menjamin keamanan pangan dari itik, dan menjamin kesejahteraan para peternak unggas. Pasalnya, penanganan yang kurang serius akan menyebabkan turunnya harga unggas terutama jenis itik, yang dapat merugikan para peternak itik. Tentu saja, jika hal ini terjadi akan menyebabkan masalah baru bagi pemerintah terutama mengenai penurunan harga jual dan beli itik, dan bagi para peternak unggas dapat mengancam mata pencaharian tersebut.

Vaksin yang tepat untuk mencegah penularan

Langkah yang tepat untuk saat ini adalah pengembangan vaksin yang tepat untuk menyelesaikan kasus Avian Influenza pada itik. Hal ini tentu sangat diharapkan oleh masyarakat, terutama para peternak unggas sendiri. Selain itu, pemerintah, dan pihak yang berwenang, sebaiknya segera melakukan sosialisasi dan penyuluhan, terkait bahaya virus Avian Influenza dengan clade 2.3. Pasalnya, mengingat hal yang pernah terjadi adalah, sifat zoonosis virus Avian Influenza clade 2.1 yang dapat menyerang manusia, dan mengakibatkan kematian sekitar 150 orang[2].

Selain itu, sebagai langkah awal, masyarakat sebaiknya tidak langsung gegabah dalam menggunakan vaksin yang kini beredar di pasaran luas. Hal ini mengingat, vaksin sendiri adalah antigen/virus yang sudah dilemahkan, dan sengaja untuk digunakan dalam mengaktifkan antibodi dalam tubuh unggas. Ketidakcocokan vaksin dengan virus yang menyerang saat ini, malah dapat berakibat munculnya virus baru, bahkan mampu menjadikan berkembangnya virus dengan tipe baru, yang mungkin dapat lebih bersifat patogen dan virulen.

Lebih dari itu, masyarakat harus bersikap terbuka dalam memberikan informasi mengenai kasus kematian unggas yang terjadi pada ternaknya. Hal ini dilakukan demi membantu pemerintah, dan instansi yang berwenang dalam masalah hal ini, untuk setidaknya meminimalisir dampak penyebaran virus ini terhadap unggas lain, sehingga memudahkan pemerintah dalam mengatasi kasus penularan virus ini, dan mencegah meluasnya penularan virus ini ke daerah ataupun provinsi lain.

Bagi pemerintah sendiri, sudah waktunya mulai turun aktif, dan memberikan perhatian lebih pada masalah ini. Hal ini dikarenakan, masalah penularan virus terutama penyerangan terhadap unggas, yang notabene menjadi andalan masyarakat Indonesia, bukanlah masalah atau perkara mudah. Penularan virus, dan penyebaran yang hanya membutuhkan waktu singkat merupakan masalah yang begitu pelik, dan tidak bisa didiamkan hanya dengan menunggu penyakit ini mereda. Masalah penularan ini bukanlah seperti mengejar mobil dengan waktu yang singkat, melainkan ini masalah serius, yang jika terlambat maka akan memberikan efek negatif yang lebih besar, dan dapat membunuh ternak unggas dalam waktu yang mungkin relatif singkat.

 

 


[1] Grehenson, G. 2012. Flu Burung Jenis Baru Sebabkan Ribuan Itik dan Unggas Mati Mendadak. http://ugm.ac.id. Akses 6 Februari 2013.

[2] Anonim. 2013. Peranan Unggas Air dalam Penyebaran Virus AI. http://bbalitvet.litbang.deptan.go.id. Akses 6 Februari 2013.