Archive for January, 2017

Kembali kepada Niat

Posted: January 30, 2017 in Hikmah
Tags:

“Segala sesuatunya bergantung pada niat”
Inilah penggalan dalam satu hadist pertama dalam Hadist Arba’in

Semuanya memang kembali pada niat orang tersebut. Aktivitas mahasiswa memang masih dienyam sampai saat ini. Jikalau dulu sebagai mahasiswa S1, kini Allah berikan kenikmatan untuk mengenyam pendidikan S2 bahkan di negeri Sakura, Jepang. Negeri yang terkenal akan adab ketimuran yang masih terjaga, dengan setiap nilai kejujuran, nilai keteraturan yang dimiliki di dalamnya. Aktivitas menjadi mahasiswa, tidak lantas kemudian menutup dan menghentikan aktivitas untuk mengaji, karena di sinilah bekal rohani dipersiapkan, selain karena memang mengaji adalah kebutuhan. Ya, mengaji baik dalam hal Al-Qur’anul karim, maupun mengkaji setiap panutan kehidupan yang berada dalam Al-Qur’an dan telah dicontohkan oleh sebaik-baiknya panutan yakni Rasulullah SAW, dalam setiap perkataan, perbuatan, dan bahkan diamnya beliau.

Suatu hari, dalam halaqah yang masih Allah berikan kenikmatan untuk menjalankannya, ada seseorang yang pernah mengingatkan mengenai, bagaimana bermujahadah di negeri ini. Dalam perbincangan kala itu, diri yang masih dhoif ini, sempat terlontar mengenai kebiasaan menuju rumah Allah yang begitu, menurut pribadi ini, sulit dilakukan, terutama ketika mengenai Shubuh berjamaah. Lalu seketika, saudara kami berkata,”bukankah malah jauh lebih banyak pahala yang akan diberikan, ketika kamu menjadikan mujahadah menuju rumah Allah di negeri ini dilakukan, tanpa berkeluh kesah, dan ihlas mengikatkan diri pada setiap kebaikan, bahkan mengikat diri pada kehidupan masjid di dalamnya?”, tukasnya. Seketika, kami hanya menanggapi dengan sedikit senyum, yang sebenarnya, pribadi ini menjadi malu. Ia, malu terhadap setiap nikmat yang Allah berikan.

Saya masih teringat, ketika masih berada di negeri tercinta, dengan mudahnya menuju rumah Allah, yang paling hanya berjarak 500 meter dari tempat tinggal. Kebetulan masjid di rumah sangat dekat, hanya selang satu gang dari gang rumah. Suara adzan yang begitu mudah terdengar ketika setiap waktu shalat datang, mudah menjadikan kami mengingat, ia mengingat karena waktu shalat yang datang. Dan ketika di sini, maka sayalah sendiri yang harus mengatur waktu, menjadikan setiap sela-sela eksperimen yang dilakukan sebagai waktu menunggu datangnya Shalat, hingga selalu memperhatikan setiap waktu ia datang. Zaman canggih, bisa sahaja menggunakan waktu pengingat? ia benar sekali, namun kembali, mujahadah pribadi yang harus menguatkan diri untuk pergi menghadap-Nya, bermunajat, dan mencintakan waktu bertemu dengan-Nya. Allah memiliki kehendak yang sangat luar biasa, di mana Allah berikan pembimbing yang begitu mau memahami mengenai waktu shalat, dan bersedia memahami akan kebutuhan yang harus dilakukan saya. Inilah yang membuat saya terkadang malu, karena ini adalah bagian nikmat Allah yang begitu besar, namun terkadang saya terlupa. Allahummaghfirly, Ya Allah. Bahkan, nikmat Allah yang begitu besar lainnya adalah ruang shalat berjamaah kami, yang terletak di gedung saya, dan cukup untuk menunaikan setiap shalat secara berjamaah. Allahummaghfirly…

Bagaimana dengan aktivitas halaqah? Semoga Allah selalu memberikan taufik, hidayah, dan ampunan kepada saya, penulis. Saya hanya ingin membagi perasaan yang tadinya secara sepintas tetiba terbesit. Demi waktu yang Allah sumpahkan dalam Surat Al-‘Asr. Halaqah-halaqah di negeri ini, tidak ada bedanya dengan ketika saya masih berada di negeri tercinta. Ia adalah ladang bagi para perindu ukhuwah yang diikat dengan tali keimanan dan kecintaan kepada-Nya. Mengapa saya mengatakan sepintas terbesit? Ya, ketika mengingat tentang kajian, saya teringat ketika dulu berada di Yogyakarta. Kota yang setiap kanan dan kiri, depan dan belakangnya, dipenuhi dengan beragam informasi mengenai kajian di masjid ini, masjid itu, dan sebagainya. Lalu di sana saya teringat, ketika banyak informasi kajian, terkadang rasa malas pun datang, dengan alasan macet, jauh, harus keluar uang bensin, malas karena harus menjemput teman, hujan, dan sebagainya. Saya teringat semua alasan-alasan yang bisa jadi bermunculan dengan tujuan pada akhirnya menjadi kalimat ampuh agar pada akhirnya tidak datang dalam pada kajian. Allahummaghfirly, ya Allah…

Hal yang terbesit adalah bagaimana ketika saat ini, kajian hanya ada dalam setiap pekan sekali, di mana hanya bisa hadir ketika Sabtu dan Minggu? Dalam hati, saya seperti melihat Allah sedang menguji nafas keimanan. Ketika tidak ingin datang, pastilah begitu banyak alasan yang bisa diberikan, apalagi kini Allah sedang memberikan kedudukan untuk menempuh ilmu dari sebelumnya. Ketika akan datang, berniat datang, yang padanya sudah ada catatan kebaikan yang ditulis oleh malaikat, maka sedikit godaan akhirnya pun datang, dengan perlahan ia menggerogoti keinginan untuk datang. Ketika menulis ini, saya hanya merenung…

Ya Allah, ketika dulu masih harus berkendara, malas pun masih melanda…
Namun, kini, ketika hanya harus berjalan, dan duduk manis dalam perjalanan kereta,
Malas pun masih melanda…
Ya Allah, ketika dulu, masih meminta teman menjemput, malas pun masih melanda,
Namun, ketika kini, hanya tinggal duduk manis dalam bus, yang senantiasa datang dengan jadwalnya,
Hamba pun masih memiliki malas…
Ya Allah,
Hamba sering berkata, hamba menginginkan Syurga Firdausmu…
Namun, ketika kesempatan bermujahadah begitu besar,
Masih saja ada malas dan lengah yang hamba sendiri perbuat…

Sedikit renungan ini, bagaikan menampar pribadi sendiri, karena terkadang pribadi tidak pernah bersyukur dalam memaknai setiap kenikmatan yang Allah berikan.
Lalu amatlah benar, ketika pribadi ini, tertegur dengan kalimat yang Allah berulang katakan dalam Surat Ar-Rahman…
“Fabiayyi Ala Irabbikuma Tukadzdziban”, ‘maka nikmat Tuhanmu manakah yang akan engkau dustakan?’

Saya pun sadar, kini hanyalah niat yang akan menjadikan ketulusan dan keihlasan terpancar…

Tokyo, 30 Januari 2017
Seorang yang masih ingin terus belajar dan memaknai setiap proses kehidupan yang dipilih dan dilekatkan pada takdir Rabbnya

Allah dalam Al-Qur’an mengibaratkan bahwa ibarat seorang mukmin yang bermanfaat adalah bagaikan sebuah pohon, yang akarnya menghujam ke tanah, batangnya kokoh berdiri tegak, cabangnya banyak, dan buahnya terasa setiap musim.

Hari ini, di Meguro, KMII menyelenggarakan acara Muslim Millioner, Kembali Ke Titik Nol, yang menghadirkan Ustadz Saptuari dan Bang Teuku Wisnu. Dialah, Allah, yang telah mengatur setiap peristiwa yang tiada sesuatu terjadi jika bukan karena kehendak-Nya. Acara ini sejatinya dimulai sejak ba’da shubuh yang diisi oleh Bang Teuku Wisnu. Dalam sesi ini, beliau bercerita bagaimana tantangan pemuda saat ini, serta sedikit bercerita mengenai proses hijrah dalam dirinya. Hal yang paling saya ingat, dan ini pun sempat diingatkan oleh Ustadz Saptuari, adalah proses mencari kebahagiaan dunia dan akhirat bukanlah mengenai masalah harta, jabatan, kedudukan, melainkan bagaimana sejatinya pribadi yang Allah berikan pinjaman selama di kehidupan di dunia ini, mampu mengikuti segala aturan yang Allah telah jelaskan melalui Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Allah, Allah, Allah, rasanya tertegur hati ini yang telah lama kering, hati yang telah terlupa akan tujuan hidup sebenarnya di dunia ini, jika tidak untuk beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintah dan larangan-Nya. Allah, diri ini bagaikan tersindir, terasa dalam diri berkata,”Hai anak Adam, yang kedua orang tuamu memberimu nama, Abror, yang bermakna orang baik, bagaimana nikmatmu yang telah Allah pinjamkan, kesehatan yang telah dianugerahkan, kesempatan yang Dia hadirkan hingga mengenyam pendidikan jauh di negeri yang terpisah oleh Samudera Pasifik?”. Saya pun hanya tertunduk pada malu, karena begitu sayangnya kedua orang tua saya memberi nama Abror, namun saya belum menjadi seperti orang yang memiliki arti dengan nama tersebut, orang baik. Allah, rasanya sekali lagi tertampar diri ini, apakah prasangka orang saat ini, benarkan itu dalam dirimu? atau sejatinya kemunafikan yang sedang kau lakoni? Sekali lagi, hanya sebuah doa yang saya sematkan dalam hati, “Ya Rabbannas, Rabbussama wa tiwal ardhi, jadikanlah prasangka mereka adalah do’a yang menjadikan hamba menjadi lebih baik dari prasangka mereka. Jauhkanlah kemunafikan dalam diri ini, dan syukur pada-Mu yang telah menutup aib, hamba-Mu ini”.

Kembali kepada titik nol, berhijrah, adalah proses yang tidak mudah, ia sulit, namun Allah selalu membuka pintu-pintu bagi mereka yang ingin menempuh jalan ini. Allah limpahkan keberkahan, rahmat, dan rahim-Nya bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam proses ini. Ini adalah jalan para pecinta taubat, jalan para pendamba Syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, dan ini adalah jalan cinta yang dengannya, Rasulullah dikuatkan oleh Allah SWT, ketika Islam telah hadir di negeri Madinah, setelah berhijrah dari Mekkah.

Kembali ke titik nol, berhijrah, saya pun terus merenungkan makna ini. Sembari melewati jalan pulang menuju apartemen, saya melihat deretan pohon Ginko biloba, yang telah gugur daunnya dalam menghadapi musim dingin. Dalam hati, saya berkata, dia adalah makhluk yang amat patuh terhadap ketetapan Rabbnya. Gugur ketika dingin datang, agar kemudian bersemi dengan daun-daunnya yang hijau, dan menghasilkan buah. Di situlah saya melihat, hijrah, bukanlah kemudian mati, tiada terlihat apapun, namun dia menyiapkan diri untuk menyemai kehidupan baru, mengikuti perintah Rabb, yang dalam setiap do’a shalat, selalu diucapkan,”iyya kana’ budu waiyyaka kanasta’in”.

Ya, hari ini, saya memahami, hijrah ibarat dia memupuk kembali pohon keimanan yang telah gugur dan hampir mati karena banyaknya dosa-dosa yang dibuat, kemudian dia disiram dengan siraman air mata pada kecintaan kepada Rabb dan sunnah Rasul-Nya. Ia, hijrah bagaikan menghidupkan kembali pohon keimanan yang telah Allah berikan semenjak manusia berada dalam kandungan ibunya, ketika dia ditanya, siapa tuhannya, maka ia menjawab Allahu Ahadun. Ia, hijrah bermakna kembali menakar permasalahan dunia dan akhirat dalam keseimbangan yang telah Rasulullah ajarkan, tidak kurang dan tidak lebih, namun pas sesuai dengan yang menjadi porsinya. Dan benar, hijrah bagaikan kembali mengokohkan dan menegakkan batang yang hampir saja tumbang, dan kembali memanjatkan do’a dan usaha terbaik, agar kemudian Allah membuka pintu langitnya, dan mengijabah setiap do’a yang terpanjat, lalu menjadikan hasilnya sebagai buah-buahan terbaik yang manis, harum lagi baunya.

“Ya Rabbannas, jadikanlah diri ini selaku pribadi yang baik. Jauhkanlah rasa sombong, hasad, iri, dengki, dan congkak dalam diri ini. Kuatkanlah iman dan islam yang menjadi nikmat terbesar yang Kau berikan saat ini, hingga malaikat mautmu, Izrail, mencabut nyawa ini. Ya Rabbi, jadikanlah diri ini menjadi orang yang selalu bertzakiyah dalam setiap aktivitas kehidupan di dunia ini, dan ijinkanlah diri ini mencium bau Syurga-Mu”

Tokyo, 15 Januari 2017
Abror,
‘Hamba Allah yang masih ingin terus belajar, fakir dari kesempurnaan, dan masih penuh dengan kebodohan’

Dawai

Posted: January 12, 2017 in Perjalanan

Seutas dawai,

yang dipetik sang pujangga

ia adalah lakon dalam syair

yang bercerita akan senang, sendu, sedih, dan gembira

Seutas dawai,

yang dipetik sang pujangga

memainkan drama dalam alunan nada

mengisahkan setiap alur kehidupan yang dilewati,

ia adalah tangga nada

yang dilukis dengan kesyahduan.

 

Tokyo, 13 Januari 2017