Posts Tagged ‘Jepang’

Hampir separuh perjalanan saya sudah hampir selesaikan selama menempuh studi di negeri yang penuh keteraturan, dan tentu saja, bagi teman-teman, mengunjungi negara Jepang, menjadi kesenangan sendiri karena bisa menjelajah satu-persatu setiap negara di belahan bumi manapun. Hampir dulu, setiap saya mendengar orang akan belajar ke luar negeri, satu hal yang ketika itu saya bayangkan, berlibur, sembari belajar dan bahkan hidup dengan nyaman di negeri orang. Heum, itu dulu, ketika saya masih menjadi pelajar di negeri gemah ripah loh jinawi, yang dalam sebuah nyanyian dikatakan, tongkat kayu jadi pohon. Ya, siapa yang tidak akan senang, ketika tahu akan tinggal dan belajar di negeri Sakura, ataupun di negeri-negeri lainnya. Bukan kepayang, akan kehidupan, bahkan lingkungan baru yang akan dihadapi, penuh ketenangan, tidak ada hiruk pikuk politik sana dan sini, adanya saling menghargai, dan tentu saja bagi saya, adalah menemukan nuansa Islam yang baru dan bertemu dengan keluarga-keluarga. Di sini, adalah tempat menempa diri untuk mengasah kepedulian, kepekaan, bahkan mengasah rasa saling membutuhkan satu yang lain, tidak terlepas juga, bagi saya seorang muslim, adalah menumbuhkan rasa saling menyayangi dan menghormati antar saudara-saudara muslim lainnya, yang mungkin mereka berbeda secara latar belakang keluarga, serta berbeda dalam pandangan mazhabnya.

Indah sekali memang, semua serasa berada dalam impian yang kemudian menjadi nyata. Heum, tapi hidup di luar negeri, sembari belajar dan menekuni bidang yang ingin didalami, ternyata akan membawa dampak yang jauh lebih besar terhadap pribadi kehidupan yang bisa dibawa pulang dan diterapkan ketika pulang ke negeri Indonesia. Hari ini memang terasa sangat istimewa bagi saya pribadi.

Ya, kehidupan setelah menjadi anak kos di tempat kuliah semasa S1, di UGM, memang pada akhirnya terbawa ketika sudah berada jauh dari kenyamanan saat dulu semasa berada di Yogyakarta. Mari bayangkan, kehidupan nyaman di Yogyakarta, dimulai dari makanan yang serba bisa kita makan, terutama untuk muslim, tidak begitu menyulitkan untuk dicari. Berangkat 500 m di depan kosan, pastilah ada warung, yang biasa dikenal burjo, yang menjajakan makanan serba murah. Lapar di tengah malam, dan ingin makanan serba lain, maka tinggal menunggu gerobak dorong, yang akan menjajakan makanan berupa nasi goreng, mie goreng, ataupun terkadang penjual batagor ataupun siomay, yang bisa saja kita beli kapan pun sedang dibutuhkan untuk mengganjal perut di kala keroncongan perut sedang berbunyi. Nyaman? Tentu saja. Namun ketika sudah tinggal di luar negeri, bagi saya seorang muslim, bersikap berhati-hati akan sangat diperlukan. Memperhatikan setiap komposisi makanan, tentu saja, bahkan terkadang menanyakan kepada mereka yang paham akan komposisi makanan tersebut. Selain itu, berharap ada warung di depan apartemen yang kita tinggali, oh tentu saja tidak ada. Maka, jalan satu-satunya adalah memasak di apartemen sendiri, ataupun berkunjung ke rumah sesama orang Indonesia, berbincang, dan alhasil maka kita pun bisa bersantap makanan rumaha, yang akan mengingatkan kita pada Indonesia, dan inshaAllah, halal tentunya. Masalah makanan, memang pada dasarnya bergantung pada pribadi masing-masing yang akan memakannya, namun bagi beberapa orang, bersikap berhati-hati benar-benar mereka terapkan, dan semoga saya pun termasuk pada bagian orang-orang tersebut.

 

s__15990932

Terima kasih, Mbk Ela dan Mas Septian, yang setiap harinya mau direpotin, bahkan datang tanpa undangan

 

Well, itu baru makanan. Ada cerita lain hari ini, yakni mengurus rumah. Mungkin ketika dulu di kosan, kita terbiasa tinggal di asrama, ataupun kontrak bersama rekan-rekan teman sejawat lainnya, yang setidaknya, ada orang lain yang tinggal bersama kita. Ada masalah dengan rumah, ataupun terutama masalah kebersihan kamar mandi, tentu saja orang yang paling routine menjaga kebersihan, pasti akan menjadi orang yang istilahnya “pengontrol” dengan kondisi kebersihan di tempat kita tinggal bersama. Apalagi mungkin ketika kita tinggal bersama kedua orang tua, heum, jangan tanya maka semua akan tinggal tersediakan di depan mata. Baju tersetrika, tercuci setiap waktu, lemari yang rapi, bahkan kamar tempat tinggal, heum, jangan ditanya pastilah orang tua akan selalu menjaga kerapiannya. Menarik dari cerita malam ini, adalah kamar mandi yang mampet. Hidup di luar negeri, jangan tanyalah harga tempat potongan rambut yang biasanya kita lakukan, mungkin sebulan sekali ketika berada di Indonesia. Ya, karena kebetulan harganya pun terjangkau. Apakah di Tokyo tidak terjangkau? Oh tentu tidak, ada pula harga potongan rambut yang seharga ¥ 1000, namun bagi para mahasiswa, tentu saja harga ini bisa dikompromikan, dengan memotong rambut tidak sebulan sekali, bahkan biasanya baru setelah 6 bulan atau 3 bulan, atau jika ada cara lain, adalah membeli alat potong rambut sendiri, dan memotong sendiri. Kebetulan saya pribadi belum berani untuk memotong rambut sendiri, jadi alhasil sudah hampir 6 bulan lebih saya belum memotong rambut, dan masalah hari ini adalah kamar mandi yang mampet, alias aliran air yang tidak berjalan lancar. Saat dulu saya berada di kosan, bersama dengan teman-teman saja, masalah kamar mandi mampet jarang sekali dihadapi, karena kebetulan, kami memiliki Mas Arif, yang amat sangat bersih sekali, dan setiap kali pastilah kamar mandi selalu bersih dan terkuras dengan baik. Namun, ketika sudah berada di luar negeri, tinggal sendiri, maka harus menjadi orang yang bertanggung jawab dengan setiap keperluan diri sendiri. Kamar mandi mampet, karena masalah rambut yang menyangkut di saluran kamar mandi, maka tinggalkan pergi ke toko peralatan kamar mandi, dan mencari alat untuk menghentikan penyumbatan karena rambut. Bagi saya, hal ini menjadikan setiap pribadi yang pernah belajar di luar ataupun di dalam yang terjauh dari keluarga, memiliki nilai positif tersendiri, yaitu menjadi diri untuk mandiri. Masalah kelengkapan alat di sini, janganlah ditanya, mulai dari alat untuk aksesoris kamar mandi, hingga alat-alat untuk menyelesaikan permasalahan umum yang biasa dihadapi, semuanya ada, dan secara sendiri setiap orang bisa menyelesaikan dengan mandiri. Apakah tidak ada penyedia jasa? Penyedia jasa tentunya ada, namun penyedia jasa akan dipakai jika memang masalah yang dihadapi tidak bisa diselesaikan secara mandiri, selain itu menggunakan penyedia jasa, jangan tanya bagaimana mereka menghargai mereka, karena menggunakan jasa, maka bersiap juga untuk merogoh kocek yang cukup dalam, dan tentu saja, bagi seorang mahasiswa yang hanya mendapat beasiswa yang cukup, berprinsip menyelesaikan secara mandiri akan jauh lebih diutamakan sebelum menggunakan jasa, atau terlebih dahulu bertanya pada rekan lainnya, yang mungkin saja pernah mengalami hal yang sama.

Hidup di luar negeri, memang akan sangat menyenangkan, membayangkan bisa berjalan dan menginjakkan kaki di negeri, yang mungkin hanya bisa kita lihat di internet ataupun gambar-gambar kalender yang sering kita beli, adalah setiap impian orang. Apalagi hidup sembari belajar di luar negeri memang sangat menyenangkan. Namun, tetaplah harus kita selalu bawa dalam diri, bahwa kita harus bersiap untuk menjadi orang yang struggle, dan percaya akan mampu melewatinya dengan baik. Dan, selain itu, hidup di luar negeri, maka haruslah banyak belajar akan budaya baik yang bisa diambil, secara tetap memelihara hubungan baik dengan saudara-saudara di Indonesia yang juga sedang menjadi perantau dan pembelajar di negeri tersebut.

Tokyo, 26 Februari 2017
Ketika fajar sedang menunggu waktunya untuk terbit, dan kala angin musim semi mulai menyapa di bumi Sakura. Saat sakura-sakura sedang bersiap merekahkan keindahannya.

Beberapa pekan lalu, sepintas dalam beberapa timeline teman-teman yang menempuh studi di Belanda, sebuah selebaran bertuliskan MataNajwa: Goes to Netherland. Bukan hal baru memang, MataNajwa, menjadi tontonan tersendiri, yang unik, menguak hal-hal baru, mengupas berbagai macam sisi mulai dari sosial, budaya, bahkan hal yang paling kontroversial, dengan para narasumbernya. Bagi saya pribadi, melihat acara MataNajwa memberikan inspirasi tersendiri, bahkan saat Najwa Shihab membacakan puisi-puisi di akhir acara tersebut, ada nilai, makna, ungkapan, yang menjadikan setiap pendengarnya, berpikir dan melihat kenyataan dan realita yang ada.

Walau hanya sebatas membaca status teman, tapi bagi saya, bertanya ataupun sekedar meminta cerita pada teman yang berada di sana, adalah cukup untuk bisa berbagi pesan dengan apa yang sudah mereka dapatkan dalam acara itu. Ini adalah pesan yang Najwa Shihab berikan ketika menutup acara MataNajwa: Goes to Netherland.

Saat rantau menawarkan beribu goda dan harapan
Kampung halaman terasa sungguh meragukan
Di bawah naungan bujuk rayu materi
Tanah air terasa hanya sekedar melankoli
Wajar jika keraguan merajalela
Indonesia tampak belum menjanjikan apa-apa
Tapi Ibu Pertiwi tak pernah bosan memanggil
Perantau kuyuh oleh perasaan sentimentil
Dipanting oleh ingatan dan kenangan
Rindu tanah kelahiran pasti tak tertahankan
Namun kepulangan jangan semata memuaskan kerinduan
Indonesia butuh sumbangsih kalian yang berpengetahuan
Begitu banyak agenda bersama yang harus direalisasikan
Mimpi dan harapan yang harus jadi kenyataan
Kami amat risau menunggu kepulangan kalian yang sedang berguru
Pulanglah kapanpun kalian mau
Saudara-saudara mu juga sangat ingin maju
Rawe rawe rantas malang malang putung
Kita bikin Indonesia jadi bangsa yang agung
@matanajwa

Inilah kutipan puisi yang saya beroleh ijin untuk membagikannya, dari akun instagram teman saya, @sitimariyam1.

27-28 Oktober 1928, adalah momentum sumpah pemuda, yang menjadikan ikatan para pemuda-pemudi Indonesia menjadi satu padu, menghilangkan rasa kedaerahan, menghilangkan jarak kesukuan, dan meleburkan mereka pada rasa cinta akan tanah airnya. Di tengah momentum akan Sumpah Pemuda pada tahun ini, menjadi momentum kembali untuk para pemuda di seluruh penjuru negeri, dan di seluruh dunia, untuk kembali memadukan  rasa persaudaraan dan membangun cintanya untuk membangun negeri, di tengah kerinduan Ibu Pertiwi kepada anak-anak bangsanya.

Bagi saya pribadi, yang saat ini sedang menempuh studi di negeri Sakura, memang tidak dipungkiri, di sini, kehidupan jauh lebih baik, tidak ada hingar bingar kegaduhan politik, keteraturan dalam segala hal, transportasi, kepatuhan pada hukum yang berlaku, dan norma yang ada. Namun, tetaplah, rindu akan tanah air, pada nyatanya tetap tidak terbendung.

Memang benar apa yang disampaikan dalam puisi MataNajwa, ingatan dan kenangan selama perjalanan hidup di bumi pertiwi lah, yang terus menjadikan hati kecil, selalu berbicara,”Suatu saat aku akan pulang, tidak dengan tangan kosong, namun dengan hal kecil yang akan membawa sedikit senyum dan perubahan untuk tanah air”. Namun, sekali lagi ini tidak bisa dilakukan sendiri, namun harus dilakukan dengan kerja-kerja kolektif, kerja-kerja pemuda-pemudi yang saling bantu membantu, saling membahu, dan saling memberikan masukan demi cita-cita yang disampaikan dalam puisi tersebut, yakni “menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang agung”.

Generasi pembelajar, meminjam istilah yang disampaikan oleh Najwa Shihab, adalah generasi terdidik, yang mengabdikan dirinya untuk berguru, membuka cakrawala pemikiran, menjadikan diri untuk terus belajar, rendah hati, selalu bersikap objektif dalam menilai hal-hal yang sedang terjadi, dan bersikap terbuka dengan siapapun. Jika Generasi Pembelajar, pada tahun 1928, dipersatukan karena adanya persamaan untuk menghimpun para pemuda-pemudinya, melawan penjajahan, maka sejatinya, Generasi Pembelajar saat ini pun, sedang diminta oleh Ibu Pertiwi, untuk menjadi mata air, yang membawa kebermanfaatan untuk rakyat Indonesia.

Tokyo, Kita-Ayase, 25 Oktober 2016
Di tengah dinginnya malam langit Tokyo, menilik kembali diri ini, meluruskan niat, dan membaca kembali jalan yang sudah dilaluinya.

 

Welcome Autumn-Winter

Posted: September 28, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

img_1434

Gugur pertama di Negeri Sakura…

Ibarat sebuah pertanda musim yang akan berganti, langit bagaikan mencurahkan seluruh anugerah berupa hujan pada seluruh tanaman dan makhluk hidup di bawahnya. Beberapa hari ini tampak langit Tokyo yang terkadang cerah, kemudian berganti dengan gelayut mendung. Ibarat sebuah pertanda, Tuhan sedan memberikan kesempatan bagi makhluknya untuk menyiapkan datangnya musim gugur yang sekiranya akan berlanjut pada music dingin hingga akhir Maret tahun depan.

Ini adalah pohon Ginko yang berada tepat di tengah Kampus Yayoi, UTokyo. Setiap hari yang terlewati nampaklah, daun-daun yang berguguran, dan daun-daun yang terus menguning menandakan mular masuknya musim gugur yang akan berlanjut pada musim dingin.

Musim yang akan dilewati dengan dinginnya cuaca, dan hangatnya semangat penuh mengejar apa yang sudah pernah menjadi mimpi dan tujuan perjalanan ke negeri ini. Daun yang gugur bagaikan memasrahkan segala urusannya pada Dia yang Maha Memiliki dan Menggenggam semuanya. Begitu juga diri ini, seharusnya terus berpasrah, setelah ikhtiar yang dilakukan.

 

Welcome Autumn-Winter 2016
Sudah 7 bulan saja, saya menginjakkan kaki di negeri ini. Semoga langkah ini menjadi langkah untuk selalu berbuah keberkahan dan kebaikan.

Kita-ayase, 28 September 2016