Posts Tagged ‘Jepang’

Dalam kesehariannya aktivitas di bulan¬†Ramadhan tidak jauh berbeda dengan aktivitas sehari-hari yang dilakukan. Berhubung saya banyak melakukan aktivitas di kampus, tidak serta merta menjadikan Ramadhan menjadi tidak produktif. Kebanyakan orang Jepang masih belum mengenal istilah Ramadhan atau berpuasa bagi setiap muslim yang menjadi kewajibannya. Terkadang, kita harus memberikan pengertian dan apa sebenarnya puasa dalam Islam itu sendiri. FYI, berilah penjelasan yang singkat dan mudah mereka pahami mengenai kewajiban berpuasa ini agar kemudian mereka bisa mengerti, namun jangan berharap kemudian akan ada libur satu atau dua minggu karena berpuasa. Ada hal menarik ketika pertama kali datang melaksanakan kegiatan kampus di awal perkuliahan. Saya akan sedikit berbagi pengalaman tentang ini…

  • Berpuasa di tengah aktivitas laboratorium

Saya adalah mahasiswa asing dan muslim pertama yang diterima oleh Prof. Hiroyasu Onaka untuk menempuh sekolah lanjut di laboratorium beliau (ini pun saya baru tahu selepas farewell seminar dengan seluruh anggota laboratorium). Saya tiba di Tokyo pada 17 April 2016 melalui Bandara International Narita. Kebetulan ketika bulan ini, Tokyo sedang mengalami musim semi (namun sayang di awal pertama kali datang, Bunga Sakura telah berguguran, dan saya hanya mendapatkan sisa-sisanya). Awal pertama kali datang, umumnya professor akan menyiapkan seorang mentor untuk membantu keperluan selama beradaptasi di awal kedatangan, dan tentu saja ini menjadi peluang untuk bertanya mengenai kehidupan di Jepang, dan utamanya kultur atau budaya kerja di laboratorium yang kita akan belajar di sana sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Alhasil, saya ingat bahwa pada Bulan Juni, saya akan melaksanakan puasa pertama di negeri rantau, Jepang. Lalu saya sampaikanlah mengenai kewajiban ini kepada mentor saya waktu itu, Morito Shimomura. Mengapa ini perlu dilakukan? Sebagai sedikit informasi, salah satu kultur yang sering dilakukan di laboratorium saya adalah makan siang bersama bagi dengan seluruh anggota laboratorium dan berhubungan professor saya menyenangi party, sering kali ketika mendekati weekend, pada hari Jum’at, laboratorium saya melaksanakan party. Hal ini penting disampaikan agar mereka sudah paham ketika misal kita sedang berpuasa di saat Ramadhan. Pun jika memiliki kebiasaan untuk berpuasa sunnah, juga ada baiknya disampaikan. Meski terkadang ada sedikit effort¬†untuk menjelaskan mengapa kita sebagai ummat Islam melaksanakan kegiatan tersebut.

Suatu hari pernah ketika itu saya melaksanakan puasa sunnah, sekaligus untuk mempersiapkan fisik dengan kondisi negara baru. Hal terduga kadang pun akan muncul dari professor atau assistant professor ketika melaksanakan aktivitas di laboratorium. Kala itu saya ditelpon dari office untuk mengikuti makan siang, namun kemudian saya menyampaikan kepada mentor saya bahwa hari itu sedang berpuasa (di sini menjadi kata kunci, yakni komunikasi sangat penting agar saling memahami). Mentor saya ternyata kemudian menjelaskan kondisi ini kepada rekan-rekan lab yang kala itu makan siang. Dan ternyata sedikit mengejutkan respon mereka ketika saya kembali ke office kala itu. Ada yang bertanya apakah saya baik-baik saja dengan tidak makan dan minum dari Shubuh (fajar menyingsing) hingga Maghrib (tenggelamnya matahari), dan eksperi yang unik bahkan datang dari professor saya yang khawatir saya mati dengan tidak makan dan minum. Tetapi semua itu bernilai syi’ar dan dakwah kepada mereka. Karena pada akhirnya, dalam sebuah pesta akhir tahun (bonenkai) mereka kemudian bertanya apa pentingnya puasa bagi ummat Islam dan mengapa itu menjadi kewajiban. Bagi mereka ternyata Islam begitu menarik dengan segala kewajibannya. Bahkan sebuah jalan syi’ar adalah ketika mereka menanyakan bagaimana kami beribadah (shalat), serta di mana lokasi kami shalat mengingat tidak ada tempat khusus, semacam mushalla atau masjid, yang disediakan bagi kami, yang beragama Islam, untuk melaksanakan shalat.

Salah satu kisah unik ketika Ramadhan adalah party yang mereka hadirkan hingga menunggu waktu adzan bagi saya kala itu untuk bersantap makanan. Ceritanya kala itu, hari Jum’at dan tepat di Bulan Ramadhan pertama di sana. Ketika itu, saya sudah menyampaikan bahwa saya akan berpuasa selama satu bulan penuh (ekspresi mereka kala itu adalah sedikit kekhawatiran, namun jangan berharap dapat libur ya… hehehe) dan mereka pun menanyakan tanggal saya akan memulai dan mengakhirinya. Kebetulan di minggu kedua Ramadhan, lab akan mengadakan party, karena akan ada anggota universitas kenalan sensei besar yang akan berpindah tugas ke Amerika. Jadilah waktu itu saya pun diminta untuk memasak masakan Indonesia, yakni opor ayam. Di tengah puasa yang masuk pada musim panas kala itu, jadilah saya berpuasa 16 jam, yang berakhir pada waktu berbuka sekitar kurang lebih pukul 18.45. Uniknya sensei kemudian meminta menghidangkan makanan pada pukul 18.30, karena biasanya party lab dimulai pukul 18.00. Lalu beliau menyampaikan kepada koleganya bahwa saya sedang berpuasa, sehingga dia memulai pukul 18.30, meskipun tetap sensei menyampaikan bahwa akan memulai party 15 menit lebih awal dari jadwal berbuka saya. Namun bagi saya pribadi kala itu, ini adalah salah satu bentuk toleransi yang diberikan. Sejatinya, intinya adalah komunikasi yang baik antara student dan professor sehingga bisa didapat rasa saling respect dengan satu yang lain.

…bersambung…

InshaAllah serba-serbi kegiatan di Tokyo lainnya akan terus saya tulis, semoga bermanfaat…

 

Advertisements

Cerita Jepang #1

Posted: May 22, 2018 in Perjalanan
Tags: , , ,

Hello, sahabat semua, semoga Ramadhan kali ini akan memberikan kita ketenangan serta benar-benar menjadikan kita mendapatkan derajat taqwa, sebagaimana Allah firmankan dalam Al-Baqarah: 183. Rasanya setiap dari kita pasti sudah hafal dengan surat ini. Ya, surat yang memerintahkan setiap mukmin dan mukminah untuk kemudian berpuasa.

Namun, sebelumnya, ijinkan saya menyapa dengan salam, Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh. Sebuah salam terbaik yang baginda Rasulullah ajarkan untuk mendoakan keselamatan setiap orang yang berjumpa diri kita, termasuk para pembaca tulisan ini, semoga keselamatan, dari-Nya, yang akan selalu menjadikan diri ini penuh keberkahan dalam setiap aktivitasnya. Di tulisan kali ini, mohon maaf jika tulisan yang dibuat tidak begitu formal, bahkan cenderung merupakan format tulisan bebas.

Ya, memang kali ini saya akan berbagi sedikit pengalaman selama 2 tahun, ketika menjalani Ramadhan di Negeri Sakura. Jepang yang terletak di sebelah timur laut Indonesia memang begitu menakjubkan. Bagi kebanyakan orang, termasuk saya, bisa jadi Jepang adalah Eropa atau Amerika rasa Asia. Hehe. Mengapa? Kalau saya sebut Amerika punya patung Liberty yang menjadi landmark negara ini, maka jangan salah, Jepang pun punya patung ini, namun lebih kecil dan terletak di Odaiba (teman-teman yang pernah ke Jepang, pasti tahulah tempat ini, tempat romantis, dan cakep untuk membuat foto kenangan di negeri Sakura).

Kenapa Eropa juga? Kalau teman-teman pernah dengar nama Tsuchiura, di daerah ini ada sebuah tempat yang menyajikan hamparan tanaman tulip lengkap dengan bangunan kincir anginnya, sehingga tampaklah bagaikan berada di Negeri Van Oranje, Belanda. FYI, kalau mau ke sini pas musim natsu (musim panas), biasanya bunga-bunga sudah bermekaran dan siap memanjakan mata kita dengan keindahan, dan tentu saja siapkan kamera dan jangan lupa abadikan momen terbaik anda bersama keluarga, teman, dan partner anda (ssstt… jangan lupa ya, partner yang Halal, karena pacaran setelah menikah itu asyik, he, ini judul salah satu buku Ustadz Salim A. Fillah). 8Sejujurnya penulis belum pernah ke sana, karena harap maklum, kegiatan jikken (eksperimen)¬†di laboratorium¬†lebih diutamakan. Lalu dari mana dapat kabar dan informasinya? Biasanya penulis lihat di IG Story kawan yang, alhamdulillah ‘ala kulli lah, Allah beri waktu dan kesempatan ke sana, dan penulis mencuri lihat keindahannya dari IG Story yang diberikan. Sebagai alasan, haha, karena dengan inilah sebagai salah satu hiburan ketika muncul penat dengan kegiatan di laboratorium. Jadi, sesama perantau di negeri orang, kami ingin selalu berbagi dengan teman-teman Indonesia kami, karena kami yakin bahwa dengan ini rasa cinta dan rindu akan tanah air bisa terobati, dan semangat menyelesaikan hal yang sudah dimulai bisa bangkit kembali.
(hahaha… maapkeun penulis yang teramat berlebihan nampaknya di sini… but, it is ok)

Hari ini saya akan membagi beberapa hal yang berkaitan dengan serba-serbi dari Tokyo atau Jepang di kala Ramadhan khususnya, dan ketika aktivitas sehari-hari. Yuk, tengok beberapa kegiatan yang biasanya penulis lakukan di kegiatan Ramadhan, atau aktivitas sehari-sehari…

  • KMII dengan kegiatan Tabligh Akbar dan WS di Ramadhan

Pertama kali datang ke Tokyo, hal yang pertama saya cari waktu itu adalah kegiatan keIslaman yang banyak dilakukan di Tokyo. Pertama kali saya mendapat informasi mengenai Kajian Islam KIMOCHI di Masjid Assalam, Okachimach. Kala itu pertama kali masih jauh jarak yang ditempuh untuk menuju Masjid (dulu berpikir ada kereta akan tidak lelah meskipun perjalanan jauh, tapi kenyataannya sama saja tetap lelah, harap maklum anak kampung di kota yang modern). FYI, di Tokyo, saya hampir 3 kali berganti tempat tinggal, dan pengurusan ke Kuyakusho (semacam kecamatan begitu sangat mudah, yang sulit adalah ketika harus berbicara nihonggo, padahal pertama kali datang, nihonggo saya adalah 0, istilah para senpai (senior), nihonggo tabemasen. Tapi, kali ini kemudahan banyak datang, pertama pindah dibantu oleh rekan satu laboratorium, pindahan kedua memberanikan diri dengan hanya menyampaikan haik ketika dijelaskan, hingga akhirnya pindahan ketiga mendapatkan kemudahan karena ada petugas yang mampu berbahasa Inggris, meskipun terkadang harus menggunakan google translate ketika petugas tidak memahami kata-kata yang disampaikan. Then, balik ke kegiatan keIslaman di sana, akhirnya saya pun diajak bergabung kala itu dengan kegiatan Shubuh Berjamaah di Musholla SRIT (kala itu MIT (Masjid Indonesia Tokyo) sedang dalam masa peletakan batu pertama, penandatanganan kontrak, dan penyiapan pembangunan, cerita tentang MIT mungkin bisa dilihat di web Masjid Indonesia Tokyo). Kegiatan Shubuh Berjamaah ini rutin dilakukan oleh para jamaah yang berdekatan di daerah Meguro. Lalu saya kapan ke sana? Kesempatan ini hadir ketika weekend sudah masuk, yakni pada hari Sabtu. Karena di sinilah saya bisa mengambil waktu untuk menginap (mabit) lalu dilanjutkan dengan Shubuh Berjamaah dan tentu saja, ini semacam tradisi, kami para jamaah (alhamdulillah, jamaah selalu ramai dan banyak hadir dari wilayah Kanto) dilanjutkan dengan tausiyah di Shubuh hingga menjelang waktu Syuruq, lalu dilanjutkan bersantap pagi. Nah, kapan mengenal KMII? Hehe, di sinilah saya kemudian tahu bahwa ada organisasi Keluarga Masyarakat Islam Indonesia, yang kemudian banyak mengadakan kegiatan terkait Ramadhan, Iedul Fitri, Iedul Adha, Muharram, Kajian Islam (Islam Gakkou) untuk nihonjin (orang Jepang), yang bekerja sama juga dengan organisasi Islam lainnya di Tokyo khususnya. Mengapa tertarik? Karena dasarnya saya orang yang senang untuk bergaul, maka di sana saya benar-benar mendapat keluarga baru, bertemu dengan para anak-anak bangsa yang semenjak S1 sudah mengenyam pendidikan di Negeri Sakura, bertemu dengan para trainee (yang luar biasa bersemangat mendapatkan ilmu dan Islam di sini), bertemu para perawat Indonesia yang bekerja di Jepang, dan tentu saja bertemu dengan orang-orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Jepang. Di sini saya mendapat rumah kedua, bertemu dengan orang-orang yang mencintai agamanya, Islam, dan mencintai tanah airnya Indonesia.

Di sini kami menjadi keluarga untuk memberikan kegiatan Islami terbaik dan menjadi panitia dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh KMII tersebut. Gitu aja mas, apa yang dirindukan pas Ramadhan? Santai mas/mbk, di sinilah nikmatnya ukhuwah. Ketika Ramadhan hadir, kegiatan Tabligh Akbar dan Workshop hadir di setiap akhir pekan Ramadhan. Ustadz dari Indonesia hadir untuk menyirami hati-hati yang kering karena lamanya tidak tersentuh oleh air sejuk dan menyejukkan, langsung dari para Ustadz (sedikit bolehlah ya puitis, hehe). Di sinilah kami diuji keihlasannya, ketika setiap pekan yang sudah terbagi dalam kepanitiaan kecil, kemudian, tetap ada rasa saling membantu untuk saling menyukseskan setiap kegiatan Ramadhan yang sudah dicanangkan meski terkadang hasil koordinasi di awal oke, namun ternyata di lapangan belum maksimal. Di momen-momen seperti ini terasa bahwa ta’aruf (rasa kenal) teruji antara satu yang lain dalam hal berkoordinasi, berkomunikasi, bahkan sampai pada sikap saling untuk memaklumi.

Selain itu, hal yang tentu saja paling dirindukan dari kegiatan di sini adalah makan besar (kalau ini macam-macam, kadang bakso, atau apalah yang diberikan oleh ibu-ibu penjual bazar) rame-rame selepas kegiatan TA selesai bareng panitia lainnya. Meskipun esok adalah hari Senin, namun di sini kita saling memahami bahwa setiap orang yang di sana pastilah sibuk dan memiliki kerja masing-masing (bahkan penulis sendiri jujur beberapa kali kegiatan Tabligh Akbar selesai, harus pulang lebih awal mengingat terkejar oleh deadline tugas, namun di sinilah terasa manisnya iman dan Islam dari setiap saudara/saudari yang beraktivitas bersama untuk kegiatan yang juga berbuah kebaikan untuk kemaslahatan orang lain).

…bersambung…

Beberapa hari ini terpikir mengenai konsep pemilahan sampah yang saya lakukan selama dua tahun berada di Negeri Sakura. Sebenarnya konsep pemilahan ini sudah sering kali didengungkan di negeri ini, namun sepertinya tidak ada dampak yang langsung terasa meskipun sudah sering kali diberikan banyak konsep pemilahan sampah yang ada. Namun bisa jadi, pernyataan ini dikarenakan saya masih kurang memiliki data valid atau informasi yang memadai mengenai hal tersebut. Hanya saja kali ini, saya hanya ingin berbagi mengenai bagaimana prosedur pemilahan sampah dan pengumpulan sampah dilakukan di tempat saya tinggal, yakni Bunkyo-ku.

Di Negeri Sakura, Jepang, setiap tempat tinggal atau kecamatan, memiliki cara tersendiri dalam hal pemilahan dan pengumpulan sampahnya. Namun, kali ini saya hanya akan menceritakan proses yang saya alami ketika berada di lingkungan Bunkyo-ku. Pertama kali mendaftar atau melaporkan diri ke kecamatan setempat, maka di sana juga kami mendapatkan satu lembar kertas yang berisi informasi mengenai cara pemilahan sampah, serta waktu pengumpulan sampah. Tidak semua sampah akan diangkut pada hari yang sama, akan tetapi, kecamatan mengatur hari pengambilan sampah di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya. Semisal, pada hari Senin, petugas akan mengumpulan sampah burnable, lalu pada hari Selasa, akan dikumpulkan sampah unburnable, dan seterusnya.

Menurut pribadi saya yang masih harus banyak belajar ini, metode ini tentu saja akan sangat berguna dan sangat baik untuk diterapkan di Indonesia, lalu kemudian akan memberikan dampak yang sangat baik terhadap lingkungan di Indonesia. Acap kali, pribadi ini menginginkan perubahan, namun sayangnya perubahan tidak dilakukan dengan tindakan yang sangat tepat dan bersifat menyeluruh. Pun acap kali pribadi ini menginginkan sungai-sungai bersih yang mengalir tanpa adanya sampah, namun sayang jika kemudian perilaku membuang sampah ke sungai, dan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir sampah masih saja dilakukan, yang pada akhirnya berdampak pada banjir.

Pengelolaan sampah yang baik dan benar, pada akhirnya bisa membantu untuk menjadikan kondisi alam, terutamanya lingkungan menjadi semakin baik. Sampah-sampah organik bisa digunakan untuk dijadikan pupuk, yang pada akhirnya bisa digunakan oleh para petani lokal ataupun jika bisa dikelola secara nasional dapat menjadi alternatif untuk menanggulangi kelangkaan pupuk yang terkadang terjadi bagi para petani. Sekali lagi hal ini akan membantu mengurangi kesulitan para petani dalam mengatasi hal kelangkaan pupuk. Sampah-sampah yang bersifat anorganik dapat digolongkan dalam burnable garbage, yang tentu saja, perlu sentuhan yang tepat dalam pengelolaannya. Sampah-sampah yang bersifat unburnable kemudian pada akhirnya bisa digolongkan untuk barang-barang yang masih digunakan kembali atau tidak. Tentu saja, kehadiran dan perkembangan science dan technology yang saat ini telah berkembang pesat, dan mulai diterapkan di beberapa negara maju, bisa membantu untuk kemudian meningkatkan nilai guna sampah.

Satu hal yang kemudian menjadi penting adalah sikap untuk taat dan patuh pada aturan yang berlaku, dan sebuah sikap malu ketika membuang sampah di sembarang tempat.

Sekali lagi, ini adalah sebuah opini pribadi penulis, yang tentu saja masih jauh dari kesempurnaan. Namun, sekali lagi jika sebuah pekerjaan dapat memberikan sebuah nilai baik, barang tentu hal ini perlu dicontoh. Apalagi bagi saya seorang muslim, di mana dalam Al-Qur’an telah dijelaskan 1400 tahun lalu, bahwa kerusakaan di muka bumi terjadi karena ada sifat tamak dan rakus manusia, serta kurangnya rasa peduli untuk kemudian mengelola apa yang ada di muka bumi dengan baik dan benar, begitu juga dengan sampah.

 

Malang, 29 April 2018
Selamat menikmati akhir pekan di Indonesia, dan selamat menikmati pekan Golden Week di Tokyo.

Hampir separuh perjalanan saya sudah hampir selesaikan selama menempuh studi di negeri yang penuh keteraturan, dan tentu saja, bagi teman-teman, mengunjungi negara Jepang, menjadi kesenangan sendiri karena bisa menjelajah satu-persatu setiap negara di belahan bumi manapun. Hampir dulu, setiap saya mendengar orang akan belajar ke luar negeri, satu hal yang ketika itu saya bayangkan, berlibur, sembari belajar dan bahkan hidup dengan nyaman di negeri orang. Heum, itu dulu, ketika saya masih menjadi pelajar di negeri gemah ripah loh jinawi, yang dalam sebuah nyanyian dikatakan, tongkat kayu jadi pohon. Ya, siapa yang tidak akan senang, ketika tahu akan tinggal dan belajar di negeri Sakura, ataupun di negeri-negeri lainnya. Bukan kepayang, akan kehidupan, bahkan lingkungan baru yang akan dihadapi, penuh ketenangan, tidak ada hiruk pikuk politik sana dan sini, adanya saling menghargai, dan tentu saja bagi saya, adalah menemukan nuansa Islam yang baru dan bertemu dengan keluarga-keluarga. Di sini, adalah tempat menempa diri untuk mengasah kepedulian, kepekaan, bahkan mengasah rasa saling membutuhkan satu yang lain, tidak terlepas juga, bagi saya seorang muslim, adalah menumbuhkan rasa saling menyayangi dan menghormati antar saudara-saudara muslim lainnya, yang mungkin mereka berbeda secara latar belakang keluarga, serta berbeda dalam pandangan mazhabnya.

Indah sekali memang, semua serasa berada dalam impian yang kemudian menjadi nyata. Heum, tapi hidup di luar negeri, sembari belajar dan menekuni bidang yang ingin didalami, ternyata akan membawa dampak yang jauh lebih besar terhadap pribadi kehidupan yang bisa dibawa pulang dan diterapkan ketika pulang ke negeri Indonesia. Hari ini memang terasa sangat istimewa bagi saya pribadi.

Ya, kehidupan setelah menjadi anak kos di tempat kuliah semasa S1, di UGM, memang pada akhirnya terbawa ketika sudah berada jauh dari kenyamanan saat dulu semasa berada di Yogyakarta. Mari bayangkan, kehidupan nyaman di Yogyakarta, dimulai dari makanan yang serba bisa kita makan, terutama untuk muslim, tidak begitu menyulitkan untuk dicari. Berangkat 500 m di depan kosan, pastilah ada warung, yang biasa dikenal burjo, yang menjajakan makanan serba murah. Lapar di tengah malam, dan ingin makanan serba lain, maka tinggal menunggu gerobak dorong, yang akan menjajakan makanan berupa nasi goreng, mie goreng, ataupun terkadang penjual batagor ataupun siomay, yang bisa saja kita beli kapan pun sedang dibutuhkan untuk mengganjal perut di kala keroncongan perut sedang berbunyi. Nyaman? Tentu saja. Namun ketika sudah tinggal di luar negeri, bagi saya seorang muslim, bersikap berhati-hati akan sangat diperlukan. Memperhatikan setiap komposisi makanan, tentu saja, bahkan terkadang menanyakan kepada mereka yang paham akan komposisi makanan tersebut. Selain itu, berharap ada warung di depan apartemen yang kita tinggali, oh tentu saja tidak ada. Maka, jalan satu-satunya adalah memasak di apartemen sendiri, ataupun berkunjung ke rumah sesama orang Indonesia, berbincang, dan alhasil maka kita pun bisa bersantap makanan rumaha, yang akan mengingatkan kita pada Indonesia, dan inshaAllah, halal tentunya. Masalah makanan, memang pada dasarnya bergantung pada pribadi masing-masing yang akan memakannya, namun bagi beberapa orang, bersikap berhati-hati benar-benar mereka terapkan, dan semoga saya pun termasuk pada bagian orang-orang tersebut.

 

s__15990932

Terima kasih, Mbk Ela dan Mas Septian, yang setiap harinya mau direpotin, bahkan datang tanpa undangan

 

Well, itu baru makanan. Ada cerita lain hari ini, yakni mengurus rumah. Mungkin ketika dulu di kosan, kita terbiasa tinggal di asrama, ataupun kontrak bersama rekan-rekan teman sejawat lainnya, yang setidaknya, ada orang lain yang tinggal bersama kita. Ada masalah dengan rumah, ataupun terutama masalah kebersihan kamar mandi, tentu saja orang yang paling routine menjaga kebersihan, pasti akan menjadi orang yang istilahnya “pengontrol” dengan kondisi kebersihan di tempat kita tinggal bersama. Apalagi mungkin ketika kita tinggal bersama kedua orang tua, heum, jangan tanya maka semua akan tinggal tersediakan di depan mata. Baju tersetrika, tercuci setiap waktu, lemari yang rapi, bahkan kamar tempat tinggal, heum, jangan ditanya pastilah orang tua akan selalu menjaga kerapiannya. Menarik dari cerita malam ini, adalah kamar mandi yang mampet. Hidup di luar negeri, jangan tanyalah harga tempat potongan rambut yang biasanya kita lakukan, mungkin sebulan sekali ketika berada di Indonesia. Ya, karena kebetulan harganya pun terjangkau. Apakah di Tokyo tidak terjangkau? Oh tentu tidak, ada pula harga potongan rambut yang seharga ¬• 1000, namun bagi para mahasiswa, tentu saja harga ini bisa dikompromikan, dengan memotong rambut tidak sebulan sekali, bahkan biasanya baru setelah 6 bulan atau 3 bulan, atau jika ada cara lain, adalah membeli alat potong rambut sendiri, dan memotong sendiri. Kebetulan saya pribadi belum berani untuk memotong rambut sendiri, jadi alhasil sudah hampir 6 bulan lebih saya belum memotong rambut, dan masalah hari ini adalah kamar mandi yang mampet, alias aliran air yang tidak berjalan lancar. Saat dulu saya berada di kosan, bersama dengan teman-teman saja, masalah kamar mandi mampet jarang sekali dihadapi, karena kebetulan, kami memiliki Mas Arif, yang amat sangat bersih sekali, dan setiap kali pastilah kamar mandi selalu bersih dan terkuras dengan baik. Namun, ketika sudah berada di luar negeri, tinggal sendiri, maka harus menjadi orang yang bertanggung jawab dengan setiap keperluan diri sendiri. Kamar mandi mampet, karena masalah rambut yang menyangkut di saluran kamar mandi, maka tinggalkan pergi ke toko peralatan kamar mandi, dan mencari alat untuk menghentikan penyumbatan karena rambut. Bagi saya, hal ini menjadikan setiap pribadi yang pernah belajar di luar ataupun di dalam yang terjauh dari keluarga, memiliki nilai positif tersendiri, yaitu menjadi diri untuk mandiri. Masalah kelengkapan alat di sini, janganlah ditanya, mulai dari alat untuk aksesoris kamar mandi, hingga alat-alat untuk menyelesaikan permasalahan umum yang biasa dihadapi, semuanya ada, dan secara sendiri setiap orang bisa menyelesaikan dengan mandiri. Apakah tidak ada penyedia jasa? Penyedia jasa tentunya ada, namun penyedia jasa akan dipakai jika memang masalah yang dihadapi tidak bisa diselesaikan secara mandiri, selain itu menggunakan penyedia jasa, jangan tanya bagaimana mereka menghargai mereka, karena menggunakan jasa, maka bersiap juga untuk merogoh kocek yang cukup dalam, dan tentu saja, bagi seorang mahasiswa yang hanya mendapat beasiswa yang cukup, berprinsip menyelesaikan secara mandiri akan jauh lebih diutamakan sebelum menggunakan jasa, atau terlebih dahulu bertanya pada rekan lainnya, yang mungkin saja pernah mengalami hal yang sama.

Hidup di luar negeri, memang akan sangat menyenangkan, membayangkan bisa berjalan dan menginjakkan kaki di negeri, yang mungkin hanya bisa kita lihat di internet ataupun gambar-gambar kalender yang sering kita beli, adalah setiap impian orang. Apalagi hidup sembari belajar di luar negeri memang sangat menyenangkan. Namun, tetaplah harus kita selalu bawa dalam diri, bahwa kita harus bersiap untuk menjadi orang yang struggle, dan percaya akan mampu melewatinya dengan baik. Dan, selain itu, hidup di luar negeri, maka haruslah banyak belajar akan budaya baik yang bisa diambil, secara tetap memelihara hubungan baik dengan saudara-saudara di Indonesia yang juga sedang menjadi perantau dan pembelajar di negeri tersebut.

Tokyo, 26 Februari 2017
Ketika fajar sedang menunggu waktunya untuk terbit, dan kala angin musim semi mulai menyapa di bumi Sakura. Saat sakura-sakura sedang bersiap merekahkan keindahannya.

Beberapa pekan lalu, sepintas dalam beberapa timeline teman-teman yang menempuh studi di Belanda, sebuah selebaran bertuliskan MataNajwa: Goes to Netherland. Bukan hal baru memang, MataNajwa, menjadi tontonan tersendiri, yang unik, menguak hal-hal baru, mengupas berbagai macam sisi mulai dari sosial, budaya, bahkan hal yang paling kontroversial, dengan para narasumbernya. Bagi saya pribadi, melihat acara MataNajwa memberikan inspirasi tersendiri, bahkan saat Najwa Shihab membacakan puisi-puisi di akhir acara tersebut, ada nilai, makna, ungkapan, yang menjadikan setiap pendengarnya, berpikir dan melihat kenyataan dan realita yang ada.

Walau hanya sebatas membaca status teman, tapi bagi saya, bertanya ataupun sekedar meminta cerita pada teman yang berada di sana, adalah cukup untuk bisa berbagi pesan dengan apa yang sudah mereka dapatkan dalam acara itu. Ini adalah pesan yang Najwa Shihab berikan ketika menutup acara MataNajwa: Goes to Netherland.

Saat rantau menawarkan beribu goda dan harapan
Kampung halaman terasa sungguh meragukan
Di bawah naungan bujuk rayu materi
Tanah air terasa hanya sekedar melankoli
Wajar jika keraguan merajalela
Indonesia tampak belum menjanjikan apa-apa
Tapi Ibu Pertiwi tak pernah bosan memanggil
Perantau kuyuh oleh perasaan sentimentil
Dipanting oleh ingatan dan kenangan
Rindu tanah kelahiran pasti tak tertahankan
Namun kepulangan jangan semata memuaskan kerinduan
Indonesia butuh sumbangsih kalian yang berpengetahuan
Begitu banyak agenda bersama yang harus direalisasikan
Mimpi dan harapan yang harus jadi kenyataan
Kami amat risau menunggu kepulangan kalian yang sedang berguru
Pulanglah kapanpun kalian mau
Saudara-saudara mu juga sangat ingin maju
Rawe rawe rantas malang malang putung
Kita bikin Indonesia jadi bangsa yang agung
@matanajwa

Inilah kutipan puisi yang saya beroleh ijin untuk membagikannya, dari akun instagram teman saya, @sitimariyam1.

27-28 Oktober 1928, adalah momentum sumpah pemuda, yang menjadikan ikatan para pemuda-pemudi Indonesia menjadi satu padu, menghilangkan rasa kedaerahan, menghilangkan jarak kesukuan, dan meleburkan mereka pada rasa cinta akan tanah airnya. Di tengah momentum akan Sumpah Pemuda pada tahun ini, menjadi momentum kembali untuk para pemuda di seluruh penjuru negeri, dan di seluruh dunia, untuk kembali memadukan  rasa persaudaraan dan membangun cintanya untuk membangun negeri, di tengah kerinduan Ibu Pertiwi kepada anak-anak bangsanya.

Bagi saya pribadi, yang saat ini sedang menempuh studi di negeri Sakura, memang tidak dipungkiri, di sini, kehidupan jauh lebih baik, tidak ada hingar bingar kegaduhan politik, keteraturan dalam segala hal, transportasi, kepatuhan pada hukum yang berlaku, dan norma yang ada. Namun, tetaplah, rindu akan tanah air, pada nyatanya tetap tidak terbendung.

Memang benar apa yang disampaikan dalam puisi MataNajwa, ingatan dan kenangan selama perjalanan hidup di bumi pertiwi lah, yang terus menjadikan hati kecil, selalu berbicara,”Suatu saat aku akan pulang, tidak dengan tangan kosong, namun dengan hal kecil yang akan membawa sedikit senyum dan perubahan untuk tanah air”. Namun, sekali lagi ini tidak bisa dilakukan sendiri, namun harus dilakukan dengan kerja-kerja kolektif, kerja-kerja pemuda-pemudi yang saling bantu membantu, saling membahu, dan saling memberikan masukan demi cita-cita yang disampaikan dalam puisi tersebut, yakni “menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang agung”.

Generasi pembelajar, meminjam istilah yang disampaikan oleh Najwa Shihab, adalah generasi terdidik, yang mengabdikan dirinya untuk berguru, membuka cakrawala pemikiran, menjadikan diri untuk terus belajar, rendah hati, selalu bersikap objektif dalam menilai hal-hal yang sedang terjadi, dan bersikap terbuka dengan siapapun. Jika Generasi Pembelajar, pada tahun 1928, dipersatukan karena adanya persamaan untuk menghimpun para pemuda-pemudinya, melawan penjajahan, maka sejatinya, Generasi Pembelajar saat ini pun, sedang diminta oleh Ibu Pertiwi, untuk menjadi mata air, yang membawa kebermanfaatan untuk rakyat Indonesia.

Tokyo, Kita-Ayase, 25 Oktober 2016
Di tengah dinginnya malam langit Tokyo, menilik kembali diri ini, meluruskan niat, dan membaca kembali jalan yang sudah dilaluinya.

 

Welcome Autumn-Winter

Posted: September 28, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

img_1434

Gugur pertama di Negeri Sakura…

Ibarat sebuah pertanda musim yang akan berganti, langit bagaikan mencurahkan seluruh anugerah berupa hujan pada seluruh tanaman dan makhluk hidup di bawahnya. Beberapa hari ini tampak langit Tokyo yang terkadang cerah, kemudian berganti dengan gelayut mendung. Ibarat sebuah pertanda, Tuhan sedan memberikan kesempatan bagi makhluknya untuk menyiapkan datangnya musim gugur yang sekiranya akan berlanjut pada music dingin hingga akhir Maret tahun depan.

Ini adalah pohon Ginko yang berada tepat di tengah Kampus Yayoi, UTokyo. Setiap hari yang terlewati nampaklah, daun-daun yang berguguran, dan daun-daun yang terus menguning menandakan mular masuknya musim gugur yang akan berlanjut pada musim dingin.

Musim yang akan dilewati dengan dinginnya cuaca, dan hangatnya semangat penuh mengejar apa yang sudah pernah menjadi mimpi dan tujuan perjalanan ke negeri ini. Daun yang gugur bagaikan memasrahkan segala urusannya pada Dia yang Maha Memiliki dan Menggenggam semuanya. Begitu juga diri ini, seharusnya terus berpasrah, setelah ikhtiar yang dilakukan.

 

Welcome Autumn-Winter 2016
Sudah 7 bulan saja, saya menginjakkan kaki di negeri ini. Semoga langkah ini menjadi langkah untuk selalu berbuah keberkahan dan kebaikan.

Kita-ayase, 28 September 2016