Archive for September, 2014

Senja Fafanlap

Posted: September 20, 2014 in Puisi
Tags: ,
1956743_10202901508194152_5497626540141647957_o

Salam Cinta dari Aceh untuk Fafanlap. Senja yang sama, namun berbeda tempat membuat kami merindukan kalian di sana

Kami menantinya setiap saat
Pancaran jingga berlapis biru yang menghiasi langitnya
Memancarkan rona bertabur gelap yang akan datang
Senja Fafanlap
Senja yang selalu ku lihat di tepi dermaga
Senja yang selalu ku nanti
Merindukan kabar dari setiap mutiara di sana
Kawan, kadang rasa ini tidak dimengerti
Senja itu rasanya tak sama antara di sini dan di sana
Senja itu terasa berbeda
Entah karena hadirnya engkau, ataukah yang lain
Rasanya kami ingin kembali mengulangnya
Menanti setiap senja yang hadir dalam hari-hari ini
Namun, apalah daya ini
Hanya rindu yang setiap hari kami tanam
Hanya ingatan yang setiap hari aku putar
Senja Fafanlap
Senja kerinduan yang kini kami nanti
Di kala kami sedang sendiri meniti rindu di hati
Senja Fafanlap
Senja keceriaan yang bertabur mimpi
Dari mereka, mutiara hati yang tertinggal di sana
Senja Fafanlap
Senja kesenangan
Tatkala ukhuwah ini semakin erat terjalin
Antara aku, kamu, dan keluarga baru itu
Senja Fafanlap
Senja haru-biru
Ketika langkah ini semakin pasti mengingat setiap tujuan pasti
Senja Fafanlap
Di sanalah esok, aku akan kembali
Melihat binar cahaya matahari bertabur jingga keemasan
Menapaki setiap langkah yang pernah kami tuliskan di negeri itu
Kampung Fafanlap yang akan selalu menjadi memori terbaik kami

Untukmu Teman

Posted: September 19, 2014 in Hikmah
Tags: , , , ,

“masih ada jalan yang akan menjadi pengingat, antara aku, kamu, dan kisah yang sudah kita tulis di Bumi Misool, Fafanlap”

Matahari yang mulai naik dari setiap peraduannya, menjadi saksi begitu kisah ini sangat sulit untuk dihapuskan secara pelan-pelan. Kawan, pernahkah mengingat kisah yang mungkin kita sendiri tidak akan pernah lupakan selama ini? Iya, memori-memori yang pernah dilukis satu dengan yang lainnya. Memori yang setiap jengkal kita rekam, karena ukhuwah yang sudah mengikat satu dengan yang lainnya. Memori yang terekam jelas dalam setiap sudut mata yang senantiasa dipandangi dalam hari-hari yang sudah dilalui. Memori akan kenangan saat kita masih membangun, mendalami, dan merasakan kehidupan sederhana di kampung itu.
Ya, setiap hari, setiap detak jantung, setiap nafas yang berhembus, setiap detik jarum jam yang bergerak. Rasa itu tidak akan pernah hilang dari perasaan yang terus semakin kencang dan tajam untuk terus diingat. Kawan, terkadang rasanya bingung, ingin menulis dari mana kisah yang sudah terangkai sempurna di Kampung Fafanlap. Kisah yang terlukis dengan sebuah pelangi-pelangi yang setiap orang menghiasinya dengan warna yang begitu berbeda, satu dengan yang lainnya. Seorang sahabat pernah mengatakan,”akan ada pelangi setelah hujan itu datang. Akan ada orang yang memelukmu, setelah tangis itu pecah”. Benarlah itu demikian adanya. Tawa, tangis, sedih, senang, harus, dan apapun perasaan itu, telah tercampur aduk, bagaikan sebuah adonan yang memiliki rasa yang tepat, bahkan begitu unik jika kemudian kita bagikan pada yang lainnya.
Bumi Misool, siapa yang pernah menyangka, pertemuan itu akan berawal dari perjuangan tekad yang diawal pun rasanya ini tidak akan semudah membolak-balikkan telapak tangan. Terlebih lagi, banyaknya tantangan yang telah Allah berikan dalam perjalanan, yang pada akhirnya mengajarkan kita semua di sini, banyak hal. Pertemuan di awal, yang menyebabkan hati-hati ini mencoba mengenal satu dengan yang lain. Pertemuan yang pada akhirnya menjadikan kita, pernah memiliki tujuan, visi, bahkan misi yang pada akhirnya harus terus kita labuhkan dan tambatkan, serta harus terus dijaga agar kemudian mimpi-mimpi itu akan terus kita bawa, hingga akhirnya senyum itu kembali kita lihat dari adik-adik di sana. Sadar akan semua tantangan yang Allah berikan, namun menjadikan kita memiliki hati dan jiwa yang besar, untuk mau bersama dan terus berjuang hingga Allah menakdirkan, kaki ini menginjakkan tanah Misool, Papua Barat.
Adalah diri kita semua, yang berhasil menjadi pemenangan dengan ijinNya. Pemenang menaklukkan rasa takut, pemenangan menaklukkan egoism masing-masing, pemenang menaklukkan rasa ingin unjuk diri, bahkan kita semua yang berhasil menjadi pemenang dalam ketakutan atas ketidakberhasilan di sana. Sungguh, kita telah belajar menjadi pembesar dalam hati-hati yang tetap mengharapkan keridhoanNya. Sungguh kita telah menjadi penambat atas hati-hati saudara-saudara kita yang menjadikan diri ini terus dikenang, bahkan hanya dengan sebuah nama jalan dan tugu.
Perjalanan ini masih panjang. Penuh liku dan penuh aral sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Semakin dalam, semakin dalam, maka semakin Allah akan mencoba dan memberikan ujian yang akan menjadikan kita untuk terus menjadi pembesar-pembesar hati yang berani menghadapi setiap ketakutan dengan menjadikanNya sebagai pelindung dalam setiap usaha yang akan kita rintis. Sebuah jalan yang telah dirintis karena kecintaan kita pada mereka, melebihi kecintaan kita pada diri sendiri. Sebuah jalan yang dirintis, karena tekad yang membuat diri ini mau menahan rasa kantuk hanya untuk mereka. Sebuah jalan yang dirintis, karena memang keikhlasan tanpa ada pengharapan balasan jasa, bahkan rasa terima kasih pun, diri ini tidak pernah memintanya. Itulah, kefahaman yang telah ditanaman, selama perjalanan ini dilalui.

Jika kami mendaki tinggi,
Maka hanya ada keinginan melihat makmurnya negeri ini
Jika kami menuruni bukit ini
Maka hanya ada keinginan membantu ihlas negeri ini
Cinta kami, adalah cinta yang suci dan tulus
Yang tidak pernah sedikitpun ingin dibalas
Bahkan untuk rasa berterima kasih jua
Ihlas, itulah yang ditanam dalam diri
Suci, itulah niat yang dicelupkan pada Sang Maha Suci
Jalan kami adalah jalan panjang
Penuh duri namun begitu nyaman untuk dilewati
Jalan panjang yang akan kami terus titi
Untuk melihat bangsa ini
Untuk melihat anak-anak negeri ini
Menjadi mereka mutiara yang akan terus membawa
Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik dan bermartabat

Mari terus bergerak kawan, menjadikan bumi pertiwi ini tersenyum. Dengan sedikit yang pernah kita berikan, di Bumi Papua Barat, semoga menjadikan kita memiliki hati-hati yang terus bersyukur dan rela menjadi pejuang yang memberikan makna berarti untuk mereka di sana. Meskipun pada akhirnya, mungkin 1, 3, 5 atau beberapa tahun kita tidak bisa melihat senyum mereka, dan kampung itu. Namun, mari kita memberikan apa yang kita bisa untuk mereka, untuk sebuah senyum tulus mutiara-mutiara Fafanlap, dan untuk sebuah senyum bahagia untuk keluarga yang kita sayangi.

Kawan, Rindukah Engkau Padaku?

Posted: September 16, 2014 in Perjalanan
Tags: , ,
1795235_808051532580176_1990391733325239286_o

Dermaga Kampung Fafanlap, Allah ijinkan aku Bertemu dengan kau, dan Dermaga Fafanlap, Allah menghikmahkan perpisahan aku dengan kau dalam Cinta yang Allah Ridhoi

Dua minggu sudah, kita meninggalkan Kampung Fafanlap. Namun, perasaan dan wajah mereka yang selalu tersenyum tidak pernah terlupa dan terhapus dari setiap bayangan kita. Bahkan sampai, pada hari ini pun, penulis tetap membayangkan wajah kampung yang sudah hampir setengah bulan itu kita tinggalkan. Bayangan setiap saat ketika di dermaga, bayangan setiap saat harus menyapa setiap bibi, adik-adik, bahkan mereka yang selalu menjadi keluarga terdekat bagi kita.

Kawan, masihkah ada rindu itu antara engkau, dia, dan aku? Pertanyaan itu yang masih sering kali terpikir dan terbesit dalam setiap pikiran ini. Iya, memilih untuk berjalan dan melepas setiap kenangan, pada akhirnya hanya akan menyiksa pribadi, karena pada kenyataannya, Allah sudah menggariskan bahwa kejadian itu telah menjadi sebuah lukisan kehidupan yang telah Dia goreskan dengan sebuah makna mendalam. Kawan, perjalanan itu menjadi sebuah saksi bagi kita bersama, bahwa begitu mencintai kita pada agama ini, maka begitu besar ukhuwah yang sudah kita jalin bersama.

Kawan, masihkah rindu itu engkau simpan untukku? Berjalan bersama, tertawa bersama, marah pada satu dan yang lain, menjadi sebuah bumbu tersendiri akan kenangan yang sudah dibuat. Melepas setiap pagi dengan aktivitas yang selalu kita contohkan bagi masyarakat Fafanlap, melepas setiap rindu kampung halaman dengan berjalan dan masuk ke rumah-rumah warga untuk mengenal dan menjalin silaturrahim, menjadi sebuah penghias ukhuwah yang telah kita lalui bersama. Di Fafanlap, memang Allah menghimpun hati ini menjadi sebuah keluarga, dan di Fafanlap, Allah pertemukan kita dengan saudara-saudara kita di Bumi Allah, yaitu Misool.

Kawan, masihkan kau sisakan ruang di hati ini untuk menyimpan rasa rindu ini? Sahabat, pernah Rasulullah menyampaikan pada Abu Bakar, seandaianya, Allah mengijinkan Beliau menjadikan manusia sebagai kekasihnya, maka Rasulullah hendak menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihnya. Hal itu pula berlaku sama, semoga cinta yang ada saat ini, adalah kecintaan kita karena Allah, yang telah menghimpunnya dalam dekapan-dekapan persahabatan, dalam sebuah bahtera yang dinaungi oleh Rahman dan RahimNya. Begitu beningnya, perasaan itu sudah tercurahkan bagi masyarakat Kampung Fafanlap, maka begitu bening juga perasaan mereka tertumpah pada diri kita, yang mungkin kita tidak terlalu banyak memberikan kepada mereka.

Kawan, masihkah dalam ingatan ini, ada doa untukku? Berpisah lewat pandangan, bertemu dalam doa. Seuntai bait yang pernah mereka nyanyikan untuk kita, saat melepas senyum mereka, tawa mereka, dan curahan hati mereka tepat di dermaga Fafanlap saat kepulangan itu. Sebait lagu, yang menjadikan hati ini tetap menyelipkan kebaikan dan pengharapan banyaknya perubahan bagi kalian di sana. Sebait lagi yang tetap setiap kita nyanyikan, ketika kami pun di sini merindukan kalian di sana. Hanya sebait lagu yang tetap menjadikan kita bersemangat untuk tetap mengabdi pada kalian di sana, meskipun jasad ini tidak lagi berada di kampung.

Kawan, masihkah rindukan mutiara Fafanlap itu? Bagi kami, merekalah pemuda dan pemudi yang akan menjadi mutiara dari timur Fafanlap, yang akan menguntai masa-masa keemasan bangsa ini. Rindu kami pada mutiara Fafanlap akan tetap menjadikan kami, mencintai mereka karenaNya, merasakan mereka sebagai adik-adik yang tetap akan dibimbing meskipun jauhnya jarak yang terpisah oleh luasnya samudera. Mutiara Bangsa Indonesia dari Timur yang akan tetap menjadi bagian akan kemajuan bangsa ini.

Terbesit cinta untuk kalian
Karena Allah yang memberikannya
Terbesit doa untuk kalian
Semoga Allah pun mengabulkannya
Fafanlap, meskipun engkau jauh
Dan meskipun kami pun tak bisa melihatmu lagi
Namun, semoga kebaikan dariNya akan selalu menyertaimu
Rindu ini memang tidak bisa dibendung
Suasana, keluarga, keramahan, sapaan
Yang tidak bisa kami beli dengan apapun
Selalu menjadi kenangan yang tidak akan terlupa
Kau memiliki separuh Rahmat dari Allah
Dengan kekayaan alamnya
Namun, kau juga memiliki Rahim dari Allah
Dengan kekayaan jiwa masyarakat di dalamnya
Sahib, salah satu adik kami, berkata
Rindu-rindu itu semoga menjadi obat dan penguat bagi kami
Meskipun gunung tak dapat dipeluk
Lautan tak dapat dibelah
Namun, kenangan abadi itu akan tetap hidup
Dan menjadi cerita bagi kami di sini

Ketika engkau merindukan kami, ataupun kala kami merindukan engkau. Maka pandangilah langit, bulan dan bintang, karena di jauh sana, kalian pun akan melihat langit, bulan, dan bintang yang sama.

Jakarta, 15 September 2014.
00.13
Ku tuliskan di tempat saudaraku, Hanif Ibrahim Mumtaz dengan saudaraku pula Mukharrir.

IMG_1871 (FILEminimizer)

Selamat Datang Di Bumi Papua Barat, dengan Desa Tujuan Fafanlap

Assalamualaikum Wr. Wb.
Tidak terasa perjuangan panjang menuju Bumi Papua akan segera terwujud. Begitu kami mengingat kisah perjalanan panjang ini, maka segera kami teringat pada kisah perintisan awal tim KKN PB 01 ini terbentuk. Hanya berawal dari sebuah angan-angan dan cerita-cerita kakak angkatan yang begitu menginspirasi ketika mereka mampu memberikan hasil terbaik pengabdian mereka di Bumi Cendrawasih tersebut.
6 hari lagi menuju keberangkatan menuju Papua Barat, tempat di mana pengabdian yang sebenarnya sebagai mahasiswa akan dilakukan. Persiapan yang baik dan matang telah dilakukan untuk menyiapkan kedatangan hari yang begitu dinantikan tersebut. Pada tanggal 10 Juli 2014 nanti, kami akan dilepas oleh Rektor UGM untuk menuju lokasi KKN, dan pada tanggal 11 Juli 2014 dengan burung besi, kami akan terbang ke tanah Papua.
Sebelumnya mungkin banyak yang bingung, mengapa kami begitu tertarik di Raja Ampat? Banyak orang mengira dan mungkin banyak yang akan mengatakan,”Wah pasti akan jalan-jalan”, “Lumayan itu, Raja Ampat kan sudah terkenal akan keindahannya”,”Enaknya melanglang ke Papua”. Bisa jadi kata-kata lain akan muncul. Dalam benak kami, pada awalnya, hal itu mungkin yang terbayang. Namun, pada akhirnya kami merubah mindset itu. Ya, kami berada di Raja Ampat, bukan untuk berlibur bahkan berpariwisata, namun kami berada di Kampung Fafanlap, untuk bersama-sama masyarakat, mencoba membangun dan membantu semampu kami memecahkan masalah yang ada di kampung tersebut. Kami mencoba akan belajar dan mengajarkan bersama tunas-tunas muda Fafanlap, untuk membantu mereka dalam belajar dan menjadi sahabat bagi tunas-tunas muda Fafanlap agar mereka mau berkembang dan nantinya mereka dapat menjadi generasi muda Fafanlap yang mau memajukan daerahnya. Inilah pandangan yang akhirnya menghimpun kami untuk benar-benar membuat sejaran dan warna baru bagi KKN yang kami rintis pada 1 Januari 2014. Jika berbicara mengenai awal terbentuknya tim KKN ini, biar menjadi episode lain yang akan diceritakan nanti.
Wwaktu yang semakin singkat untuk menuju pemberangkatan maka mempersiapkan kematangan jasmani dan rohani wajib untuk dilaksanakan. Pada akhirnya kami siap, kami siap untuk mengabdi selama kurang lebih dua bulan di Kampung Fafanlap. Kami siap menjadi Sahabat Misool yang akan berbagi dengan sahabat-sahabat bahkan tunas-tunas muda Fafanlap yang akan membangun kampungnya sendiri. Kami pun siap membagi senyum dan tawa selama proses panjang perjalanan ini telah dilakukan untuk menuju harapan dan mimpi kami mengabdi bersama masyarakat Fafanlap. Menutup cerita di awal ini, kami inshaAllah akan siap untuk bersorak
“SELAMAT DATANG TIM KKN PB 01 di KAMPUNG FAFANLAP, KABUPATEN RAJA AMPAT, PROVINSI PAPUA BARAT”

Menyeka Rindu Di Sana

Posted: September 9, 2014 in Puisi
Tags: , ,

Sebening rindu ini

Seputih kain yang aku tulis

Dalam setiap untaian hari yang aku lalui

Desir ombak yang mengalir sejuk

Menerpa setiap perasaan dalam ketenangan

Iya, benar-benar ini adalah sebuah nyata

Yang tiada lagi perbedaan antara tabir ilusi dan realita

Laut,

Terkadang aku ingin berkisah dan menuliskan setiap cerita

Dalam putihnya buih ombak yang engkau bawa dengan setiap gelombang

Laut,

Terkadang aku ingin menyelam bersamamu

Terbawa dengan irama melodi deburan kasih

Yang setiap hari tercurah dari Rabb Semesta Alam ini

Awan,

Terkadang lembut dan putihmu

Mengingatkan aku pada kebeningan hati yang senantiasa harus dijaga

Awan,

Terkadang aku ingin terbang di atasmu

Menyapa setiap bentuk yang kau perlihatkan

Dan menebar setiap sejuk di seluruh penjuru arah yang kau lewati

Dalam rasa rindu dan kenang, yang tertuang dalam bait-bait puisi dan sajak yang tertulis di Pelabuhan Dermaga Fafanlap, Minggu, 3 Agustus 2014. Dalam ketenangan batin dan kerinduan kenangan yang mulai diukir mesra

WP_20140830_09_56_21_Pro

Mutiara Fafanlap yang kelak akan menjadi mutiara bagi Papua Barat demi Kemajuan Bangsa Indonesia

Mereka yang terus ingin memberi. Mereka yang ingin terus berbagi, dan bahkan mereka yang ingin terus belajar. Dalam sebuah kesderhanaan, dan dalam sebuah kesahajaan. Iya, merekalah para tunas bangsa dari Misool, yang memiliki sebuah keinginan untuk terus melanjutkan dirinya dalam sebuah kebaikan akal dan budi pekerti.

Mereka yang telah kami kenal, Amad, Fatma, Mahmud, Siti, Anawiyah, Aida, Julaeha, dan semua Pengurus Sanggar Belajar Fafanlap Ceria yang tidak bisa disebut satu persatu. Pelita di tengah Misool, Fafanlap yang kini sedang mempersiapkan dirinya menuju sebuah pembaharuan. Merekalah tunas bangsa yang siap menjadikan dirinya sebagai sebuah pembaharuan dari sebuah program KKN yang coba dibawa ditengah-tengah rasa ingin tahu mereka atas perkembangan dan pendidikan di Pulau Jawa. Bagi kami, mereka ada generasi pemuda dan pemudi yang masih memiliki harapan, bahkan sebuah visi besar untuk mampu membangun kampung yang sudah sejak lama menjadi salah satu kampung tertua di Tanah Misool ini.

Sahib, Rahim, Fatahuddin, Badrun, Habibag, Malik, Amina, dan semua sahabat Sanggar Belajar Fafanlap Ceria yang kini menginjak jenjang SMA. Mereka adalah orang yang selalu berwajah ceria. Mereka yang juga memiliki sebuah harapan besar untuk dapat memajukan tanah kelahirannya. Ya Allah, pertemuan dengan anak-anak ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat berarti. Adalah sebuah makna mendalam, ketika kami mengambil sebuah pelajaran. Hidup sederhana, hidup dalam kedermawanan, bahkan hidup dalam sebuah kebahagiaan.

Iya, merekalah harapan generasi baru Kampung Fafanlap ini. Generasi yang dapat membawa perubahan yang akan sangat berarti kelak bagi tanah bahkan negeri ini. Ya Rabb, perjalanan ini akan penuh berarti ketika suatu saat, kami mampu melihat tanah ini, dan generasi pembaharu itu tumbuh dalam kesederhanaan namun memberikan kebesaran yang akan mengangkat kemuliaan tanah Islam ini dihadapanMu kelak. Kami tidak akan menangis sedih, jika kami meninggalkan bumi ini namun ada senyum haru di hati mereka, dan ada tangis bahagia atas mereka yang sedang kami coba untuk menjadikan mereka menjadi benar-benar generasi terbaik yang pernah dimiliki oleh Kampung Fafanlap ini.

Ya Rabb, mungkin kami yang akan belajar dari mereka, banyak hal. Mungkin kami, yang harus belajar untuk tetap menatap sebuah masa depan di tengah sebuah kekurangan bahkan ditengah kehidupan yang rasanya, mungkin bagi kami, ini adalah sebuah kehidupan sisi lain, setelah negeri ini merdeka selama lebih dari 60 tahun. Ya Rabb, kami hanya menitip sebuah doa bagi mereka, pelita di tanah ini, berikanlah sebuah sedikit perubahan kecil di tengah hari-hari yang tersisa bagi kami di sini. Doa yang kami lantunkan, sama ketika kami hendak meninggalkan keluarga kami di Jawa. Berilah negeri, bahkan tanah Fafanlap ini, sebuah kebaikan yang datangnya dari langit dan Engkau taburkan dari atas keberkahan bumi. Ya Rabb, jagalah mereka, dan semoga Engkau besarkan mereka dalam sebuah kebahagiaan dan keinginan membangun peradaban terbaik di tanah ini.

Tulisan ini penulis buat pada hari Minggu, 3 Agustus 2014 di tengah keheningan malam, ketika fajar mulai akan menyapa bumi timur Indonesia dan kami pun banyak belajar dari mereka.

Aku Rindu Bangsaku

Posted: September 9, 2014 in Puisi
Tags: , , ,

Jika kini aku berdiri dalam gelapnya malam
Maka aku berpijak pada batu dihadapan
Jika kini aku beranjak dalam kebimbangan
Maka aku berpijak pada tanah lumpur
Jika kini aku tertidur dalam bantal kapuk
Maka aku tanamkan pohon kapas
Bangsaku,
Sebuah bangsa besar
Yang tuhan berikan karena kasih sayang
Tapi mengapa
Bangsaku
Tidak pernah berdaya dan beradi kuasa pada negeri sendiri
Negaraku tak pernah maju akan pengetahuan sendiri
Dan negaraku
Tidak pernah merdeka atas tanah, dan hartanya sendiri
Oh Tuhanku,
Jika Engkau tak beri kami akal
Mana mungkin kami memikirkan bangsa besar ini
Jika Engkau tak beri kami jiwa
Mana mungkin kami merindukan bangsa ini
Semenjak kini,
Aku ingin melepas dan kembali pada tanah air
Tanah kelahiran yang membesarkanku
Yang aku penuhi kebutuhan dari alamnya
Bangsaku,
Aku merindukanmu dalam setiap mimpi
Kebesaran bangsa, dan tegaknya keadilan
Aku merindukan
Bangsa yang bermartabat, dan bangsa yang mampu
Berpijak atas tanahnya sendiri, tanpa belenggu penjajah
Aku rindu itu, Bangsaku, Indonesia

KKN Menggali Potensi Manusia

Posted: September 8, 2014 in Perjalanan
Tags: , , , ,

Salah satu wujud cinta kami pada Tanah Air Indonesia, Kuliah Kerja Nyata PPM UGM 2014Siapa bilang KKN itu hanya akan berbuah pada kesusahan. KKN adalah kuliah kerja nyata yang sudah menjadi pattern bagi UGM bagi mahasiswanya. Bagi kami, KKN ini menjadi sebuah saksi tersendiri ketika menyaksikan segala potensi manusia hebat di Pulau Misool ini dengan sejuta kekhasannya. Bukan hanya sebuah potensi yang biasa-biasa saja, namun sebuah potensi luar biasa baik dari segi keagamaan maupun rasa sosial yang begitu tinggi.

Tenangnya lautan kali ini adalah setenang hati yang semakin hari menemukan kesetiaan dalam sebuah kehidupan kecil di negeri KKN ini. Siapa tidak menyangka, begitu banyak kami temukan beribu potensi manusia di kampung dengan berjumlah 250 KK dengan jumlah penduduk sebesar 980 Jiwa. Sejatinya, meskipun hanya 2 minggu sudah kami berada di kampung ini, namun begitu besar tradisi yang hidup di tengah masyarakat kepulauan yang sudah semakin sedikit demi sedikit mengenal kemoderenan sebuah bentuk kehidupan.

Misool, adalah bagian lain dari sebuah kehidupan yang hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang mulai besar akan dinamika kehidupan di tengah perubahan masyarakat Indonesia menuju masyarakat yang adil dan sejahtera. Siapa yang tidak menyangka, begitu banyak sifat-sifat arif manusia yang ditemukan di tanah ini. Sifat yang semakin jaranh ditemukan di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, selayaknya kota-kota besar di Indonesia. Sebuah sikap yang menyadarkan akan pentingnya rasa berbagi, rasa senasib dan seperjuangan, serta perasaan hidup dengan kehidupan yang mungkin pernah dirasa di awal.

Ya, sebuah perjalanan dalam dua minggu yang cukup membukakan mata hati untuk melihat bahwa bangsa yang besar ini tetap tidak kehilangan identitas masyarakat timur yang masih memiliki jiwa tolong-menolong, jiwa empati, dan rasa solidaritas yang begitu masih kental untuk dirasakan, meskipun nama famili tetap dipakai dan melekat dalam entitas namanya. Apa yang kami rasa di sini, sangatlah berbeda dalam setiap perasaan yang semakin menyatu dengan segenap potensi manusia di Misool.

Benarlah, di mana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung. Ketika engkau berada di negeri lain, maka dekatilah setiap orangnya dengan sebuah tradisi masyarakat yang hidup dan segenap potensi masyarakat yang dapat didekati. Itulah yang kami pelajari di sini. Ketika kami mencoba mengenal satu per satu masyarakat, maka kami mulai mengenal dan mempelajari sebuah proses berinteraksi secara langsung dengan masyarakat yang membutuhkan sebuah cara unik agar dapat melihat dan menjadi salah satu bagian keluarga.

Sahabat, KKN ini adalah sebuah perjalanan dari kami yang begitu memiliki makna besar. Sebuah perjalanan di mana kami benar-benar melihat, merasa, belajar, dan mencerna setiap puzzle kehidupan yang sudah digariskan keadaannya. Jika melihat perjalanan yang lalu, maka hari ini kami belajar, bahwasanya rencana dibalik perjalanan ini adalah sebuah kenikmatan besar yang menjadikan kita untuk tetap kuat dan memahami begitu besarnya potensi yang hidup dalam kampung ini. 

Tulisan ini ditulis pada hari Sabtu, 26 Juli 2014 (14.51) dan Minggu, 27 Juli 2014 (15.42) di tengah deruan ombak Kampung Fafanlap yang menghantam sisi kanan dan kiri dermaga.

Kampung itu Bernama Fafanlap

Posted: September 6, 2014 in Perjalanan
Tags: , , ,

Hari ini tepat satu minggu meninggalkan kampung yang telah menjadi tempat kami mengabdi selama kurang lebih 1 bulan 20 hari. Ya, Fafanlap, sebuah kampung yang menjadi tempat kami terus menjadi orang yang selalu belajar dan tidak pernah melupakannya. Fafanlap, berasal dari makna yakni papan yang disusun-susun. Kampung yang berada di Misool Selatan ini memang dulunya adalah kampung yang terletak di atas laut dan dibuat jalan melalui papan-papan kayu yang disusun membentuk jalan-jalan menuju rumah-rumah di atas laut.

Fafanlap, sebuah pertemuan yang telah Allah janjikan dan berikan sesuai dengan ikatan yang ditulis dalam bukunya di Lauh Mahfudz. Tepat, satu minggu sudah, tanah itu ditinggalkan, namun persaudaraan yang terpisahkan oleh jarak dan samudera yang luas tidak menjadi kendala untuk tetap berkomunikasi dan mengikat ukhuwah Islamiyah yang sudah terjalin. Fafanlap, sebuah kampung dengan jumlah penduduk kurang lebih 250 KK, begitu tenang menyapa setiap hari ketika pengabdian tersebut menjadi pengantar bagi kami mencurahkan setiap perasaan dan pengorbanan yang hanya diberikan untuk mereka.

Fafanlap, sebuah kerang mutiara kecil di bawah kepala Burung Papua, yang akan melahirkan banyak mutiara-mutiara bagi negeri tercinta ini. Sebuah kampung yang sudah menjadikan hati kami tetap tertambat dalam sebuah kemesraan akan Iman dan Islam, ketika hati pertama kali disambut dalam nuansa yang penuh keakraban dan persaudaraan. Tuhan, terima kasih atas rangkaian puzzle perjalanan kami yang jauh hingga ke tanah yang Engkau berikan keberkahan di sana. Tuhan, terima kasih atas setiap rangkaian hikmah yang Engkau tautkan dalam setiap tingkah dan laku yang telah dijalani selama kami mengabdi untuk ummat ini di Kampung Fafanlap. Terima kasih atas setiap senyum, yang Engkau hadiahkan bagi kami ini, melalui wajah-wajah Masyarakat Kampung Fafanlap.

“Kini dengarkanlah dendangan lagu tanda ingatanku,

“Kepadamu teman

“Terima kasih atas setiap yang kalian berikan…

“Fafanlap dari Indonesia dan bagi Indonesia

Fafanlap

“Mereka yang selalu akan kami rindukan, kami berjanji akan kembali esok, dan semoga kami dapat memberikan yang terbaik bagi negeri Indonesia dan Kampung Fafanlap”