Archive for July, 2016

Diam atau Bergerak?

Posted: July 26, 2016 in Hikmah
Tags: , , , ,

Saya ingin membagi sebuah ungkapan yang pernah saya dapat ketika pernah tinggal seasrama bersama mereka, para raksasa-raksasa kampus, yang kini, mereka pun telah menyebar ke dalam dunia yang menjadi fokus keinginan mereka untuk menebar manfaat dan kebaikan, dalam hal apapun.

Ketika dikumpulkan bersama dalam sebuah rangkaian kegiatan yang diadakan di Gunung Salak, saya ingat sekali kala itu, selepas shalat Isya’ kami berkumpul, merapatkan barisan dan shaf-shaf duduk kami. Kala itu, abang kami, sebutlah namanya Bang Bachtiar, diminta untuk memberikan sekapur sirih dalam rangkaian kegiatan itu. Kegiatan ini dilakukan bersama rekan-rekan seasrama lainnya yang berasal dari kampus-kampus lain di Indonesia.

Dinginnya malam, semakin terus membuat kami bergidik kedinginan, namun kala itu  Bang Bachtiar hanya mengenakan kemeja, dan menahan dinginnya malam dengan semangat yang ia bawa untuk mengobarkan semangat kami, para pemuda-pemudi yang kala itu sudah ditempa selama setahun dalam asrama tersebut. Semangat untuk mengingat arti sebuah perjuangan, dan jalan yang kami pilih untuk masuk dalam tempaan berasrama itu. Ya, semangat untuk membawa misi dan visi kelangitan, sebuah misi yang suci dan mulia, dalam materi yang beliau bawakan dalam kajian Training Pengembangan Diri, yang kala itu masih bernama TPD.

Banyak yang beliau sampaikan dalam lantunan kata-kata yang membuat diri ini penuh merefleksikan bahwa begitu jauhnya kekurangan diri ini, dari kata sesuai dengan apa yang pernah beliau harapkan bagi kami, untuk ikut bersama berjuang membangun dan menjadikan diri menjadi agen-agen pembawa misi yang begitu suci dan mulia. Ada sebuah kalimat yang selalu saya ingat, Diam atau Bergerak?

Hidup ini memanglah sebuah pilihan. Allah pun memberikan kuasa yang penuh pada mahkluk-Nya untuk memilih, menjadi baik atau buruk, mendambakan syurga dunia atau syurga akhirat, semuanya adalah pilihan, namun tentu akan memiliki sebuah konsekuensi. Begitu pula memiliki diam atau bergerak? Ketika Diam, maka kita akan terus berada dalam kenyamanan, namun ketika bergerak, maka tentu saja, kondisi nyaman, kondisi tersudut, kondisi stagnan, kondisi di atas, kondisi di bawah, akan selalu hadapi, dan masih ada pilihan, berhenti atau terus bergerak. Semuanya adalah pilihan.

Bagi mereka yang terus bergerak, ibarat sebuah air, yang mengalir dari hulu ke hilir, terkadang harus melewati celah sempit, hingga akhirnya bertemu dengan derasnya aliran air di hilir yang membawa mereka terus bergerak, hingga akhirnya menemukan luasnya samudera. Bagi mereka yang diam, ya mereka pun juga ibarat air, yang awalnya mengalir, lalu kemudian berhenti dari alirannya, memilih untuk tergenang, dan terus tergenang hingga akhirnya pun kering.

Hidup semuanya adalah pilihan, sekali lagi apaka kita memilih untuk bergerak atau diam? menjadi aliran yang menghijaukan lahan-lahan yang dilewatinya, ataukan menjadi genangan air, yang mengeruh dan akhirnya mengering?
Hidup adalah pilihan…

 

Tokyo, Adachi-ku
26 Juli 2016

Sebuah Kerja Keras dan Doa

Posted: July 24, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

Kembali pada rutinitas dan segala hal yang menjadi kebiasaan di beberapa bulan, setelah tinggal di negeri ini.

Rindu? Pastilah ada rindu, namun rindu itu harus dibalut pada sebuah doa dan kerja keras, agar ia dapat terbayarkan dengan sebuah hasil maksimal, tentunya tidak terlepas dari apa yang sudah ditakdirkan-Nya. Namun, bukan itu yang hendak saya ceritakan di sini. Ada hal menarik lainnya, di samping sebongkah rindu yang masih saja menggunung untuk terus disimpan dan diarahkan pada hal yang positif.

Jikken, istilah yang mungkin tidak akan sangat asing bagi para pelajar di negeri Sakura ini, yang bermakna eksperimen, atau istilah Indonesia, penelitian. Jikken pertama saya dimulai pada bulan April 2016, awal ketika pertama saya datang. Minggu awal, saya langsung disodori untuk membaca jurnal penelitian laboratorium, dan meminta berdiskusi lebih lanjut ketika usai membacanya. Ya, dalam 3 hari pun saya mencoba untuk memahami, dan segera berdiskusi dengan supervisor saya. Alhasil, beliau menyatakan saya sudah bisa melakukan penelitian kala itu. Kaget? Pasti, karena biasanya, mahasiswa master akan fokus pada penelitian ketika sudah masuk di semester kedua. Tapi, saya sudah diminta sejak awal datang memulai eksperimen. Baiklah, dalam hati saya pun bergumam, semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam penelitian ini.

Bermain dengan mikrobia, bukanlah hal yang sangat mudah, bahkan saya katakan terkadang ada sebuah tantangan, yakni mencegah kontaminasi, ataupun menghindari kesalahan membuat medium, atau sebagainya. Bahkan, yang lebih utama, adalah memastikan kita benar dalam mengkultur strain yang akan digunakan. Heum, sejak memulai eksperimen, saya pun sudah menggunakan sebanyak 100 strain bakteri tanah, aktinobakteria, yang telah dikultur dan memberikan hasil yang bagi saya cukup, namun pada kenyataannya, masih harus ada effort yang lebih. Why? Hasil yang masih belum konstan bahkan terkadang, sedikit meragukan, atau bisa jadi sedikit mencengangkan dari yang seharusnya. Saya tak pernah tahu, apa yang sedang terjadi dalam kultur cair yang saya inkubasi, saya tidak tahu menahu, apa yang mikrobia itu lakukan selama dikultur dalam medium, namun saya hanya percaya, jika usaha semaksimal mungkin telah dilakukan, maka hasil akhir mempercayakan sepenuhnya kepada kekuatan Yang Maha Tahu.

Acap kali ketika sudah begitu sedikit mengendur dari semangat, saya mengirim gambar pada kedua orang tua, berkabar dengan apa yang saya lakukan di sini, sembari terselip permohonan sebuah doa, sebuah restu, dan sebuah harapan, agar apa yang dilakukan di sini, bisa memberikan manfaat ke depannya. Saya paham kerja keras saya, tetaplah saya butuh pada restu kedua orang tua saya, mendengar dukungan, dan doa, bahkan sebuah isyarat ketika restu terucap, menjadikan diri ini terus bersemangat dan mengingatkan pada sebuah nasehat yang saya jadikan wallpaper dalam laptop,”Berpeluhlah engkau dalam berusaha dan berdoa, karena lezatnya kehidupan akan terasa setelah itu”.

Kerja keras haruslah tetap diimbangi dengan doa, bahkan terutama doa dari kedua orang tua, yang selama ini menguatkan pundak dan mengangkat pribadi ini untuk mau maju, dan berpikir untuk orang lain, tidak hanya untuk diri sendiri.

Kerja keras dan doa adalah kunci sebuah akselerasi diri dalam berproses…
terutama doa mereka yang kita cintai, adalah penambah kecepatan akselerasi, agar ada keberkahan dalam setiap langkah, dan ada ridho Ilahi yang membersamai proses tersebut.

Adachi-ku,
Sunday, 24 Juli 2016.

Masih Tersisa 21 Purnama…

Posted: July 10, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

“Allah will change the family you left out”
Three months, I have already lived out from my home, leaving my family, leaving whom I loving them, my parents.

Rindu akan pulang, itulah yang memang dirasa selama 3 bulan berada jauh dari rumah. Suasana lebaran, adalah suasana yang sangat dirindukan, ketika dirimu hanya berjumpa melalui sebuah layanan telepon via dunia maya, bertatap maaf hanya melalui sebuah kata-kata, dan hanya melihat wajah dari jauhnya jarak yang telah memisahkan. Sudah lebih dari 3 purnama terlewati di negeri orang, namun memang itulah cinta, bahwa tanah air dan keluarga, serta setiap kenangan di tanah sendiri, akan sangat terasa begitu dalam, ketika sudah berada dalam perantauan.

Di sini, masih tersisa 21 purnama yang harus dilewati. Sebuah ucapan yang harus diingat ketika dulu rasa begitu kuat, maka sebenarnya, Allah mengajarkan kita akan cinta dan rindu yang sesungguhnya. Ketika sepotong roti, tak lagi bernilai sepotong, namun telah habis satu persatu, maka disitulah ada nikmat, namun disitulah juga ada sebuah kenangan, dan disitulah tersimpan sebuah ingatan.

Masih ada 21 purnama yang harus dilewati. Bukanlah aku ingin menghitung hari, tapi memang begitulah sebuah rindu, yang terus diingat melalui sebuah janji dulu. Bahwa ia akan meminta dirinya sendiri untuk terus mengingat, dan menyimpan sebuah memori yang kuat dalam pikirannya.

“Imam As-Syafi’i said while we doing and working hard, we would feel the delicacy of life”