Archive for September, 2015

Yogyakarta dalam Ceritaku

Posted: September 28, 2015 in Perjalanan
Tags: ,

Malam ini tak sengaja dalam timeline saya, seseorang sedang mengepost sebuah foto yang ia tuliskan dalam pembuka di akhir foto tersebut, “Yogya Memiliki Cerita Sendiri”. Betapa memang luar biasanya kota ini, kota yang telah mengajarkan akan kesederhanaan selama 4 tahun 11 bulan. Kota yang telah mengajarkan bagaimana menjadi masyarakat yang menyatu dalam adat dan budaya, bahkan falsafah kehidupan masyarakat Jawa yang masih memegang teguh adat istiadatnya.

Ya, Yogyakarta sebagai kota budaya bahkan menjadi kota pendidikan memang memiliki tempat di hati kami para pelajar ataupun mereka yang selama beberapa hari pernah mengunjungi kota ini. Mengapa tidak? Dalam kesederhaan masyarakatnya, Yogyakarta menawarkan sebuah keramahan masyarakat dan menawarkan miniatur masyarakat Indonesia yang mampu hidup secara harmonis. Yogyakarta memang memiliki sebuah kenangan bagi siapapun yang pernah merasakan nyamannya kota ini.

Wajar saja, jika sebuah lagu pernah tercipta dan termaknai dengan kerinduan seseorang pada kota ini. Yogyakarta, berapapun lamanya saya pergi dari kota ini, namun setiap kenangan yang ada tidak akan pernah terhapus bahkan terlupakan. Semuanya akan tertata rapi dan akan terbuka kembali ketika sudah pulang nanti. Sembari teringat akan kenangan lama, ketika Tuhan melalui kota ini mengajarkan akan sebuah toleransi, mengajarkan sebuah pelajaran tentang kesederhanaan dalam keramahan, bahkan mengajarkan hidup dengan ikhlas dan penuah rasa syukur.

Kebaikan yang Berbuah Kebaikan

Posted: September 27, 2015 in Hikmah
Tags: , ,

Jakarta, siapa yang tak mengenal ibu kota negara Republik Indonesia tercinta ini. Hari ini saya menuju ibu kota dengan menggunakan burung besi dari bandara tujuan Juanda, Sidoarjo menuju Soekarno-Hatta, Cengkareng. Dalam perjalanannya menunggu pesawat yang sedang delayed 90 menit, seorang tua sekitar umuran 60 an yang lebih tua dari umur Abi saya duduk di sebelah saya. Sejenak saya pun tak menghiraukan apa yang dilihatnya ketika itu, saat saya sedang melihat youtube dari murottal Syeikh Mishari Rasyid. Tak lama berselang, bapak itu bertanya,”pake wifi bandara ya? Kok lancar internetnya?”. Saya pun menjawab,”Tidak pak, saya gunakan jaringan internet pribadi.” Ternyata percakapan singkat ini  pun terus berlangsung lama, mulai dari membahas asal-usul kami, apa yang akan saya lakukan di Jakarta ini, bahkan perbincangan sempat membahas bahwa ternyata sang bapak ketinggalan pesawatnya yang harusnya beliau terbang pukul 13.00, karena terlambat akhirnya terpaksa ia pun menggunakan pesawat lainnya, dan terbang bersamaan dengan pesawat yang akan saya tumpangi juga.

Lama pembicaraan kami terus berlangsung. Banyak cerita yang beliau utarakan, sehingga saya pun tahu, ternyata beliau berasal dari Nias, Sumatera Utara. Ditengah-tengah percakapan, beliau menanyakan tujuan saya ke Jakarta, dan saya pun menyampaikan bahwa saya akan menuju wilayah Depok, Wisma Hijau. Seketika itu pun beliau menanyakan tentang kepastian saya yang akan menuju daerah tersebut terutama terkait kendaraan yang akan ditumpangi. Meskipun ini adalah kali kedua bagi saya menuju tempat tersebut, tapi saya masih ragu, karena begitu malamnya saya akan tiba di tempat tersebut, bahkan bisa jadi tengah malam, yang dalam banyak benak orang, Jakarta dan seorang diri di tengah malam, maka bisa jadi kota ini tidak akan begitu ramah.

Beliau pun akhirnya mencoba memberikan berbagai saran dan alternatif untuk mencapai daerah saya tadi yang notabene ternyata rumah beliau pun masih searah dengan lokasi yang akan saya tuju. Pukul 20.15 WIB pesawat yang akan kami tumpangi pun siap dan kami pun langsung melakukan boarding pass. Sebelumnya kami telah melakukan appointment untuk bertemu di pintu keluar dan bersama-sama menggunakan bus. Hal yang terpikir bagi saya kala itu adalah siapa bapak ini? Meskipun baik, tapi tetap saja kita bertanya siapakah beliau yang kemudian secara rela mau mengantarkan bahkan bertanggung jawab pada saya yang notabene adalah orang yang baru dikenalnya di bandara? 1 jam 20 menit perjalanan ditempuh, dan pada pukul 22.06 WIB pesawat ini landing di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sempat terlintas dalam benak saya kala itu,’ah sudahlah, saya tinggal saja menggunakan taksi bapak tadi, toh pada akhirnya saya pun langsung menuju lokasi saya’. Tapi niat tersebut urung dilakukan, karena saya tahu saya berjanji akan menemui beliau di pintu keluar setelah mengambil bagasi.

Waktu pun terus berjalan, sehingga pada akhirnya kami memutuskan untuk menaiki bus dengan tujuan Pasar Minggu. Kala itu, masih saja terlintas dalam pikiran saya, siapa sebenarnya bapak ini. Di dalam bus beliau kemudian meminta nomor handphone saya, tentu saja saya berikan, dan beliau mengatakan,”Saya perlu simpan nomor ini, takut kalau ada apa-apa, nanti mas bisa telepon saya. Saya bisa bantu mas.” Saya pun hanya memberikan sedikit senyum, namun dalam hati saya pun masih sedikit ada keraguan hingga akhirnya kami pun berhenti di depan sebuah toko modern yang sudah tutup pada waktu, dan mencari kendaraan taksi yang biasa kami pakai. Di dalam taksi pun, sang bapak ini meminta saya mencatat nomor pintu taksi beserta sopirnya, bahkan beliau pun juga mencatatnya.

Banyak percakapan yang beliau sampaikan dengan sopir taksi, bahkan kala itu bagi saya, sang bapak ingin meyakinkan agar sang sopir tidak macam-macam dan memberikan pelayanan terbaiknya bahkan agar tidak berbuat curang, karena kondisi tengah malam dan sangat rawan kala itu. Tiba akhirnya beliau sampai di depan rumahnya dan menyampaikan pada sang supir taksi agar mengantarkan saya ke lokasi yang saya tuju.

Cerita di atas mungkin termasuk cerita yang meloncat dan tak beralur. Namun, bagi saya banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari peristiwa yang malam ini telah dijalani. Pertama, saya adalah orang yang baru mengenal bapak tersebut. Namanya adalah Bapak Eli, seorang perantau asal Nias yang telah menetap di Jakarta sejak 1981. Beliau baru saja pulang dari Malang, yang kebetulan sedang mengunjungi anaknya yang bersekolah di salah satu universitas ternama di kota tersebut. Perawakan beliau kala itu, bagi saya yang baru mengenalnya, beliau tampak seperti orang yang biasa namun telah mengenal Jakarta, layaknya preman yang sudah paham betul akan karakter kota Jakarta. Selama di bus, apa yang membuat saya kemudian yakin beliau adalah orang baik? Beliau berpesan bahwa percaya pada seseorang yang baru ditemui adalah 30% dan 70% adalah tetap menaruh curiga. Namun di sela percakapan tersebut, beliau menyampaikan bahwa dirinya benar-benar berniat untuk membantu dan sedikit pun tidak mengharapkan uang ataupun macam lainnya. Kedua, beliau menyampaikan niat menolong saya kala itu adalah hanya untuk membantu, karena beliau yakin, bahwa kebaikan pada seseorang pasti Tuhan akan balas dengan kebaikan lainnya. Itupun beliau utarakan kisahnya ketika beliau mendapatkan bantuan di Kota Malang ketika motornya sedang mogok.

Ya, kebaikan yang akan selalu berbuah kebaikan. Itulah yang disebut sebagai keberkahan. Ketika kita ikhlas membantu saudara kita yang sedang kesusahan dan kita membantu tanpa ada pamrih atau bermaksud meminta imbalan, maka sebenarnya kita sedang menyiapkan kebaikan untuk diri kita sendiri, yang kita pun tidak tahu kapan Tuhan itu akan melepas kebaikan tersebut. Hal ini yang selalu Bapak Eli jaga, jika memang beliau bisa membantu, maka beliau akan membantu dan beliau yakin, suatu saat jika ia membantu saudara atau temannya, pasti beliau juga akan mendapat bantuan ketika sedang dalam kesusahan. Bagi seorang muslim, benarlah Allah yang menulis firmannya dalam Al-Isra’ ayat 17 yang artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,…”(QS. Al Isra (17):7). Kita akan menuai sesuai dengan apa yang kita tanam selama kita hidup. Semoga akan selalu banyak hikmah yang dapat diambil dalam setiap perjalanan yang akan saya lalui.

Bertemu Dalam Do’a

Posted: September 25, 2015 in Hikmah
Tags: , , , ,

Sebuah kalimat yang bagi saya begitu sangat mengena ketika kita akan berpisah dengan mereka yang kita sayangi atau rindukan,”Bertemu Dalam Doa”. Ketika dulu pergi ke Raja Ampat dan mengabdi di sana, selalu saja pikiran ini terbayang akan keindahan dan pengabdian yang sudah dilakukan, bahkan terkadang sampai tidak bisa untuk tidak berkirim pesan kepada masyarakat di sana. Rasanya keluarga di sana telah menjadi bagian keluarga sendiri yang baru bertemu 2 bulan namun telah menjadi bak keluarga yang sudah mengenal bertahun-tahun.

Namun, hal yang sama pun masih terus dirasakan, meski sudah hampir lebih dari satu tahun lebih telah berlalu. Ruang rindu yang masih tetap ada, api semangat mengabdi yang masih terus terjaga, bahkan api harapan yang selalu akan dijaga, hingga suatu saat nanti mampu memberikan yang terbaik bagi tempat pengabdian kami dulu, Fafanlap, Raja Ampat.

Menemukan keluarga baru bagaikan menemukan sebuah permata yang kita harus tahu kerasnya, kilaunya, bahkan harganya. Namun, dibalik itu kita akan mengenal pribadi-pribadi baru dan menyenangkan bahkan sikap-sikap unik yang akan menambah kebahagiaan bagi kita sendiri. Saya tidak tahu dan saya terus berpikir, apa yang Allah rencanakan dalam perjalanan ini, keluarga baru yang terus saya temukan, dalam lingkaran-lingkaran kebaikan, bahkan dalam lingkungan orang-orang yang terus memberi inspirasi dan semangat.

Semoga kita terus bertemu dalam doa, keluarga-keluarga yang Dia berikan untuk membangun negeri ini, keluarga yang terus menjadi api semangat dan api harapan, keluarga yang terus menyebarkan inspirasi dari satu pribadi ke pribadi lainnya.

Semangat baru dalam setiap perjalanannya, inspirasi baru dalam setiap aktivitasnya, dan harapan baru dalam setiap pribadi yang dijumpai.

-TIM PK-

Sebagai orang yang beriman dan percaya pada rukun Iman, maka mustahil bagi kita untuk kemudian mengabaikan ataupun mungkin tidak mengambil ‘ibrah dari setiap peristiwa dan kejadian yang Allah berikan bagi nabi dan rasul-Nya, termasuk pula Nabi Ibrahim AS. Ummat Muslim di seluruh dunia pun, pada akhirnya akan kembali melangitkan takbir dan merayakan hari besarnya yakni ‘Idul Adha, yang akan jatuh pada 10 Dzulhijjah. Bagi saya pribadi,  tidak ingin hanya karena perbedaan tanggal jatuhnya hari raya tersebut menjadikan kita lupa untuk mengambil hikmah dan pelajaran yang telah Nabi Ibrahim ajarkan melalui peristiwa tersebut.

Dari keturunan Nabi Ibrahim AS., Allah memberikan rahmat yakni banyaknya nabi dan rasul yang berasal dari garis keturunan beliau. Bahkan Rasulullah SAW. pun jika ditarik garis keturunan ke atas, maka Rasulullah memiliki garis keturunan Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang terlahir dari keluarga dengan seorang ayah yang merupakan pembuat patung berhala di kala zaman penguasa Raja Namrud. Namun, hal tersebut tidak membuat Nabi Ibrahim mengikuti agama dan keyakinan ayahnya. Adalah hidayah dan mukjizat dari Allah SWT., Nabi Ibrahim terlahir dengan sikap kritis dan kecerdasan yang luar biasa. Ia mencari sendiri akan kebenaran Rabb Semesta Alam. Dalam Al-Qur’an dikisahkan pada mulanya Nabi Ibrahim AS. mengira matahari adalah Tuhannya, namun ketika malam datang, ia digantikan oleh bulan dan bintang, maka Nabi Ibrahim pun mengira bahwa tidaklah mungkin matahari sebagai tuhannya, namun bulan dan bintang lah tuhannya saat ini. Namun, tatkala malam berganti dengan siang, maka bulan dan bintang pun tiada, berganti matahari. Dengan akal yang Allah SWT. berikan, maka Nabi Ibrahim AS. yang masih muda saat itu, mencapai sebuah kesimpulan yang sangat luar biasa. Nabi Ibrahim AS. pun mengatakan bahwa Tuhannya adalah Dzat Maha Suci yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, yang mempergantikan siang dan malam dengan kesempurnaan-Nya. Itulah sosok Nabi Ibrahim AS. pada masa mudanya yang sudah mampu untuk memberikan kesempurnaan jawaban dengan pemahaman yang Allah berikan melalui kecerdasan yang dimilikinya.

Kisah Nabi Ibrahim, tentu saja tidak cukup di sini. Lalu muncul pertanyaan dalam pribadi, apa yang membuatnya menjadi nabi dengan teladan yang memberikan pelajaran keikhlasan melalui peringatan ‘Idul Adha yang selalu diperingati dengan suka cita oleh seluruh umat Muslim di dunia tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah?

Nabi Ibrahim dalam sejarah Islam dikisahkan menikah dengan seorang perempuan shalihah bernama, Siti Hajar. Dalam pernikahannya tersebut, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar memiliki kesabaran yang luar biasa untuk terus memanjatkan doa agar kemudian Allah memberikan keturunan di usia senja mereka, yang kala itu usia Nabi Ibrahim mencapai 90 tahun. Dalam penantian mereka, doa kepada Allah SWT. terus mereka panjatkan, tanpa ada sebuah keraguan. Sebuah keyakinan akan setiap doa yang akan Allah berikan jawaban dan hal ini pun kemudian berbuah dengan kasih sayang Allah yang memberikan kelahiran seorang putra dari rahim Siti Hajar bernama Nabi Ismail. Sungguh sebuah perasaan yang luar biasa kala itu, seorang putra yang sudah dinantinya bertahun-tahun kini pun telah Allah anugerahkan. Namun, ternyata menginjak usia Nabi Ismail 7 tahun (namun dalam beberapa pendapat dikatakan berusia 13 tahun), Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Kisah ini Allah SWT. abadikan dalam Al Qur’an, Ash-Shaffat 100-107, yang artinya:

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang  yang saleh.(100)
Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101)
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(102)

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).(103)
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,(104)
Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, Sesungguhnya demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. .(105)
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.(106)
dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.(107)

Dalam kisah tersebut jelaslah bahwa Nabi Ibrahim kemudian berdialog dengan Nabi Ismail dan menanyakan terkait pendapat Nabi Ismail akan perintah Allah tersebut. Apa yang kemudian terjadi adalah sebuah hikmah di mana seorang Nabi Ismail tidak menolak apa yang sudah diperintahkan Allah kepada ayahnya, Nabi Ibrahim, bahkan Nabi Ismail pun ikhlas jika hal ini merupakan perintah dari Rabb Semesta Alam. Allah SWT. pun pada akhirnya mengganti Nabi Ismail dengan hewan sembelihan lainnya. Hal inilah yang kemudian mendasari adanya hari raya ‘Idul Adha.

Namun, apa yang kemudian dapat diambil dari peristiwa tersebut?

Dari peristiwa tersebut, penulis mencoba untuk mengambil sebuah hikmah yang sekiranya dapat diambil dari perisitiwa tersebut.
1. Ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terhadap perintah Allah SWT.
Berdasarkan kisah tersebut, maka kita sebagai umat muslim dapat melihat, bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memiliki ketaatan yang penuh atas perintah Rabb-Nya. Tidak ada tawar menawar dalam menjalankan syari’at yang sudah Allah gariskan, hal ini terlihat meskipun berat atas perintah tersebut, namun Nabi Ibrahim tetap melakukannya sesuai dengan perintah yang diberikan. Hal ini harus menjadi semangat bagi kita, terutama penulis, untuk terus menjadikan diri sebagai seorang yang bertakwa dalam kekaffahan tanpa mencari alasan apapun untuk pembenaran karena emosi dan nafsu yang timbul dari diri kita sendiri.

2. Dialog santun Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail yang memperlihatkan pendidikan akhlak dan moral
Dalam masalah pendidikan akhlak dan moral, dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan sebuah percakapan yang demokratis namun kemudian mengikat dan dipertanggungjawabkan. Kesantunan seorang Nabi Ibrahim yang notabene adalah seorang ayah menjadi sebuah pembelajaran bagaimana kemudian Nabi Ibrahim tetap mengajarkan dialog santun dan penuh akan pembelajaran moral dan akhlak. Nabi Ibrahim tidak semena-mena atau mungkin langsung memaksa, namun Nabi Ibrahim tetap menanyakan perihal perintah Allah tersebut kepada Nabi Ismail. Begitu pula Nabi Ismail, tidak kemudian menyatakan menolak dengan kasar, bahkan beliau pun menjawab dengan memberikan ketenangan kepada Nabi Ibrahim untuk kemudian menjalankan perintah Allah SWT. Hal inilah yang dapat diterapkan, bahwa pendidikan yang tepat dengan penguatan keagamaan akan menjadikan sebuah keluarga, bahkan komunikasi dalam keluarga menjadi tenang dan menenangkan.

‘Idul Adha bukanlah sekedar sebuah simbol perayaan hari raya saja, namun harus menjadi sebuah manifestasi dalam mengambil hikmah agar kemudian dapat membangun kehidupan yang lebih baik dan berkualitas ke depannya. ‘idul Adha tidak kemudian hanya menjadi sebuah ritual saja, namun kemudian harus dapat diambil esensi dari peristiwa yang melatarbelakanginya, bahkan harus menjadi refleksi bagi semua umat muslim untuk mengambil setiap ‘ibrah dari peristiwa yang telah terjadi. Semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai orang yang selalu mengambil hikmah dalam setiap perisitwa dan selalu memberikan hidayah dalam setiap perjalanan kehidupan kita menuju Surga-Nya.

Daftar Acuan:
1. https://www.facebook.com/notes/quranic-explorer-kamus-indeks-al-quran/kisah-kesabaran-nabi-ismail-sejarah-hari-idul-adha/437286008444
2. http://www.dakwatuna.com/2013/10/14/40719/meneladani-jiwa-pembelajar-nabi-ibrahim-as/#ixzz3kaiAiHS0
3. http://supervisiaceh2012.blogspot.co.id/2013/12/konsep-pendidikan-dalam-surat-ash.html

Salam hormat,
Penulis
Yogyakarta, 16 September 2015
Pemuda yang masih terus mencari dan haus akan Ilmu. Pemuda yang masih belajar untuk hidup dalam sunnah dan tuntunan Rasul-Nya. Pemuda yang masih memantaskan diri untuk memasuki Jannah-Nya.

Hidup itu Hanya Sekali

Posted: September 12, 2015 in Hikmah, Puisi
Tags: , ,

Hidup itu hanya sekali,
jangan diambil susah dan sulit,
karena engkau masih memiliki Rabb Semesta Alam,
dan jangan mengeluh,
karena itu hanya akan menyusahkanmu.

Hidup itu hanya sekali,
karena kebaikanmu akan terus dihitung,
dan keburukanmu akan terus dicatat,
hingga datanglah hari pembalasan,
atas setiap tindakan dan perkataan.

Hidup itu hanya sekali,
jadilah mata yang selalu berbinar dalam kebaikan,
dan jadilah mata keadilan ketika melihat keburukan,
jadilah mata hati kejujuran dalam bertutur,
dan jadilah mata hati kebijaksanaan dalam bertindak.

Hidup itu hanya sekali,
karenanya jalani dalam setiap senyuman,
syukuri dalam setiap keadaan,
dan teruslah berderma dalam membagi kebersamaan,
serta menjadikan diri peka dengan lingkungan.

Hidup itu hanya sekali,
maka janganlah muram yang nampak,
bahkan dendam hingga amarah yang menjadi pijakan,
dan hidup ini hanya terbakar oleh keserakahan.

Hidup itu hanya sekali,
memberikan usaha yang terbaik dalam setiap amalan,
memijakkan nurani dan keikhlasan dalam bertindak,
bahkan tiada henti memberi di setiap waktu.

Hidup itu hanya sekali,
maka berilah sebanyak mungkin,
tanpa ada rasa imbalan yang diharapkan,
bahkan rasa terima kasih pun.

Hidup itu hanya sekali,
karena itu maka sukseskan hidup ini,
dengan memberi, berbagi,
agar esok ada cerita yang bisa dikenang.

Yogyakarta, 12092015
12:21
“Tulisan ini saya tulis karena saya ingat, suatu waktu ketika mengikuti sebuah seleksi beasiswa, ada sebuah pertanyaan yang sangat sulit kala itu untuk dijawab.”Saat engkau mati, apa yang ingin engkau dengar dari orang-orang sekitarmu?”, sebuah pertanyaan yang bisa saja saya jawab dengan bermacam-macam jawaban. Tapi saya ingat, dalam jawaban itu saya tulis, “saya ingin masyarakat mengenal saya sebagai orang yang baik, yang memberikan kebaikan bagi lingkungannya, dan mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya”.
“Maka bagi saya, di mana pun saya berada, maka haruslah kebaikan yang saya berbagi, datang dengan baik, maka pergi pun dengan baik. Datang tak membawa apa pun, namun pergi haruslah saya memberikan apa yang saya peroleh dari lingkungan baru saya, bagi orang sekitar saya. Terima kasih, Ibu dan Ayah yang setiap saat selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menyematkan nama Abror (anak yang berbakti), semoga akan menjadi doa untukmu, kedua malaikatku di bumi ini, dan menjadi kebaikan bagi bangsa dan negara ini kelak.”

Aku Cemburu

Posted: September 8, 2015 in Puisi
Tags: ,

Bayanganku di cermin,
Bercerita akan banyak hal
Tentang diri, tentang perjalanan,
Tentang semuanya.

Sejujurnya, aku cemburu
bukan karena ketampanan,
bukan karena kekayaan,
bukan karena harta,
bukan karena keduniawian

Sejujurnya, aku cemburu
Pada kekayaan hati mereka,
Pada keparasan wajah karena air wudhu yang terus membasahi,
Pada kebagusan akhlak tanpa ada polesan sedikitpun.

Sejujurnya, aku cemburu
Pada mereka,
Yang alim namun tetap dalam ketawaddhu’an
Pada mereka,
Yang kaya namun tetap dalam kedermawanannya
Pada mereka,
Yang tampan namun tetap dalam penjagaannya
Pada mereka,
Yang selalu berhati riang namun tetap dalam dzikirnya

Sekali lagi,
Aku ingin berkata bahwa aku cemburu
Pada mereka,
Yang muda namun bergairah menuju masjid, langgar, dan musholla
Pada mereka,
Yang sibuk namun tetap menjaga istiqomah dalam waktu sholatnya
Pada mereka,
Pemuda yang hatinya selalu merindukan rumah-Mu
Pada mereka,
Yang larut tidurnya namun tetap menjaga sujud di sepertiga malamnya

Tuhan,
Sejujurnya aku cemburu
Karena aku ingin menjadi penghuni surgamu,
Namun ikhtiar ini tak pernah sampai kiranya pada batas minimalnya,
Tuhan,
Ijinkan aku berkata bahwa aku cemburu pada mereka penghuni surga-Mu

“Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati”
Kla Project – Yogyakarta Lyrics

4 tahun 11 bulan waktu yang sudah dilewatkan di kota tercinta ini. Kota Pendidikan dengan banyaknya sekolah-sekolah bagi para pemuda-pemudi dari segala penjuru negeri ini. Kota yang menawarkan sejuta pesona dalam keramahan masyarakatnya. Kota kecil yang memukau setiap pengunjungnya dengan keindahan wisata baik budaya, pesona alam, makanan, hingga mungkin keunikan di setiap sudutnya. Ya itulah, Yogyakarta dengan setiap hal unik yang setiap harinya memanjakan perasaan dan memberikan ketenangan, serta merindukan bagi mereka, orang-orang yang pernah merasakan menjadi bagian dari kehidupan kota ini. Tak pelak, dari kota ini diri ini mencoba untuk menjadi bagian dari lingkaran-lingkaran kecil pembangun jejak mimpi-mimpi membangun negeri, yang telah dipertemukan dengan semua orang yang pernah menjadi cerita dalam bagian perjalanan ini.

#sebuahcatatankecil

Arti Sebuah Hidup

Posted: September 3, 2015 in Puisi
Tags: , ,

Hidup itu adalah mengaliri,
Ia bagaikan air
dari tempat tinggi menuju tempat rendah
Terkadang ia jatuh dan tergenang

Namun, tatkala hujan datang
Ia simpan energinya untuk kembali mengalir
Memberikan kesegarannya
dan menghijaukan tanah kering di sekitarnya,

Hidup adalah sebuah perjalanan,
Ia bagaikan sebuah roda,
yang berputar,
terkadang berada di atas dan terkadang di bawah
berputar dan membuat jejak-jejak langkah besar,

Hidup adalah sebuah doa,
Ia bagaikan kawan yang selalu menasehati,
memberikan setiap makna dan kesan,
melukis setiap keindahan, kesenangan, dan keramahan dalam bingkai cinta
menghapuskan setiap amarah, kesal, dendam, dan benci dengan bingkai persahabatan

Hidup adalah sebuah anugerah,
Ia diberikan hanya sekali oleh Sang Maha Pencipta,
Untuk berbagi,
Untuk memberi,
Untuk menasehati,
Untuk menyayangi dalam kasih dan cinta,
Karena hidup adalah sebuah kontribusi,