Archive for the ‘Puisi’ Category

Meneguhkan Keimanan

Posted: June 12, 2016 in Hikmah, Puisi
Tags: , ,

Keimanan,
Begitu mudah lidah ini mengucap
Aku beriman…
Iya,
Aku beriman pada rukun Iman yang 6
Aku pun beriman pada rukun Islam yang 5,
Ya,
Aku beriman…
Aku beriman…
Namun, Keimanan bukanlah hanya ucapan
Keimanan tidak sekedar ada pada manisnya lisan,
Ia membutuhkan bukti dan aplikasi,
Ia membutuhkan tindakan aksi…

Keimanan,
Hal yang selalu Rasulullah ingatkan dan tekankan
Fondasi dari setiap hal yang terlaku pada diri ini,
Cerminan bagi setiap orang yang meneguhkan dirinya
hanya pada Khaliq-nya semata…

Keimanan,
ia yang menjadi jalan syahidnya Sumayyah binti Khayyath,
ia pula menjadi jalan syahidnya Yasir bin Amir
dan ia lah yang menjadi kekuatan dan keberanian Bilal,
melantangkan “Ahadun Ahad…”

Keimanan,
Fondasi yang Rasulullah dakwahkan selama fase Mekkah,
Jalan yang menjadi penguat Ja’far bin Abi Thalib untuk berhijrah ke Habasyah,

Allah Ya Karim,
Inilah jalan yang telah Rasul-Mu tunjukkan,
Inilah jalan para Khalifatur Rasyidin,
Para Salafush Shalih, Tabi’in, Umara, dan pemimpin ummat kami terdahulu
Genggam hingga akhir hayat menemui-Mu…

Allah Ya Karim,
Cukupkah keimanan kami saat ini untuk menghadap-Mu?

*Jepang, Tokyo (8 Ramadhan 1437 H)

Dalamnya Lautan…

Posted: March 31, 2016 in Puisi
Tags: , , ,

Misool-Eco-Resort-In-Raja-Ampat-15

Ah, birunya laut itu memukau hati siapa saja yang melihatnya,

Hijaunya dataran memikat siapapun, pelancong yang pernah menatapnya.

Inilah negeriku, dengan beragam budaya dan bangsanya,

kaya akan adat dan istiadat yang tersebar luar dari Sabang hingga Merauke…

Ah, dalamnya lautan,

begitu engkau merayu diri ini untuk ikut menyelami keindahan di dalammu

kau tawarkan sejuta keindahan yang membuat hati ku berdecak kagum

kau bagikan pesona mu kepada siapa saja yang pernah menyelami dirimu

Ah lautmu,

masih menyimpan sejuta misteri yang menunggu anak-anak bangsamu untuk mengungkapnya

Ah, dalamnya lautan Indonesiaku…

Karena Rahmat Tuhanku,

Posted: March 20, 2016 in Puisi
Tags: , , ,

aku adalah manusia,

yang acap kali berjalan congkak,

dan terus berbuat fasik dan mungkar.

aku adalah makhluk,

yang terkadang lupa,

dan acap kali sombongkan diriku.

aku adalah dzat yang Ia sempurnakan,

namun terkadang menjadi tinggi,

karena merasa akal menjadi penentu akan segala hal keputusan.

aku lupa siapa aku,

dan pada siapa aku harus menunduk dan tunduk.

aku lupa siapa aku,

karena aku terus menjadikan akal sebagai dewa kebenaran,

dan melupakan Ia sebagai Khalik yang Maha Benar dan Besar.

aku lupa dengan diri-Nya,

yang senantiasa menjaga dan mengawasi,

dan tidak pernah lengah dari sekecil apapun dosa yang ku lakukan.

aku lupa akan diri-Nya,

yang Maha Melihat dan Mengetahui, sekecil apapun dusta yang aku simpan.

aku lupa akan diri-Nya,

yang menutup aib-aib diri penuh dosa ini di mata manusia,

dan masih aku terus berjalan congkak,

merasa benar akan setiap logika yang berjalan dalam pikiran,

membantah setiap firman-Nya yang telah jelas.

sekali lagi, aku pun congkak,

dan aku sendiri yang melangkah pada jalan kehinaan di dunia-Nya.

satu, dua, bahkan ratusan kali kata taubat aku ucapkan,

karena rahmat Tuhanku, aku beroleh kesehatan,

karena rahmat Tuhanku, aku beroleh kebaikan,

karena rahmat Tuhanku pulalah, aku beroleh kesenangan.

ya, karena rahmat Tuhanku,

bukan karena kepandaian, ketampanan, kekayaan, dan kebijaksanaan

namun, karena rahmat Tuhanku aku masih menjadi orang yang dikatakan baik.

Tuhanku,

hanyalah Kesempurnaan Sejati milik-Mu,

dan adalah Kebenaran Haqiqi yang berada di genggaman-Mu.

 

 

Hidup itu Hanya Sekali

Posted: September 12, 2015 in Hikmah, Puisi
Tags: , ,

Hidup itu hanya sekali,
jangan diambil susah dan sulit,
karena engkau masih memiliki Rabb Semesta Alam,
dan jangan mengeluh,
karena itu hanya akan menyusahkanmu.

Hidup itu hanya sekali,
karena kebaikanmu akan terus dihitung,
dan keburukanmu akan terus dicatat,
hingga datanglah hari pembalasan,
atas setiap tindakan dan perkataan.

Hidup itu hanya sekali,
jadilah mata yang selalu berbinar dalam kebaikan,
dan jadilah mata keadilan ketika melihat keburukan,
jadilah mata hati kejujuran dalam bertutur,
dan jadilah mata hati kebijaksanaan dalam bertindak.

Hidup itu hanya sekali,
karenanya jalani dalam setiap senyuman,
syukuri dalam setiap keadaan,
dan teruslah berderma dalam membagi kebersamaan,
serta menjadikan diri peka dengan lingkungan.

Hidup itu hanya sekali,
maka janganlah muram yang nampak,
bahkan dendam hingga amarah yang menjadi pijakan,
dan hidup ini hanya terbakar oleh keserakahan.

Hidup itu hanya sekali,
memberikan usaha yang terbaik dalam setiap amalan,
memijakkan nurani dan keikhlasan dalam bertindak,
bahkan tiada henti memberi di setiap waktu.

Hidup itu hanya sekali,
maka berilah sebanyak mungkin,
tanpa ada rasa imbalan yang diharapkan,
bahkan rasa terima kasih pun.

Hidup itu hanya sekali,
karena itu maka sukseskan hidup ini,
dengan memberi, berbagi,
agar esok ada cerita yang bisa dikenang.

Yogyakarta, 12092015
12:21
“Tulisan ini saya tulis karena saya ingat, suatu waktu ketika mengikuti sebuah seleksi beasiswa, ada sebuah pertanyaan yang sangat sulit kala itu untuk dijawab.”Saat engkau mati, apa yang ingin engkau dengar dari orang-orang sekitarmu?”, sebuah pertanyaan yang bisa saja saya jawab dengan bermacam-macam jawaban. Tapi saya ingat, dalam jawaban itu saya tulis, “saya ingin masyarakat mengenal saya sebagai orang yang baik, yang memberikan kebaikan bagi lingkungannya, dan mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya”.
“Maka bagi saya, di mana pun saya berada, maka haruslah kebaikan yang saya berbagi, datang dengan baik, maka pergi pun dengan baik. Datang tak membawa apa pun, namun pergi haruslah saya memberikan apa yang saya peroleh dari lingkungan baru saya, bagi orang sekitar saya. Terima kasih, Ibu dan Ayah yang setiap saat selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menyematkan nama Abror (anak yang berbakti), semoga akan menjadi doa untukmu, kedua malaikatku di bumi ini, dan menjadi kebaikan bagi bangsa dan negara ini kelak.”

Aku Cemburu

Posted: September 8, 2015 in Puisi
Tags: ,

Bayanganku di cermin,
Bercerita akan banyak hal
Tentang diri, tentang perjalanan,
Tentang semuanya.

Sejujurnya, aku cemburu
bukan karena ketampanan,
bukan karena kekayaan,
bukan karena harta,
bukan karena keduniawian

Sejujurnya, aku cemburu
Pada kekayaan hati mereka,
Pada keparasan wajah karena air wudhu yang terus membasahi,
Pada kebagusan akhlak tanpa ada polesan sedikitpun.

Sejujurnya, aku cemburu
Pada mereka,
Yang alim namun tetap dalam ketawaddhu’an
Pada mereka,
Yang kaya namun tetap dalam kedermawanannya
Pada mereka,
Yang tampan namun tetap dalam penjagaannya
Pada mereka,
Yang selalu berhati riang namun tetap dalam dzikirnya

Sekali lagi,
Aku ingin berkata bahwa aku cemburu
Pada mereka,
Yang muda namun bergairah menuju masjid, langgar, dan musholla
Pada mereka,
Yang sibuk namun tetap menjaga istiqomah dalam waktu sholatnya
Pada mereka,
Pemuda yang hatinya selalu merindukan rumah-Mu
Pada mereka,
Yang larut tidurnya namun tetap menjaga sujud di sepertiga malamnya

Tuhan,
Sejujurnya aku cemburu
Karena aku ingin menjadi penghuni surgamu,
Namun ikhtiar ini tak pernah sampai kiranya pada batas minimalnya,
Tuhan,
Ijinkan aku berkata bahwa aku cemburu pada mereka penghuni surga-Mu

Arti Sebuah Hidup

Posted: September 3, 2015 in Puisi
Tags: , ,

Hidup itu adalah mengaliri,
Ia bagaikan air
dari tempat tinggi menuju tempat rendah
Terkadang ia jatuh dan tergenang

Namun, tatkala hujan datang
Ia simpan energinya untuk kembali mengalir
Memberikan kesegarannya
dan menghijaukan tanah kering di sekitarnya,

Hidup adalah sebuah perjalanan,
Ia bagaikan sebuah roda,
yang berputar,
terkadang berada di atas dan terkadang di bawah
berputar dan membuat jejak-jejak langkah besar,

Hidup adalah sebuah doa,
Ia bagaikan kawan yang selalu menasehati,
memberikan setiap makna dan kesan,
melukis setiap keindahan, kesenangan, dan keramahan dalam bingkai cinta
menghapuskan setiap amarah, kesal, dendam, dan benci dengan bingkai persahabatan

Hidup adalah sebuah anugerah,
Ia diberikan hanya sekali oleh Sang Maha Pencipta,
Untuk berbagi,
Untuk memberi,
Untuk menasehati,
Untuk menyayangi dalam kasih dan cinta,
Karena hidup adalah sebuah kontribusi,

Damai dalam Ridho-Nya

Posted: August 17, 2015 in Puisi
Tags: , , ,

Kasihku,

Dengarkanlah aku yang kini di sampingmu,

Aku bukanlah raja,

Aku juga bukanlah penguasa,

Aku juga bukanlah pemilik harta yang melimpah,

Aku hanyalah manusia,

Yang terlahir dari sebuah kesederhanaan

Yang berjubahkan kerendahhatian

Dan bertahtakan kedermawanan dari kedua orang tuaku,

Kasihku,

Madu yang menjadi pemanis hidupku,

Aku memilihmu,

Karena aku yakin,

Tuhanku,

Telah mengenalkanku padaku ketika jiwa diciptakan

Dan Tuhanku,

Telah memilihkanmu padaku ketika ruh kita ditiupkan

Mawarku,

Yang dalam merahmu tersimpan keberanian,

Aku hanya membawa iman dalam cinta ini

Dan aku tidak banyak memberikan harta

Namun, aku yakin Tuhanku tak akan pernah lupa

Bahwa dua rizki akan dipertemukan dalam kebaikan

Anggurku,

Yang tidak memabukkan,

Lilinku,

Yang menjadi penerang dalam gelapnya malam hatiku,

Tak banyak yang bias aku bagi,

Karena aku tahu,

Aku hanyalah manusia yang belajar darimu

Dan engkau pun adalah manusia yang belajar dariku

Belajar memahami satu dengan lainnya

Belajar mengejar bahu satu dengan lainnya

Bahkan, belajar menutupi kekurangan satu dengan lainnya

Cintaku,

Yang membawakan racun dan penawar di kedua tangannya

Tidak ada sebuah kesempurnaan

Kecuali, Ia yang memberikan kesempurnaan itu,

Tak pelak pula,

Kita pun berharap hanya kesempurnaan-Nya yang hadir

Dan membawa layar ini terkembang dalam surga-Nya,

Api dan airku,

Biarkan aku berbisik padamu,

“Gapailah ridho dalam keridhaan-Nya bersamaku”

Yogyakarta, 2 Dzulqa’dah 1436 H

“Muhibbi-Mu yang belajar akan mengenal kesempurnaan ciptaanMu, muhibbi-Mu yang belajar menjadi penyair dalam syair-syair indah yang terlepas dalam renungan tidurnya”

Jalan-Mu adalah jalan hidupku

Posted: August 16, 2015 in Puisi
Tags: , ,

Aku membaca Alif

Lalu aku pun terisak lirih

Aku pun melanjutkan membaca Lam

Dan aku pun menangis begitu dalam

Lanjut ku pun membaca Mim

Hati ku bergetar seakan dentang lonceng berada di dekat ku

Tuhanku berapakah lamanya aku hidup?

Namun aku tak pernah membaca kitab-Mu ini

Tuhanku berapakah lamanya aku tuli?

Hingga aku tak pernah mendengar lantunan ayat-Mu ini

Tuhanku berapakah lamanya aku buta?

Hingga tak ayal aku tak pernah melihat kekuasaan ayat-Mu di alam ini

Tuhanku, berapakah lamanya aku berjalan di bumi-Mu ini?

Hingga terkadang aku merasa berjalan tanpa arah dan tujuan

Aku pun melanjutkan renungan ini dalam ayat

“dzalikal kita bula rayba fih, hudal lil muttaqin”

Tuhanku, mengapa aku lama tersadar akan kebenaran kitab ini?

Padahal telah lama aku melihatnya

Dalam setiap pengembaraan, aku membawanya

Namun, telah berapa lama aku membawa dan mengapa aku tak membacanya?

Tuhanku, jauhkah aku dari jalan-Mu yang lurus itu?

Tuhanku, masihkah ada jalan menuju kedekatan ku dengan-Mu?

Muhibbi-Mu hanyalah manusia yang tak ayal  penuh akan dosa

Muhibbi-Mu adalah seorang hamba yang terkadang meniti jalan namun tersandung dalam gelap

Muhibbi-Mu adalah seorang hamba yang ingin berjalan dalam benderangnya siang dan terangnya malam karena cahaya-Mu

Tuhanku, ijinkan aku berjalan dengan jalan-Mu

Ijinkan aku mengikuti jalan Rasul-Mu sebagai jalan keselamatan hidup ini

Tuhanku,

Ijinkan lelah ini menjadi penggugur akan dosa masa laluku

Dan ijinkan kematian datang

Ketika aku telah berada di jalan Rasul-Mu, Muhammad

Dan Tuhanku, ijinkan muhibbi-Mu ini berbisik

“Jalan-Mu adalah jalan hidupku”

Yogyakarta, 1 Dzulqa’dah 1436 H

“Seorang hamba yang ingin menjadikan sya’ir dalam syiarnya”

Subuh-Mu

Posted: August 13, 2015 in Puisi
Tags: , , ,

Subuh adalah berkah

Subuh adalah kenikmatan

dan subuh adalah waktu mencari kesempurnaan bertafakkur

Mengingat dan mensyukuri nikmat Rabb Semesta Alam

Ketika subuh, hawa dingin yang merasuki tubuh

Namun, inilah nikmat,

Sentuhan Sang Ilahi Rabbi memanggil hambanya,

Berkumpul dan berdzikir dalam kekhusukan

Mengagungkan dan meninggikan kuasa Rabbnya dalam setiap kehidupan

Subuh adalah panggilan sayang dari Sang Maha Pemilik Qalbu

Untuk mengingatkan manusia atas nikmat kehidupan

Karena ruh masih berada dalam raga

dan nafas masih terasa di pagi ini,

Subuh adalah kemenangan yang dijanjikan oleh-Nya

Atas setiap hamba yang mampu menjaganya

Subuh adalah kejayaan

Karena Rasulnya pernah bersabda…

“sungguh 2 rakaat itu sebelum Subuh lebih aku cintai daripada seluruh dunia”

Inilah kebaikan yang melebihi seluruh kebaikan dunia,

Namun,

Aku takut akan subuhku

Aku takut kala aku meninggalkannya

Karena lalainya Subuh itu,

Allah memberikan siksa dan ancaman yang pedih,

Yogyakarta, 28 Syawwal 1436 H

“Muhibbi-Mu yang selama ini kau tutup aib dan dosa dari pandangan manusia. Muhibbi-Mu yang selalu berdoa agar dirinya Kau selamatkan dari siksanya, dan merindukan subuh-Mu. Muhibbi-Mu yang takut akan siksa yang sangat pedih yakni bagi orang – orang yang meninggalkan sholat yaitu menghadapi sakaratul maut dalam keadaan hina kemudian meninggal dalam keadaan sangat lapar dan haus

Malam dan Sahabat

Posted: August 12, 2015 in Puisi
Tags: , , , ,

Malam telah berlalu

Dan kini menjadi sahabat dalam membagi kisah dan hikmah

Tak tahu di mana aku harus mengadu

Pada secarik kertas putih ini aku pun menulis segalanya

Setiap yang bernyawa pastilah akan kembali pada Rabbnya

Namun, hanyalah seperti apa ia kan kembali menghadap

Baik kah atau buruk kah?

Husnul Khotimah kah atau Su’ul Khotimah?

Tidak pernah ada yang tahu,

Tidak pernah ada yang bisa memberikan rahasia langit itu,

Mereka para peramal hanya menduga

Mereka para pemain kartu hanya menebak,

Satupun, tidak akan pernah ada yang mampu memastikan hidu bahkan mati seseorang.

Bayi yang terlahir suci,

Akan terus membawa fitrahnya,

Asal ia tetap berada dalam keluarga yang memiliki iman dan cinta pada Rabbnya

Malam,

Kini kau pun akan terus berganti dengan siang,

Lamamu akan berbeda tergantung bagaimana posisi bumi terhadap matahari,

Sama seperti hidup ini,

Terkadang terlalu lama berada di kegelapan,

Tak melihat bahwa diri ini terlalu jauh masuk ke dalamnya

Padahal Rabbnya senantiasa memberikan petunjuk dalam setiap lilin cahaya,

Namun, terkadang

Diri ini tidak menyadarinya, bahkan tak segan ia membiarkan lilin itu mati dan padam

Tak mendapatkan apa-apa, bahkan terus mengubur dirinya dalam kegelapan.

Hingga pada masanya,

Rabbnya pun memanggilnya dalam kesyahduan,

…Ya Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah

‘Irji’i ila Rabbiki ra dhiyatan mardhiyyah

Fadkhuli fi ibadi wadkhuli jannati…

Maka barulah tersadar bahwa diri ini

Telah terlalu lama berpaling dari sempurnanya cahaya

Ilahi Rabbi

Yogyakarta, 28 Syawwal 1436 H

“jikalah malam adalah tempat menyandarkan renungan, maka siang adalah tempat untuk mengambil pelajaran kehidupan dari Rabb Semesta Alam. Seorang pemuda yang baru saja melalui fase tidurnya, yang ingin belajar untuk bangkit dan terus ingin hidup dalam jalan Rasul-Nya serta cinta dan ridho Ilahi Rabbi”