Posts Tagged ‘Sumpah Pemuda’

Beberapa pekan lalu, sepintas dalam beberapa timeline teman-teman yang menempuh studi di Belanda, sebuah selebaran bertuliskan MataNajwa: Goes to Netherland. Bukan hal baru memang, MataNajwa, menjadi tontonan tersendiri, yang unik, menguak hal-hal baru, mengupas berbagai macam sisi mulai dari sosial, budaya, bahkan hal yang paling kontroversial, dengan para narasumbernya. Bagi saya pribadi, melihat acara MataNajwa memberikan inspirasi tersendiri, bahkan saat Najwa Shihab membacakan puisi-puisi di akhir acara tersebut, ada nilai, makna, ungkapan, yang menjadikan setiap pendengarnya, berpikir dan melihat kenyataan dan realita yang ada.

Walau hanya sebatas membaca status teman, tapi bagi saya, bertanya ataupun sekedar meminta cerita pada teman yang berada di sana, adalah cukup untuk bisa berbagi pesan dengan apa yang sudah mereka dapatkan dalam acara itu. Ini adalah pesan yang Najwa Shihab berikan ketika menutup acara MataNajwa: Goes to Netherland.

Saat rantau menawarkan beribu goda dan harapan
Kampung halaman terasa sungguh meragukan
Di bawah naungan bujuk rayu materi
Tanah air terasa hanya sekedar melankoli
Wajar jika keraguan merajalela
Indonesia tampak belum menjanjikan apa-apa
Tapi Ibu Pertiwi tak pernah bosan memanggil
Perantau kuyuh oleh perasaan sentimentil
Dipanting oleh ingatan dan kenangan
Rindu tanah kelahiran pasti tak tertahankan
Namun kepulangan jangan semata memuaskan kerinduan
Indonesia butuh sumbangsih kalian yang berpengetahuan
Begitu banyak agenda bersama yang harus direalisasikan
Mimpi dan harapan yang harus jadi kenyataan
Kami amat risau menunggu kepulangan kalian yang sedang berguru
Pulanglah kapanpun kalian mau
Saudara-saudara mu juga sangat ingin maju
Rawe rawe rantas malang malang putung
Kita bikin Indonesia jadi bangsa yang agung
@matanajwa

Inilah kutipan puisi yang saya beroleh ijin untuk membagikannya, dari akun instagram teman saya, @sitimariyam1.

27-28 Oktober 1928, adalah momentum sumpah pemuda, yang menjadikan ikatan para pemuda-pemudi Indonesia menjadi satu padu, menghilangkan rasa kedaerahan, menghilangkan jarak kesukuan, dan meleburkan mereka pada rasa cinta akan tanah airnya. Di tengah momentum akan Sumpah Pemuda pada tahun ini, menjadi momentum kembali untuk para pemuda di seluruh penjuru negeri, dan di seluruh dunia, untuk kembali memadukan  rasa persaudaraan dan membangun cintanya untuk membangun negeri, di tengah kerinduan Ibu Pertiwi kepada anak-anak bangsanya.

Bagi saya pribadi, yang saat ini sedang menempuh studi di negeri Sakura, memang tidak dipungkiri, di sini, kehidupan jauh lebih baik, tidak ada hingar bingar kegaduhan politik, keteraturan dalam segala hal, transportasi, kepatuhan pada hukum yang berlaku, dan norma yang ada. Namun, tetaplah, rindu akan tanah air, pada nyatanya tetap tidak terbendung.

Memang benar apa yang disampaikan dalam puisi MataNajwa, ingatan dan kenangan selama perjalanan hidup di bumi pertiwi lah, yang terus menjadikan hati kecil, selalu berbicara,”Suatu saat aku akan pulang, tidak dengan tangan kosong, namun dengan hal kecil yang akan membawa sedikit senyum dan perubahan untuk tanah air”. Namun, sekali lagi ini tidak bisa dilakukan sendiri, namun harus dilakukan dengan kerja-kerja kolektif, kerja-kerja pemuda-pemudi yang saling bantu membantu, saling membahu, dan saling memberikan masukan demi cita-cita yang disampaikan dalam puisi tersebut, yakni “menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang agung”.

Generasi pembelajar, meminjam istilah yang disampaikan oleh Najwa Shihab, adalah generasi terdidik, yang mengabdikan dirinya untuk berguru, membuka cakrawala pemikiran, menjadikan diri untuk terus belajar, rendah hati, selalu bersikap objektif dalam menilai hal-hal yang sedang terjadi, dan bersikap terbuka dengan siapapun. Jika Generasi Pembelajar, pada tahun 1928, dipersatukan karena adanya persamaan untuk menghimpun para pemuda-pemudinya, melawan penjajahan, maka sejatinya, Generasi Pembelajar saat ini pun, sedang diminta oleh Ibu Pertiwi, untuk menjadi mata air, yang membawa kebermanfaatan untuk rakyat Indonesia.

Tokyo, Kita-Ayase, 25 Oktober 2016
Di tengah dinginnya malam langit Tokyo, menilik kembali diri ini, meluruskan niat, dan membaca kembali jalan yang sudah dilaluinya.

 

Advertisements