Posts Tagged ‘Cinta’

Bersabar…

Posted: September 13, 2016 in Perjalanan
Tags: ,

Kata “Sabar”, yang selalu ibu saya ingatkan. Memulai perjalanan seorang diri, di negeri orang, tanpa sanak keluarga, mungkin memang berat pada awalnya. Namun, bagi seorang ibu, ia paham bahwa inilah yang harus dilakukan sang anak, agar ia paham, bahwa nantinya perjalanan kehidupannya, akan ditempuh dengan tanggung jawab pribadi, dan memiliki hak penuh untuk memutuskannya sendiri. Bagi saya, ibu dan bapak, adalah sosok yang begitu sabar.

Sejak menginjakkan kaki di bangku SMA hingga bangku kuliah, saya telah berpisah dan tinggal sendiri, karena pekerjaan bapak, yang harus membawanya terbang dari daerah kami berasal, Madura. Namun, perhatian dan kehadiran mereka, masih nampak bahkan hingga saya saat ini melanjutkan kuliah di sini, Jepang. Telepon setiap pagi, membangunkan saya untuk pergi kuliah, setiap hari saya dengar dari Indonesia, ditambah sedikit percakapan agar saya tetap terbangun. Ya, bersabar untuk menempa diri, jauh dari sanak keluarga, teman yang pernah dikenal, serta sahabat, adalah pilihan jalan yang dipilih agar kita terus membuka diri, membelah cakrawala keterbatasan yang menutup diri, dan membuka pintu-pintu kebaikan di setiap jalan yang dilewati di tengah kehidupan di negeri orang.

Jalan cinta bukanlah jalan yang selalu berisi manis atau senangnya kehidupan, namun jalan cinta adalah jalan yang diajarkan dengan melewati manisnya kurva sinus, yang harus naik dan turun. Ketika naik, maka menundukkan hati untuk bersyukur dan bersujud, dan ketika turun, maka menengadahkan tangan dan merendahkan hati, untuk meminta, dan memohon kepada sang pemilik alam semesta, Rabbul Alamin.

 

La Tahzan

Posted: July 10, 2015 in Puisi
Tags: , , , ,

La Tahzan

Karena Rabbmu adalah pemilik alam semesta

Yang digenggamnya langit dan bumi

Yang diperintahnya alam semesta untuk bertasbih kepadaNya

Yang diaturnya malam dan siang dengan pergantian yang sempurna

La Tahzan

Karena hidup dan mati adalah kuasaNya

Rezeki dan jodoh adalah ketetapanNya

Baik dan buruk telah dituliskanNya

Muhibbi

Adakah rindu yang paling memuncah selain rindu bertemu denganNya?

Adakah cinta yang paling besar selain cinta dariNya?

Adakah kawan yang paling dekat selainNya?

Adakah kelembutan yang paling lembut selain kelembutan rahmatNya?

La Tahzan

Kedamaian dan ampunan dalam istighfar kepadaNya

Keagungan ketika bertasbih kepadaNya

Kebesaran ketika bertakbir kepadaNya

Kesucian iman ketika bertahlil kepadaNya

Adakah cinta dan rindu lain yang engkau harapkan, Muhibbi?

Rabbmu adalah pemilik rindu sejati yang seharusnya kau rindukan

Rabbmu adalah pemilik cinta sejati yang harusnya kau dapatkan

Dan.

Rabbmu adalah kekasih sejati yang harus berada dalam hatimu

La Tahzan

Bersegeralah Muhibbi,

Meraih cintaNya

Menjadi kekasihNya

Dan menjadi hamba yang dirindukanNya

Karena jika Rabbmu mencintai seorang hamba,

Maka Ia akan memberi kabar pada penduduk langit

Dan menjadikan dirimu juga dicintai oleh penduduk langit

Muhibbiku

Posted: May 16, 2015 in Puisi
Tags: , , ,

Muhibbiku

Cintaku bagaikan air yang terus mengalir

Tidak pernah surut,

Mengalir bagaikan untaian mutiara

Yang tidak pernah kasar dan melukai pemakainya

Muhibbiku

Air laut bagaikan pembawa pesan cinta ini

Menderu bagaikan ombak di kala pasang datang

Menghantam karang yang menjadi pemisah

Muhibbiku

Cintaku

Manisku,

Sayangku

Mawarku

Anggurku

Yang tidak memabukkan

Dan tidak pula menjadikan hilang akal

Anginku membawakan sejuta mimpi dan senyuman

Isi hati yang mendalam dari seseorang yang telah lama menanti

Setiap jawaban yang akan terbesit dari paras wajahmu

Muhibbiku

Jangan biarkan aku hilang dalam pandanganmu

Melepaskan dirimu yang menjadi penawar gelisahku

Menjadi pelepas anak panah cintaku

Menjadi syair di kala malam datang melepas rindu

Di kala mata terlelap namun hati tetap terjaga

Muhibbiku

Biarkan aku tebar sejuta jala harapan

Agar engkau tetap menjaganya

Mengangkatnya

Dan mengambil separuh jiwa yang ku taruh di dalamnya

Muhibbiku,

Rembulan yang selalu bersinar di kala malam

Matahari yang selalu memberikan hangatnya

Bintang yang memberikan sinar indah terangnya

Bunga yang selalu membagi manis madunya

Cenderawasih yang mengibaskan keindahan bulunya

Muhibbiku,

Gerhana yang menyilaukan mata yang melihatnya

Beningnya air yang melihat pribadinya

Halusnya sutera yang menyentuh kulitnya

Paras santun yang melihat wajahnya

Muhibbiku,

Racun duniaku yang mematikan akalku

Namun memberikan cinta dan imanku kepadaMu

Muhibbiku,

Bidadari surgaNya yang turun dengan kesabaran dan keikhlasan

Ah, terkadang memang cinta tidak mengenal batas, jarak, luas, dan apapun lah yang memisahkan. Hari ini, Sahabat Misool kembali mendapat pesan cintanya dari Bumi Makkah. Jika teringat saat masa-masa KKN kemarin di Bumi Misool, ada beberapa keluarga yang akan melangsungkan ibadah haji ke Bumi Mekkah, dan seperti pada umumnya, banyak acara adat akan dilakukan sebelum keluarga tersebut berangkat haji. Dimulai dari selamatan, doa keberkahan, hingga kemudian mengundang seluruh sanak famili untuk kembali pulang ke kampung halaman dan turu serta dalam doa adat tersebut. Konon, hal ini dilaksanakan, karena pada dahulunya banyak keluarga yang berangkat haji, namun kemudian Allah lebih mencintai mereka untuk kembali ke haribaan-Nya sehingga kemudian meninggal dan dikuburkan di bumi Allah, Mekkah, Tanah Haram.

Als4k4gauLXzlM7JA3xxmpJozijiodSxfzTAr5ubRTqI

Cinta untuk Sahabat Misool dari Laut Merah, Jeddah

Av93hadUHoXrRAddFYPYvV28hNz7K8MSrjVBuz5BtQEm

Masjid Ar Rahman, sebuah masjid yang sering kali orang Indonesia katakan sebagai masjid terapung di kala laut pasang. Sahabat Misool, kita terpisah oleh laut dan beberapa gugus pulau, namun hati kita akan selalu dekat

AlyesOfdqkEoDEqZk7TsMCy192bWHHuw19Xtz9brpqOW

Masjid Terapung Ar Rahman, cinta Sahabat Misool yang dibagi untuk kalian

Namun, hal itu terjadi dulu, kala banyaknya jamaah haji yang banyak menggunakan kapal laut untuk berangkat ke tanah suci. Untungnya, melalui hikmah pada manusia, Allah kemudian memberikan akal, agar kemudian manusia menciptakan kapal udara, hingga akhirnya kini manusia dapat bepergian ke tanah suci dalam waktu yang relatif lebih singkat dibandingkan menggunakan kapal laut atau bahkan berjalan kaki, dari Jazirah Asia menuju Jazirah Timur Tengah. Nah, Sahabat Misool, cinta kami pada kalian tidak akan pernah pudar, meski hampir lebih dari lima bulan kita sudah berpisah, dan hanya melalui SMS kita terus menyapa kalian di sana. Inilah cinta itu untuk kalian, Sahabat Misool.

Salam Cinta Untukmu

Posted: January 8, 2015 in Perjalanan
Tags: , ,

Sudah berangsur 4 bulan sejak Agustus 2014, masa ketika kami kembali dari tanah Papua Barat. Namun, kami tidak tahu mengapa perasaan rindu bahkan perasaan ingin kembali pada tanah pengabdian itu masih terasa kuat bahkan terkadang terbesit sebuah keinginan, andai saja bisa tinggal dan kembali melihat indahnya kepulauaan, senyuman warga, tingkah polah anak-anak, dan hangatnya sinar mentari, serta semilir angin yang setiap kali kami membuka pintu pondokan itu. Ya, begitulah kenangan itu kembali kami ingat, setiap detik, setiap waktu, bahkan setiap kami merasa sedikit jengah dengan aktivitas yang kami lakukan ketika kami sudah kembali pada kehidupan yang sebenarnya, yaitu masa kampus.

IMG_4311 (FILEminimizer)

“Selamat Datang, Kampung Fafanlap”. Itulah tulisan pertama yang kami lihat saat sampai di tanah Papua Barat. Tulisan ini pula yang menyambut kami di kejauhan atas kapal, yang membuat kami begitu kagum karena ada juga masyarakat yang tinggal di atas kampung, yang hampir dikelilingi oleh laut, alias 95% wilayah sekitar kanan dan kiri, bahkan depan belakang pun adalah lautan. Kampung Fafanlap, tanah pengabdian yang kami pilih sedari awal hati kami terpaut cinta dengan Tanah Papua Barat, entah tidak tahu mengapa kala itu, kami begitu kekeh alias memaksa Pemda Papua Barat, agar kami diijinkan untuk mengabdi di tanah ini. Kami pun tidak tahu dengan pasti, pikiran apa pula yang memaksa dan tetap bersikeras menjadikan Papua Barat menjadikan destinasi Pengabdian Masyarakat alias Kuliah Kerja Nyata kami di tahun 2014.

Fafanlap, ya di tanah ini kami mengabdikan jiwa dan raga selama kurang lebih 2 bulan lamanya semenjak 12 Juli 2014, saat pertama kami kaki menginjakkan kaki di kampung yang hanya berjumlah 980 Kepala Keluarga. Peristiwa yang akan menjadi historis bagi kami sendiri, saat kami tahu, bahwa begitu besar antusiasme masyarakat kala itu. Begitu bersemangat mereka berkumpul di dermaga, menunggu kedatangan kami, membawakan barang-barang kami, bahkan hingga menyiapkan 2 buah rumah yang disediakan sebagai pondokan tempat kami tinggal. Sambutan kecil pun tidak lepas untuk diberikan, dengan sedikit beramah tamah dengan perangkat Kampung Fafanlap dan Kepala Distrik Misool Selatan. Adalah Pak Syafii dan Pak Yasin, serta Pak Udin yang menyambut dan menyampaikan ucapan terima kasih karena berkenan untuk mengabdi di Kampung Fafanlap, sebuah kampung yang merupakan salah satu dari 3 kampung tertua yang berada di Distrik Misool Selatan. Tidak banyak yang disampaikan, hanya sebuah perkenalan singkat, dan berhubung masa Ramadhan, Pak Yasin menyampaikan terkait adat-istiadat masyarakat di Kampung Fafanlap ketika Ramadhan datang yang mana masyarakat akan terfokuskan akan kekhusukan ibadah saat bulan Ramadhan. Namun, bagi kami saat itu, tidak menjadi masalah, karena kami pun akan sangat senang, karena sambutan di awal antara mereka dan kami sudah begitu menyejukkan dan meyakinkan dan membulatkan tekad kami untuk benar-benar sepenuhnya mengabdi bagi kampung ini.

Hari pun terus berganti. Siang dan malam bergiliran menyapa kami di kampung ini. Kami memiliki sebuah slogan yaitu KKNCeria. Apapun yang terjadi pada kami, hanyalah satu yaitu ceria. Kami tidak menghiraukan dengan kondisi lampu yang tidak ada listrik di malam hari, ataupun kondisi sulitnya mendapatkan air bersih yang terkadang hanya menyala pada pukul 07.00 WIT hingga pukul 08.00 WIT. Tidak ada masalah bagi kami, karena kami tahu, bagi kami KKNCeria haruslah menjadi prioritas. Kerikil masalah? Ya pastilah itu tetap ada, kecil ataupun besar. Namun, tetaplah kami mengingat, bahwa KKNCeria, walaupun 2 bulan mengabdi, tetapi akan menginspirasi seumur hidup dan menjadikan kenangan terindah sepanjang pengabdian yang pernah dilakukan. Ya, itulah yang terus kami jaga hingga akhir dari pengabdian, entah kapan berakhir, mungkin hingga Allah sendiri yang memutus pengabdian ini, dengan satu-satunya pemutus kehidupan.

Sahabat Misool, itulah nama yang kami bawa dalam KKNCeria ini. Sahabat yang ingin terus berada dan dekat dengan kawan-kawan yang pernah dia kenalnya. Begitu indah dan sangat romantis tujuan KKN ini di bawa. Mengapa tidak? Karena pada akhirnya kami mengenal dua bibi ini. Namanya Bibi Tuniya dan Bibi Ria Soltief. Kedua bibi inilah yang awalnya begitu dekat dan sering kami ajak diskusi pada saat kami bertanya mengenai bagaimana sebenarnya dengan kondisi kampung. Tidak hanya kedua bibi ini, ada dua orang lagi paman yang juga sering kami tanya mengenai kampung, selama kami berdiskusi atau mengobservasi kondisi kampung. Abang Sam dan Paman Arifin, kedua orang itulah yang dekat dan mau untuk membantu kami selama kami menanyakan bagaimana kondisi kampung. Meskipun kami orang baru, namun keempat orang tadi begitu dekat dan mau dengan langsung menerima kehadiran kami ditengah-tengah masyarakat tanpa ada rasa sungkan sesekalipun. Indahnya sebuah persaudaraan, tidak mengenal batas, suku, ras, dan bahasa. Sebuah warna-warni cinta yang tidak bisa dibeli ataupun ditukar dengan apapun.

WP_20140825_16_39_58_Pro__highres (FILEminimizer) WP_20140825_10_53_06_Pro__highres (FILEminimizer) IMG_3977 (FILEminimizer)

Ya, hari terus berganti, tidak akan pernah ada yang dapat memutar balik waktu yang terlah berlalu. Hanya sebuah kenangan yang dapat membawa kami pada masa-masa itu. Masa di mana kami dapat bermain dan belajar bersama adik-adik yang begitu senang dengan kehadiran kami. Masa di mana, setiap malam pondokan yang tidak pernah sepi dengan tawa, serta teriakan ketika mereka meminta diajarkan Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, dan semua mata pelajaran yang mereka ingin tahu dan mempelajarinya. Pagi, siang, bahkan hingga sore, tidak pernah mengenal lelah bagi mereka untuk terus belajar dan meminta didampingi oleh kakak-kakanya. Bahkan menjelang kepulangan kami pada tanggal 30 Agustus 2014, sesekali mereka terisak dan bertanya,”Kakak, kalo kamong pulang ke tanah Jawa, siapa nanti yang ajari sa pelajaran ini?”. Senyum merekalah yang terkadang menjadi obat bagi kami saat rasa rindu keluarga itu datang di tanah pengabdian ini. Tingkah dan polah merekalah yang terkadang menjadi penghibur ketika suntuk terkadang menghampiri di tengah-tengah aktivitas KKN kami. Entahlah sayang, apa kabar kalian sekarang di sini? Terakhir kami dengar, kalian kini tidak main ke dermaga ketika malam datang, terakhir kami dengar kalian kini lebih suka menghabiskan sore hari dengan belajar di sanggar belajar, terakhir kami pula dengar, kalian kini lebih suka mengaji ataupun membaca buku di pondokan tempat kami tinggal dulu.

IMG_4301 (FILEminimizer)

Mengabdi adalah menjadikan masyarakat sebagai power dalam mewujudkan pembangunan kampung yang akan membawa kesejahteraan masyarakat di kampung itu sendiri. Prinsip itu yang kami pegang. Kami ingin masyarakat yang sadar dan mawas serta mau membangun kampungnya sendiri, menjadikan indah kampungnya sendiri, bahkan mau untuk mengolah setiap potensi yang ada di sana. Kami hanyalah bagian dari fasilitator yang mencoba membawakan antara ilmu dan kenyataan di masyarakat agar dipadukan menjadi sebuah tindakan nyata untuk membangun dan mengembangkan kampung yang jauh lebih baik. Tidak lebih dan tidak kurang, karena kami tahu, kapasitas mahasiswa dalam mengabdi, hanyalah mencoba mempertemukan antara realita di masyarakat dengan secuil ilmu yang kami bawa dari tanah Jawa, khususnya Kampus UGM untuk menghasilkan sebuah solusi yang pada akhirnya kembali lagi, solusi itu akan dipakai atau tidak oleh masyarakat. Namun, syukurlah dengan usaha masyarakat yang mau untuk sadar, solusi bersama pun akhirnya dibangun untuk membangun Kampung Fafanlap yang lebih baik. Plangisasi hingga bahkan Fafanlap Fair dilakukan untuk menunjukkan bahwa kampung ini memiliki sejuta potensi untuk menjadikannya sebagai kampung yang terbaik bahkan dapat menjadik maju. Kami ingat begitu antusiasnya masyarakat menyambut Fafanlap Fair 2014. Sebuah agenda besar yang pertama kali dihadirkan untuk masyarakat dengan menampilan berbagai macam kerajinan hingga makanan tradisional dan seni budaya. Begitu besar apresiasi dan antusias mereka, hingga pada akhir menutup acara itu, kami ingat, bahwa ada pesan, agar Fafanlap Fair ada kembali pada tahun-tahun 2015, bahkan mungkin esok akan ada Misool Selatan Fair 2017. Itulah yang kami ingat, yang sekali lagi, menjadikan hati ini terenyuh, karena kami tidak tahu lagi, kapan kami akan kembali bersama mereka dan menggandeng mereka kembali dalam acara-acara seperti itu kembali.

IMG_4265 (FILEminimizer) IMG_4240 (FILEminimizer) IMG_4392 (FILEminimizer)

Kami di sini selalu berdoa yang terbaik untuk kalian di sana. Kami di sini selalu mengharap kabar kalian di sana. Terakhir kalian beri kami kabar, kalian SMA GUPPI Raja Ampat mewakili Kabupaten Raja Ampat dalam Jambore di Kabupaten Fakfak. Kabar terakhir, kami mendengar Karang Taruna sekarang aktif dalam kegiatan kampung, dan terkadang kalian menyeletuk bahwa kalian sering rapat dengan ala mahasiswa KKN. Kami bahagia meskipun kami hanya mendapat kabar dari pesan singkat, bahkan terkadang percakapan telepon dengan kalian semua di sana. Kami senang, ketika kami tahu, bahwa kini banyak yang telah kalian bangun di kampung bahkan kalian memberi kabar, bahwa pondokan tempat kami KKN masih menjadi tempat sanggar belajar dan TPQ Nur Abadani dilaksakanan. Cukuplah bagi kami, untuk terus berjuang dengan menggunakan nama Sahabat Misool agar terus membantu kalian di sana. Adik-adik kelas 3 SMA kalian kini akan bersiap untuk menempuh Ujian Nasional, belajarlah yang rajin, dan tunggulah salah satu Sahabat Misool akan mengirimkan beberapa buku-buku soal untuk memudahkan kalian belajar di sana. Jaga semangat kalian di sana, di mana kalian ingin sekali masuk UGM kala kami memutarkan video tentang sekolah kami saat ini. Kami menanti kalian di sini, di tanah Jawa, di UGM.

IMG_4558 (FILEminimizer)

Sekali lagi, tidak ada yang kami lebih rindukan selain sebuah persahabatan yang telah dibangun atas rasa persaudaraan, keihlasan, dan ketulusan cinta yang dibagikan satu dengan yang lain. Birunya laut begitu dalam untuk diselami, luasnya langit begitu luas untuk diterbangi. Kelunya bibir begitu sulit untuk menyampaikan rasa rindu ini. Hanya tulisan yang dapat membagi setiap perasan kami di sini. Gugusan pulau dan tanah pengabdian itu akan terus kami kenang, hingga suatu hari kami dapat kembali, melihat kampung yang jauh lebih berkembang, dan melihat kalian menjadi punggawa-punggawa pembangun kampung dengan sebuah ide dan gagasan yang begitu matang dan membawa pada kampung yang lebih maju. Kawan, sahabatku, kami tunggu engkau di sini. Untukmu kami ada, dan bagi kami engkau adalah sahabat yang pernah Tuhan pertemukan dalam sebuah batas ruang dan waktu. Sahabat Misool akan menjadi sahabat kalian selamanya.

IMG_4861 (FILEminimizer)

Aku Rindu Bangsaku

Posted: September 9, 2014 in Puisi
Tags: , , ,

Jika kini aku berdiri dalam gelapnya malam
Maka aku berpijak pada batu dihadapan
Jika kini aku beranjak dalam kebimbangan
Maka aku berpijak pada tanah lumpur
Jika kini aku tertidur dalam bantal kapuk
Maka aku tanamkan pohon kapas
Bangsaku,
Sebuah bangsa besar
Yang tuhan berikan karena kasih sayang
Tapi mengapa
Bangsaku
Tidak pernah berdaya dan beradi kuasa pada negeri sendiri
Negaraku tak pernah maju akan pengetahuan sendiri
Dan negaraku
Tidak pernah merdeka atas tanah, dan hartanya sendiri
Oh Tuhanku,
Jika Engkau tak beri kami akal
Mana mungkin kami memikirkan bangsa besar ini
Jika Engkau tak beri kami jiwa
Mana mungkin kami merindukan bangsa ini
Semenjak kini,
Aku ingin melepas dan kembali pada tanah air
Tanah kelahiran yang membesarkanku
Yang aku penuhi kebutuhan dari alamnya
Bangsaku,
Aku merindukanmu dalam setiap mimpi
Kebesaran bangsa, dan tegaknya keadilan
Aku merindukan
Bangsa yang bermartabat, dan bangsa yang mampu
Berpijak atas tanahnya sendiri, tanpa belenggu penjajah
Aku rindu itu, Bangsaku, Indonesia