Lelah, ataukah karena jauh dari-Nya?

Posted: June 14, 2017 in Perjalanan

Sudah lama rasanya, jemari ini tidak lagi mengetik di antara untaian alfabet keyboard ini, kecuali ketika harus membuat progress report, ataupun report jurnal yang harus dikumpulkan sebagai persyaratan untuk melengkapi kehadiran selama perkuliahan pada periode Spring ini. Lama tidak bersua, dan ternyata sudah hampir 1.5 tahun proses studi dilakukan di sini. Terbayang? Heum, rasanya terkadang terasa singkat bahkan terkadang terasa lama, karena semua bergantung pada perspektif yang dialami setiap insan yang sedang menempuh studi di sini.

Hidup di perantauan terkadang begitu menantang, bahkan hampir terasa ini adalah sebuah hal yang harus dilewatkan untuk merasakan tantangan-tantangan yang akan dihadapi, dimulai dari mengurus perekonomian sendiri, mengatur jadwal makan sendiri, bahkan urusan dapur, dan urusan kamar mandi semuanya harus dijalankan sendiri, karena tentunya ini adalah resiko yang harus diambil, bagi mereka yang terutama untuk memilih berada jauh dari kampung halaman. Pertama kali datang ke negeri ini, adalah ketika mendekati Ramadhan 1437 H. Awal-awal mendengar cerita bahwa berpuasanya akan sangat berbeda, karena tentu saja, tidak akan sama rasanya seperti ketika berada di Yogyakarta, saat menempuh S1. Keluar rumah, burjo di depan, jalan ke depan jalan raya sedikit, nasi goreng, belok kanan sedikit, ada alfamart atau indomaret yang semua makanannya sudah bertuliskan HALAL. Namun, bagi saya yang saat ini berada di negeri minoritas ini, ada kebanggaan sendiri, yakni sebuah usaha untuk mendapatkan makanan yang HALAL, bahkan terkadang, memasak menjadi opsi untuk menjamin setiap kebaikan yang semoga senantiasa menjadi bekal bagi tubuh untuk melaksanakan setiap ibadah yang dilakukan.

2 tahun menjalani ibadah puasa di negeri ini, ya, memang terkadang ada rasa kurang, sedikit berbeda seperti ibadah Ramadhan yang pernah dialami ketika di tanah air, namun tetap saja makna Ramadhan di sini terasa begitu bermakna. Hal ini tentunya terasa, ketika ada teman yang bertanya mengapa harus berpuasa, atau bahkan ketika supervisormu menanyakan bagaimana kamu bisa bertahan selama sebulan tidak makan sejak pagi hingga malam, bahkan ketika datang masa-masa eksperimen yang harus dikerjakan hingga malam tiba. Inilah uniknya ketika harus menjelaskan secara detil, bahkan terkadang memberikan analogi mengapa Allah memberikan perintah kepada ummat-Nya untuk melakukan ibadah puasa. Tentunya, penjelasan yang akan diberikan tidak serta merta langsung membawakan ayat ataupun hadist, melainkan sederhananya dibuat sebisa mungkin untuk dipahami oleh mereka, yang mungkin ini baru kali pertama melihat siswa muslim berpuasa, namun Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar, meskipun terkadang ada kebingungan mengapa jatuhnya Ramadhan pada tahun ini berbeda dengan bulan saat jatuhnya Ramadhan tahun lalu.

Apapun yang berlalu, maka selalu teringat bahwa tujuan ke sini, adalah untuk belajar dan melatih diri menjadi insan yang bertanggung jawab akan setiap keputusan yang diambil. 1.5 tahun perjalanan di negeri ini memanglah waktu yang sangat cepat. Namun, banyak hal yang bisa diperoleh dari setiap perjalanan yang ada. Dulu, saya mengira perjalanan riset akan berlangsung dengan mulus, mengingat ketersediaan semua bahan bahkan alat yang mungkin bisa dikatakan lengkap, akan memberikan jalan yang mulus terhadap angan-angan hasil riset yang diidamkan. But wait, ini adalah jalan pikiran saya pribadi, dengan segala kelemahan yang saya miliki. Terkadang, ada yang dilupakan yakni bagaimana sang Pencipta mencoba untuk mengajarkan banyak setiap hikmah dalam perjalanan yang sedang saya tempuh. Gagal? Pernah, bahkan kehilangan senyawa yang harusnya bisa saya isolasi. Lelah? Sebagai manusia yang normal, wajarlah jika perasaan ini selalu ada, bahkan terkadang bisa mengalahkan 100% semangat yang pernah dibawa ketika dulu menginjakkan kaki di sini. Namun pada akhirnya, banyak perjalanan yang mengajarkan saya untuk memilih berdamai dengan keadaan. Belajar untuk ikhlas dan menguatkan ikhtiar kembali, mengumpulkan serpihan-serpihan yang terkadang menjadi debu karena lelah yang timbul karena tidak ada alasan yang tepat.

Beberapa bulan yang telah berlalu, seperti itulah keadaan yang sedang dialami. Merasa lelah, namun tidak ada yang menjadikan alasan kuat mengapa lelah ini ada? Persatu saya mencoba menguliti apa yang sebenarnya salah ataupun dosa yang mungkin menjadikan lelah ini ada. Hingga pada akhirnya, saya sadar bahwa saya terkadang melupakan untuk menghadirkan Dia yang Maha akan segalanya dalam perjalanan ini. Layaknya charger, ketika battery sudah kosong karena aktivitas yang dilakukan, maka ia perlu diisi. Seperti itulah yang saya rasakan, bagaikan battery yang kosong, namun saya lupa untuk me-recharge kepada Dia yang Maha Memiliki. Selain itu, ada satu sisi terkadang saya tidak bisa berdamai dengan keadaan, yang artinya saya mencoba mencari jalan pembenaran dari lainnya, atau bahkan saya tidak melihat jalan saya sendiri dan melihat jalan orang lain. Hal inilah yang saya sendiri sadari pada akhirnya hanya akan membuahkan kelelahan yang tak beralasan dan berujung pada rasa kurang bersyukur pada keadaan yang ada.

Happy Ramadhan, Ramadhan Kareem
Tokyo, 15 June 2016/20 Ramadhan 1438 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s