Kembali ke Titik 0: Memupuk Pohon Iman

Posted: January 15, 2017 in Perjalanan

Allah dalam Al-Qur’an mengibaratkan bahwa ibarat seorang mukmin yang bermanfaat adalah bagaikan sebuah pohon, yang akarnya menghujam ke tanah, batangnya kokoh berdiri tegak, cabangnya banyak, dan buahnya terasa setiap musim.

Hari ini, di Meguro, KMII menyelenggarakan acara Muslim Millioner, Kembali Ke Titik Nol, yang menghadirkan Ustadz Saptuari dan Bang Teuku Wisnu. Dialah, Allah, yang telah mengatur setiap peristiwa yang tiada sesuatu terjadi jika bukan karena kehendak-Nya. Acara ini sejatinya dimulai sejak ba’da shubuh yang diisi oleh Bang Teuku Wisnu. Dalam sesi ini, beliau bercerita bagaimana tantangan pemuda saat ini, serta sedikit bercerita mengenai proses hijrah dalam dirinya. Hal yang paling saya ingat, dan ini pun sempat diingatkan oleh Ustadz Saptuari, adalah proses mencari kebahagiaan dunia dan akhirat bukanlah mengenai masalah harta, jabatan, kedudukan, melainkan bagaimana sejatinya pribadi yang Allah berikan pinjaman selama di kehidupan di dunia ini, mampu mengikuti segala aturan yang Allah telah jelaskan melalui Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Allah, Allah, Allah, rasanya tertegur hati ini yang telah lama kering, hati yang telah terlupa akan tujuan hidup sebenarnya di dunia ini, jika tidak untuk beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintah dan larangan-Nya. Allah, diri ini bagaikan tersindir, terasa dalam diri berkata,”Hai anak Adam, yang kedua orang tuamu memberimu nama, Abror, yang bermakna orang baik, bagaimana nikmatmu yang telah Allah pinjamkan, kesehatan yang telah dianugerahkan, kesempatan yang Dia hadirkan hingga mengenyam pendidikan jauh di negeri yang terpisah oleh Samudera Pasifik?”. Saya pun hanya tertunduk pada malu, karena begitu sayangnya kedua orang tua saya memberi nama Abror, namun saya belum menjadi seperti orang yang memiliki arti dengan nama tersebut, orang baik. Allah, rasanya sekali lagi tertampar diri ini, apakah prasangka orang saat ini, benarkan itu dalam dirimu? atau sejatinya kemunafikan yang sedang kau lakoni? Sekali lagi, hanya sebuah doa yang saya sematkan dalam hati, “Ya Rabbannas, Rabbussama wa tiwal ardhi, jadikanlah prasangka mereka adalah do’a yang menjadikan hamba menjadi lebih baik dari prasangka mereka. Jauhkanlah kemunafikan dalam diri ini, dan syukur pada-Mu yang telah menutup aib, hamba-Mu ini”.

Kembali kepada titik nol, berhijrah, adalah proses yang tidak mudah, ia sulit, namun Allah selalu membuka pintu-pintu bagi mereka yang ingin menempuh jalan ini. Allah limpahkan keberkahan, rahmat, dan rahim-Nya bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam proses ini. Ini adalah jalan para pecinta taubat, jalan para pendamba Syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, dan ini adalah jalan cinta yang dengannya, Rasulullah dikuatkan oleh Allah SWT, ketika Islam telah hadir di negeri Madinah, setelah berhijrah dari Mekkah.

Kembali ke titik nol, berhijrah, saya pun terus merenungkan makna ini. Sembari melewati jalan pulang menuju apartemen, saya melihat deretan pohon Ginko biloba, yang telah gugur daunnya dalam menghadapi musim dingin. Dalam hati, saya berkata, dia adalah makhluk yang amat patuh terhadap ketetapan Rabbnya. Gugur ketika dingin datang, agar kemudian bersemi dengan daun-daunnya yang hijau, dan menghasilkan buah. Di situlah saya melihat, hijrah, bukanlah kemudian mati, tiada terlihat apapun, namun dia menyiapkan diri untuk menyemai kehidupan baru, mengikuti perintah Rabb, yang dalam setiap do’a shalat, selalu diucapkan,”iyya kana’ budu waiyyaka kanasta’in”.

Ya, hari ini, saya memahami, hijrah ibarat dia memupuk kembali pohon keimanan yang telah gugur dan hampir mati karena banyaknya dosa-dosa yang dibuat, kemudian dia disiram dengan siraman air mata pada kecintaan kepada Rabb dan sunnah Rasul-Nya. Ia, hijrah bagaikan menghidupkan kembali pohon keimanan yang telah Allah berikan semenjak manusia berada dalam kandungan ibunya, ketika dia ditanya, siapa tuhannya, maka ia menjawab Allahu Ahadun. Ia, hijrah bermakna kembali menakar permasalahan dunia dan akhirat dalam keseimbangan yang telah Rasulullah ajarkan, tidak kurang dan tidak lebih, namun pas sesuai dengan yang menjadi porsinya. Dan benar, hijrah bagaikan kembali mengokohkan dan menegakkan batang yang hampir saja tumbang, dan kembali memanjatkan do’a dan usaha terbaik, agar kemudian Allah membuka pintu langitnya, dan mengijabah setiap do’a yang terpanjat, lalu menjadikan hasilnya sebagai buah-buahan terbaik yang manis, harum lagi baunya.

“Ya Rabbannas, jadikanlah diri ini selaku pribadi yang baik. Jauhkanlah rasa sombong, hasad, iri, dengki, dan congkak dalam diri ini. Kuatkanlah iman dan islam yang menjadi nikmat terbesar yang Kau berikan saat ini, hingga malaikat mautmu, Izrail, mencabut nyawa ini. Ya Rabbi, jadikanlah diri ini menjadi orang yang selalu bertzakiyah dalam setiap aktivitas kehidupan di dunia ini, dan ijinkanlah diri ini mencium bau Syurga-Mu”

Tokyo, 15 Januari 2017
Abror,
‘Hamba Allah yang masih ingin terus belajar, fakir dari kesempurnaan, dan masih penuh dengan kebodohan’

Advertisements
Comments
  1. praditalia says:

    Subhanallah sekali pram… semoga terus istiqomah dalam setiap kebaikan… dijaga agar senantiasa berada di jalan Allah SWT. Tertohok sekali dengan kalimatmu “apakah prasangka orang itu benarkah dirimu atau hanya topeng kemunafikan”. Amiiin semoga kita semua dijauhkam dari sifat munafik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s