Dalam Rindu Ujung Barat dan Timur Indonesia

Posted: October 28, 2016 in Perjalanan

Baru saja berselang satu hari di negeri Jepang, tentang Semangat Pemuda-Pemudi Indonesia, di tahun 1928 yang pada akhirnya menjadikan 28 Oktober sebagai hari, di mana hati, tekad, dan cita-cita kuat tergabung, menjadi sebuah asa yang digelorakan dengan Sumpah Pemuda. Semangat yang menjadikan bangsa, tanah air, dan bahasa yang satu, yaitu Indonesia.

Tetapi hari ini, seperti biasa, rasa-rasanya kebiasaan untuk tidur setelah pukul 00.00 menjadi sebuah kebiasaan, dan seperti biasanya pula, pagi ini belum bisa untuk memejamkan mata, sekedar bermimpi atau sekedar untuk berdoa untuk melihat esok yang akan terus cerah, dengan semangat-semangat yang selalu menjadi pagi.

Malam yang lalu, di tengah-tengah percakapan grup KKN-Misool 2014 (ex-PPB-01), seperti biasanya titik-titik rindu kembali dijalin dengan cerita-cerita yang masih saja kami ingat, ketika kami melakukan sedikit kerja sosial kami, yang kami sendiri sebut diri kami kala itu sebagai Sahabat Misool 2014 (karena kebetulan kami adalah kelompok KKN pertama yang berhasil untuk mengajukan Misool Selatan, terutamanya Kampung Fafanlap untuk dijadikan tempat KKN kami). Singkat cerita, kami pun sedikit mengingat kembali masa-masa ketika harus berjuang, mencari dana, menelpon kerabat, teman, ataupun orang yang kami anggap untuk bisa membantu mendanai KKN kami di Misool Selatan, hingga kami pun melakukan crowd funding melalui kitabisa.com, hingga singkat ceritanya, kami pun bisa berangkat menuju Kampung Fafanlap, Misool Selatan, Raja Ampat.

Malam ini, ditengah dinginnya Tokyo, ditemani lagu Tatinggal di Papua, yang dipopulerkan oleh Pacenogei, serasanya kembali, saya pribadi, mengingat kisah-kisah, dan begitu beraneka ragamnya kehidupan masyarakat di sana, begitu menakjubkan keindahan alamnya, serta melimpahnya sumber daya alam yang dimilikinya. Mungkin tidak salah, jika dalam liriknya, Pacenogei menyiratkan sebuah kerinduan pada Papua, kerinduan akan alamnya, kerinduan akan kehidupannya, hingga hati pun memang benar adanya, hati yang tertinggal di Papua, dan bagi kami pun sama, begitu pula mungkin bagi rekan-rekan yang pernah mengunjungi Papua, maka hati pun akan tetap tertinggal, dan ingin rasanya terus berkisah bahwa Papua memang begitu cantik dan indah, serta dilingkupi kehidupan masyarakat yang begitu harmonis.

Ini saat kami bermain di “Gag”, istilah danau air payau di sana, yap, Ikan Bandeng dan Gabus dengan mudah kami tanggap hanya dengan jaring

Sebenarnya, tidak cukup sampai di sini, perjalanan saya berujung. Lepas selesai KKN di Raja Ampat, Papua Barat, saya melanjutkan perjalanan, ketika itu saya membuat sebuah ungkapan, “merajut ukhuwah, mencintai negeri, mengikat rajutan Indonesia”. Kali ini, ujung Barat, Aceh pun menjadi tempat hari berlabuh. Indonesia, sebenarnya bukanlah hanya Aceh dan Papua, namun ia adalah bentangan zamrud di khatulistiwa, yang setia disinari oleh sang surya, yang setia menjadi zona lalu linta perairan internasional, karena letaknya yang berada di antara dua samudera, yakni Pasifik dan Hindia. Indonesia adalah rumah dari beragam sumber daya alam, dan ia adalah rumah bagi lebih dari 200 suku yang tinggal dengan beragam bahasa daerah yang dimilikinya.

Aceh kala itu menjadi langkah kaki selanjutnya, mulai mengenal Indonesia perlahan, mulai untuk merajut bingkai rindu di setiap tempat yang didatangi. Di Aceh, Pantai Iboeh yang terletak di Pulau Weh, menjadi tujuan kala itu. Di sini, tidak kalah indahnya dengan Raja Ampat, pantai, laut, desiran angin, semburatan cahaya sore kala matahari hendak tenggelam menjadi rasa tersendiri yang tetap saja teringat meski sudah hampir 2 tahun, belum lagi menginjakkan kaki di sana. Dari Raja Ampat dan Aceh, kami belajar, mengenai makna sebuah kesederhaan yang ada dalam masyarakat, kesederhanaan, namun memiliki kebaikan dan rasa berbagi yang sama.

Masjid Baiturrahman Aceh, landmark kota dengan sebutan Serambi Mekkah

 

2 tahun perjalanan sudah dari kedua foto ini, namun ingatan akan keduanya akan terus mengisi cerita perjalanan selanjutnya. Rajutan Indonesia akan terus terajut hingga ia menjadi bingkai Indonesia seutuhnya, menjadi bingkai yang mengikat penuh rasa rindunya.

Selamat melanjutkan mimpi-mimpi selanjutnya Sahabat Misool dan selamat berkarya di manapun kaki ini berpijak, dan kita masih memiliki janji untuk Sahabat Misool…

Suasana lebaran di Kampung Fafanlap

Tokyo, Kita-Ayase
29 Oktober 2016, 01:47

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s