Sebuah Nilai Toleransi

Posted: August 14, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

Sudah hampir 5 bulan perjalanan di negeri sakura ini diarungi. Berbicara suka dan duka, pastilah ada. Entah itu rindu masakan rumah, kegiatan bercanda bersama keluarga, mencium tangan kedua orang tua, bertatap muka dengan saudara, teman, dan semuanya yang ada di tanah air, pasti, dan pasti adalah sebuah kerinduan yang harus ditahan. Meskipun masih sangat-sangat awal berada di negeri ini, namun, kenyataannya di negeri ini, banyak hal yang harus dipelajari, bahasa, budaya, toleransi, dan rasa saling menghargai sesama. Terlepas dari itu semua, mari melihat bagaimana sisi positif yang dapat kita ambil dari negeri sakura ini.

Jepang, yang kita kenal dengan negara penganut Shinto, adalah negara, yang saya rasa, memiliki tingkat toleransi yang sangat tinggi, terutama bagi kami para muslim. Menghadapi Olimpiad 2020 di Tokyo, banyak sekali komoditas makanan-makanan halal yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat muslim, bahkan sebuah komunitas bernama Halal Media Japan (HMJ) terus berpacu memberikan informasi mengenai lokasi ataupun tempat yang menjual makanan-makanan halal di negeri ini. Hal ini tentu saja memberikan kemudahan bagi kami, para muslim untuk mencari makanan dan membeli daging yang telah bersertifikasi halal. Selain itu, makanan khas Jepang, Ramen dan Shabu-shabu pun, tak luput menjadi sasaran pasar Halal, yang ditujukan untuk memudahkan bagi para muslim mengenal makanan ala Jepang, dengan kualitas yang baik dan terjaga, namun tetap sesuai dengan syari’at, yaitu Halal.

Halal Food, juga mulai banyak disediakan di kantin ataupun coop kampus-kampus, yang notabene, banyak mahasiswa muslim yang melakukan studi di sini. Ya, sebegitu concernya mereka ketika telah mengetahui kebutuhan makanan muslim, maka sebisa mungkin komunitas muslim di negeri ini akan mengusahakan. Bagaimana jika kita ke toko, lalu tidak tahu apakah ada ingredient haram di dalamnya? Sepengalaman saya, kita berhak bertanya dan hal ini tidak masalah bagi mereka, bahkan dengan sukarela, masyarakat negeri ini, akan menyampaikan seandainya makanan tersebut tidak bisa dimakan oleh seorang muslim. Saya pun pernah memiliki pengalaman ketika akan membeli onigiri pada tahun 2013 di sebuah shop, lantas ketika bertanya pada kasir, dia pun jujur mengatakan onigiri yang saya beli mengandung sesuatu yang haram, dan sempat dia pun menanyakan, apakah saya seorang muslim, dan dia pun meminta saya untuk tidak membelinya. Seorang teman, ketika semalam berdiskusi, sebut saja Mas Septian, ia menyampaikan bahwa negeri ini sangat detail dalam memperhatikan makanan yang disajikan, termasuk itu makanan Halal. Kualitas, sterilitas, dan proses packing dilakukan semuanya terus mendapatkan kontrol yang sangat baik. Di lain sisi, pihak perusahaan makanan pun memberikan kesempatan kepada konsumen untuk mereview dan menanyakan kepada perusahaan terkait ingredient yang terdapat dalam makanan ataupun minuman. Indahnya sebuah kejujuran dan keterbukaan di sini.

Selain itu, bagi para disabilitas di sini pun, jangan ditanya bagaimana mereka kemudian menghargai mereka dan memberikan pelayanan yang sangat luar biasa. Ketika di bus, saat itu ada penumpang yang menggunakan kursi roda akan masuk ke dalam bus. Apa yang saya lihat ketika itu adalah sebuah bentuk kepedulian yang sangat luar biasa, supir bus itu pun kemudian beranjak dari kursinya, mengambilkan papan bagi penumpang tersebut, lalu menaikkannya, dan melipatkan kursi agar si penumpang itu pun bisa berada di dalam bis. Bahkan ketika turun pun, sang supir tetap melaksanakan pekerjaan mulianya ini, untuk menurunkan penumpang yang menggunakan kursi roda itu. Bagaimana dengan penumpang lainnya? Kami senantiasa menunggu hingga penumpang tersebut turun, barulah kami turun. Inilah nilai yang selalu kami impikan, keteraturan dan kedisiplinan, serta bagaimana sikap respect to people.

Bagi saya, dan teman saya, Mas Septian, yang kala itu berdiskusi kami menyebut negeri ini sebenarnya adalah negeri di mana puncak peradaban Asia berada. Bagaimana nilai kejujuran harus tetap kami dahulukan, bagaimana nilai Respect to People, Respect to Time, dan Respect to System menjadi sebuah jalan bangsa ini menuju puncak peradabannya. Terlepas dari beberapa hal negatif yang memang ada, namun sebagai manusia kita patut belajar. Bukankah Rabb kita meminta kita untuk mengelana di muka bumi, untuk belajar dan mengambil setiap ibrah yang terdapat di dalamnya.

Al Hajj, 22:46
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Banyak negeri-negeri yang sebenarnya memiliki nilai-nilai yang begitu dekat nilai agama ini, Islam. Maka di sinilah, kita harus terus belajar dan memperbaiki diri, dan menjadi hamba-Nya yang selalu berpikir dan mengangungkan rahmat dan rahim-Nya, yang telah Dia curahkan kepada diri kita.

Tokyo, Adachi-ku
22.09/14-8-28

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s