Perjalanan: Tokyo #3

Posted: March 15, 2016 in Perjalanan
Tags: , , ,

A long journey should be accomplished…

“After getting from my professor about his decision to supervise me, I was asked by him to contact my thesis undergraduate supervisor and my academic dean in Biology Faculty for giving a recommendation letter”

Setelah lama mengontak beliau, sebanyak kurang lebih 73 percakapan via email, pada akhirnya Professor Onaka mau untuk menerima saya menjadi mahasiswanya. Namun, ketika itu beliau menyampaikan untuk menjadi mahasiswa di Tokyo Daigaku, maka setiap mahasiswa akan melewati ujian masuk atau entrance examination, dan barulah akan ada pengumuman kelulusan apakah ia lulus ataupun gagal dalam ujian masuk. Bagaimana dengan beasiswa? Hal ini pun tidak luput dari perhatian Professor Onaka, dengan ramah beliau menawarkan terkait beasiswa Yoshida Scholarship Foundation yang dapat membiayai masa studi saya jika itupun saya bisa lulus ujian dan lulus seleksi Yoshida Scholarship Foundation. Pada saat itupun saya tidak bisa memberikan jawaban secara langsung. Banyak hal yang dipertimbangkan dan dipikirkan secara matang, baik dari orang tua saya.

“I asked so many advices from my senpai (senior) in The University of Tokyo, Mr. Dwi Andi Listiawan, Mr. Fajar Sofyantoro, and Mr. Syaiful Amri Saragih. Both of them giving an advice for continuing my Professor advice”

Ada dua hal yang ketika itu pun berkecamuk dalam pikiran, jika saya tidak lulus, maka saya pun tidak akan mendapatkan beasiswa, dan pada saat itu juga saya telah menyiapkan rencana untuk memperdalam bahasa, dan mengambil beasiswa dari dalam negeri, LPDP, untuk melanjutkn studi master. Di sisi lain, saya pun percaya dengan apa yang professor saya sampaikan, dalam email yang beliau kirim, saya melihat bahwa beliau percaya pada kemampuan saya, meskipun beliau pun tidak pernah bertemu dengan saya sebelumnya. Di sisi lain, orang tua pun memberikan kepercayaan untuk melanjutkan studi saya, dan mengikuti saran dari para senpai saya, sekaligus mengikuti step yang telah diberikan oleh sensei (professor). Pada saat saya masih bekerja di sebuah lembaga negara, saya pun mencoba untuk mengirimkan lamaran kepada sebuah lembaga negara lainnya, yaitu Eijkman Institute, yang kala itu sedang membuka lowongan asisten peneliti. Di sela-sela itulah, saya pun memberikan kepastian kepada sensei saya, bahwa saya akan melanjutkan studi saya dengan mengambil ujian masuk pada tanggal 9-10 Februari 2016 di Tokyo, dan melanjutkan untuk mendaftar beasiswa Yoshida Scholarship Foundation. Oh, iya terkait lamaran di Eijkman Institute, pada akhirnya, saya pun melepas untuk bekerja di lembaga kesehatan ternama di Indonesia ini. Pada saat tahap wawancara, saya pun menyampaikan bahwa saya akan melanjutkan studi di The University of Tokyo, dan akan mengikuti ujian masuk pada tanggal 9-10 Februari 2016. Ketika akhir dari proses wawancara, Mbk Shisi, salah satu peneliti di laboratorium tersebut, menyampaikan bahwa saya diberi waktu 2 minggu untuk memutuskan apakah akan meneruskan tahapan tersebut, ataupun memutuskan untuk menghentikan proses seleksi tersebut, dan melanjutkan studi di Tokyo, dan pada akhirnya setelah 2 minggu, saya pun memutuskan untuk melanjutkan studi dan berhenti dari proses seleksi. Namun, inilah pengorbanan yang harus diberikan, karena tidak bisa keduanya berjalan bersama, namun pasti ada satu hal yang harus dikorbankan. Begitu pula dengan kerja saya di salah satu lembaga negara yang mengurus para awardee yang memperoleh beasiswa pendidikan, saya pun meminta ijin untuk resign, dan meneruskan mimpi saya untuk melanjutkan studi di negeri Sakura. Alhamdulillah, saya pun memperoleh dukungan dan mendapatkan keluarga baru selama di lembaga tersebut, sekaligus memperoleh banyak ilmu dari para pembicara yang merupakan tokoh-tokoh bangsa ini, untuk kemudian menjadi bekal dan menjadi pelecut semangat untuk terus memberikan sekecil mungkin kontribusi demi negeri ini.

Life must go on and continued to better condition…

Ada sebuah sinyal baik yang kemudian sensei saya berikan dalam balasan email beliau untuk menjawab tekad saya untuk kemudian melanjutkan perjuangan itu, tidak lama, beliau pun langsung membalas kembali dengan melampirkan beberapa dokumen yang berisi mengenai formulir pendaftaran yang nantinya harus diisi, karena beliau sudah mengirimkannya ke Indonesia. Selain itu, dalam email tersebut, juga terdapat form aplikasi pendaftaran beasiswa yang harus diisikan dan dikirimkan sebelum 15 Januari 2016.

Seminggu berikutnya pun, formulir aplikasi dari Tokyo pun sampai di Indonesia, dan diantarkan ke alamat rumah yang sudah saya berikan kepada sensei. Saya pun meminta bantuan Mas Syaiful Amri Saragih untuk kemudian membimbing pengisian formulir tersebut. Dalam formulit tersebut, saya pun diminta untuk mengukur kemampuan bahasa Jepang saya, dan saya pun meminta bantuan kepada Pusat Studi Bahasa Jepang untuk mengisikan form tersebut, dengan menuliskan apa adanya terkait kemampuan bahasa Jepang saya. Butuh lebih dari satu minggu, untuk benar-benar menfinalisasi dokumen-dokumen tersebut dan mengirimkannya kembali kepada sensei. Begitu juga dengan formulir aplikasi beasiswa, untuk hal ini, lebih dari satu minggu untuk kemudian saya kirimkan kembali kepada sensei, beserta semua file yang dibutuhkan, semisal scan passport, transcript, dan recommendation letter. Saya pun menyampaikan kepada sensei, bahwa semua dokumen telah saya kirimkan kembali ke beliau.

Menjelang batas pendaftaran ujian pada 22 Desember 2015, ada sebuah kendala, dikarenakan dokumen yang saya kirim belum sampai di Jepang. Saya pun mengontak sensei pada tanggal 20 Desember 2015. Tanpa berpikir panjang, melalui balasan email, sensei yang saat itu sedang berada di Hawaii karena sedang mengikuti konferensi, meminta saya untuk mengirimkan kembali file-file tersebut via email, dengan mengisi kembali formulirnya dan menscannya untuk kemudian beliau sampaikan sebagai file sementara, sembari menunggu dokumen asli tiba di Jepang. Bagi saya, sensei adalah orang yang begitu luar biasa, di tengah kesibukan beliau yang akan pulang dari Hawaii, dengan segera beliau pun langsung meminta saya mengirimkan berkas-berkasnya kembali, bahkan untuk sertifikasi bahasa Jepang, beliau langsung yang akan memberikan tanda tangannya dan mensertifikasi kemampuan bahasa saya. Mungkin inilah sebuah nilai yang dapat saya petik dari seorang sensei. Sensei tidak hanya sekedar sebagai sebuah jabatan administratif, melainkan ia adalah orang yang benar-benar paham, bertanggung jawab, bahkan memiliki sebuah otoritas penuh, serta mampu langsung memberikan arahan yang tepat dan jelas. Ya, sensei adalah orang yang ahli dalam bidangnya dan mampu untuk mentransfer nilai-nilai tersebut kepada mereka-mereka yang bekerja dengannya.

Dan, Alhamdulillah, akhirnya semua berkas telah sensei sampaikan kepada pihak kampus, dan saya pun resmi untuk mengikuti ujian di kampus. Untuk biaya masuk, Alhamdulillah ketika itu, senpai saya, Mas Muhammad Prima Putra berkenan untuk memberikan pinjaman uang untuk biaya ujian di Jepang, karena sebelumnya ketika mencoba untuk membayar menggunakan kartu kredit di Indonesia gagal, bahkan ketika menggunakan kartu kredit adik kelas saya, Nita Wakan. Dan itulah memang sebuah perjalanan, pasti akan ada banyak hikmah yang bisa dipetik satu persatu.

Dalam perjalanan ini, saya begitu banyak berterima kasih kepada kedua orang tua saya, yang telah banyak memberikan pengorbanan selama akan berangkat menuju Tokyo, Jepang. Tidak bisa saya ceritakan, namun cukuplah saya yang merasakan begitu besar pengorbanan mereka hingga pada akhirnya saya pun dapat berangkat menuju Jepang pada tanggal 4 Februari 2016 melalui Soekarno-Hatta, Cengkareng.

 

 

Advertisements
Comments
  1. praditalia says:

    Proses memang tak pernah menghianati hasil pam. Perjuanganmu panjang…. sesuai dengan hasil yang kamu petik sekarang. Selamat belajar pam… dan segera pulang… indonesia butuh para pengabdi dan pejuang… kayak kamu… kamu iya kamu… hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s