Air Mata Sang Perindu

Posted: October 15, 2015 in Hikmah
Tags: , ,

Ia datang dengan lirih dan penuh lusuh. Tampak dari kejauhan ia begitu penat dengan segala aktivitas yang dilakukannya pada pagi hingga sore. Dalam beberapa tarikan nafas yang diambilnya, masih saja ia teta berdzikir kepada Rabbnya. Pemuda bertubuh kecil itu pun paham, bahwa apa yang telah dilakukan olehnya adalah sebuah scenario yang telah ditakdirkan oleh Rabb Semesta Alam. Sekali dalam tarikan nafasnya ia pun beristighfar dengan memejamkan matanya. Pemuda yang mencoba untuk menjalani rutinitiasnya itu kini pun mencoba beristirahat sejenak dari kepenatan hidupnya.

Pemuda itu pun kemudian berdiri dan melanjutkan separuh perjalanannya menuju rumah yang kini ia tinggali sebagai hasil dari jerih payah kedua orang tuanya, yang terlebih dahulu wafat. Pemuda murah senyum, yang oleh teman-temannya itu disenangi, pada akhirnya melirihkan dizkir yang ia panjatkan sembari menyusuri jalan menuju pulang ke rumahnya.

Pemuda yang dalam tenangnya ia memikirkan kehidupan bangsanya, berjalan penuh harapan. Ia menatap pada sang rembulan, dan berkata,”Malam ini, aku berjalan dalam terangnya malam atas anugerah-Mu”. Ya, dialah pemuda yang memiliki air mata di kala dalamnya berfikir. Ia lah sang pemuda yang selalu memberikan visi dan misi kehidupannya untuk berbagi bersama orang-orang terdekatnya, rela berkorban demi kemaslahatan dan kesempurnaan orang lain, namun tidak pernah melupakan akan kebutuhan pribadinya.

Suatu hari, sang pemuda, menyusuri kota dengan penuh gedung bertingkat. Ia pun hanyut dalam keriuhan ramainya kota metropolitan. Ia membaur laksana tiada apapun yang membatasinya, namun hadir sebuah kegelisahan, saat ia pun harus melewati banyaknya rumah dan perkampungan yang masih berada di bawah kolong jembatan, namun tidak mendapatkan penghidupan layak. Sekali lagi, dalam perjalanannya, ia menjadi orang-orang yang bergetar hatinya. Sang pemuda, meneteskan air mata yang sekali lagi, ia rindukan sebuah kesejahteraan, namun masih nampak, dan tidak kunjung muncul. Berulang kali, tetesan syahdu air matanya, terteteskan kala ia pun mendengar begitu banyaknya anak-anak yang kelaparan, tidak memiliki rumah, terjerumus dalam lubang penjualan anak dan ekploitasi anak. Ia pun terus berjalan dalam pikirnya,”Apa yang sedang negeriku hadapi? Apa yang sedang negeri ini jalani?”. Dalam baginya untuk terus berpikir. Ya, dialah pemuda yang selalu meneteskan air mata rindu akan kejayaan negerinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s