Kebaikan yang Berbuah Kebaikan

Posted: September 27, 2015 in Hikmah
Tags: , ,

Jakarta, siapa yang tak mengenal ibu kota negara Republik Indonesia tercinta ini. Hari ini saya menuju ibu kota dengan menggunakan burung besi dari bandara tujuan Juanda, Sidoarjo menuju Soekarno-Hatta, Cengkareng. Dalam perjalanannya menunggu pesawat yang sedang delayed 90 menit, seorang tua sekitar umuran 60 an yang lebih tua dari umur Abi saya duduk di sebelah saya. Sejenak saya pun tak menghiraukan apa yang dilihatnya ketika itu, saat saya sedang melihat youtube dari murottal Syeikh Mishari Rasyid. Tak lama berselang, bapak itu bertanya,”pake wifi bandara ya? Kok lancar internetnya?”. Saya pun menjawab,”Tidak pak, saya gunakan jaringan internet pribadi.” Ternyata percakapan singkat ini  pun terus berlangsung lama, mulai dari membahas asal-usul kami, apa yang akan saya lakukan di Jakarta ini, bahkan perbincangan sempat membahas bahwa ternyata sang bapak ketinggalan pesawatnya yang harusnya beliau terbang pukul 13.00, karena terlambat akhirnya terpaksa ia pun menggunakan pesawat lainnya, dan terbang bersamaan dengan pesawat yang akan saya tumpangi juga.

Lama pembicaraan kami terus berlangsung. Banyak cerita yang beliau utarakan, sehingga saya pun tahu, ternyata beliau berasal dari Nias, Sumatera Utara. Ditengah-tengah percakapan, beliau menanyakan tujuan saya ke Jakarta, dan saya pun menyampaikan bahwa saya akan menuju wilayah Depok, Wisma Hijau. Seketika itu pun beliau menanyakan tentang kepastian saya yang akan menuju daerah tersebut terutama terkait kendaraan yang akan ditumpangi. Meskipun ini adalah kali kedua bagi saya menuju tempat tersebut, tapi saya masih ragu, karena begitu malamnya saya akan tiba di tempat tersebut, bahkan bisa jadi tengah malam, yang dalam banyak benak orang, Jakarta dan seorang diri di tengah malam, maka bisa jadi kota ini tidak akan begitu ramah.

Beliau pun akhirnya mencoba memberikan berbagai saran dan alternatif untuk mencapai daerah saya tadi yang notabene ternyata rumah beliau pun masih searah dengan lokasi yang akan saya tuju. Pukul 20.15 WIB pesawat yang akan kami tumpangi pun siap dan kami pun langsung melakukan boarding pass. Sebelumnya kami telah melakukan appointment untuk bertemu di pintu keluar dan bersama-sama menggunakan bus. Hal yang terpikir bagi saya kala itu adalah siapa bapak ini? Meskipun baik, tapi tetap saja kita bertanya siapakah beliau yang kemudian secara rela mau mengantarkan bahkan bertanggung jawab pada saya yang notabene adalah orang yang baru dikenalnya di bandara? 1 jam 20 menit perjalanan ditempuh, dan pada pukul 22.06 WIB pesawat ini landing di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sempat terlintas dalam benak saya kala itu,’ah sudahlah, saya tinggal saja menggunakan taksi bapak tadi, toh pada akhirnya saya pun langsung menuju lokasi saya’. Tapi niat tersebut urung dilakukan, karena saya tahu saya berjanji akan menemui beliau di pintu keluar setelah mengambil bagasi.

Waktu pun terus berjalan, sehingga pada akhirnya kami memutuskan untuk menaiki bus dengan tujuan Pasar Minggu. Kala itu, masih saja terlintas dalam pikiran saya, siapa sebenarnya bapak ini. Di dalam bus beliau kemudian meminta nomor handphone saya, tentu saja saya berikan, dan beliau mengatakan,”Saya perlu simpan nomor ini, takut kalau ada apa-apa, nanti mas bisa telepon saya. Saya bisa bantu mas.” Saya pun hanya memberikan sedikit senyum, namun dalam hati saya pun masih sedikit ada keraguan hingga akhirnya kami pun berhenti di depan sebuah toko modern yang sudah tutup pada waktu, dan mencari kendaraan taksi yang biasa kami pakai. Di dalam taksi pun, sang bapak ini meminta saya mencatat nomor pintu taksi beserta sopirnya, bahkan beliau pun juga mencatatnya.

Banyak percakapan yang beliau sampaikan dengan sopir taksi, bahkan kala itu bagi saya, sang bapak ingin meyakinkan agar sang sopir tidak macam-macam dan memberikan pelayanan terbaiknya bahkan agar tidak berbuat curang, karena kondisi tengah malam dan sangat rawan kala itu. Tiba akhirnya beliau sampai di depan rumahnya dan menyampaikan pada sang supir taksi agar mengantarkan saya ke lokasi yang saya tuju.

Cerita di atas mungkin termasuk cerita yang meloncat dan tak beralur. Namun, bagi saya banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari peristiwa yang malam ini telah dijalani. Pertama, saya adalah orang yang baru mengenal bapak tersebut. Namanya adalah Bapak Eli, seorang perantau asal Nias yang telah menetap di Jakarta sejak 1981. Beliau baru saja pulang dari Malang, yang kebetulan sedang mengunjungi anaknya yang bersekolah di salah satu universitas ternama di kota tersebut. Perawakan beliau kala itu, bagi saya yang baru mengenalnya, beliau tampak seperti orang yang biasa namun telah mengenal Jakarta, layaknya preman yang sudah paham betul akan karakter kota Jakarta. Selama di bus, apa yang membuat saya kemudian yakin beliau adalah orang baik? Beliau berpesan bahwa percaya pada seseorang yang baru ditemui adalah 30% dan 70% adalah tetap menaruh curiga. Namun di sela percakapan tersebut, beliau menyampaikan bahwa dirinya benar-benar berniat untuk membantu dan sedikit pun tidak mengharapkan uang ataupun macam lainnya. Kedua, beliau menyampaikan niat menolong saya kala itu adalah hanya untuk membantu, karena beliau yakin, bahwa kebaikan pada seseorang pasti Tuhan akan balas dengan kebaikan lainnya. Itupun beliau utarakan kisahnya ketika beliau mendapatkan bantuan di Kota Malang ketika motornya sedang mogok.

Ya, kebaikan yang akan selalu berbuah kebaikan. Itulah yang disebut sebagai keberkahan. Ketika kita ikhlas membantu saudara kita yang sedang kesusahan dan kita membantu tanpa ada pamrih atau bermaksud meminta imbalan, maka sebenarnya kita sedang menyiapkan kebaikan untuk diri kita sendiri, yang kita pun tidak tahu kapan Tuhan itu akan melepas kebaikan tersebut. Hal ini yang selalu Bapak Eli jaga, jika memang beliau bisa membantu, maka beliau akan membantu dan beliau yakin, suatu saat jika ia membantu saudara atau temannya, pasti beliau juga akan mendapat bantuan ketika sedang dalam kesusahan. Bagi seorang muslim, benarlah Allah yang menulis firmannya dalam Al-Isra’ ayat 17 yang artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,…”(QS. Al Isra (17):7). Kita akan menuai sesuai dengan apa yang kita tanam selama kita hidup. Semoga akan selalu banyak hikmah yang dapat diambil dalam setiap perjalanan yang akan saya lalui.

Advertisements
Comments
  1. praditalia says:

    Good quote ‘pada orang baru, 30% percaya 70% curiga’… kalo aku jadi kamu, pas bapaknya ngomong gt, lgsg aku timpalin ‘iya nih, saya juga lagi curiga bgt k bapak’ hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s