Hidup itu Hanya Sekali

Posted: September 12, 2015 in Hikmah, Puisi
Tags: , ,

Hidup itu hanya sekali,
jangan diambil susah dan sulit,
karena engkau masih memiliki Rabb Semesta Alam,
dan jangan mengeluh,
karena itu hanya akan menyusahkanmu.

Hidup itu hanya sekali,
karena kebaikanmu akan terus dihitung,
dan keburukanmu akan terus dicatat,
hingga datanglah hari pembalasan,
atas setiap tindakan dan perkataan.

Hidup itu hanya sekali,
jadilah mata yang selalu berbinar dalam kebaikan,
dan jadilah mata keadilan ketika melihat keburukan,
jadilah mata hati kejujuran dalam bertutur,
dan jadilah mata hati kebijaksanaan dalam bertindak.

Hidup itu hanya sekali,
karenanya jalani dalam setiap senyuman,
syukuri dalam setiap keadaan,
dan teruslah berderma dalam membagi kebersamaan,
serta menjadikan diri peka dengan lingkungan.

Hidup itu hanya sekali,
maka janganlah muram yang nampak,
bahkan dendam hingga amarah yang menjadi pijakan,
dan hidup ini hanya terbakar oleh keserakahan.

Hidup itu hanya sekali,
memberikan usaha yang terbaik dalam setiap amalan,
memijakkan nurani dan keikhlasan dalam bertindak,
bahkan tiada henti memberi di setiap waktu.

Hidup itu hanya sekali,
maka berilah sebanyak mungkin,
tanpa ada rasa imbalan yang diharapkan,
bahkan rasa terima kasih pun.

Hidup itu hanya sekali,
karena itu maka sukseskan hidup ini,
dengan memberi, berbagi,
agar esok ada cerita yang bisa dikenang.

Yogyakarta, 12092015
12:21
“Tulisan ini saya tulis karena saya ingat, suatu waktu ketika mengikuti sebuah seleksi beasiswa, ada sebuah pertanyaan yang sangat sulit kala itu untuk dijawab.”Saat engkau mati, apa yang ingin engkau dengar dari orang-orang sekitarmu?”, sebuah pertanyaan yang bisa saja saya jawab dengan bermacam-macam jawaban. Tapi saya ingat, dalam jawaban itu saya tulis, “saya ingin masyarakat mengenal saya sebagai orang yang baik, yang memberikan kebaikan bagi lingkungannya, dan mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya”.
“Maka bagi saya, di mana pun saya berada, maka haruslah kebaikan yang saya berbagi, datang dengan baik, maka pergi pun dengan baik. Datang tak membawa apa pun, namun pergi haruslah saya memberikan apa yang saya peroleh dari lingkungan baru saya, bagi orang sekitar saya. Terima kasih, Ibu dan Ayah yang setiap saat selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menyematkan nama Abror (anak yang berbakti), semoga akan menjadi doa untukmu, kedua malaikatku di bumi ini, dan menjadi kebaikan bagi bangsa dan negara ini kelak.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s