Berjalan di Muka Bumi 4: Antara Bandung dan Bogor, Kota Depok Tempat Re-Idealisasi

Posted: February 15, 2015 in Hikmah, Perjalanan
Tags: , , , , , ,

Jemari ini pun ingin terus menuliskan cerita perjalanan penuh hikmah yang telah dirasakan. Dulu, saat tempaan berasrama dirasakan, ada sebuah sindiran yang menjadikan saya sedikit terpantik. “Kita pun tidak akan pernah dikenal, jika kita tidak pernah menulis”. Maka sejak saat itu, saya pun mencoba untuk belajar menulis, entah dari kisah apapun, dengan bahasa yang terkadang masih belum terarah, dan mungkin sampai saat ini. Hatta, diri ini harus menforce agar kemudian terbiasa untuk menulis, Saya pun teringat, awal saya beranikan diri menulis, adalah ketika tugas asrama saat sebuah impian di penghujung tahun 2013 harus saya torehkan dalam rangkaian kursor di laptop, kemudian saya visualisasikan dalam mimpi saya, dan saya pun setorkan ke pembina saya kala itu. Alhamdulillah, hal yang luar biasa pun terjadi, Man Jadda Wa Jadda. Tidak ada sebuah keajaiban, namun yang ada adalah ketika mempertemukan ikhtiar kita dengan takdir Allah, maka Jepang pun akhirnya pernah disinggahi.

AoNDKvt9-1ThxWyhJksUUA_Kkcq1qOTMLGexGWQFvhgp

Terima kasih, Raka dan Jhovy. Sauyunan Saklawasna

Rintik hujan kembali mengantar keberangkatan kami dari Kota Bandung menuju Kota Bogor. Raka dan Jhovy, saya berterima kasih karena berkenan mengantarkan kami, meski saat itu gelayut mendung Kota Bandung, siap-siap menghantui dan membasahi kalian. Namun, itulah arti sahabat, Beritsar, mendahulukan saudaranya terlebih dahulu baru kemudian dirinya. Sedikit jadi teringat, ketika ada sebuah kisah besar, di mana dulu seorang sahabat kemudian mendahulukan saudaranya untuk menikah, namun, bukan tentang menikah yang dimaksud, melainkan sikap seorang saudara yang akan mendahulukan saudaranya, untuk kemudian mengambil manfaat dan kebaikan pada keduanya. Perjalanan menuju Kota Bogor, tepatnya ke Kampus IPB, saya dan Lutfi jalani dengan transit terlebih dahulu di Kota Depok, untuk sekaligus bersilaturrahim kepada pengurus pusat Asrama PPSDMS. Perjalanan kami tempuh kurang lebih tiga jam lebih hingga kami pun sampai di Asrama PPSDMS Pusat, di Lenteng Agung. Alhamdulillah, adalah ucapan pertama yang keluar dari mulut ini, setelah tidak lagi berasrama, dan belum sempat berwisuda alumni di sini, namun Allah mempertemukan kembali saya dengan asrama peradaban dan rumah kepemimpinan. Di tengah guyuran hujan yang begitu lebat disertai sedikit kilatan petir, penuh doa terharap agar esok, hari akan cerah, dan kemudahan bagi kami untuk melanjutkan perjalanan menuju, Kota Hujan, Bogor.

Bertemu Mereka, Pembina Sekaligus Pembimbing di Rumah Kepemimpinan

Banyak cerita indah yang dapat direcall untuk mengingat kenangan dua tahun lalu, tepatnya ketika kembali di tempat ini. Kenangan, bahwasanya ternyata hati manusia terkadang cepat sekali puas dan berbangga terhadap sebuah pencapaian. Di sinilah, saya mulai sadar, bahwa ternyata itulah ciri-ciri dari sebuah kesombongan dan kehancuran, yaitu cepat puas, cepat sombong, dan cepat merasa segalanya ada dikarenakan apa yang dikerjakannya. Di akhir tempaan ini, saya teringat akan pesan seorang abang, beliau adalah orang yang saya kagumi dan hormati, beliau berpesan di masa akhir-akhir pembinaan,“Stay Foolish, Stay Hungry”. Ah, betapa bodohnya, terkadang diri ini, ketika sudah terlalu banyak melihat ke atas, maka hanya ada rasa Ujub dan lupa akan hakikat manusia untuk selalu Qona’ah dan menjadi manusia yang selayaknya padi,” Semakin berisi, maka ia akan semakin merunduk”. Inilah yang pada akhirnya, tertanam dan mencoba untuk terus diaplikasikan dalam kehidupan ini.

Jika teringat akan masa-masa itu, maka hanya ada rasa syukur, karena Allah telah merencanakan perjalanan yang saya sendiri dapat katakan sebagai tarbiyah dalam kehidupan saya pribadi. Sebuah perjalanan yang memproses dan memoles saya menjadi sebuah pribadi yang ingin terus berada dalam kebaikan dan memberikan kebaikan sekecil apapun dan sesuai dengan kemampuan yang saya miliki hingga batas kemampuan yang memang seharusnya. Untunglah, pada akhirnya saya mampu untuk belajar dan terus belajar, sesuai dengan prinsip yang saya pegang,“Stay Foolish, Stay Hungry”.

Masa lalu adalah kenangan dan pembelajaran, dan masa mendatang adalah sebuah harapan dan tantangan, serta masa sekarang adalah masa menabur dan menanam benih-benih kebaikan, agar di masa mendatang, harapan dan tantangan akan berbuah jawaban yang berlandaskan pada kebaikan dan kebenaran.  Maka pada hari ini, saya bersyukur karena saya kembali dapat bertemu mereka yang dulu pernah membimbing dan mengajarkan nilai-nilai yang berlandaskan pada kebaikan. Bang Adji dan Bang Bachtiar, alhamdulillah, saya sempat bertemu meskipun tidak sempat banyak berbagi cerita dan menimba ilmu dari keduanya. Namun,sayang sekali, saya belum sempat bertakzim dengan Ustad Musholli, meski demikian semoga kebaikan selalu tercurah untuk beliau.

Milad Seorang Sahabat dan Refleksi Perjalanan ini

Malam pun datang, tanpa suara, dan hanya dengan sebuah tanda terbenamnya sang fajar. Meskipun, hujan masih tidak kunjung reda, seorang sahabat, Jilul, mengajak kami untuk makan malam. Bergegaslah kami menuju salah satu rumah makan di daerah Lenteng Agung. Kebetulan, sehari sebelumnya, kawan satu ini, merayakan miladnya, dan malam ini pun dia membagikan sedikit rejeki yang dimilikinya untuk berbagi bersama kami. Selamat Milad untuk Sahabat kami, Jilul, sehat selalu, Lul! Terima kasih atas jamuannya malam ini. Malam pun semakin larut dan kami pun memutuskan untuk kembali ke asrama pusat.

AjKO39xBeGxBUA_lBHCAp-6An9FMBnE2ftNYZC7KiYMq

Barakallahu fi umrik, Bro Jilul. Sukses selalu Cak Jilul

Begitulah persahabatan yang terjalin, dua tahun bersama ditempa, dan selamanya mengabdi untuk negeri ini, karena proses tempaan dan pemahaman yang sama, yakni perjuangan untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. kata-kata itu yang semoga akan menjadi pengingat di kala diri telah letih, di kala hati telah melelah dan menyerahkan semuanya pada kemalasan dunia. Kata-kata tersebut yang akan menjadi pengingat serta semangat untuk terus bangkit dan berjuang secara bersama-sama.

Terima kasih, saya sampaikan kepada kehidupan, yang telah banyak mempertemukan dengan mereka yang terus belajar dan belajar. Mempelajari sebuah peradaban, dan kembali mengangkat ghirah re-build  peradaban yang kini sedang dirintis. Terima kasih atas setiap nasehat dan kritikan yang diberikan selama proses tempaan dan tarbiyah itu diberikan hingga menjadikan diri ini sebagai insan yang terus belajar menjadi baik. Terima kasih atas setiap titik perjalanan yang memberikan waktu untuk mengkulminasi setiap sari yang dapat dipetik dari dalamnya. Dari Yogyakarta, kami menuju Bandung, di sanalah kembali kami temukan saudara-saudara yang saling mencintai karena iman. Dari Bandung, kami menuju Depok, dan di sinilah kami bertemu para pembimbing dan guru kami, serta merefleski idealisasi yang pernah tertanam, serta berbagi rasa ketika milad sahabat. Selanjutnya, Bogor, di sanalah kami akan menuntut secuplik kecil dari ilmu-Mu. Dan akhirnya, malam pun yang akan menjadi tempat, ketika mata ini harus terpejam dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan esok di pagi hari menuju Bogor, Kota Hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s