Berjalan di Muka Bumi: Di Jalan Yogyakarta-Bandung-Bogor #1

Posted: February 10, 2015 in Hikmah, Perjalanan
Tags: , , , , , ,

Kesempatan menggores pena kembali di halaman ini. Perjalanan Yogyakarta-Bandung dan berakhir di Bogor. Alhamdulillah, kembali Allah memberikan kesempatan untuk berjalan dan bertemu kembali dengan saudara-saudara di Bandung dan Bogor. Berawal dari rencana untuk mengikuti Workshop di Kampus IPB Bogor, saya sendiri memilih untuk menuju Bandung terlebih dahulu, sekaligus bertemu dan bersilaturrahim dengan rekan-rekan sejawat di Bandung, yang dijuluki Kota Kembang. Perjalanan dimulai dari Stasiun Lempuyangan menuju Stasiun Kiara Condong, stasiun terakhir bagi kereta ekonomi menuju Bandung.

Belajar Makna Ketulusan Ibu

Melewatkan perjalanan menuju Kota Bandung, banyak hal-hal yang ditemui selama perjalanan di dalam kereta ekonomi Pasundan. Ya, kereta yang berangkat dari Surabaya ini berhenti pukul 14.30 di Stasiun Lempuyangan, terlambat 30 menit dari jadwal yang seharusnya. Bertempat di Gerbong 1, saya pun mencari tempat duduk saya di bangku 15 C. Sebenarnya dalam perjalanan ini saya tidak sendiri, ada dua rekan saya lainnya yang juga membersamai perjalanan menuju kota kembang dan kota hujan, Bandung dan Bogor.

Perjalanan di dalam kereta dengan suara roda dan rel kereta yang bersentuhan, melewati area persawahan di jalur K.A. Pasundan memberikan suasana yang begitu menyenangkan. Alam dan nuansa pedesaan yang masih terasa hijau begitu memberikan kenyamanan selama perjalanan ini. Entah tidak disadari, saya memberanikan diri menyapa dua orang ibu yang berhadapan duduknya di dalam kereta. Sempat ragu awalnya dan sedikit canggung, namun silaturrahim itu tidak harus mengenal, tetapi melalui pertemuan singkat pun bisa menjadikan diri ini dapat memperat ukhuwah dengan orang lain, meskipun tidak mengenalnya, bahkan bisa jadi ada sebuah nilai kehidupan yang dapat diambil dari peristiwa itu. Alhasil, beranilah saya untuk berbincang dan mengobrol banyak dengan ibu tersebut.

Perbincangan saya dan kedua ibu tersebut ternyata cukup akrab, beliau bercerita banyak tentang anak-anaknya bahkan secara tidak langsung banyak bercerita bagaimana keluarga mereka dibentuk dan bagaimana mereka mengambil peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Tidak jarang sesekali, perbincangan aktivitas saya sebagai mahasiswa ditanyakan, aktivitas mengaji di kampus pun ditanyakan, bahkan sempat bertanya mengenai peran kedua orang tua saya mendidik saya hingga sampai seperti saat ini. Ibu Pur, salah satu wanita yang memiliki paras layaknya seorang guru ketika berbincang, berasal dari Surabaya, ibu ini banyak menceritakan bagaimana ia banyak mengajarkan makna filosofi kehidupan kepada anak-anak di keluarganya, bahkan tidak jarang beliau juga menceritakan tentang bagaimana ia menguatkan anak pertamanya ketika berada dalam kesulitan saat mencari sekolah lanjutan, hingga kemudian sang anak mampu melewati masa sulitnya dan memantapkan hati  memiliki salah satu sekolah favorit di negeri ini. Ibu Wati, seorang ibu asal Yogyakarta, juga menceritakan bagaimana ia membesarkan anak-anaknya, termasuk bagaimana ia memberikan perhatian lebih kepada anak keduanya yang saat ini sedang berkuliah di perguruan tinggi negeri favorit di negeri ini. Keduanya banyak memberikan cerita-cerita inspirasi sebagai sosok ibu yang memberikan haru dan menjadikan saya mengingat sosok ibu yang selama ini membesarkan saya sebagai seorang anak.

Perbincangan singkat itupun harus terhenti di Stasiun Kiara Condong, Bandung. Sebelum berpisah, saya hanya menyampaikan, semoga esok dapat bertemu kembali dan menyambung tali silaturrahim ini dalam kondisi yang lebih baik. Dalam perjalanan keluar dari kereta, saya begitu paham bahwa sosok orang tua adalah sosok yang mendambakan putra dan putrinya untuk selalu lebih baik darinya, bahkan jika boleh, orang tua berharap anak-anak mereka akan mampu membawa mereka pada arah yang lebih baik dengan ilmu yang mereka miliki, entah ilmu agama bahkan ilmu dunia. Selama mencari sahabat saya, Endang untuk menuju ke rumah saudara di Markas Besar rekan-rekan Bandung, saya jadi teringat, sosok ibu yang saat ini berada jauh di Kalimantan Selatan. Beliau pernah berpesan, seorang ibu selalu menginginkan anaknya menjadi anak sholeh dan sholehah serta mampu membawa kedua orang tuanya menuju Jannah-Nya bersama-sama. Itulah ketulusan seorang ibu, tidak peduli dalam sebuah keluarga apa, namun dalam hatinya ia akan selalu berdoa demi kebaikan anak-anaknya.

Advertisements
Comments
  1. praditalia says:

    aku ngutip nih pram “seorang ibu selalu menginginkan anaknya menjadi anak sholeh dan sholehah”, sholeh dan sholehah? seingetku, bukannya kamu anak tunggal? hrsnya sholeh aja dong hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s