Untukmu Teman

Posted: September 19, 2014 in Hikmah
Tags: , , , ,

“masih ada jalan yang akan menjadi pengingat, antara aku, kamu, dan kisah yang sudah kita tulis di Bumi Misool, Fafanlap”

Matahari yang mulai naik dari setiap peraduannya, menjadi saksi begitu kisah ini sangat sulit untuk dihapuskan secara pelan-pelan. Kawan, pernahkah mengingat kisah yang mungkin kita sendiri tidak akan pernah lupakan selama ini? Iya, memori-memori yang pernah dilukis satu dengan yang lainnya. Memori yang setiap jengkal kita rekam, karena ukhuwah yang sudah mengikat satu dengan yang lainnya. Memori yang terekam jelas dalam setiap sudut mata yang senantiasa dipandangi dalam hari-hari yang sudah dilalui. Memori akan kenangan saat kita masih membangun, mendalami, dan merasakan kehidupan sederhana di kampung itu.
Ya, setiap hari, setiap detak jantung, setiap nafas yang berhembus, setiap detik jarum jam yang bergerak. Rasa itu tidak akan pernah hilang dari perasaan yang terus semakin kencang dan tajam untuk terus diingat. Kawan, terkadang rasanya bingung, ingin menulis dari mana kisah yang sudah terangkai sempurna di Kampung Fafanlap. Kisah yang terlukis dengan sebuah pelangi-pelangi yang setiap orang menghiasinya dengan warna yang begitu berbeda, satu dengan yang lainnya. Seorang sahabat pernah mengatakan,”akan ada pelangi setelah hujan itu datang. Akan ada orang yang memelukmu, setelah tangis itu pecah”. Benarlah itu demikian adanya. Tawa, tangis, sedih, senang, harus, dan apapun perasaan itu, telah tercampur aduk, bagaikan sebuah adonan yang memiliki rasa yang tepat, bahkan begitu unik jika kemudian kita bagikan pada yang lainnya.
Bumi Misool, siapa yang pernah menyangka, pertemuan itu akan berawal dari perjuangan tekad yang diawal pun rasanya ini tidak akan semudah membolak-balikkan telapak tangan. Terlebih lagi, banyaknya tantangan yang telah Allah berikan dalam perjalanan, yang pada akhirnya mengajarkan kita semua di sini, banyak hal. Pertemuan di awal, yang menyebabkan hati-hati ini mencoba mengenal satu dengan yang lain. Pertemuan yang pada akhirnya menjadikan kita, pernah memiliki tujuan, visi, bahkan misi yang pada akhirnya harus terus kita labuhkan dan tambatkan, serta harus terus dijaga agar kemudian mimpi-mimpi itu akan terus kita bawa, hingga akhirnya senyum itu kembali kita lihat dari adik-adik di sana. Sadar akan semua tantangan yang Allah berikan, namun menjadikan kita memiliki hati dan jiwa yang besar, untuk mau bersama dan terus berjuang hingga Allah menakdirkan, kaki ini menginjakkan tanah Misool, Papua Barat.
Adalah diri kita semua, yang berhasil menjadi pemenangan dengan ijinNya. Pemenang menaklukkan rasa takut, pemenangan menaklukkan egoism masing-masing, pemenang menaklukkan rasa ingin unjuk diri, bahkan kita semua yang berhasil menjadi pemenang dalam ketakutan atas ketidakberhasilan di sana. Sungguh, kita telah belajar menjadi pembesar dalam hati-hati yang tetap mengharapkan keridhoanNya. Sungguh kita telah menjadi penambat atas hati-hati saudara-saudara kita yang menjadikan diri ini terus dikenang, bahkan hanya dengan sebuah nama jalan dan tugu.
Perjalanan ini masih panjang. Penuh liku dan penuh aral sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Semakin dalam, semakin dalam, maka semakin Allah akan mencoba dan memberikan ujian yang akan menjadikan kita untuk terus menjadi pembesar-pembesar hati yang berani menghadapi setiap ketakutan dengan menjadikanNya sebagai pelindung dalam setiap usaha yang akan kita rintis. Sebuah jalan yang telah dirintis karena kecintaan kita pada mereka, melebihi kecintaan kita pada diri sendiri. Sebuah jalan yang dirintis, karena tekad yang membuat diri ini mau menahan rasa kantuk hanya untuk mereka. Sebuah jalan yang dirintis, karena memang keikhlasan tanpa ada pengharapan balasan jasa, bahkan rasa terima kasih pun, diri ini tidak pernah memintanya. Itulah, kefahaman yang telah ditanaman, selama perjalanan ini dilalui.

Jika kami mendaki tinggi,
Maka hanya ada keinginan melihat makmurnya negeri ini
Jika kami menuruni bukit ini
Maka hanya ada keinginan membantu ihlas negeri ini
Cinta kami, adalah cinta yang suci dan tulus
Yang tidak pernah sedikitpun ingin dibalas
Bahkan untuk rasa berterima kasih jua
Ihlas, itulah yang ditanam dalam diri
Suci, itulah niat yang dicelupkan pada Sang Maha Suci
Jalan kami adalah jalan panjang
Penuh duri namun begitu nyaman untuk dilewati
Jalan panjang yang akan kami terus titi
Untuk melihat bangsa ini
Untuk melihat anak-anak negeri ini
Menjadi mereka mutiara yang akan terus membawa
Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik dan bermartabat

Mari terus bergerak kawan, menjadikan bumi pertiwi ini tersenyum. Dengan sedikit yang pernah kita berikan, di Bumi Papua Barat, semoga menjadikan kita memiliki hati-hati yang terus bersyukur dan rela menjadi pejuang yang memberikan makna berarti untuk mereka di sana. Meskipun pada akhirnya, mungkin 1, 3, 5 atau beberapa tahun kita tidak bisa melihat senyum mereka, dan kampung itu. Namun, mari kita memberikan apa yang kita bisa untuk mereka, untuk sebuah senyum tulus mutiara-mutiara Fafanlap, dan untuk sebuah senyum bahagia untuk keluarga yang kita sayangi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s