Kawan, Rindukah Engkau Padaku?

Posted: September 16, 2014 in Perjalanan
Tags: , ,
1795235_808051532580176_1990391733325239286_o

Dermaga Kampung Fafanlap, Allah ijinkan aku Bertemu dengan kau, dan Dermaga Fafanlap, Allah menghikmahkan perpisahan aku dengan kau dalam Cinta yang Allah Ridhoi

Dua minggu sudah, kita meninggalkan Kampung Fafanlap. Namun, perasaan dan wajah mereka yang selalu tersenyum tidak pernah terlupa dan terhapus dari setiap bayangan kita. Bahkan sampai, pada hari ini pun, penulis tetap membayangkan wajah kampung yang sudah hampir setengah bulan itu kita tinggalkan. Bayangan setiap saat ketika di dermaga, bayangan setiap saat harus menyapa setiap bibi, adik-adik, bahkan mereka yang selalu menjadi keluarga terdekat bagi kita.

Kawan, masihkah ada rindu itu antara engkau, dia, dan aku? Pertanyaan itu yang masih sering kali terpikir dan terbesit dalam setiap pikiran ini. Iya, memilih untuk berjalan dan melepas setiap kenangan, pada akhirnya hanya akan menyiksa pribadi, karena pada kenyataannya, Allah sudah menggariskan bahwa kejadian itu telah menjadi sebuah lukisan kehidupan yang telah Dia goreskan dengan sebuah makna mendalam. Kawan, perjalanan itu menjadi sebuah saksi bagi kita bersama, bahwa begitu mencintai kita pada agama ini, maka begitu besar ukhuwah yang sudah kita jalin bersama.

Kawan, masihkah rindu itu engkau simpan untukku? Berjalan bersama, tertawa bersama, marah pada satu dan yang lain, menjadi sebuah bumbu tersendiri akan kenangan yang sudah dibuat. Melepas setiap pagi dengan aktivitas yang selalu kita contohkan bagi masyarakat Fafanlap, melepas setiap rindu kampung halaman dengan berjalan dan masuk ke rumah-rumah warga untuk mengenal dan menjalin silaturrahim, menjadi sebuah penghias ukhuwah yang telah kita lalui bersama. Di Fafanlap, memang Allah menghimpun hati ini menjadi sebuah keluarga, dan di Fafanlap, Allah pertemukan kita dengan saudara-saudara kita di Bumi Allah, yaitu Misool.

Kawan, masihkan kau sisakan ruang di hati ini untuk menyimpan rasa rindu ini? Sahabat, pernah Rasulullah menyampaikan pada Abu Bakar, seandaianya, Allah mengijinkan Beliau menjadikan manusia sebagai kekasihnya, maka Rasulullah hendak menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihnya. Hal itu pula berlaku sama, semoga cinta yang ada saat ini, adalah kecintaan kita karena Allah, yang telah menghimpunnya dalam dekapan-dekapan persahabatan, dalam sebuah bahtera yang dinaungi oleh Rahman dan RahimNya. Begitu beningnya, perasaan itu sudah tercurahkan bagi masyarakat Kampung Fafanlap, maka begitu bening juga perasaan mereka tertumpah pada diri kita, yang mungkin kita tidak terlalu banyak memberikan kepada mereka.

Kawan, masihkah dalam ingatan ini, ada doa untukku? Berpisah lewat pandangan, bertemu dalam doa. Seuntai bait yang pernah mereka nyanyikan untuk kita, saat melepas senyum mereka, tawa mereka, dan curahan hati mereka tepat di dermaga Fafanlap saat kepulangan itu. Sebait lagu, yang menjadikan hati ini tetap menyelipkan kebaikan dan pengharapan banyaknya perubahan bagi kalian di sana. Sebait lagi yang tetap setiap kita nyanyikan, ketika kami pun di sini merindukan kalian di sana. Hanya sebait lagu yang tetap menjadikan kita bersemangat untuk tetap mengabdi pada kalian di sana, meskipun jasad ini tidak lagi berada di kampung.

Kawan, masihkah rindukan mutiara Fafanlap itu? Bagi kami, merekalah pemuda dan pemudi yang akan menjadi mutiara dari timur Fafanlap, yang akan menguntai masa-masa keemasan bangsa ini. Rindu kami pada mutiara Fafanlap akan tetap menjadikan kami, mencintai mereka karenaNya, merasakan mereka sebagai adik-adik yang tetap akan dibimbing meskipun jauhnya jarak yang terpisah oleh luasnya samudera. Mutiara Bangsa Indonesia dari Timur yang akan tetap menjadi bagian akan kemajuan bangsa ini.

Terbesit cinta untuk kalian
Karena Allah yang memberikannya
Terbesit doa untuk kalian
Semoga Allah pun mengabulkannya
Fafanlap, meskipun engkau jauh
Dan meskipun kami pun tak bisa melihatmu lagi
Namun, semoga kebaikan dariNya akan selalu menyertaimu
Rindu ini memang tidak bisa dibendung
Suasana, keluarga, keramahan, sapaan
Yang tidak bisa kami beli dengan apapun
Selalu menjadi kenangan yang tidak akan terlupa
Kau memiliki separuh Rahmat dari Allah
Dengan kekayaan alamnya
Namun, kau juga memiliki Rahim dari Allah
Dengan kekayaan jiwa masyarakat di dalamnya
Sahib, salah satu adik kami, berkata
Rindu-rindu itu semoga menjadi obat dan penguat bagi kami
Meskipun gunung tak dapat dipeluk
Lautan tak dapat dibelah
Namun, kenangan abadi itu akan tetap hidup
Dan menjadi cerita bagi kami di sini

Ketika engkau merindukan kami, ataupun kala kami merindukan engkau. Maka pandangilah langit, bulan dan bintang, karena di jauh sana, kalian pun akan melihat langit, bulan, dan bintang yang sama.

Jakarta, 15 September 2014.
00.13
Ku tuliskan di tempat saudaraku, Hanif Ibrahim Mumtaz dengan saudaraku pula Mukharrir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s